Perjanjian Aqabah

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

E. Perjanjian Aqabah
Kerasnya penolakan dan perlawanan Quraisy, mendorong Nabi Muhammad
saw. melancarkan dakwahnya kepada kabilah-kabilah Arab di luar suku Quraisy.
Dalam melakukan dakwah ini, Nabi Muhammad saw. tidak saja menemui mereka
di Ka’bah pada saat musim haji, ia juga mendatangi perkampungan dan tempat
tinggal para kepala suku. Tanpa diketahui oleh seorang pun, Nabi Muhammad
saw. pergi ke °aif. Di sana ia menemui ¢aqif dengan harapan agar ia dan
masyarakatnya mau menerimanya dan memeluk Islam. ¢aqif dan masyarakatnya
menolak Nabi dengan kejam. Meski demikian Nabi berlapang dada dan meminta
¢aqif untuk tidak menceritakan kedatangannya ke °aif agar ia tidak mendapat
malu dari orang Quraisy. Permintaan itu tidak dihiraukan oleh ¢aqif, bahkan ia
menghasut masyarakatnya untuk mengejek, menyoraki, mengusir, dan melempari
Nabi. Selain itu Nabi mendatangi Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan Bani
Amir bin Sa‘sa’ah ke rumah-rumah mereka. Tak seorang pun dari mereka yang
mau menyambut dan mendengar dakwah Nabi. Bahkan, Bani Hanifah menolak
dengan cara yang sangat buruk. Amir menunjukkan ambisinya, ia mau menerima
ajakan Nabi dengan syarat jika Nabi memperoleh kemenangan, kekuasaan harus
berada di tangannya.
Pengalaman tersebut mendorong Nabi Muhammad saw. berkesimpulan
bahwa tidak mungkin lagi mendapat dukungan dari Quraisy dan kabilah-kabilah
Arab lainnya. Karena itu, Nabi Muhammad saw. mengalihkan dakwahnya kepada
kabilah-kabilah lain yang ada di sekitar Mekah yang datang berziarah setiap
tahun ke Mekah. Jika musim ziarah tiba, Nabi Muhammad saw. pun mendatangi
kabilah-kabilah itu dan mengajak mereka untuk memeluk Islam. Tak berapa
lama kemudian, tanda-tanda kemenangan datang dari Ya¡rib (Madinah). Nabi
Muhammad saw. sesungguhnya punya hubungan emosional dengan Ya¡rib. Di
sanalah ayahnya dimakamkan, di sana pula terdapat famili-familinya dari Bani Najjar yang merupakan keluarga kakeknya, Abdul Mu¯¯alib dari pihak ibu. Karena
itu, tidak mengherankan apabila di tempat ini kelak Nabi Muhammad saw. arab
mendapat kemenangan dan Islam berkembang dengan amat pesat.
Ya¡rib merupakan kota yang dihuni oleh orang Yahudi dan Arab dari suku Aus
dan Khazraj. Kedua suku ini selalu berperang merebut kekuasaan. Hubungan
Aus dan Khazraj dengan Yahudi membuat mereka memiliki pengetahuan
tentang agama samawi. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan kedua suku
Arab tersebut lebih mudah menerima kehadiran Nabi Muhammad saw. Ketika
Yahudi mengalami kekalahan, suku Aus dan Khazraj menjadi penguasa di Ya¡rib.
Yahudi tidak tinggal diam, mereka berusaha mengadu domba Aus dan Khazraj
yang akhirnya menimbulkan perang saudara yang dimenangkan oleh Aus. Sejak
saat itu, orang-orang Yahudi yang sebelumnya terusir dapat kembali tinggal di
Ya¡rib. Aus dan Khazraj menyadari derita dan kerugian yang mereka alami akibat
permusuhan mereka. Oleh karena itu, mereka sepakat mengangkat Abdullah bin
Muhammad dari suku Khazraj sebagai pemimpin. Namun, hal itu tidak terlaksana
disebabkan beberapa orang Khazraj pergi ke Mekah pada musim ziarah (haji).
Kedatangan orang-orang Khazraj ke Mekah diketahui oleh Nabi Muhammad
saw., dan ia pun segera menemui mereka. Setelah Nabi berbicara dan mengajak
mereka untuk memeluk agama Islam, mereka pun saling berpandangan dan salah
