Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat

Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat

Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat

Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat

Modernisasi Masyarakat Indonesia Sebagai Proses Industrialisasi dan Urbanisasi

a. Pengertian Industri, Perindustrian, dan Industrialisasi Pengertian industri, perindustrian, dan industrialisasi adalah sebagai berikut. 1) Industri adalah bagian dari proses produksi yang tidak mengambil bahan yang langsung dari alam, tetapi barang itu diolah dahulu hingga akhirnya menjadi barang yang bernilai bagi masyarakat. 2) Perindustrian merupakan kegiatan mengubah bahan organik secara mekanik atau secara kimia sehingga menjadi barang hasil baru, termasuk reparasi dan assembling (perakitan). Bahan-bahan organik dan anorganik berasal dari produksi primer yang disebut bahan mentah, misalnya karet, kayu, dan besi. 3) Industrialisasi adalah usaha untuk mengubah struktur negara dari negara pertanian menjadi negara industri. Di Indonesia, sektor industri dibedakan atas industri besar, sedang, kecil, dan rumah tangga. Pengelompokannya didasarkan atas banyaknya pekerja di perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan industri yang mempunyai pekerja 100 orang atau lebih dikategorikan sebagai industri besar; antara 20 sampai 99 orang sebagai industri sedang; antara 5 sampai 19 orang sebagai industri kecil; kurang dari 5 orang sebagai industri rumah tangga. Industri besar dan sedang merupakan penghasil gross output dan nilai tambah yang terbesar, namun dalam hal tenaga kerja, industri kecil dan industri rumah tangga menyerap lebih banyak pekerja karena jumlah perusahaan industri rumah tangga lebih banyak daripada perusahaan industri besar dan sedang. Manfaat industri sebagai berikut. 1) Memperbesar kegunaan bahan mentah. 2) Memperluas lapangan pekerjaan. 3) Menghasilkan aneka barang yang diperlukan oleh masyarakat. 4) Menjadikan kegiatan ekonomi lebih mudah berkembang karena tidak semata-mata tergantung pada lingkungan alam. Faktor pendorong perindustrian di Indonesia menurut Kuswanto sebagai berikut. 1) Indonesia kaya akan barang tambang, hasil hutan, hasil laut, dan hasil pertanian. 2) Jumlah penduduk yang besar sebagai faktor tenaga kerja dan konsumen. 3) Indonesia berbentuk negara kepulauan sehingga jaringan lalu lintas air berkembang baik. 4) Jenis kekayaan alam tersebar di berbagai daerah sehingga memungkinkan terjadinya tukar-menukar barang perdagangan antardaerah atau antarpulau. 5) Letak Indonesia di antara Benua Asia dan Australia sehingga memungkinkan pemasaran lebih luas. 6) Keanggotaan Indonesia dalam badan internasional maupun regional memudahkan terjalinnya kerja sama dalam bidang perindustrian.

b. Pengertian Urbanisasi Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Bagi daerah asal, urbanisasi merupakan migrasi keluar sehingga mengurangi jumlah penduduk desa. Adapun bagi kota, urbanisasi merupakan migrasi masuk yang bersifat menambah jumlah penduduk kota. Ada dua hal pokok penyebab urbanisasi, yaitu daya tarik yang berasal dari kota dan daya dorong dari tempat asal. Daya tarik yang berasal dari kota, misalnya sebagai berikut. 1) Lapangan pekerjaan tersedia lebih banyak di kota. 2) Kota merupakan tempat atau pusat kegiatan, seperti pusat pemerintahan, pendidikan, pelayanan kesehatan, industri, dan pusat pelayanan ekonomi. 3) Keadaan kota lebih gemerlap, misalnya keramaian kota, jalan-jalan mulus, gedung-gedung tinggi, dan banyaknya tempat hiburan di kota. 4) Pertumbuhan penduduk yang masih relatif tinggi di pedesaan. Pendapatan yang rendah memaksa penduduk desa mencari jalan lain ke kota untuk mengadu nasib. Daya dorong yang berasal dari tempat asal, misalnya sebagai berikut. 1) Lapangan kerja di desa lebih sempit. 2) Fasilitas pendidikan, kesehatan, dan hiburan belum memadai. 3) Tanah pertanian tidak mencukupi kebutuhan. Secara umum dapat dikatakan kecenderungan orang berbondongbondong ke kota disebabkan kemiskinan yang diderita oleh masyarakat pedesaan. Selama kemiskinan masih menggelayuti masyarakat pedesaan, selama itu pula arus migrasi ke kota akan tetap tinggi. Akibat urbanisasi di kota sebagai berikut. 1) Terjadinya ketegangan sosial. Hal ini disebabkan perbedaan latar belakang antara orang desa dengan ciri kekeluargaan dan gotong royong dan orang kota dengan ciri materialistis dan individualistis. 2) Jumlah tenaga kerja yang tidak terdidik dan terlatih di kota semakin meningkat. 3) Demoralisasi atau kemerosotan moral dan timbulnya daerah kotor (slums area). 4) Pertumbuhan di kota semakin cepat. 5) Lahirnya masyarakat yang statis dan egosentris, yaitu sebuah masyarakat yang hanya mau melihat dirinya, tidak dapat mengikuti perkembangan pembangunan yang melaju secara cepat. Kondisi demikian ini merupakan ciri sebagian besar masyarakat pedesaan yang masih terbawa ketika telah berada di kota besar.

