Mengidentifikasi Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Mengidentifikasi  Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita 

Unsur Sebuah Cerita

Unsur Sebuah Cerita

Unsur Sebuah Cerita – Mari kita belajar mengidentifikasi unsur sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam cerita rakyat. Kalian akan diajak belajar memperkenalkan diri dan orang lain dalam forum resmi, dan harus mau diperbaiki kesalahan-kesalahan pengucapan oleh teman kalian. Untuk memahami teks nonsastra, kalian akan diajak membaca ekstensif dan membuat ringkasan dari hasil membaca. Untuk memupuk keterampilan menulis, kalian akan diajak membuat paragraf deskriptif dari hasil observasi di lapangan dan hasilnya disunting dengan teman kalian. Pada bagian sastra, kalian akan diajak untuk belajar membaca puisi dan menemukan unsur-unsur yang membentuk puisi.

Mengidentifikasi Unsur Sastra Sebuah Cerita

Unsur Sebuah Cerita – Tahukah kalian, apa yang dimaksud cerita rakyat? Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang di suatu daerah dan dianggap sebagai karya kolektif (milik bersama) masyarakat daerah itu. Pasti kalian pernah mendengar cerita Malin Kundang, Si Pahit Lidah, Roro Jonggrang, Jaka Tarub, semua cerita itu termasuk dalam cerita rakyat. Banyak manfaat yang akan kalian dapatkan dengan mendengarkan cerita rakyat. Salah satunya, kalian akan memperoleh pengalaman berharga dari cerita tersebut, melalui peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya. Di dalam cerita rakyat terkandung pesan moral yang berguna bagi pembacanya. Pesan (amanat) dalam cerita kadang diungkapkan secara langsung, tetapi terkadang diungkapkan secara tidak langsung melalui tingkah laku tokohtokohnya. Ketika kalian belajar di jenjang SMP, kalian telah belajar tentang macam-macam tokoh. Kalian masih ingat, bukan? Tokoh dalam cerita rakyat memiliki karakter sendiri-sendiri. Ada tokoh baik (protagonis); ada tokoh jahat (antagonis), dan ada juga tokoh yang memiliki sebagian sifat baik dan jahat (tritagonis). Di dalam cerita, watak tokoh-tokoh tersebut ada yang dijelaskan secara langsung, ada juga yang dijelaskan secara tidak langsung. Secara tidak langsung, watak tokoh dalam cerita dapat diketahui melalui dialog antartokoh tersebut. Apakah kalian suka membaca cerita? Membaca cerita adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Kalian akan memperoleh pengalaman dari tokoh-tokoh cerita. Ada tokoh yang baik, jujur, ada pula tokoh jahat, yang malas, sombong, dan serakah. Mari kita membaca cerita berikut! Perhatikan watak tokoh-tokoh pada cerita tersebut!

Unsur Sebuah Cerita

Balingkang

Delapan abad yang lalu, tersebutlah sebuah daerah hutan yang luas. Wilayahnya membentang dari pantai Utara Bali hingga Pegunungan Kintamani. Penduduknya yang hidup bertani tinggal berjauhan satu sama lainnya. Mereka hidup dalam kelompokkelompok kecil. Sering terjadi pertengkaran dan perebutan lahan di antara mereka. Hal itu terjadi karena mereka tidak mempunyai pemimpin yang sanggup menegakkan keadilan. Pada suatu hari, sekelompok orang menghadap Ida Batara di Jambudwipa. Mereka mohon agar diberikan seorang pemimpin berwibawa. Diangkatlah Ali Jayapangus, putra Batara Jambudwipa. Bersama rakyatnya, ia membangun sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Panerajon. Atas petunjuk Mpu Siwagandu, penasihat raja, Raja Ali Jayapangus membangun kerajaan sesuai dengan ajaran agama dan undang-undang pemerintahan.

Unsur Sebuah Cerita – Dalam waktu singkat, rakyat sudah dapat menikmati kehidupan yang aman sejahtera, rukun, dan penuh persaudaraan. Tak seorang pun yang berani menentang rajanya yang berwibawa dan menjadi suri teladan itu. Pada suatu musim angin pancaroba, sebuah perahu merapat di pantai. Penumpangnya adalah seorang saudagar Cina bernama Subandar dan seorang anak perempuannya, Kang Cing We. Putri yang cantik itu sangat menarik perhatian penduduk. Akhirnya, berita putri Cina yang cantik itu terdengar pula sampai ke istana. Raja Jayapangus pun memanggil Subandar agar datang ke istana bersama putrinya. Rupanya, pertemuan itu telah membuat hati Raja Jayapangus terpesona. Raja Jayapangus pun menemui penasihat kerajaan, Mpu Siwagandu. Raja mengutarakan niatnya untuk menikahi Putri Kang Cing We. ”Apa?” Mpu Siwagandu terkejut mendengar penuturan Raja Jayapangus. ”Pikirkan kembali niatmu itu, Raja!” katanya menasihati. Akan tetapi, niat Raja Jayapangus sudah bulat. Mpu Siwagandu menyesalkan mengapa perkenalan sepasang muda mudi itu cepat benar menjadi jalinan cinta. Sangat berat akibatnya kalau hubungan itu menjadi pernikahan. Oleh karena itu, penasihat raja itu berusaha mencegahnya, lalu katanya, ”Ini pertanda buruk, Tuanku!” Mpu Siwagandu menahan marah. Ia lalu bersemadi di suatu tempat yang sepi. Tak lama berselang, dua sejoli itu menikah. Sebagai tanda ikatan tali kasih, ayah Kang Cing We membekali putrinya dua keping pis bolong (uang kepeng Cina). Pernikahan yang bersejarah itu bukan saja membahagiakan kedua mempelai, melainkan juga keluarga istana. Hampir setiap malam mereka mempersembahkan pertunjukan kesenian di halaman istana.

