Pengertian dan Contoh Protista Mirip Tumbuhan

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Pengertian dan Contoh Protista Mirip Tumbuhan

Protista Mirip Tumbuhan

Protista 

Protista Mirip Tumbuhan – Kamu pasti pernah mendengar penyakit malaria, yang merupakan salah satu penyakit pembunuh terbesar bagi manusia sepanjang zaman. Tahukah kamu apa penyebab penyakit tersebut? Nyamuk malaria? Tentu bukan. Nyamuk malaria hanyalah pembawa dan penyebar penyakit tersebut. Jadi, apakah penyebabnya? Penyebabnya adalah Plasmodium, salah satu makhluk hidup dari kelompok protista yang akan kita pelajari berikut ini. Pada bab sebelumnya, kita telah belajar tentang makhluk hidup sangat sederhana yang tubuhnya dibangun oleh sel prokariot, yaitu Arkeobakteria dan Eubakteria.

Protista Mirip Tumbuhan – Pada bab ini kita akan melanjutkan kajian kita pada makhluk hidup yang lebih kompleks dan selnya sudah dibangun oleh sel eukariot atau sel yang sudah bermembran inti, yaitu Protista. Kingdom Protista adalah makhluk hidup eukariot paling sederhana, tetapi jauh lebih kompleks dalam hal struktur, fungsi, tingkah laku, dan ekologinya dibanding dengan Arkeobakteria dan Eubakteria. Kingdom Protista sering dikatakan makhluk hidup yang mempunyai bentuk campuran (mixed metamorf), kadang-kadang dapat berbentuk seperti tumbuhan karena dapat berfotosintesis, tetapi ada juga yang dapat bergerak seperti hewan.

Protista Mirip Tumbuhan – Hal tersebut sering membingungkan para ahli dalam mengelompokkannya, apakah termasuk hewan atau tumbuhan. Pada akhirnya untuk mempermudah cara pengelompokkannya, para ahli sepakat mengelompokkan menjadi tiga kelompok besar berdasarkan cara memperoleh makanan dan cara hidupnya. Kelompok pertama sering disebut sebagai Protista yang menyerupai tumbuhan. Disebut demikian karena makhluk hidup ini bersifat autotrof (dapat menghasilkan makanan sendiri) sehingga dapat berfungsi sebagai produsen. Kelompok tersebut memperoleh makanan melalui proses fotosintesis karena mereka memiliki kloroplas. Kelompok berikutnya adalah protista yang menyerupai fungi atau jamur.

Protista Mirip Tumbuhan – Kelompok ini disebut demikian karena bersifat heterotrof atau tidak dapat membuat makanannya sendiri. Protista tersebut bersifat sebagai konsumen dan dekomposer (pengurai), yaitu memperoleh makanan dari bahan organik yang telah jadi. Kelompok terakhir adalah protista yang menyerupai hewan dan bersifat sebagai konsumen. Protista ini mendapatkan makanannya dengan cara memakan bakteri, protista lain, atau memakan sel-sel sisa organisme multiseluler (bersel banyak). Konsep-konsep penting tentang protista yang akan dijelaskan dalam bab ini terangkum pada bagan konsep di halaman sebelumnya.

Protista Mirip Tumbuhan

Protista Mirip Tumbuhan

Protista Mirip Tumbuhan

Protista yang Menyerupai Tumbuhan

Protista Mirip Tumbuhan – Protista yang menyerupai tumbuhan adalah protista autotrof yang banyak ditemukan pada permukaan air tawar ataupun air laut di seluruh dunia. Protista semacam ini berfungsi sebagai produsen. Kelompok ini terdiri atas organisme eukariotik bersel satu maupun bersel banyak, yang sel-selnya memiliki ciri-ciri yang sama. Karena kemampuannya melakukan fotosintesis, kebanyakan protista dari kelompok ini merupakan fitoplankton dan merupakan penyedia biomasa serta oksigen dalam jumlah sangat besar. Dengan demikian, Protista berperan sebagai awal rantai makanan di perairan. Selain peran di atas, protista yang menyerupai tumbuhan telah dimanfaatkan manusia dalam banyak hal. Alga merah atau alga cokelat, digunakan sebagai pupuk. Diatom yang dapat menghasilkan tanah diatom dapat digunakan sebagai bahan penggosok, bahan penginsolasi panas dan beberapa macam filter. Di Jepang, Alga merah Porphyra dimanfaatkan sebagai tanaman pangan karena menghasilkan dua produk polisakarida yang penting, yaitu karogen dan agar. Keduanya dapat digunakan sebagai bahan pengemulsi dan pengental. Protista yang menyerupai tumbuhan ini dikelompokkan menjadi beberapa divisi, yaitu Euglenophyta atau Euglenoid, Pyrrophyta atau Dinoflagellata, Chrysophyta, Phaephyta, Rhodophyta, dan Chlorophyta.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

