Perang Melawan Kolonialisme

Untuk mentjapai kemerdekaan kita, kita harus bersatu,
Untuk mentjapai kemerdekaan kita, kita harus membinasakan imperialisme dan
kapitalisme
H.A. Notosoetardjo -Bung Karno dihadapan Pengadilan Kolonial (1963)

Mengevaluasi Perang Melawan Keserakahan
Kongsi Dagang (abad ke-16 sampai abad ke-18)

Aceh Versus Portugis dan VOC

Perang Melawan Kolonialisme
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, justru membawa
hikmah bagi Aceh. Banyak para pedagang Islam yang menyingkir dari
Malaka menuju ke Aceh. Dengan demikian perdagangan di Aceh semakin
ramai. Hal ini telah mendorong Aceh berkembang menjadi bandar dan pusat
perdagangan. Perkembangan Aceh yang begitu pesat ini dipandang oleh
Portugis sebagai ancaman, oleh karena itu, Portugis berkehendak untuk
menghancurkan Aceh. Pada tahun 1523 Portugis melancarkan serangan ke
Aceh di bawah pimpinan Henrigues, dan menyusul pada tahun 1524 dipimpin
oleh de Sauza. Beberapa serangan Portugis ini mengalami kegagalan.
Portugis terus mencari cara untuk melemahkan posisi Aceh sebagai pusat
perdagangan. Kapal-kapal Portugis selalu mengganggu kapal-kapal dagang
Aceh di manapun berada. Misalnya, pada saat kapal-kapal dagang Aceh
sedang berlayar di Laut Merah pada tahun 1524/1525 diburu oleh kapal-

kapal Portugis untuk ditangkap. Sudah barang tentu tindakan Portugis telah
merampas kedaulatan Aceh yang ingin bebas dan berdaulat berdagang
dengan siapa saja, mengadakan hubungan dengan bangsa manapun atas
dasar persamaan. Oleh karena itu, tindakan kapal-kapal Potugis telah
mendorong munculnya perlawanan rakyat Aceh. Sebagai persiapan Aceh
melakukan langkah-langkah antara lain:
1. Melengkapi kapal-kapal dagang Aceh dengan persenjataan, meriam
dan prajurit
2. Mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan beberapa
ahli dari Turki pada tahun 1567.
3. Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut dan Jepara.
Setelah berbagai bantuan berdatangan, Aceh segera melancarkan serangan
terhadap Portugis di Malaka. Portugis harus bertahan mati-matian di Formosa/
Benteng. Portugis harus mengerahkan semua kekuatannya sehingga
serangan Aceh ini dapat digagalkan. Sebagai tindakan balasan pada tahun
1569 Portugis balik menyerang Aceh, tetapi serangan Portugis di Aceh ini
juga dapat digagalkan oleh pasukan Aceh.

Maluku Angkat Senjata
Portugis berhasil memasuki Kepulauan Maluku pada tahun 1521.
Mereka memusatkan aktivitasnya di Ternate. Tidak lama berselang orangorang Spanyol juga memasuki Kepulauan Maluku dengan memusatkan
kedudukannya di Tidore. Terjadilah persaingan antara kedua belah pihak.
Persaingan itu semakin tajam setelah Portugis berhasil menjalin persekutuan
dengan Ternate dan Spanyol bersahabat dengan Tidore.

Sultan Agung Versus J.P. Coen
Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada
masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan.
Cita-cita Sultan Agung antara lain: (1) mempersatukan seluruh tanah Jawa,
dan (2) mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara. Terkait dengan citacitanya ini maka Sultan Agung sangat menentang keberadaan kekuatan
VOC di Jawa. Apalagi tindakan VOC yang terus memaksakan kehendak
untuk melakukan monopoli perdagangan membuat para pedagang Pribumi
mengalami kemunduran. Kebijakan monopoli itu juga dapat membawa
penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung merencanakan serangan
ke Batavia. Ada beberapa alasan mengapa Sultan Agung merencanakan
serangan ke Batavia, yakni:
1. tindakan monopoli yang dilakukan VOC,
2. VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram
yang akan berdagang ke Malaka,
3. VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
4. keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius
bagi masa depan Pulau Jawa.

Perlawanan Banten
Banten memiliki posisi yang strategis sebagai
bandar perdagangan internasional. Oleh karena
itu sejak semula Belanda ingin menguasai
Banten, tetapi tidak pernah berhasil. Akhirnya
VOC membangun Bandar di Batavia pada
tahun 1619. Terjadi persaingan antara Banten
dan Batavia memperebutkan posisi sebagai
bandar perdagangan internasional. Oleh karena
itu, rakyat Banten sering melakukan seranganserangan terhadap VOC.

Perlawanan Goa
Kerajaan Goa merupakan salah satu kerajaan yang sangat terkenal di
Nusantara. Pusat pemerintahannya berada di Somba Opu yang sekaligus
menjadi pelabuhan Kerajaan Goa. Somba Opu senantiasa terbuka untuk siapa
saja. Banyak para pedagang asing yang tinggal di kota itu. Misalnya, orang
Inggris, Denmark, Portugis, dan Belanda. Mereka diizinkan membangun loji
di kota itu. Goa anti terhadap tindakan monopoli perdagangan. Masyarakat
Goa ingin hidup merdeka dan bersahabat kepada siapa saja tanpa hak
istimewa.

Perang Melawan Kolonialisme | medsis | 4.5