Pelajaran Tentang Tingkat-tingkat Perkembangan Desa

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Tingkat-tingkat Perkembangan Desa

Tingkat-tingkat Perkembangan Desa

Tingkat-tingkat Perkembangan Desa

Berdasarkan tingkat perkembangannya, desa dibedakan atas desa swadaya, swakarya, dan swasembada.

1. Desa Swadaya (desa terbelakang)

Desa swadaya adalah suatu wilayah desa yang memenuhi kebutuhan masyarakatnya dengan hasil kerja masyarakatnya itu sendiri. Desa ini umumnya terpencil dan masyarakatnya jarang berhubungan dengan masyarakat luar sehingga proses kemajuannya sangat lamban karena kurang berinteraksi dengan wilayah lain atau bahkan tidak sama sekali.

2. Desa Swakarya (desa sedang berkembang)

Desa swakarya adalah desa yang keadaannya sudah lebih maju dibandingkan desa swadaya karena telah mampu mengembangkan potensi desanya sehingga mampu menjual kelebihan hasil produksi ke daerah lain di samping untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Semangat gotong royong masih melekat walaupun sudah mulai memudar dan sudah mulai sadar akan pentingnya pendidikan dan keterampilan. Masyarakat pada desa ini telah menunjukkan interaksi dengan wilayah lain, walaupun intensitasnya belum terlalu sering.

3. Desa Swasembada (desa maju)

Desa swasembada merupakan desa yang lebih maju daripada desa-desa sebelumnya, karena sudah mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki secara optimal. Hal ini ditandai oleh kemampuan masyarakatnya untuk mengadakan interaksi dengan masyarakat luar,

melakukan tukar-menukar barang dengan wilayah lain (fungsi perdagangan), dan kemampuan untuk saling memengaruhi dengan penduduk di wilayah lain. Dari hasil interaksi tersebut, masyarakat dapat menyerap teknologi baru untuk memanfaatkan sumber dayanya sehingga proses pembangunan berjalan dengan baik.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi perkembangan desa, diantaranya adalah faktor interaksi (hubungan) dan lokasi desa. Desa-desa yang berdekatan dengan kota akan mengalami perkembangan yang lebih cepat dibandingkan desa lainnya sebagai akibat pengaruh kota. Daerah pedesaan diperbatasan kota yang mudah dipengaruhi oleh tata kehidupan kota disebut dengan urban area atau daerah desa-kota.

Daerah desa-kota juga merupakan sub urban fringe, yaitu suatu area yang melingkari kota sebagai daerah peralihan antara desa dan kota. Kaitannya dengan pembangunan desa-kota, desa memiliki fungsi sebagai hinterland atau daerah dukung bagi daerah kota. Fungsi hinterland antara lain sebagai suatu daerah pemberi bahan makanan pokok, seperti padi, ketela, jagung, palawija,

dan buah-buahan. Selain itu, desa yang asri dan dengan potensi keindahannya dapat menjadi daya tarik di sektor industri pariwisata. Sehingga dari sudut potensi ekonomi, desa berfungsi sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja. Oleh karena itu, perhatian pembangunan desa sudah dimulai di akhir tahun 1990-an.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Hal ini merupakan respon terhadap tahannya sektor pertanian di pedesaan untuk mendudukung pembangunan desa-kota. Misalnya melalui proyek seperti Poverty Alleviation for Rural Urban Linkages untuk menggerakkan sektor ekonomi produktif di pedesaan dengan pendekatan endogenous atau pengembangan kemampuan internal pedesaan. Proyek ini dilanjutkan menjadi pengembangan proyek Kawasan Pengembangan Ekonomi Lokal yang mengidentifikasi sektor ekonomi yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi terutama di areal yang terpencil.

Keberpihakan pada pembangunan perdesaan pada masa reformasi ditingkatkan menjadi bagian dari program pembangunan nasional. Keberpihakan ini dirumuskan secara sektoral, sebagai pengembangan sektor pertanian, baik pertanian lahan basah dan lahan kering, dan perikanan yang umumnya berlokasi di perdesaan. Konseptualisasi pembangunan pedesaan ini terutama dengan program agropolitan. Program agropolitan yaitu suatu program pengembangan ekonomi sektor pertanian, terutama pemasaran dan aliran informasi. Program ini bertujuan untuk dapat memberdayakan petani sebagai produsen sekaligus pemasar produk, sehingga nilai tambah dari program ini lebih banyak dirasakan oleh petani.

Hal ini juga akan berimplikasi terhadap perkembangan desa-kota. Sedangkan agenda pembangunan pada tingkat propinsi dan kota atau kabupaten, sebagian besar berkenaan dengan peningkatan akses pada pelayanan umum sebagai pendukung kesejahteraan rakyat, pengurangan kesenjangan antardesa, desa-kota dan antar kota. Program agropolitan dimulai pada tahun 2002. Pada program ini, Departemen Pertanian menjadi motor penggeraknya dan melibatkan sekitar delapan departemen dengan pilot project agropolitan yang ditempatkan di delapan provinsi yang potential. Kedelapan provinsi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Sumatra Barat (Agam dengan sentra peternakan),

b. Bengkulu (Kabupaten Rejang Lebong dengan basis sayuran),

c. Jawa Barat (Kabupaten Cianjur dengan basis sayuran),

d. Di Yogyakarta (Kabupaten Kulon Progo dengan basis perkebunan),

e. Bali (Kabupaten Bangli dengan basis perkebunan),

f. Sulawesi Selatan (Kabupaten Barru dengan sentra tanaman peternakan),

g. Kalimantan Timur (kabupaten Kutai Timur berbasis tanaman pangan),

h. Gorontalo (kabupaten Boalemo berbasis tanaman pangan).

Pada saat yang sama, telah dibuat Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang sebagian besar lingkup wilayah kerjanya meliputi sebagian areal perikanan dan kelautan. Areal ini sebagian besar berlokasi di wilayah pesisir, pulau kecil, dan wilayah perbatasan yang sebagian besar merupakan wilayah pedesaan nelayan.

Pelajaran Tentang Tingkat-tingkat Perkembangan Desa | medsis | 4.5