Membaca dan Cara Menulis Catatan Kaki Artikel Teknologi

Membaca dan Cara Menulis Catatan Kaki Artikel Teknologi

Teknologi

Teknologi

Teknologi  – Di bab ini, kalian akan kembali mempelajari cara mencatat sumber tertulis lainnya, yaitu catatan kaki (footnote) dan menulis parafgraf eksposisi. Pertama, kalian diharapkan bisa menentukan satu topik untuk diskusi, mengumpulkan sumber tentang topik tertentu yang disepakati, menulis pokok-pokok pikiran dari tiap sumber, mengidentifikasi fakta dan pendapat, serta menyarikan isi pokok dari tiap sumber. Kedua, kalian diajak untuk bisa mencatat nama sumber, tahun, dan nomor halaman dari sumber tertulis dalam bentuk catatan kaki . Ketiga, kalian diajak untuk bisa menulis gagasan secara logis dan sistematis dalam bentuk ragam paragraf ekspositif dengan menunjukkan ciri-ciri paragraf eksposisi.

Teknologi  – Keempat, kalian diajak untuk bisa mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi. Jadi, kalian harus bisa menceritakan kembali isi cerpen yang kalian baca, mengungkapkan hal menarik yang terdapat dalam cerpen, serta mengaitkan isi cerpen dengan kehidupan sehari-hari. Kelima, kalian diajak untuk dapat menemukan nilainilai cerita pendek melalui kegiatan diskusi. Keenam, kalian diajak untuk bisa memahami penggunaan imbuhan meng-. Itu berarti kalian juga harus dapat memahami bentuk dan fungsi imbuhan meng-. Selamat belajar dan sukseslah selalu.

Teknologi

Membaca Ekstensif

Teknologi  – Cara efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama apa yang Anda baca, dapat dilakukan dengan dua cara. 1. Mengorganisasikan bahan yang dibaca dalam kaitan yang mudah dipahami. 2. Mengaitkan fakta yang satu dengan yang lain, atau menghubungkan dengan pengalaman yang dihadapi. Salah satu teknik membaca yang efisien adalah sistem SQ3R (Survey-Question-ReadRecite [Recall]-Review). Sistem ini biasa digunakan banyak orang. Bila kelima tahap dalam sistem tersebut kita terapkan akan membantu daya ingat dan memperjelas pemahaman. Pada pelajaran ini akan disajikan wacana dari tiga sumber tertulis. Terapkan langkahlangkah di samping untuk membaca wacanawacana tersebut.

Apakah Teknologi Itu?

Teknologi  – Teknologi adalah ilmu dan seni membuat dan menggunakan sesuatu. Manusia, anehnya dapat mengubah bahan dari dunia alami menjadi piranti, mesin, dan sistem yang dapat mempermudah kehidupan mereka. Walaupun makhluk lain dapat pula membuat sesuatu dan menggunakan piranti, cara mereka melakukannya nyaris tidak berubah dari waktu ke waktu. Teknologi manusia berbeda. Orang dapat melihat kebutuhan baru, menemukan cara baru untuk memenuhinya, dan menentukan nilai temuan-temuan tak disengaja. Misalnya, temuan api serta kemampuannya mengubah lempung menjadi keramik atau batuan menjadi logam memungkinkan terciptanya dunia modern. Selama beberapa abad terakhir, para ilmuwan telah menemukan jawaban mengapa bahan mentah dan alat berperilaku menurut kodratnya masing-masing. Dengan pengetahuan ini, bahan lama telah ditingkatkan, bahan baru diciptakan.

Teknologi  – Ilmu dan matematika mampu menghasilkan barang-barang mulai dari pakaian renang sampai pesawat terbang. Sesuatu dibuat berdasarkan rancangan dengan menentukan apa yang diperlukan dan bagaimana menyediakannya. Kini para perancang mempunyai amat banyak jenis bahan, metode, dan unsur yang dapat digunakan untuk mewujudkan gagasan mereka. Mereka menghasilkan sesuatu yang bekerja baik, berharga murah, dan memuaskan pemakainya, tetap benarbenar merupakan seni tersendiri. Kemauan untuk menciptakan sesuatu yang baru sangatlah kuat. Roda baca buatan abad ke-19 merupakan upaya untuk memberikan semacam kemudahan bagi para sarjana zaman praelektronika sebagaimana kemudahan yang kita peroleh dari komputer pribadi.