Di tengah-tengah kemeriahan pesta pernikahan itu, tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Tumpahan air dari langit itu tak henti-hentinya, ditambah lagi dengan tiupan badai dari segala penjuru. Raja, permaisuri, dan keluarga istana berhamburan menyelamatkan diri. Rakyat yang tinggal di sekitar istana pun mengungsi entah ke mana. Raja Jayapangus tidak mau membatalkan pernikahannya dengan putri Cina yang dicintainya itu. Kerajaan Panerajon harus tetap berdiri. Oleh karena itu, Raja Jayapangus mengajak rakyatnya yang masih setia mendirikan pusat kerajaan yang baru. Dipilihnya hutan Jong Les yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Batur. Pusat kerajaan yang baru itu diberi nama Balingkang, berasal dari kata bali dan kang. Nama itu merupakan kenangan abadi pernikahan antara seorang putra Bali dengan putri Cina, Kang Cing We. Sumber: Balingkang dengan penyederhanaan, hlm. 1–6

Kalian telah membaca sebuah cerita rakyat dari Bali, yang berjudul Balingkang. Banyak orang yang memercayai bahwa cerita tersebut benar-benar terjadi. Bagaimana pendapat kalian sendiri? Apakah kalian juga percaya bahwa peristiwa pada cerita rakyat tersebut benar-benar terjadi?

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Unsur Sebuah Cerita

Untuk mengetahui pendapat teman-teman kalian, cobalah kalian lakukan diskusi kelas! Dalam diskusi tersebut, cobalah kalian bahas hal-hal berikut!

1. Di dalam cerita di atas kalian dapat menemukan nilai-nilai adat atau tradisi. Untuk mengetahui nilai tradisi atau adat dalam cerita rakyat tersebut, silakan kalian perhatikan penggalan cerita ini! Tak lama berselang, dua sejoli itu menikah. Sebagai tanda ikatan tali kasih, ayah Kang Cing We membekali putrinya, dua keping pis bolong (uang kepeng Cina). Di dalam adat Cina, jika seorang anak gadis menikah, orang tua akan memberikan uang. Uang itu dianggap sebagai modal hidup bagi si anak untuk menjalani kehidupan bersama sang suami. a. Adakah nilai-nilai lain yang kalian temukan di dalam cerita rakyat tersebut? Misalnya: 1) nilai sejarah …. 2) nilai budaya …. b. Di dalam kehidupan sehari-hari saat ini, dapatkah kalian menemukan nilai-nilai di atas? Menurutmu, masih mungkinkah nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan modern? 2. Ada pesan yang dapat kalian ambil dari cerita ”Balingkang”. Pesan itu adalah perbedaan budaya atau adat istiadat tidak harus dipertentangkan karena perbedaan itu merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Apakah kalian dapat menyebutkan pesan lainnya? Silakan kalian diskusikan bersama teman-temanmu!

Buatlah sinopsis (ringkasan) cerita rakyat ”Balingkang” tersebut. Kemudian, sampaikan secara lisan di depan kelas!

Carilah sebuah cerita dari buku, majalah, atau koran, kemudian kerjakan soal-soal berikut! 1. Catatlah peristiwa-peristiwa pada cerita tersebut secara urut! 2. Catatlah tokoh-tokoh yang mengalami peristiwa-peristiwa tersebut! 3. Sebutkan setting cerita tersebut! 4. Bagaimanakah watak tokoh-tokoh dalam cerita tersebut?

Ada beberapa prosa lama, antara lain – hikayat, – sage, – epos, – fabel, – ode, – mitos, dan – dongeng, – legenda.

Di dalam cerita di atas kalian dapat menjumpai bentuk majas. Perhatikan ungkapan berikut! 1. Api cinta antara Ali Jayapangus dengan Kang Cing We tidak dapat dipadamkan. 2. Di tengah-tengah kemeriahan pesta pernikahan, tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Tumpahan air itu tak henti-hentinya, ditambah lagi dengan tiupan badai dari segala penjuru. Kedua ungkapan tersebut mengandung majas, yaitu majas metafora (Contoh 1) dan majas hiperbola (Contoh 2). Pada Contoh 1 cinta diibaratkan sebagai api yang dapat dipadamkan. Pada contoh 2 terdapat penggambaran tentang sebuah bencana secara berlebihan. Metafora termasuk dalam jenis majas perbandingan. Metafora adalah majas yang melukiskan suatu gambaran yang jelas melalui perbandingan. Metafora sering disebut kiasan dan merupakan majas perbandingan yang tersirat (implisit). Hiperbola termasuk dalam jenis majas pertentangan. Hiperbola merupakan majas yang mengandung pernyataan berlebih-lebihan, baik jumlah, ukuran, maupun sifatnya. Tujuannya adalah untuk memberi penekanan atau penyangatan.

Unsur Sebuah Cerita

Pada Bab I, kalian telah belajar memperkenalkan diri pada acara diskusi. Memperkenalkan diri sebelum menyampaikan pendapat dalam diskusi termasuk dalam etika berdiskusi. Makin sering kalian mengikuti acara diskusi dan menyampaikan pendapat, makin terlatih pula kemampuan kalian mengucapkan kalimat perkenalan. Oleh karena itu, kalian perlu terus berlatih mencari variasi kalimat untuk memperkenalkan diri. Sebelum memulai kegiatan berdiskusi, cobalah kalian membuat variasi kalimat untuk menyampaikan pendapat, menolak pendapat, dan menerima pendapat.

 

Mengidentifikasi Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita | medsis | 4.5