Pengertian Tentang Pola Pola Keruangan kota

Pengertian Tentang Pola Pola Keruangan kota

Pola Keruangan kota

Pola Keruangan kota

Pola Keruangan kota

a. Pola Konsentris

Pola Keruangan kota – Kota yang berpola konsentris dianggap berasal dari suatu tempat pengelompokan penduduk yang masing-masing bagiannya berkembang sedikit demi sedikit ke arah luar. Sehingga, tempat pertama yang berada di tengah merupakan pusat untuk segala kegiatan yang dikelilingi oleh zona-zona yang berbentuk lingkaran yang berlapis-lapis ke arah luar. Pusat kota inilah yang disebut Central Busines District (CBD) atau dalam bahasa Indonesia disebut Pusat Daerah Kegiatan (PDK). Di Amerika, pusat ini disebut juga dengan istilah loop atau down town, yang diterjemahkan sebagai simpul atau kota bawah. Teori ini dikemukakan oleh Ernest W. Burgess (1929).

Pola Keruangan kota

1) Zona pusat daerah kegiatan (Central Busines Districts), terdapat pusat perdagangan besar, gedung perkantoran yang bertingkat, hotel, restoran, bank, museum, dan sebagainya.

2) Zona peralihan atau zona transisi merupakan daerah yang terkait dengan pusat daerah kegiatan. Penduduk zona ini tidak stabil, baik dilihat dari tempat tinggal maupun sosial ekonominya. Zona ini dikategorikan sebagai daerah berpenduduk miskin. Dalam rencana pengembangan kota daerah ini dapat dijadikan sebagai kompleks industri menufaktur, perhotelan, tempat parkir, gudang, apartemen, dan jalan-jalan utama yang menghubungkan inti kota dengan daerah luarnya.

3) Zona permukiman kelas proletar (workingmen’s homes), perumahannya sedikit baik. Didiami oleh para pekerja yang berpenghasilan kecil atau buruh dan karyawan kelas bawah, ditandai oleh adanya rumah-rumah kecil yang kurang menarik dan rumah-rumah susun sederhana yang dihuni oleh keluarga besar.

4) Zona permukiman kelas menengah (residential zone), merupakan kompleks perumahan para karyawan kelas menengah yang memiliki keahlian tertentu. Rumahrumahnya lebih baik dibandingkan daerah kelas proletar.

5) Wilayah tempat tinggal masyarakat berpenghasilan tinggi. Ditandai dengan adanya kawasan elit, perumahan dan halaman yang luas. Sebagaian besar penduduk merupakan kaum eksekutif, pengusaha besar, dan pejabat tinggi.

6) Zona penglaju (commuters), merupakan daerah yang memasuki daerah belakang ( hinterland) atau merupakan daerah batas desa-kota.

Pola Keruangan kota – Penduduknya bekerja di kota dan tinggal di pinggiran kota. Beberapa kota yang tumbuh membentuk pola konsentris diantaranya adalah Tokyo di Jepang dan kota-kota pelabuhan, seperti Kota Chicago, Kalkuta, Adelaide, dan Amsterdam.

b. Pola Sektoral

Kota dengan pola sektoral dikemukakan oleh Homer Hoyt (1930). Pada kota yang berpola sektoral, dianggap bahwa sektorsektor yang menjadi bagian dari suatu kota dapat berkembang sendiri-sendiri tanpa banyak dipengaruhi oleh pusat kota maupun sektor lain. Suatu sektor dapat berkembang lebih cepat daripada sektor yang lain. Begitu pula jarak antar sektor dengan pusat kota juga berlainan. Perkembangan sektor-sektor ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas penduduknya, selain itu, topografi kota (terutama relief) juga mempengaruhi perkembangan kota ini.

Kota sektoral tersusun sebagai berikut.

1) Pada lingkaran dalam terletak pusat kota (CBD) yang terdiri atas bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar, dan pusat perbelanjaan. 2) Kawasan industri ringan dan perdagangan. 3) Sektor murbawisma, yaitu tempat tinggal kaum murba atau kaum buruh. Berada di dekat pusat kota dan dekat sektor pada nomor 2. 4) Agak jauh dari pusat kota dan sektor industri serta perdagangan, terletak sektor madyawisma. 5) Sektor adiwisma, yaitu kawasan tempat tinggal golongan atas. Pada kota sektoral, selain terjadi pertumbuhan mendatar terjadi juga pertumbuhan vertikal yang terdapat di sektor yang dihuni atau dimilki oleh orang yang cukup mampu.

