Membaca Sastra dan Wawancara Yang Baik Dan Benar

Membaca Sastra dan Wawancara Yang Baik Dan Benar

Wawancara Yang Baik

Wawancara Yang Baik

Wawancara Yang Baik

Wawancara Yang Baik – Di bab yang mengangkat topik “Pertanian”, kalian akan diajak untuk berlatih mencari informasi melalui indeks, mengenal cara membuat indeks pada sebuah buku atau karangan, menulis hasil wawancara, serta menganalisis karya sastra Melayu Klasik. Pertama, kalian diajak untuk bisa merangkum seluruh isi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai, membaca informasi yang terdapat dari daftar indeks, mencatat dan merangkum isi informasinya, menjelaskan isi rangkuman di depan kelas, dan menjelaskan kegunaan indeks dalam sebuah buku. Kedua, kalian akan mengidentifikasi karakteristik dan struktur intrinsik sastra Melayu Klasik, menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, dan mengaitkannya dengan kehidupan masa kini. Ketiga, kalian bisa menulis hasil wawancara ke dalam beberapa paragraf dengan menggunakan ejaan yang tepat, menentukan topik, memilih narasumber yang hendak diwawancarai, menyusun daftar pertanyaan, serta mencatat pokok-pokok informasi yang diperoleh dari wawancara. Keempat, kalian diajak untuk bisa memahami penggunaan imbuhan memper-kan dan memper-i. Itu berarti, kalian harus dapat menggunakan imbuhan memper-kan dan memper-i; dan menentukan makna imbuhan memper-kan dan memper-i. Selamat belajar dan sukseslah selalu.

Wawancara Yang Baik

Membaca Sastra

Alkissah Tjetera yang Kedua

Wawancara Yang Baik – Kata sahibu’l-hikayat: ada sebuah negeri di tanah Andelas Perlembang namanya, Demang Lébar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak cucu raja Sulan; Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka hulu Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Siguntang Mahaméru namanya. Dan ada dua orang perempuan berladang, Wan Empuk seorang namanya, dan Wan Malini seorang namanya; dan keduanya itu berhuma di bukit Siguntang itu, terlalu luas humanya itu, syah dan terlalu jadi padinya, tiada dapat terkatakan; telah hampirlah masak padi itu. Maka pada suatu malam itu maka dilihat oleh Wan Empuk dan Wan Malini dari rumahnya, di atas bukit Siguntang itu bernyala-nyala seperti api.

Wawancara Yang Baik – Maka kata Wan Empuk dan Wan Malini, “Cahaya apa gerangan bernyala-nyala itu? Takut pula beta melihat dia.” Maka kata Wan Malini,“Jangan kita ingar-ingar, kalau gemala naga besar gerangan itu.” Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun diamlah dengan takutnya, lalu keduanya tidur. Telah hari siang, maka Wan Empuk dan Wan Malini pun bangun keduanya daripada tidur, lalu basuh muka. Maka kata Wan Malini, “Marilah kita lihat yang bernyala-nyala semalam itu.” Maka keduanya naik ke atas bukit Siguntang itu, maka dilihatnya padinya berbuahkan emas dan berdaunkan perak dan batangnya tembaga suasa. Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun heran melihat hal yang demikian itu, maka katanya, “Inilah yang kita lihat semalam itu”. Maka ia berjalan pula ke bukit Siguntang itu, maka dilihatnya tanah negara bukit itu menjadi seperti warna emas.

Wawancara Yang Baik – Pada suatu ceritera, datang sekarang pun tanah negara bukit itu seperti warna emas juga rupanya. Maka dilihat oleh Wan Empuk dan Wan Malini di atas tanah yang menjadi emas itu tiga orang manusia laki-laki muda, baik paras; yang seorang itu memakai pakaian kerajaan, keinderaannya lembu putih seperti perak rupanya dan yang dua orang itu berdiri di sisinya, seorang memegang pedang kerajaan, seorang memegang lembing. Maka Wan Empuk dan Wan Malinipun heran tercengang-cengang syahdan dengan takjubnya ia melihat rupa orang muda itu; terlalu amat baik parasnya dan sikapnya, dan pakaiannya pun terlalu indahindah, maka ia fikir pada hatinja, “Sebab tiga orang muda inilah gerangan, maka padiku berbuahkan emas dan berdaunkan perak, dan tanah bukit ini pun menjadi seperti warna emas ini.” Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun bertanya kepada orang muda tiga orang itu: “Siapakah tuan-hamba ini, dan dari mana datang tuan hamba ini?

