Tentang Peran Masyarakat Bagiku

Tentang Peran Masyarakat Bagiku

Tentang Peran Masyarakat Bagiku

Tentang Peran Masyarakat Bagiku

Manusia itu makhluk sosial. Ia hidup membutuhkan orang lain sekaligus dibutuhkan orang lain. Ia tidak mungkin dapat hidup sendiri terpisah dari sesama atau masyarakat. Ia harus menjadi bagian dari masyarakat dan terlibat dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Sebagai bagian dari masyarakat, ia dapat belajar dari kehidupan masyarakat. Sebagai bagian dari masyartakat ia pun tidak dapat berdiam diri terhadap apa saja yang terjadi dalam masyarakat. Bila ia mencoba memisahkan diri dari masyarakat, otomatis ia pun akan disingkirkan dari masyarakat. Dalam pelajaran ini, kamu akan diajak menyadari kembali peran masyarakat bagi perkembangan dirimu, dengan harapan di masa depan kamu semakin melibatkan diri dalam masyarakat secara tepat dan benar.

Doa Allah, Bapa Yang Mahabaik Engkau menciptakan manusia tidak seorang diri tetapi menempatkan mereka di antara sesamanya agar dapat hidup dan berkembang Kami bersyukur atas masyarakat kami yang menjadi bagian hidup kami semoga berkat iman kepadaMu kami semakin mampu berperan aktif dalam kehidupan masyarakat dengan tetap mengutamakan kebaikan dan kebenaran sesuai kehendakMu. Amin.

1. Pengalaman Hidup di tengah Masyarakat Kelompok masyarakat tempat kita hidup dapat menjadi tempat belajar berbagai macam kebiasaan baik dan mewujudkan nilai-nilai yang kita anut.

Cerita berikut ini, mengisahkan pengalaman seorang anak yang bersekolah di kota mengenali dan belajar tentang kebajikan dalam masyarakat di pedesaan saat ia mengikuti kegiatan live-in. Pengalaman Indah Tidak Terlupakan (Sharring Stefani saat mengikuti Live-in) Waktu live-in, kami tinggal di rumah Bapak dan Ibu Jono. Biasanya mereka di rumah tinggal berdua saja, sebab anak mereka laki-laki satusatunya sudah bekerja di pabrik di kota. Malam pertama tinggal di rumah mereka, aku tak dapat menyembunyikan umpatan dan kekecewaan, walaupun semuanya hanya dalam hati. Bayangkan saja, selama hampir seminggu, aku harus tinggal di sebuah rumah yang masih terbuat dari bilik, tak ada plafon sehingga gentingnya kelihatan, dapurnya bersebelahan dengan kandang sapi, kamar mandinya terbuka di luar tanpa atap, airnya harus menimba dulu dari sumur yang dalam, tak ada TV, lantai rumahnya masih tanah, tempat tidurnya dari kayu sederhana yang dilapisi kasur tipis sekali, selimutnya tipis seperti yang biasa dipakai di rumah sakit, makanannya tidak sesuai selera dan tidak ada pilihan. Jauh dari kota, jauh dari warung penjual makanan, tidak boleh membawa HP sunyi sepi. Hanya suara-suara binatang yang kami dengar dan suara Pak Jono yang mendengkur keras. Santi dan Clara, teman satu rumahku malahan sempat menangis. Kami hanya saling berbisik mengungkapkan kekecewaan kami. Sungguh semuanya di luar bayanganku. Esoknya, hari kedua. Bu Jono membangunkan kami, dan menyuruh kami mandi. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi…. . “Hari ini Bapak berbaik hati, bak dan ember sudah terisi penuh, cukup untuk kalian bertiga. Kalian tak usah menimba air. Tapi nanti sore wajib nimba sendiri…ok?” seru Pak Jono. Wah gaul juga Pak Jono ini, dan memang sejak ketemu kelihatan orangnya menyenangkan. Selesai mandi, Pak Jono dan Ibu sudah duduk di tikar menunggu kami untuk sarapan. Lalu kami pun makan bersama. Ternyata walaupun yang dimakan sederhana, tetapi enak juga makan bersama. Jarang sekali aku makan bersama dalam keluarga, bahkan dapat dibilang tak pernah.Selesai sarapan, Bapak dan Ibu mengajak kami ke ladang. Ibu rupanya sudah menyiapkan makanan dan minuman serta bekal makan siang. Di sana kami disuruh untuk menyabit rumput untuk pakan sapi dan mengumpulkan kayu bakar untuk memasak. Bapak senang bercanda.