Di Pemukiman kumuh di pinggir sungai (Sumber: www.google.com) samping pertumbuhan vertikal ini, pada sektor yang dihuni oleh penduduk yang kurang mampu terjadi pertumbuhan memampat. Ruang-ruang kosong yang masih tersedia antara perumahan baru atau bangunan lain yang umumnya tidak terlalu besar. Ciri pertumbuhan memampat adalah luasnya tidak bertambah atau hanya bertambah sedikit, tetapi penduduk dan kegiatannya bertambah banyak. Salah satu akibat dari pertumbuhan memampat ialah tumbuhnya pemukiman kumuh dan pemukiman liar. Daerah kumuh sering dijumpai di sepanjang aliran sungai atau sepanjang rel kereta api.

c. Pola Pusat Kegiatan Ganda

Teori kota dengan pusat kegiatan berganda dikembangkan oleh C.D. Harris dan E.L. Ullman (1945). Pada kota dengan pusat kegiatan berganda dapat dilihat dari kenyataan bahwa bagian-bagiannya mempunyai latar belakang lingkungan yang berlainan, baik lingkungan alami maupun lingkungan sosial dan ekonomi.

Dengan demikian, setiap pusat kegiatan dapat berkembang dan tumbuh sendiri-sendiri seolah-olah lepas dari pengaruh kegiatan yang lain. Keadaan tersebut telah menyebabkan adanya beberapa inti dalam suatu wilayah perkotaan, misalnya kompleks atau wilayah perindustrian, pelabuhan, kompleks perguruan tinggi, dan kota-kota kecil di sekitar kota besar.

Struktur ruang kota menurut teori ini adalah sebagai berikut. 1) Pusat kota atau Central Busines Districst (CBD). 2) Kawasan niaga dan industri ringan. 3) Kawasan murbawisma, tempat tinggal berkualitas rendah. 4) Kawasan madyawisma, tempat tinggal berkualitas menengah. 5) Kawasan adiwisma, tempat tinggal berkualitas tinggi. 6) Pusat industri berat. 7) Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran 8) Zona pemukiman suburban (madyawisma dan adiwisma). 9) Zona industri suburban. Adapun tahapan perkembangan kota di mulai dari beberapa tahap berikut ini.

1. Tahap eopolis, yaitu tahap perkembangan wilayah yang sudah diatur kearah kehidupan kota.

2. Tahap polis, yaitu tahap perkembangan kota yang masih ada pengaruh kehidupan desa.

3. Tahap metropolis, yaitu tahap perkembangan desa yang sudah mengarah ke sektor industri.

4. Tahap megapolis, yaitu tahap perkembangan kota yang telah mencapai tingkat tertinggi.

5 Tahap trinapolis, yaitu tahap perkembangan kota yang kehidupannya sulit dikendalikan.

6 Tahap nekropolis, yaitu tahap perkembangan kota yang kehidupannya mulai sepi dan mengarah menjadi kota mati. Berdasarkan bentuk bangunan dan persebarannya, tahap perkembangan kota dapat dibedakan menjadi 4 yaitu, sebagai berikut.

1 Standia infatile, yaitu bebentuk rumah dan toko menjadi satu. 2 Standia juventile, yaitu bentuk rumah kuno yang diganti menjadi rumah baru. 3. Standia sinile, yaitu bentuk kemunduran pada kota masingmasing. 4. Standia mature, yaitu bentuk rumah yang diatur penyusunannya seperti kawasan industri.

Dalam membahas perkembangan kota, ada beberapa istilah yang sering digunakan, seperti inti kota atau pusat kota (core of city), yaitu sebagai pusat kegiatan ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, kebudayaan, dan kegiatan lainnya. Oleh karena itu, daerah seperti ini dinamakan Pusat Daerah Kegiatan (PDK) atau Central Busines Districts (CBD). PDK berkembang dari waktu ke waktu sehingga meluas ke arah daerah di luarnya. Daerah ini disebut Selaput Inti Kota (SIK).

Pengertian Tentang Pola Pola Keruangan kota | medsis | 4.5