Permainan dan Merancang Karya Teater

Permainan dan Merancang Karya Teater

Permainan dan Merancang Karya Teater

Permainan dan Merancang Karya Teater

1. Menghindar dari Serangan Lebah

Mula-mula pelatih menyuruh siswa/siswi berjalan dari A ke B dan kembali lagi ke A. Lalu berjalan lagi sambil

membayangkan ada seekor Kumbang/Tawon menyerang. Setiap siswa/siswi harus menghindar dari serangan Kumbang/Tawon itu. Latihan dilanjutkan dengan membayangkan Kumbang/ Tawon-nya 5, 10, 50, 100 dan seterusnya. Kemudian siswa/ siswi disuruh menjadi lebahnya.

2. Jalan yang Licin

Masing-masing anak membayangkan berjalan di jalan yang licin. Jaraknya ditentukan oleh pelatih. Misalnya, dari sudut A ke B yang berjarak 10 – 20 meter. Apa pun yang dilakukan anakanak adalah yang terbaik. Jangan disalahkan. Yang salah adalah bila ada anak yang meniru apa yang dilakukan temannya. Dalam latihan seperti ini, yang dihindari adalah meniru. Pelatih harus membebaskan anak-anak. Biarlah mereka berlaku berdasarkan imajinasinya masing-masing. Variasi dari latihan ini, ialah: a. Berjalan di jalan yang lengket. b. Berjalan di jalan yang berlubang. c. Berjalan di jalan banjir. d. Berjalan di jalan yang panas. e. Berjalan dengan kaki yang tidak dapat ditekuk. f. Berjalan dengan kaki yang tidak dapat diluruskan.

Merancang Karya Teater dari Naskah Adaptasi 

Berdasarkan naskah Filipina, “Mentang-mentang dari New York” karya Marcelino Acana Jr, Noorca Marendra memindahkan setting peristiwanya ke kampung Jelambar, di wilayah Jakarta Barat. Lakon ini bercerita tentang seorang janda, Bi Atang dan anak gadisnya, Ikah yang sok kaya. Perabotan rumahnya terdiri dari seperangkat kursi rotan, dan sebuah radio besar. Lakon ini sangat terbuka untuk diadaptasi ke semua propinsi di Tanah Air, dengan memindahkan setting peristiwanya ke daerah setempat. Dan persoalan yang diungkapkan oleh lakon tidak berjarak dengan persoalan-persoalan di semua Negara berkembang.

1. Membentuk staf produksi

Langkah pertama yang dilakukan oleh guru pembimbing adalah mengumpulkan semua siswa yang akan turut mendukung pementasan, lalu membentuk staf produksi, dengan pembagian tugas sebagai berikut: a. Memilih dan menentukan siswa yang berminat di staf artistik; Pemain, penata musik, penata gerak, penata penata busana, penata rias, penata dekor, dan penata cahaya. b. Memilih dan menentukan siswa yang berminat di staf managemen; pimpinan produksi, keuangan, dana dan usaha, dokumentasi, konsumsi dan bagian umum. Semua yang turut mendukung pementasan harus saling bekerjasama dengan baik. Dan untuk memperlancar kerjasama diperlukan pembagian kerja dan batasan yang jelas mengenai wewenang dan kewajibannya masing-masing, sehingga tidak terjadi pertengkaran selama bekerja.

2. Memilih dan menentukan pemain

Setelah membaca dan memahami isi naskah, guru pembimbing menjelaskan alur cerita dan melukiskan dan menentukan pemain yang akan memerankan tokoh-tokoh yang ada di dalam naskah. Caranya bisa dimulai dengan membaca naskah secara bergiliran kemudian ditentukan pemerannya. Atau dengan cara, siswa memilih peran yang mereka sukai, kemudian diberi waktu untuk mempresentasikan peran yang mereka pilih tersebut.

3. Menentukan Karakterisasi Menganalisa

tokoh-tokoh yang ada dalam naskah “Mentang-mentang dari New York”. Di dalam menganalisa tokohtokoh ada tiga sumber informasi mengenai karakterisasinya. Pertama, dari keterangan yang ada di dalam naskah. Kedua, ucapan tokoh itu sendiri. Ketiga, ucapan tokoh lain tentang tokoh tersebut:

4. Ikah Keterangan di dalam naskah

menyebutkan; – “Ikah muncul, Ia mengenakan gaun yang mengsankan dihiasi kulit binatang berbulu pada lehernya. Sebelah tangannya mengayun-ayunkan sehelai sapu tangan sutra yang selalu dilambai-lambaikan apabila berjalan atau bicara, tangan lainnya menjepit pipa rokok yang panjang, dengan rokoknya yang belum dinyalakan. Dan inilah gaya Hollywood yang gila itu”. Kemudian, dianalisa, apa saja yang dikatakan Ikah dalam naskah tersebut. Dan apa yang dikatakan tokoh lain tentang Ikah. Demikian juga dalam menganalisa tokoh-tokoh lainnya, seperti; Bi Atang, Anen, Otong dan Fatimah.