1. Euglenophyta Kebanyakan dari Euglenoid bersifat autotrof karena dapat berfotosintesis, sebagian kecil ada juga yang bersifat heterotrof. Ciri paling menonjol dari protista ini adalah tubuhnya uniselluler(bersel tunggal), berwarna hijau terang dan sangat indah. Bentuk sel euglenoid adalah oval dengan bagian posterior yang makin ramping. Meskipun Euglenoid dikelompokkan dalam kelompok Protista yang menyerupai tumbuhan, makhluk hidup ini tidak berdinding sel seperti halnya tumbuhan. Dengan tidak adanya dinding sel, menyebabkan mereka lebih bebas bergerak sehingga sering disangka sebagai sel hewan. Euglena adalah contoh yang paling terkenal dari euglenoid.

Euglenoid melakukan pertukaran air dengan lingkungan secara osmosis menggunakan vakuola kontraktil. Euglenoid juga mempunyai bintik mata (stigma) yang dapat digunakan untuk mengatur pergerakan sel ke arah cahaya. Ketika cahaya mengenai stigma, suatu rangkaian proses akan terjadi, yang akan merangsang flagela menggerakkan sel terus-menerus menuju arah cahaya tersebut. Hal ini akan mengoptimalkan penyerapan cahaya sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung. Hasil fotosintesis dari Euglenoid berupa karbohidrat disimpan berupa substansi yang disebut paramilum. Kloroplas Euglenoid seperti halnya pada tumbuhan, mengandung klorofil a dan b serta beberapa macam karotenoid. Permukaan air yang di dalamnya banyak terdapat Euglena viridis, akan tampak berwarna kehijauan, sedangkan yang banyak terdapat Euglena sanguinea tampak berwarna kemerahan. Organisme ini sering dipakai sebagai indikator adanya polusi perairan. Para ahli Biologi telah meneliti bahwa perkembangbiakan Euglenoid terjadi secara mitosis, tetapi mereka tidakmenemukan perkembangbiakan secara seksual. Euglenoid sering kali membelah secara cepat, sehingga pembelahan kloroplas belum sempat terjadi. Hal ini menyebabkan ada satu individu baru yang hasil pembelahannya tidak memiliki kloroplas dan kehilangan warnanya. Individu baru ini selanjutnya tumbuh menjadi makhluk hidup yang bersifat heterotrof. Sifat euglenoid yang kadang seperti tumbuhan dan kadang seperti hewan ini, menyebabkan pengelompokan Euglenoid masih sering menjadi bahan perdebatan.

Mengamati Sel Euglena

Buatlah kelompok-kelompok dalam kelasmu lalu lakukan tugas berikut ini. Sel Euglena dapat kita lihat dengan cara sederhana seperti berikut ini. Teteskan satu atau dua tetes air yang berasal dari perairan yang kaya akan bahan organik, misalnya kolam atau sawah. Amati objek tersebut dengan mikroskop perbesaran 400x, kemudian jawab pertanyaanpertanyaan di bawah ini. 1. Dapatkah kamu menemukan sel Euglena seperti yang telah digambarkan dalam buku ini? 2. Dapatkah kamu lihat bagian-bagian tubuh Euglena tersebut, seperti flagela, stigma, kloroplas, dan vakuola kontraktil? 3. Perhatikan pula bagaimana pergerakan sel Euglena tersebut, selanjutnya gambar sel yang kamu amati tersebut.

2. Pyrrophyta Pyrrophyta juga sering disebut tumbuhan api (fire plant) karena dapat menyebabkan pasang merah di laut. Timbulnya warna merah karena protista ini banyak mengandung karotenoid, sehingga penampakannya lebih sering berwarna emas, cokelat atau merah daripada berwarna hijau. Pyrrophyta atau dinoflagellata ini kebanyakan mempunyai vakuola kontraktil, kloroplas, dan mempunyai klorofil a dan b.

Dinoflagellata autotrof merupakan tipe fitoplankton yang umum dijumpai. Mereka merupakan penghasil biomassa dan oksigen yang luar biasa. Beberapa Dinoflagellata yang bersifat fotosintetik, hidup bersimbiosis pada tubuh beberapa jenis karang, anemon laut, cacing pipih, dan kerang raksasa. Beberapa Dinoflagellata juga bersifat heterotrof. Mereka hidup dengan cara menelan materi organik dan sel-sel hidup lain. Selain itu, sebagian kecil Dinoflagellata dapat bersifat sebagai parasit pada tubuh berbagai hewan laut, contohnya Protogonyaulax catenella.