Teknologi  – Dengan memutar roda tersebut dapat dijangkau banyak bahan kepustakaan. Namun, seperti kebanyakan penemu lainnya, pencipta roda baca yang tidak ada namanya ini tidak berhasil menentukan biaya dan kenyamanannya. Orang juga tidak dapat bertahan hidup tanpa persediaan air yang memadai untuk kebutuhan hidup mereka sendiri, tanaman, dan ternak mereka. Cara-cara cerdik untuk mengucurkan dan membagi-bagi air memungkinkan orang bisa hidup di tempat-tempat yang terlalu kering sekali pun. Alat sederhana menyerupai derek yang dinamakan timba telah digunakan di seluruh Asia selama beriburibu tahun. Dengan memberikan beban pada ujung balok-lintang, perancang alat ini dengan pintar dan praktis memudahkan pengangkatan ember berisi air kali dan menumpahkannya ke dalam saluran irigasi yang mengalirkan air ke lahan pertanian yang kekeringan. Sumber: Jendela Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Solusi Pertanian Lahan Kering

Pertanian lahan kering selalu dihadapkan pada kesulitan untuk memanfaatkan air sehemat mungkin. Beberapa cara pemberian air dengan tujuan mempertinggi keefektifan irigasi telah banyak dilakukan, di antaranya adalah sistem irigasi tetes (SIT) dan sistem irigasi curah (SIC). Kedua sistem itu terbukti cukup efektif, namun harus dibarengi dengan biaya investasi, biaya operasi, pemeliharaan yang cukup tinggi, dan kualitas air yang cukup baik. Kendala itu sangat merepotkan bagi para petani karena sebagian besar komponennya masih harus didatangkan dari luar negeri. Oleh karena itu, Budi Indra Setiawan, mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknik Pertanian IPB, dalam penelitiannya yang berjudul “Sistem Irigasi Kendi” mencoba memecahkannya. Budi memaparkan bahwa sistem irigasi kendi (SIK) dirancang dengan berbagai pertimbangan yang utama adalah bagaimana mengusahakan agar air yang diberikan benar sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman serta kehilangan air melalui evaporasi dapat dihindari. Pertimbangan berikutnya ialah mengupayakan agar teknologi ini 100% menggunakan komponen dalam negeri, mudah diproduksi, mudah dipasang, dan dioperasikan serta biaya pemeliharaan yang relatif rendah. Dalam penelitiannya dikatakan bahwa SIK ini bertujuan untuk memberikan air langsung ke daerah perakaran tanaman. Caranya dengan membenamkan kendi sampai mencapai daerah perakaran. Kendi ini jika diisi air akan merembeskan air ke tanah di sekeliling perakaran melalui dindingnya yang dibuat permeabel. Kemampuan dinding meluluskan air (permeabilitas kendi) dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi kebutuhan evapotranspirasi tanaman setiap waktu dengan memperhatikan sifat hidrolika tanahnya pula. Berdasarkan simulasi pergerakan air tanah diketahui bahwa untuk berbagai jenis tanah pertanian permeabilitas dinding kendi yang tepat berkisar antara 10,6 sampai 10,8 cm/detik. Oleh karena itu, untuk memenuhi angka permeabilitas ini, tanah liat yang biasa dipakai sebagai bahan baku pembuatan gerabah dapat ditambah pasir dan serbuk gergaji dengan komposisi tertentu, sampai tertinggi mencapai 25% basis bobot untuk masing-masing bahan campuran tersebut. Pembuatan kendi selanjutnya sama dengan proses pembuatan gerabah lainnya. Dimensinya ialah berdiameter badan 15 cm, tinggi badan 20 cm, diameter leher 5 cm, dan tebal dinding sekitar 1 cm.