5. Menentukan bloking

Bloking adalah pergerakan atau perpindahan pemain dari satu tempat ke tempat lain, (misalnya, dari duduk dikursi, berjalan untuk membuka jendela karena udara pengap). Kelangsungan bloking pemain didasarkan pada nilai-nilai komposisi panggung dengan mempertimbangkan “motif ” atau alasan bergerak. Ada pun alasan untuk bergerak ada dua sumbernya. Yaitu; berdasarkan alasan kewajaran dan alasan kejiwaan. Contoh dari alasan kewajaran: dalam percakapan di ruang tamu, seseorang berujar, “panas betul siang ini!” kemudian berjalan ke arah jendela dan membukanya. Atau berjalan dulu ke arah jendela dan membukanya, baru berkata, “panas betul siang ini!” Contoh alasan kejiwaan: adalah saat seseorang mengekspresikan ketakutan kemudian mengerutkan badannya. Atau saat seseorang melompat untuk mengekspresikan kegembiraan. Inti dari mendengar di dalam seni peran adalah menanggapi. Adapun menanggapi itu ada tiga: 1) menanggapi lawan main; – ekspresi dari percakapan dua orang atau lebih di dalam sebuah pementasan drama. 2) menanggapi sifat adegan; – merupakan ekspresi dari tokoh lakon yang menyesuaikan diri dengan sifat adegan sedih atau gembira, yang sedang berlangsung dalam sebuah pementasan. 3) menanggapi lingkungan adegan; – ini berhubungan dengan setting peristiwa. Misalnya, adegan sedang berlangsung di puncak gunung, di malam hari yang dingin, pemeran yang muncul, kemudian mengerutkan tubuhnya.

6. Tata Rias

Bagi pelajar, sering dijumpai penokohan yang usianya lebih tua dari usia mereka; – seperti peran ibu, bapak, lurah, dokter, raja, ratu, dst. Karenanya, diperlukan tata rias untuk mendekatkan siswa pada tokoh yang mereka perankan. Tata rias yang berdasar pada penokohan ini disebut Tata rias karakter.

7. Tata Busana

Tata busana yang dimaksud adalah tata busana untuk kebutuhan penokohan. Sumber dari tata busana penokohan adalah naskah lakon yang akan dipentaskan. Misalnya, bagaimana busana yang dikenakan oleh tokoh Ikah digambarkan; – “Ikah muncul, ia mengenakan gaun yang mengesankan dihiasi kulit binatang berbulu pada lehernya. Sebelah tangannya mengayun-ayunkan sehelai sapu tangan sutra yang selalu dilambai-lambaikan apabila berjalan atau bicara. Dan inilah gaya Hollywood yang gila itu”.

8. Tata Pentas

Tata Pentas yang dimaksud adalah segala sesuatu (termasuk set dekor) yang diatur berdasarkan kebutuhan pengadeganan. Misalnya, untuk set dekor untuk naskah lakon “Mentang-mentang dari New York”: Ruang tamu di rumah keluarga Bi Atang di kampung Jelambar. Pintu depannya di sebelah kanan, jendela sebelah kiri, di sebelah pentas ini, ada seperangkat kursi rotan, di sebelah kanan ada radio besar yang merapat ke dinding belakang. Di tengah dinding itu ada sebuah pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan bagian dalam rumah itu.

9. Tata Cahaya

Tata cahaya adalah kualitas penyinaran berdasarkan suasana adegan. Misalnya untuk kebutuhan pementasan “Mentang-mentang dari New York”: Pagi hari, ketika layar di buka, terdengar pintu depan diketuk orang, Bi Atang muncul dari pintu tengah sambil melepaskan apronnya, dan bersungut-sungut. Tata cahaya menggambarkan suasana pagi melalui kombinasi penyinaran dari lampu-lampu spot yang diberi gelatin (warna cahaya).

Permainan dan Merancang Karya Teater | medsis | 4.5