Perkembangan dan Interaksi Desa Kota

Perkembangan dan Interaksi Desa Kota

Interaksi Desa Kota – Berdasarkan sejarahnya, pertumbuhan kota dapat dibedakan sebagai berikut.

a. Kota Pusat Perdagangan

Interaksi Desa Kota – Berdasarkan sejarah pertumbuhan kota, kota yang berasal dari pusat perdagangan adalah kota Jakarta. Sejak zaman Penjajahan Belanda, Jakarta dikenal dengan beberapa nama seperti Jayakarta, Batavia, dan Sunda Kelapa. Berdasarkan sejarah kota Jakarta merupakan kota pusat perdagangan yang juga sebagai kota pelabuhan dan pusat pemerintahan.

b. Kota Perkebunan

Interaksi Desa Kota – Kota-kota yang berada di Pulau Jawa dan Sumatra berkembang karena adanya usaha perkebunan. Kota Medan dan Pematang Siantar di Sumatra termasuk kota perkebunan, di mana dahulunya merupakan kota yang banyak perkebunan milik Belanda.

c. Kota Pertambangan

Beberapa kota yang tumbuh di Indonesia disebabkan adanya kegiatan pertambangan.

Hal ini disebakan karena beberapa komoditas hasil tambang sangat bernilai ekonomis yang dapat menarik penduduk sekitarnya sehingga menjadi pusat kegiatan penduduk.

Contoh kota-kota yang tumbuh dari adanya pertambangan adalah: • Martapura karena adanya tambang intan • Bangka dan Belitung karena adanya tambang timah • Balikpapan karena adanya minyak bumi • Soroako karena adanya tambang nikel • Ombilin dan Muara Enim karena adanya batubara • Arun dan Bontang karena adanya gas alam • Tembaga Pura karena adanya tambang tembaga.

d. Kota Pusat Pariwisata

Beberapa kota di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang karena adanya tempat pariwisata baik yang disebabkan oleh hasil karya dan kebudayaan manusia atau karena potensi keindahan alamnya. Contoh kota ini adalah Yogyakarta, Surakarta, dan Bali.

Interaksi Wilayah Desa dan Kota

Dalam kehidupan kesehariannya, penduduk desa akan ke kota untuk menjual hasil pertaniannya, sekolah, dan membeli barang-barang hasil industri yang tidak terdapat di desa.

Begitu juga penduduk kota mencari tenaga kerja dan bahan mentah ke pedesaan. Dari kondisi inilah maka akan terjadi interaksi antara wilayah desa dan kota. Bintarto (1989) menyebutkan bahwa interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal balik dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan, melalui kontak langsung berita yang didengar atau melalui surat kabar.

Jadi, proses interaksi wilayah dapat diartikan sebagai suatu hubungan timbal balik yang saling berpengaruh antara dua wilayah atau lebih, yang dapat menimbulkan gejala dan permasalahan baru. Interaksi meliputi gerak pindah manusia, serta barang dan informasi yang menyertai tingkah laku manusianya. Interaksi ini terjadi demi memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial serta untuk keberlangsungan hidup suatu penduduk. Pola dan kekuatan interaksi antarwilayah dipengaruhi oleh keadaan fisik alami seperti bentuk permukaan bumi, kemiringan lereng, vegetasi, dan iklim. Selain itu juga dipengaruhi oleh keadaan non fisiknya seperti keadaan penduduk, kegiatan ekonomi, biaya, serta kemudahan-kemuahan yang dapat mempercepat proses hubungan antarwilayah.

Ada tiga faktor yang mendasari atau mempengaruhi timbulnya interaksi antarwilayah, yaitu:

1. adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi (region complementarity) 2. adanya kesempatan untuk saling berintervensi (interventing opportunity) 3. adanya kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang (spatial transfer ability). Perbedaan wilayah dalam ketersediaan dan kemampuan sumber daya mendorong terjadinya interaksi yang didasarkan saling membutuhkan, sehingga terjadilah hubungan wilayah yang saling melengkapi.

Interaksi Desa Kota

Interaksi Desa Kota

Perkembangan dan Interaksi Desa Kota

Perkembangan dan Interaksi Desa Kota

Adanya kemudahan pemindahan manusia, barang, maupun informasi dapat juga mempengaruhi pola interaksi antarwilayah. Kemudahan pemindahan dalam ruang tersebut sangat bergantung pada jarak dan kemudahan serta kelancaran prasarana transportasi antarwilayah. Misalnya kondisi jalan, relief wilayah, jumlah kendaraan sebagai sarana transportasi dan sebagainya sehingga akan berpengaruh pada ongkos angkut atau biaya transportasi. Wilayah-wilayah interaksi tersebut membentuk lingkaran-lingkaran yang dimulai dari pusat kota sampai ke wilayah pedesaan. Menurut Bintarto, wilayah-wilayah zona interaksi tersebut adalah sebagai berikut.

1. City merupakan pusat kota. 2. Suburban, sebagai subdaerah perkotaan yang lokasinya dekat pusat kota atau inti kota. Wilayah ini merupakan tempat tinggal para penglaju (komuter), yaitu penduduk yang melakukan mobilitas rutin harian tanpa menginap di kota. 3. Suburban fringe, yaitu jalur tepi subdaerah perkotaan yang melingkari suburban dan merupakan daerah peralihan antara kota dan desa. 4. Urban fringe, yaitu tepi daerah perkotaan paling luar yang ciricirinya mempunyai sifat-sifat mirip kota.

5. Rural urban fringe yaitu jalur batas desa kota yang letaknya antara daerah kota dan daerah desa yang ditandai dengan penggunaan tanah campuran antara sektor pertanian dan non pertanian desa. 6. Rural, yaitu daerah pedesaan. Zona-zona suburban, suburban fringe, urban fringe, rural urban fringe merupakan daerah-daerah yang memiliki suasana kehidupan modern, sehingga daerah-daerah tersebut dapat dikatakan daerah perkotaan. Untuk memahami hubungan antara dua wilayah atau lebih dan aspek interaksinya terdapat beberapa teori yaitu teori gravitasional, teori titik henti, dan teori indeks konektivitas.

Perkembangan dan Interaksi Desa Kota | medsis | 4.5