Ketika kami senang mengumpulkan rumput, sambil melemparkan sesuatu Bapak berteriak: “Awas ada ulat nih…!”. Spontan kami menjerit dan mendekati Bapak, lalu kami bertiga memukul-mukul Bapak. Kami tidak mau cari rumput lagi, padahal baru sedikit yang terkumpul. Lalu kami di suruh mengumpulkan dahan-dahan tumbuhan yang kering untuk kayu bakar. Bapak menakut-nakuti kami lagi. Kami pun merajuk. Karena hari sudah siang, kami disuruh berteduh di bawah pohon, sementara Ibu menyiapkan makan siang. Saat pulang kami harus membawa rumput dan kayu bakar. Lumayan jauh dan melelahkan tetapi asyik juga. Malamnya kami dapat tidur nyenyak karena kecapaian. Hari ketiga, Bapak dan Ibu Jono mengajak kami untuk ikut kerja bakti mengumpulkan batu-batu kali untuk pengerasan jalan di gang-gang kampung. Maklum jalannya masih tanah. Aku tidak dapat membayangkan kalau hujan pasti becek dan licin. Ketika sampai di sungai yang tidak jauh dari rumah, terlihat banyak orang sudah berkumpul. Kebanyakan bapakbapak dan pemuda. Mereka umumnya petani, sehingga tidak terikat pekerjaan. Bapak dan Ibu Jono memperkenalkan kami kepada orangorang yang ada di situ. Di antara kerumunan orang itu, ternyata kami bertemu dengan semua rombongan kelas kami yang tinggal di keluarga lain. Maka mulailah kami terjun ke kali berbaur dengan warga makan bersama. Semua makanan itu disiapkan Ibu-ibu warga kampung dengan sumbangan sukarela. Setelah istirahat makan sekitar setengah jam, semua bekerja lagi sampai sekitar jam dua siang. Esoknya kerja bakti dilanjutkan lagi. Sebagian orang memikul batu-batu itu, dan sebagian memasangnya di jalan yang biasa dilalui. Asyik tetapi menyenangkan juga dapat bermain air di sungai yang jernih. Hal lebih mengesankan gotong-royong warga kampung untuk memperbaiki jalan mereka. Hari keempat, aku, Santi dan Clara membantu Bapak dan Ibu Jono memanen singkong, dan sorenya membuat makanan dari singkong yang diparut. Karena banyak, kami bertiga disuruh Ibu mengantar sebagian kue itu untuk tetangga terdekat. “Sekalian silaturahmi…!” kata Ibu saat kami akan mengantarkan ke tetangga. Benar juga, para tetangga itu senang sekali. Mereka ramah dan mengajak aku ngobrol cukup lama. Mereka menanyakan banyak hal, tentang keluargaku, dan hal-hal lain. Mereka seolah kedatangan bidadari. Hari keenam, sekitar jam tujuh pagi Bapak dan Ibu Jono pamit.