seorang dari mereka berkata,“Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan oleh
orang-orang Yahudi kepada kita, dan jangan sampai mereka (Yahudi) mendahului
kita.” Setelah itu, mereka kembali ke Ya¡rib dan menyampaikan berita kenabian
Muhammad saw.. Mereka menyatakan kepada masyarakatnya bahwa mereka
telah menganut Islam. Berita dan pernyataan yang mereka sampaikan mendapat
sambutan yang baik dari masyarakat. Pada musim ziarah tahun berikutnya,
datanglah 12 orang penduduk Ya¡rib menemui Nabi Muhammad saw. di Aqabah.
Di tempat ini mereka berikrar kepada Nabi yang kemudian dikenal dengan
Perjanjian Aqabah I. Pada Perjanjian Aqabah I ini, orang-orang Ya¡rib berjanji
kepada Nabi untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah, baik di depan
atau di belakang, jangan menolak berbuat kebaikan. Siapa mematuhi semua
itu akan mendapat pahala surga dan kalau ada yang melanggar, persoalannya
kembali kepada Allah Swt.
Selanjutnya, Nabi menugaskan Mus’ab bin Umair untuk membacakan al-
Qurān, mengajarkan Islam serta seluk-beluk agama Islam kepada penduduk
Ya¡rib. Sejak itu, Mus’ab tinggal di Ya¡rib. Jika musim ziarah tiba, ia berangkat
ke Mekah dan menemui Nabi Muhammad saw. Dalam pertemuan itu, Mus’ab
menceritakan perkembangan masyarakat muslim Ya¡rib yang tangguh dan kuat.
Berita ini sungguh menggembirakan Nabi dan menimbulkan keinginan dalam
hati Nabi untuk hijrah ke sana.
Pada tahun 622 M, peziarah Ya¡rib yang datang ke Mekah berjumlah 75 orang,
dua orang di antaranya perempuan. Kesempatan ini digunakan Nabi melakukan
pertemuan rahasia dengan para pemimpin mereka. Pertemuan Nabi dengan para pemimpin Ya¡rib yang berziarah ke Mekah disepakati di Aqabah pada tengah
malam pada hari-hari Tasyriq (tidak sama dengan hari Tasyriq yang sekarang).
Malam itu, Nabi Muhammad saw. ditemani oleh pamannya, Abbas bin Abdul
Mu¯alib (yang masih memeluk agama nenek moyangnya) menemui orang-orang
Ya¡rib. Pertemuan malam itu kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Perjanjian
Aqabah II. Pada malam itu, mereka berikrar kepada Nabi sebagai berikut, “Kami
berikrar, bahwa kami sudah mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di
waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja
kami berada, dan di jalan Allah Swt. ini kami tidak gentar terhadap ejekan dan
celaan siapapun.”
Setelah masyarakat Ya¡rib menyatakan ikrar mereka, Nabi berkata kepada
mereka, “Pilihkan buat saya dua belas orang pemimpin dari kalangan kalian yang
menjadi penanggung jawab masyarakatnya”. Mereka memilih sembilan orang dari
Khazraj dan tiga orang dari Aus. Kepada dua belas orang itu, Nabi mengatakan,
“Kalian adalah penanggung jawab masyarakat kalian seperti pertangungjawaban
pengikut-pengikut Isa bin Maryam. Terhadap masyarakat saya, sayalah yang
bertangung jawab.” Setelah ikrar selesai, tiba-tiba terdengar teriakan yang
ditujukan kepada kaum Quraisy, “Muhammad dan orang-orang murtad itu sudah
berkumpul akan memerangi kamu!”. Semua kaget dan terdiam. Tiba-tiba Abbas
bin Ubadah, salah seorang peserta ikrar, berkata kepada Nabi, “Demi Allah Swt.
yang mengutus Anda berdasarkan kebenaran, jika Nabi mengizinkan, besok
penduduk Mina akan kami ‘habisi’ dengan pedang kami.” Lalu, Nabi Muhammad
saw. menjawab, “Kita tidak diperintahkan untuk itu, kembalilah ke kemah kalian!”
Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali dan segera bergegas pulang
ke Ya¡rib.

Perjanjian Aqabah | medsis | 4.5