Rambu rambu Pengendalian Pencemaran

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Rambu rambu Pengendalian Pencemaran

Rambu rambu Pengendalian Pencemaran adalah:

1. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 2. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Jo. PP 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3, beserta peraturan pelaksanaannya 3. Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kualitas Air dan Pencemaran Air, beserta peraturan pelaksanaannya 4. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, beserta peraturan pelaksanaannya 5. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, beserta peraturan pelaksanaannya 6. Baku Mutu Lingkungan 7. Beberapa peraturan Daerah dan SK Gubernur 8.

Dan lain-lain Di samping aturan yuridis formal sebagaimana diuraikan di atas, suatu kegiatan usaha khususnya aktivitas industri yang berkecenderungan mengolah material dan berlimbah, harus ada paradigma baru dalam aktivitasnya.

Paradigma baru tersebut adalah Tinggalkan pendekatan end of pipe tetapi Kembangkan pendekatan efisiensi. Pendekatan efisiensi yang dimaksud adalah (1) pollution prevention, (2) waste minimization, (3) cleaner production, dan (4) Reduce–Reuse– Recycle (3R). Sebagai bagian dari paradigma efisiensi ini, setiap usaha, aktivitas, dan sejenisnya harus berusaha pada Tindakan pencegahan sebagai upaya pengendalian pencemaran lingkungan, meliputi: 1. Cleaner Production (produksi bersih, artinya menghasilkan barang atau produk yang tidak mencemari lingkungan, baik dari segi bahan baku, selama proses produksi, maupun hasil-hasil yang diproduksi). 2. Minimizes limbah (meminimalkan limbah yang timbul akibat kegiatan, bahkan menghilangkannya) 3. ISO 14000 (manajemen berbasis pada upaya pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan. (ISO adalah singkatan dari The International Organization for Standardization, sedang 14000 merupakan seri yang dikeluarkan oleh badan atau lembaga tersebut) 4. Ecolable (memberikan tanda, simbol, atau label pada proses, barang, atau jasa yang mengedepankan pelestarian peningkatan kualias lingkungan) 5. AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) 6. Audit lingkungan 7. Baku mutu lingkungan hidup

Sedang pada tataran global, sebagai upaya pengendalian pencemaran lingkungan oleh aktivitas industri, telah dikembangkan paradigma baru, yakni Green Chemistry (baca: Kimia yang Ramah Lingkungan). Green merupakan salah satu kata dengan berbagai konotasi, namun dalam kajian ini hubungan yang lebih penting adalah dengan lingkungan, dan untuk pertama kalinya penggunaan kata ini di awal 1970- an. Green Chemistry (Kimia Ramah Lingkungan) pertama kali digunakan secara luas di USA selama 1990-an. Pada 1996 EPA (Environmental Protection Agency) menginisiasi Program Green Chemistry (Green Chemistry Program). Dalam program ini termasuk di dalamnya riset, pendidikan, usaha lain seperti Presidential Green Chemistry Challenges Awards, dan program tahunan invasi dalam “cleaner, cheaper, smarter chemistry”. Pada mulanya, EPA mengenalkan dan mempelopori program ini dalam kerangka pencegahan polusi dan toksisitas (EPA, 2003). Demikian juga Himpunan Kimia Amerika (The American Chemical Society) secara aktif telah mempromosikan Green Chemistry (Gambar 1), dan Himpunan Kimia Inggris Raya (The Royal Chemistry Society in England) secara rutin telah mempublikasikan Jurnal Riset Green Chemistry. Beberapa universitas di kedua negeri tersebut telah membuka program gelar di bidang Green Chemistry (Kotz, dkk., 2006). Pada akhir-akhir ini konsep Green Chemistry telah berkembang di belahan dunia lainnya, seperti Eropa, Australia, dan Jepang.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Sebagai bidang kajian, Green Chemistry merupakan bidang kajian yang relatif baru. Kata green yang bisa diartikan sebagai ramah lingkungan atau bersahabat dengan lingkungan, bagaimana dengan chemistry be green. Masyarakat sudah tidak asing dengan istilah kimia atau bahan kimia (chemistry dan chemicals), dan kata ini sering disinonimkan untuk bahan-bahan toksik (racun) atau bahan-bahan yang berbahaya. Hal ini memang juga tidak terlalu salah. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak asing lagi dengan antibiotik dan berbagai macam obat-obatan, plastik, pupuk, pestisida, zat aditif makanan, dan sebagainya.