6) Rendahnya tingkat kedisiplinan yang dimiliki masyarakat urban terhadap peraturan perundang-undangan yang ada. Hal paling mudah dilihat dari rendahnya tingkat kedisiplinan dalam menaati peraturan lalu lintas. Kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di kota-kota besar sebagai bukti. Munculnya kios-kios di trotoar jalan yang sebenarnya sarana tersebut jelas-jelas diperuntukkan bagi pejalan kaki juga dapat digunakan sebagai bukti. Akibat urbanisasi bagi desa sebagai berikut. 1) Di desa kekurangan tenaga kerja produktif yang penting untuk pembangunan. 2) Penduduk yang meninggalkan desa pada umumnya pemuda. Akibatnya, desa kekurangan tenaga kerja muda. Urbanisasi mungkin tidak dapat dicegah sama sekali, namun dapat dikurangi. Sikap terbaik menghadapi masalah urbanisasi dengan cara memberikan informasi yang cukup terhadap segala hal yang berkaitan dengan kehidupan di perkotaan. Memberikan informasi yang cukup terhadap para urban, antara lain tentang masalah jenis pekerjaan, biaya hidup, kepadatan penduduk, lingkungan sosial, dan sebagainya. Dengan pemberian informasi yang cukup, diharapkan para urban dapat berpikir lebih jernih dan rasional terhadap rencana kepergiannya ke kota. Adapun secara keseluruhan, cara-cara mengurangi kecenderungan urbanisasi, antara lain sebagai berikut. 1) Menciptakan peluang kerja lebih banyak di pedesaan, seperti penciptaan sentra-sentra industri, industri kecil, dan industri rumah tangga. 2) Memberikan penghargaan yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang mau menjadi penggerak di pedesaan, seperti sarjana penggerak pedesaan. 3) Memberikan kemudahan birokrasi setiap usaha yang memungkinkan terciptanya peluang kerja di pedesaan. 4) Memberikan kemudahan fasilitas permodalan bagi mereka yang ingin mempunyai usaha di pedesaan. 5) Mendorong para investor untuk dapat memprioritaskan kawasan pedesaan sebagai lahan untuk mendirikan usaha agar tercipta peluang kerja bagi masyarakat sekitar tempat tersebut. 6) Memperlancar hubungan antara desa dan kota dan meningkatkan fasilitas untuk keperluan hidup di desa. Pada dasarnya, jika di kawasan pedesaan dapat tercipta sebuah sarana dan prasarana yang dapat memperbaiki nasib, penduduk pedesaan akan berpikir dua kali untuk melakukan urbanisasi.

c. Potensi, Nilai, dan Fungsi Desa Dalam Rangka Modernisasi Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. Unsur desa sebagai berikut. 1) Daerah, dalam artian tanah-tanah yang produktif dan yang tidak beserta penggunaannya, termasuk juga unsur lokasi, luas, dan batas. 2) Penduduk, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, penyebaran, dan mata pencaharian penduduk desa setempat. 3) Tata kehidupan, dalam hal ini pola tata pergaulan dan ikatan pergaulan warga desa, yaitu seluk-beluk kehidupan masyarakat desa (rural society). Ketiga unsur desa tersebut tidak dapat terlepas satu sama lain dan tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan. Potensi desa meliputi sumber-sumber alami dan manusiawi yang tersimpan dan yang dapat diharapkan kemanfaatannya bagi kelangsungan dan perkembangan suatu desa. Potensi desa terdiri atas potensi fisik dan potensi non-fisik. Potensi fisik meliputi sebagai berikut. 1) Air dalam arti sumber air, keadaan air, dan tata airnya untuk kepentingan irigasi, pertanian dan kebutuhan sehari-hari. 2) Tanah, misalnya sumber tambang, mineral, dan sumber tanaman. 2) Iklim yang mempunyai peranan penting bagi desa yang bersifat agraris. 4) Manusia sebagai tenaga kerja pengolah tanah, produsen, dan konsumen. 5) Ternak dapat berfungsi sebagai sumber tenaga, sumber bahan makanan, dan sumber keuangan. Potensi non-fisik di desa meliputi sebagai berikut. 1) Masyarakat Desa Masyarakat desa hidup bergotong royong dan dapat merupakan suatu kekuatan berproduksi dan kekuatan membangun atas dasar kerja sama.

2) Lembaga Sosial Adanya pendidikan dan organisasi sosial di desa dapat memberikan bantuan sosial serta bimbingan dalam arti positif. 3) Aparatur Atau Pamong Desa Aparatur atau pamong desa merupakan sumber kelancaran dan tertibnya pemerintah desa. Keadaan penduduk dan dasar hidup masyarakat desa yang tidak sama mengakibatkan karakteristik desa bermacam-macam. Sebagai hasil akhir perkembangan desa terdapat beberapa stadium desa, yaitu: 1) desa terbelakang (underdeveloped village), 2) desa yang sedang berkembang (developing village), dan 3) desa yang maju (developed village). Nilai desa ditentukan oleh potensi yang tersimpan dalam desa itu, antara lain potensi sosial, ekonomi, demografis, agraria, politis, dan kultural.

Proses Industrialisasi dan Urbanisasi Masyarakat | medsis | 4.5