Katanya akan ke kota untuk membeli pupuk dan keperluan lainnya dan pulangnya agak sore karena akan mampir ke tempat adiknya Pak Jono yang ada di kampung lain. Sebelum pergi, Ibu memberi tahu kami untuk mengambil sendiri sarapan dan makan siang. “Wah…. kita mau ngapain di rumah seharian”, pikirku. Lalu aku berinisiatif mengajak Santi dan Clara bersih-bersih rumah dan menyapu kebun di halaman depan yang cukup luas. Lumayan cape…padahal..di rumahku sendiri, aku tak pernah melakukannya, semua serba beres dikerjakan pembantu rumah tangga. Malamnya kami makan bersama-sama. Ketika sedang makan itu, Pak Jono dan Ibu mengingatkan bahwa besok kami akan dijemput sekitar jam delapan untuk kembali ke kota. Tiba-tiba aku merasa sedih. Aku merasa kok cepat sekali waktu berlalu. Aku masih ingin tinggal lebih lama bersama mereka. Aku ingin tinggal di kampung ini selamanya. Tanpa terasa air mata menetes, ternyata Santi dan Clara pun menangis. Lalu ibu mendekati dan memeluk kami “Yah…Bapak dan Ibu sayang pada kalian bertiga. Kami senang kalian ada di sini. Kami minta maaf bila tidak dapat menyenangkan kalian, karena memang beginilah keadaan dan kemampuan kami. Kalian anak-anak yang baik. Tetapi kalian kan harus pulang untuk belajar agar pintar. Nanti kalau liburan boleh main ke sini lagi” kata ibu sambil membelai kami bertiga. “Sudah, makannya dihabiskan, lalu tidur supaya besok badannya segar. Kan perjalananya jauh..!” Kata pak Jono. Akhirnya kami pun menyalami Pak Jono sambil meminta maaf dan berterima kasih.

a. Setelah membaca cerita tersebut, tanyakanlah terlebih dahulu hal-hal yang perlu kamu ketahui tentang Live-In kepada guru atau temanmu yang pernah mengalaminya.

b. Kemudian coba ungkapkan apa kesan dari cerita tersebut? Pelajaran apa yang diperoleh Stefani, Santi dan Clara saat mereka berada di tengah warga.

Kita Perlu Mengenal Masyarakat dan Belajar dari Masyarakat Kenyataan yang tak dapat disangkal adalah bahwa dirimu adalah warga masyarakat dan bagian dari masyarakat. Dirimu hidup di tengah dan bersama masyarakat. Sejauhmana kamu mengenal masyarakatmu ? Coba sekarang kamu menuliskan nama tokoh-tokoh masyarakat sekitarmu!

a. Ketua RT tempat tinggalmu :………………………………………………………………..

b. Ketua RW tempat tinggalmu :………………………………………………………………..

c. Kepala Dusun/ Kepala Kampung :……………………………………………………..

d. Lurah/Kepala Desa :…………………………………………………………………………..

e. Kepala Keluarga tetangga sebelah kiri, kanan, depan, belakang rumahmu: …………………………………………………………………………………………

Kita membutuhkan masyarakat dan dapat belajar dari yang terjadi atau yang berlangsung dalam masyarakat, baik berupa nilai-nilai, norma atau aturan, pandangan dan sikap masyarakat akan sesuatu hal, serta kebiasaan-kebiasaan yang ada. Diskusikan dengan temanmu! a. Norma-norma atau aturan apa saja yang ada dalam masyarakatmu, yang kalau kita ikuti dapat membentuk dan mengembangkan dirimu ? b. Kebiasaan baik dalam masyarakatmu yang dianggap masih relevan untuk diikuti dan dikembangkan dalam kehidupanmu sehari-hari ? c. Siapa saja orang dalam masyarakatmu yang dapat dipandang sebagai tokoh yang patut diteladani dan apa teladannya ? d. Adakah norma atau aturan, sikap dan pandangan, kebiasaan yang ada dalam masyarakatmu yang tidak relevan untuk manusia zaman sekarang ? Apa contohnya dan jelaskan alasanmu! e. Kalau demikian, sikap apa yang perlu dikembangkan dalam menyikapi hal-hal yang ada dalam masyarakat yang dianggap tidak sesuai dan tidak mendukung perkembangan dirimu? Setelah diskusi selesai, masing-masing kelompok dapat mempresentasikan hasilnya, dan kelompok lain dapat memberi tanggapan berupa pertanyaan atau komentar.

 

Tentang Peran Masyarakat Bagiku | medsis | 4.5