Seperti halnya Euglenophyta, Pyrrophyta juga melakukan reproduksi hanya secara aseksual, yaitu dengan membelah diri, tetapi beberapa jenis dapat menghasilkan kista (stadium istirahat) yang bersifat seksual. Kista tersebut kemudian akan berkecambah menghasilkan individu baru pada kondisi yang cocok. Dinoflagellata sering menyebabkan suatu fenomena menarik di laut, yaitu dapat menghasilkan warna laut yang tiba-tiba memerah. Fenomena ini sering disebut pasang merah atau “red tides”. Kondisi seperti ini mengandung suatu racun yang dihasilkan Dinoflagellata tertentu dan dapat meracuni ikan, kerang, dan kadang-kadang manusia. Pasang merah beracun biasanya dapat terjadi setelah kepadatan populasi Dinoflagellata tertentu meningkat tajam (blooming). Jenis Dinoflagellata yang dapat menghasilkan pasang merah beracun, di antaranya Gymnodinium dan Protogonyaulax. Toksin atau racun yang dihasilkan spesies-spesies tersebut biasanya bersifat racun saraf atau neurotoksin, atau dapat menyebabkan pecahnya sel darah merah. Racun tersebut dapat membunuh ikan, remis, dan kerang-kerangan. Pada keadaan lain, racun ini dapat terkumpul pada tubuh hewan laut tertentu tanpa menyebabkan kematian hewan tersebut. Namun, jika hewan laut tadi termakan oleh manusia, dapat terjadi keracunan pada manusia yang memakannya. Oleh karena itu, dan konsumsi kerang-kerangan sering dihindari pada saat musim panas, yaitu musim ketika populasi Dinoflagellata jumlahnya meningkat tajam.

3. Chrysophyta Crhysophyta yang terdiri atas alga cokelat keemasan dan diatom, merupakan organisme fitoplankton yang paling banyak jumlah dan macamnya. Diatom mempunyai dinding sel seperti gelas dengan bentuk-bentuk geometri yang sangat bervariasi. Chrysophyta lain berwarna keemasan. Terdapat antara 6.000 sampai 10.000 spesies dalam divisi ini, dan dapat ditemui baik pada air tawar maupun air laut, uniseluler, atau terdapat dalam koloni. Kebanyakan dari spesies Crhysophyta bereproduksi secara aseksual. Beberapa alga cokelat tidak mempunyai dinding sel sehingga dapat bergerak seperti ameba atau sel hewan. Jenis lainnya mempunyai dinding sel terbuat dari pektin yang dapat digunakan sebagai perekat untuk menempel pada sel tumbuhan. Alga yang tersebut biasanya mempunyai dua flagel untuk pergerakannya.

Diatom yang bersifat fotosintetik di laut merupakan penyumbang oksigen terbanyak di atmosfer. Selain itu, diatom yang mempunyai dinding sel terbuat dari silika, setelah mati, sisa-sisa dinding selnya dapat membentuk tanah diatom. Tanah diatom adalah kumpulan sisa-sisa dinding sel diatom yang tertimbun selama ribuan tahun. Tanah diatom ini dapat dimanfaatkan sebagai serbuk absorben (penyerap), penyaring untuk kolam renang, pasta gigi, detergen, dan produk-produk lain yang bermanfaat. Contoh sel diatom dapat dilihat pada Gambar 4.3. Vaucheria hidup di air tawar, air laut, atau daratan yang sangat lembap. Talus bercabang-cabang, tidak bersekat dengan inti banyak yang menyebar di dalam protoplasmanya. Vaucheria tumbuh melekat pada substrat dengan menggunakan rizoid. Vaucheria berkembang biak secara aseksual dan seksual. Untuk memahami cara perkembangbiakannya, pelajari Gambar 4.4. Perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan zoospora di ujung filamen. Zoospora berinti banyak dan memiliki flagel yang tumbuh di seluruh permukaannya. Jika zoospora dilepas, akan tumbuh menjadi alga baru. Perkembangbiakan seksual terjadi melalui perkawinan ovum dan spermatozoid. Ovum dibentuk dalam oogonium, sedangkan spermatozoid dibentuk dalam anteridium. Keduanya terdapat dalam benang yang sama (homotalus). Hasil perkawinan berupa zigospora yang kemudian terlepas dari induknya dan tumbuh menjadi alga baru.

 

Pengertian dan Contoh Protista Mirip Tumbuhan | medsis | 4.5