Green Chemistry mencakup rancangan bagaimana produk bahan kimia dan proses pembuatannya sedapat mungkin menurunkan atau mengeliminasi bahan-bahan kimia dan generasinya yang bersifat racun dan berbahaya (Dintzner, 2006). ACS mendeifnisikan Green Chemistry sebagai rancangan produk kimia dan prosesnya yang bersifat mengurangi atau menghilangkan penggunaan dan pembebasan bahan-bahan yang berbahaya, sedangkan EPA mendefinisikannya seagai penggunaan kimia untuk pencegahan polusi (Kotz, 2006). Menurut Anastas dan Warner (1998), green chemistry merupakan penerapan sejumlah kaidah fundamental kimia untuk mengurangi pemakaian atau memproduksi bahan kimia yang berbahaya yang terkonsep dalam merancang, menggunakan, dan memproduksi bahan kimia. Green chemistry bertujuan untuk mencegah atau mengurangi bahaya polusi pada segala lini atau jalur timbulnya polusi tersebut. Menurut prinsip green chemistry dalam mendesain suatu proses atau reaksi kimia, kimiawan atau insinyur kimia harus memperhatikan dan mempertimbangkan segala aspek tentang kemungkinan bahaya suatu bahan kimia terhadap kesehatan maupun lingkungan, baik dari sisi bahan baku atau bahan dasar (raw material dan feedstock), proses, maupun produknya. Secara umum green chemistry berprinsip pada (a) meminimalkan bahan buangan, (b) penggunaan katalis dalam reaksi, (c) penggunaan reagen yang tidak/kurang berbahaya, (d) penggunaan bahan baku yang dapat diperbarui (renewable), (e) peningkatan efisiensi secara ekonomi, (f) penggunaan sistem yang memungkinkan bebas pelarut atau pelarut yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang (Rahayu, 2003). Dintzner, dkk. (2006) menyatakan bahwa penggunaan radiasi gelombang mikro (microwave irradiation) reaksi kimia dapat mempercepat laju reaksi dan bahan kimia yang lebih bersih, dan hal ini merupakan salah satu komponen penting dalam green chemistry. Terdapat 12 (dua belas) prinsip pada Green Chemistry. Dua belas prinsip Green Chemistry (12 Principles of Green Chemistry) tersebut adalah (Anastas & Warner, 1998):

1. Pencegahan (Prevention). 2. Ekonomi Atom (Atom Economy). 3. Sintesis Bahan Kimia Yang Kurang Berbahaya (Less Hazardous Chemicals Synthesis). 4. Merancang Bahan-bahan Kimia yang Aman (Designing Safer Chemicals). 5. Pelarut dan Bahan Pendukung Lain yang Aman (Safer Solvents and Auxiliarie). 6. Merancang untuk Efisiensi Energi (Design for Energy Efficiency). 7. Menggunakan Bahan Baku yang Dapat Diperbarui (Use of Renewable Feedstocks). 8. Mengurangi bahan-bahan turunan atau produk samping (Reduce derivatives) 9. Katalisis (Catalysis). 10. Rancangan untuk Degradasi (Design for Degradation). 11. Analisis Serempak dalam Pencegahan Polusi (Real-time for Pollution Prevention). 12. Perlakuan Kimiawi yang Lebih Aman untuk Pencegahan Kecelakaan (Inherently Safer Chemistry for Accident Prevention).

Rambu rambu Pengendalian Pencemaran

Rambu rambu Pengendalian Pencemaran

 

Rambu rambu Pengendalian Pencemaran | medsis | 4.5