Dan anak jin atau anak perikah tuan hamba ini? Karena berapa lama sudah kami di sini tiada kami melihat seorang pun manusia datang ke mari ini; baharulah pada hari ini kami melihat tuan hamba kemari ini”. Maka menyahut seorang di dalam tiga itu: “Adapun nama kami dan bangsa kami bukannya daripada bangsa jin dan peri. Bahwa kami ini, bangsa manusia; asal kami daripada anak cucu raja Iskandar Dzu’l-Karnain, nisab kami daripada raja Nusirwan raja masyrik dan maghrib, dan pancar kami daripada raja Sulaiman’alaihi‘s-salam dan nama raja ini Bicitram Syah, dan nama seorang ini Nila Pahlawan, dan yang seorang ini Karna Pandita; dan pedang kami ini curik Semandang kini namanya, dan lembing kami ini Lembuara namanya, yang satu ini cap kayu Kempa namanya, dan apabila memberi surat pada raja-raja cap inilah dicapkan”. Maka kata Wan Empuk dan Wan Malini, “Jikalau tuan hamba daripada anak cucu raja Iskandar, apa sebabnya maka tuan-hamba kemari?” Maka oleh Nila Pahlawan segala hikayat raja Iskandar beristrikan anak raja Kida Hindi, dan peri raja Suran masuk ke dalam laut itu semuanya dihikayatkannya pada Wan Empuk dan Wan Malini.

Maka kata Wan Empuk dan Wan Malini, “Apa alamatnya kata tuan hamba ini?” Maka sahut mereka, “Mahkota inilah alamatnya, tanda hamba anak cucu raja Iskandar. Hai embok, jika tuan hamba tiada percaya akan kata hamba ini, itulah tandanya oleh hamba jatuh kemari, maka padi embok berbuahkan emas berdaunkan perak berbatangkan tembaga suasa, dan tanah negara bukit ini menjadi seperti warna emas.” Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun percayalah akan kata orang muda itu, maka ia pun terlalu sukacita, maka anak raja itu pun dibawanya kembali ke rumahnya. Maka baginda pun naiklah ke atas keinderaan baginda lembu putih itu. Maka padinya pun dituainya oleh Wan Empuk dan Wan Malini, maka kedua mereka itu pun kayalah sebab mendapat anak raja itu dinamai oleh Wan Empuk dan Wan Malini sang Suparba. Maka dengan takdir Allah ta’ala lembu kenaikan baginda itu pun muntahkan buih, maka keluarlah daripada buih itu seorang manusia laki-laki namai Batdan destarnya terlalu besar. Maka Bat berdiri memuji sang Suparba, maka bunyi pujinya itu serba jenis kata yang mulia-mulia Syahdan maka raja itu digelarnya oleh Bat sang Suparba Taramberi Teribuana. Ada pun Bat itulah daripada anak cucunya asal orang yang membaca ciri dahulu kala. Maka Nila Pahlawan dan Karna Panditapun dikawinkan Bat dengan Wan Empuk dan Wan Malini. Maka daripada anak cucu merekalah digelar oleh sang Suparba, yang laki-laki dinamai baginda Awang, dan yang perempuan dipanggil baginda Dara, itulah asalnya perawangan dan perdaraan.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Wawancara

Kegiatan wawancara sebenarnya menjadi efektif dan efisien apabila Anda mengetahui teknik dan rencana wawancara dengan benar. Teknik wawancara bermacam-macam. Jika Anda melakukan wawancara terhadap seseorang, Anda dapat memakai teknik individual atau perorangan. Kegiatan wawancara ini bisa sedikit berbeda tergantung pada orang, tempat, waktu, dan hal yang dibicarakan. Sebelum melakukan wawancara perhatikan hal berikut. 1. Menghubungi orang yang akan diwawancara, baik langsung maupun tidak langsung dan pastikan kesediaannya untuk diwawancarai. 2. Persiapkan daftar pertanyaan yang sesuai dengan pokok-pokok masalah yang akan ditanyakan dalam wawancara. Persiapkan daftar pertanyaan secara baik dengan memperhatikan 6 unsur berita, yaitu 5W + 1H. Pada saat kegiatan wawancara berlangsung usahakan tidak terlalu bergantung pada pertanyaan yang telah disusun. 3. Berikan kesan yang baik, misalnya datang tepat waktu sesuai perjanjian. 4. Perhatikan cara berpakaian, gaya bicara, dan sikap agar menimbulkan kesan yang simpatik. Pada saat wawancara Anda perlu memperhatikan pegangan umum pelaksanaan wawancara berikut ini. 1. Jelaskan dulu identitas Anda sebelum wawancara dimulai dan kemukakan tujuan wawancara. 2. Mulai wawancara dengan pertanyaan yang ringan dan bersifat umum. Lakukanlah pendekatan tidak langsung pada persoalan, misalnya lebih baik tanyakan dulu soal kesenangan atau hobi tokoh. Jika dia sudah asyik berbicara, baru hubungkan dengan persoalan yang menjadi topik Anda. 3. Sebutkan nama narasumber secara lengkap dan bawalah buku catatan, alat tulis, atau tape recorder saat melakukan wawancara. 4. Dengarkan pendapat dan informasi secara saksama, usahakan tidak menyela agar keterangan tidak terputus. Jangan meminta pengulangan jawaban dari narasumber. 5. Hindari pertanyaan yang berbelit-belit. 6. Harus tetap menjaga suasana agar tetap informatif. Hormati petunjuk narasumber seperti “off the record”, “no comment”, dan lain-lain. Hindari pertanyaan yang menyinggung dan menyudutkan narasumber. 7. Harus pandai mengambil kesimpulan, artinya tidak semua jawaban dicatat. 8. Beri kesan yang baik setelah wawancara. Jangan lupa mohon diri dan ucapkan terima kasih dan mohon maaf! 9. Selain itu, kita harus mengetahui betul apa tujuan wawancara.