Bidang Terapan Budi menjelaskan, jika kendi ini ditanam ke dalam tanah dan dibiarkan sampai 24 jam, airnya mampu membasahi tanah sampai radius 20 cm dan ke arah bawah mencapai 10 cm jika dinding kendi bagian bawahnya dibuat kedap air. Di sekeliling kendi dapat ditanam berbagai jenis tanaman seperti cabai, tomat, mentimun, dan buncis. Untuk menguji keandalan sistem irigasi kendi ini, Budi mengujicobakan di berbagai lokasi, jenis tanah, dan jenis tanaman sejak tahun 1996. Di Lombok Timur pernah dicoba untuk cabai, tomat, mangga, dan sarikaya. Adapun di daerah lain, seperti Cilegon, Bekasi, Subang, Sukabumi, dan Lampung diuji coba untuk tanaman sayuran dan buah-buahan pada saat berumur muda. Semua uji coba yang telah dilakukan itu memberikan hasil yang cukup istimewa.

Keunggulan Teknologi Untuk mempermudah pemberian air ke dalam setiap kendi dapat dilakukan secara manual dan otomatis. Cara manual, yaitu dengan langsung mengisinya jika sudah kosong. Cara otomatis, yaitu dengan menggunakan tabung Mariotte dan selang-selang air yang menghubungkannya dengan setiap kendi. Tabung Mariotte dapat dibuat dari drum, dan secara otomatis akan mengisi air ke setiap kendi jika terjadi perbedaan tinggi air di dalam drum dan kendi.

Catatan Kaki

Sekarang kita akan mempelajari pencantuman sumber kutipan pola konvensional. Cara pencantuman sumber kutipan dengan menggunakan pola konvensional, yaitu menggunakan catatan kaki atau foot note. Perhatikan contoh penggunaan catatan kaki yang digunakan pada buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer karya Jujun Suriamiharja berikut! Perhatikan pula nomor pada teks dan keterangan sumbernya pada catatan kaki.

Catatan kaki untuk buku dimulai dengan nama pengarang diikuti koma, judul buku (ditulis dengan huruf awal kapital dan dicetak tebal atau dicetak miring), nomor seri, jilid dan nomor cetakan (kalau ada), kota penerbit (diikuti titik dua), nama penerbit (diikuti koma), dan tahun penerbitan (ditulis dalam kurung dan diakhiri dengan titik). Catatan kaki untuk artikel dan majalah dimulai dengan nama pengarang, judul artikel, nama majalah, nomor majalah jika ada, tanggal penerbitan, dan nomor halaman. Jika dari sumber yang sama dikutip lagi, pada catatan kaki ditulis ibid. (singkatan dari ibidum) yang artinya sama persis sumbernya dengan catatan kaki di atasnya. Jadi mirip dengan idem atau sda. Untuk sumber yang telah disisipi sumber lain, digunakan istilah op. cit. (singkatan dari opere citato). Untuk sumber dari majalah dan koran yang telah disisipi sumber lain digunakan istilah loc. cit. (singkatan dari loco citato).

Eksposisi

Eksposisi merupakan karangan yang bertujuan untuk menginformasikan tentang sesuatu sehingga memperluas pengetahuan pembaca. Karangan eksposisi bersifat ilmiah/nonfiksi. Sumber karangan ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian atau pengalaman. Di sinilah perbedaannya dengan karangan deskripsi. Karangan deskripsi bertujuan menggambarkan/melukiskan sesuatu sehingga seolah-olah pembaca mengatakannya sendiri. Karangan deskripsi dapat bersifat ilmiah atau nonilmiah. Sumber karangan diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian, dan imajinasi. Eksposisi tidak selalu terbagi atas bagian-bagian yang disebut pembukaan, pengembangan, dan penutup. Hal ini sangat tergantung dari sifat karangan dan tujuan yang hendak dicapai.

Pola Pengembangan Proses Pola pengembangan karangan eksposisi bisa bermacam-macam, di antaranya pola pengembangan proses. Paragraf proses itu menyangkut jawaban atas pertanyaan bagaimana bekerjanya, bagaimana mengerjakan hal itu (membuat hal ini), bagaimana barang itu disusun, bagaimana hal itu terjadi.

 

Membaca dan Cara Menulis Catatan Kaki Artikel Teknologi | medsis | 4.5