Membuat Laporan Hasil Wawancara

Anda telah membaca dua contoh laporan hasil wawancara. Contoh pertama merupakan laporan hasil wawancara dengan penyajian narasi. Contoh kedua merupakan laporan hasil wawancara dengan penyajian dialog. Dari sudut jurnalistik, wawancara merupakan salah satu cara mencari bahan laporan paling menarik dan mengasyikkan. Pembaca mungkin berpikir bahwa wawancara menuntut kecakapan dan keterampilan yang tinggi serta kualitas tertentu dari pewawancara. Hal-hal yang harus diperhatikan agar tulisan hasil wawancara menarik bagi para pembaca. 1. Kata-kata yang diucapkan narasumber hendaknya ditulis apa adanya. Hal ini akan membuat cerita tersebut hidup. Seolaholah narasumber langsung bercerita pada setiap pembaca. Keterangan mengenai keadaan sekitar narasumber membantu pembaca untuk melihat narasumber ketika diwawancarai. 2. Kejadian-kejadian, keterangan-keterangan, dan pendapatpendapat yang diberikan narasumber mempunyai bobot terhadap tulisan, namun usahakanlah agar lebih jeli dalam penyampaiannya. 3. Wawancara menjadi efektif jika tujuan pewawancara jelas, yaitu untuk memberi informasi, hiburan, bimbingan praktis, atau laporan. 4. Penyajian hasil wawancara sebenarnya tergantung pada pewancara, bisa berupa narasi, dialog, esai, deskripsi, dan sebagainya.

Imbuhan memper-kan dan memper-i

Imbuhan memper-kan dan memper-i merupakan dua contoh gabungan afiks. Gabungan afiks adalah penggunaan beberapa imbuhan sekaligus pada kata dasar, dengan tetap mempertahankan indentitasnya masing-masing, baik fungsi maupun maknanya masingmasing.

Imbuhan memper-kan

Fungsi afiks memper-kan adalah membentuk kata kerja. Fungsi ini didukung oleh tiap unsur pembentuknya. Prefiks mengmenyatakan keaktifan, sedangkan sufiks -kan menyatakan kausatif. Makna imbuhan memper-kan ada tiga, yaitu: 1. Sesuai dengan makna yang didukung oleh per- dan -kan maka makna gabungan afiks itu adalah menyatakan kausatif, yaitu menyebabkan terjadinya proses itu, seperti meninggikan, mempertanyakan, memperbantukan. 2. Makna yang lain adalah menyatakan menjadikan sebagai atau menganggap sebagai, seperti memperhambakan. 3. Menyatakan intensitas, yaitu mengeraskan arti yang disebut dalam kata dasar, dan dapat pula berarti menyuruh, seperti memperdengarkan, memperundingkan, mempertahankan.

Imbuhan memper-i

Fungsi afiks memper-i sama dengan fungsi dari unsur-unsur pembentuk gabungan itu. Prefiks meng- menyatakan keaktifan. Makna imbuhan memper-i ada dua, yaitu: 1. Karena adanya prefiks per- maka dapat menyatakan kausatif, seperti memperbaiki, memperbaharui. 2. Menyatakan intensitas, termasuk pengertian perbuatan terjadi berulang-ulang, seperti mempelajari, memperdayai.

Membaca Sastra dan Wawancara Yang Baik Dan Benar | medsis | 4.5