Peranan Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial

Peranan Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial

Sebagai makhluk hidup yang berada di muka bumi ini keberadaan manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dalam arti manusia senantiasa tergantung dan atau berinteraksi dengan sesamanya. Individu manusia tidak akan bisa eksis apabila ia hidup sendirian tanpa berinteraksi dengan individu manusia lainnya. Dengan demikian, maka dalam kehidupan lingkungan sosial manusia senantiasa akan terkait dengan interaksi antara individu manusia, interaksi antar kelompok, kehidupan sosial manusia dengan lingkungan hidup dan alam sekitarnya, berbagai proses sosial dan interaksi sosial, keberadaan institusi sosial atau lembaga kemasyarakatan, dan berbagai hal yang timbul akibat berbagai aktivitas manusia seperti perubahan sosial.

Peranan Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial

Peranan Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial

Dalam lingkungan sosial suatu masyarakat akan selalu terjadi interaksi sosial. Dalam kegiatan interaksi sosial senantiasa berkaitan dengan berbagai aktivitas, pengembangan yang dilakukan oleh umat manusia, serta berbagai akibat yang ditimbulkan. Selain itu, juga terkait pula dengan keberadaan kebudayaan, ekonomi, dan kehidupan kemasyarakatan lainnya. Dalam ilmu sosial senantiasa mencoba mencari tahu tentang hakikat dan berbagai sebab pola pikir serta tindakan manusia yang ada dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat. Hal semacam itu senantiasa akan berhubungan dengan keberadaan stratifikasi sosial (Sanderson, 1995:157).

Secara sosial sebenarnya manusia merupakan makhluk individu dan makhluk sosial yang mempunyai kesempatan sama dalam berbagai hidup dan kehidupan dalam masyarakat. Artinya, bahwa setiap manusia itu mempunyai hak, kewajiban, dan berkesempatan yang sama dalam menguasai sesuatu, seperti: melakukan pekerjaan, memperoleh pendidikan atau mencari ilmu pengetahuan, berperan dalam kehidupan masyarakat, bertangung jawab dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, serta berbagai aktivitas ekonomi, politik, dan bahkan beragama. Namun demikian, kenyataannya setiap individu dan atau sekelompok individu tidak dapat menguasai atau mempunyai kesempatan yang sama. Akibatnya masing-masing individu mempunyai peran dan kedudukan yang tidak sama atau berbeda. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor yang melingkupinya.

Faktor tersebut seperti kondisi ekonomi, sosial, politik, budaya, dan bahkan individu atau sekelompok manusia itu sendiri. Dengan demikian, akan dapat dijumpai individu atau sekelompok individu yang mempunyai fungsi, peran, dan tanggung jawab yang berbeda. Pada kondisi demikian itu, mulai tampak adanya beberapa kelompok atau golongan tertentu dalam kehidupan masyarakat tersebut. Pada saat itulah muncul adanya kelas/golongan masyarakat tertentu. Dengan kata lain, stratifikasi sosial mulai tampak dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Peranan Manusia dalam Perubahan Sosial

Menurut Beyer (1997:97-98) perubahan sosial bisa terjadi globaluniversal, asumsi-asumsi yang mendasari terjadinya perubahan kehidupan manusia yang bersifat global-universal adalah karena kehidupan dalam masyarakat terkait dengan pergerakan sosial (social movement) dari para pemimpin, organisasi yang dianut, dan para pengikutnya. Dengan mendunianya berbagai ajaran dan kehidupan sosial masyarakat menjadikan kehidupan masyarakat tidak bisa hanya dipahami secara tradisional-partikular, tetapi menuntut kajian global-prinsipal yang bersifat universal, seperti ia katakan berikut:

Secara mendasar pergerakan dan perubahan terhadap pelaksanaan kehidupan suatu masyarakat senantiasa terkait, mengikuti atau nginthil (persistent) terhadap berbagai peristiwa pergerakan sosial, yang mana pergerakan itu berdampak terhadap pola kehidupan sosialbudaya dan keagamaan di permukaan bumi di seluruh dunia dewasa ini.

Pendapat yang berargumen global-universalisasi kehidupan sosial budaya ini berasumsi bahwa ideologi dan kondisi politik yang melanda suatu masyarakat dapat mendorong pluralnya suatu keyakinan dalam kehidupan masyarakat. Dalam studinya di Amerika Latin, Drougus menemukan bahwa akibat pengaruh ideologi di era berkembangnya liberalisme yang melanda negara-negara Amerika Latin menjadikan masyarakat Katolik yang bercirikan wilayah pertanian di negara tersebut terplurarisasi menjadi tiga sekte, yakni golongan rationale popular Catholic yang berpandangan rasional, renewed traditionale Catholic yang berpandangan tradisional, dan renewed popular Catholic yang berpandangan liberalis (Drougus, 2000:263). Menurut Drougus bahwa globalisasi ideologi atau politik di Amerika Latin memberi pengaruh kepada variasi kehidupan masyarakat yang terkait pula terhadap pola kehidupan sehari-hari. Di mana masing-masing kelompok masyarakat tersebut menjalankan kehidupannya sesuai dengan rasionalitas, kondisi wilayah, dan keyakinannya sendiri. Kelompok rasionalis menjalankan kehidupannya cenderung pada konsep rasional (pragmatis) sehingga kelompok ini lebih terbuka pada “pembaharuan” kehidupan sosial budayanya. Hal ini berbeda secara diametral dengan kelompok tradisionalis yang cenderung tertutup bagi pembaharuan. Kelompok ini dalam menjalankan kehidupannya cenderung ortodoks dan pada “penyesuaian” terhadap kehidupan tradisi kedaerahan. Sedangkan kelompok liberalis dalam menjalankan kehidupannya cenderung terbuka dan agak bebas bagi suatu pembaharuan, hal ini karena pengaruh kuat dari ideologi liberal yang melanda Amerika Latin.

Dengan kata lain, pola pengelompokan kehidupan masyarakat di negara itu didasarkan atas “rasionalitas” dalam menjalankan kehidupan sosial budayanya. Sementara itu, Majid (2000) berasumsi bahwa menggelobalnya kehidupan umat manusia di dunia ini adalah akibat pengaruh jaman teknologi (technical age) yang telah meramba berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Teori globalisasi “jaman teknologi” ini diadopsi Majid dari konsep modernisasi Lucian W. Pey di dalamnya mengandung unsur-unsur budaya dan pengalaman barat. Tesisnya adalah jika kemajuan teknologi itu datangnya dari Mesir atau Timur Tengah, maka jaman teknologi (modernisasi) itu tentu ala Mesir atau Timur Tengah dan bukan barat, karenanya jangan salahkan barat. Akibat kemajuan teknologi yang bersumber dari barat, maka umat manusia tidak lagi dihadapkan kepada permasalahan kulturalnya sendiri secara terpisah dan berkembang secara otonomi dari yang lain, tetapi terdorong menuju masyarakat jagat (global) terdiri dari berbagai bangsa yang erat berhubungan satu sama lain. Penggunaan sepenuhnya teknologi di suatu bagian dunia (Barat) tidak lagi dapat dibatasi pengaruhnya hanya kepada tempat itu sendiri saja, tetapi merambah ke seluruh muka bumi, meliputi seluruh budaya manusia tanpa dapat dihindari sama sekali (Majid, 2000:453).

Kemajuan teknologi barat yang pesat merupakan faktor kunci penyebab tak dapat dihindarinya bagi menggelobalnya kehidupan manusia. Karena kemajuan teknologi terkait langsung dengan pola kehidupan kemanusiaan. Sehingga teknologi tak harus dihindari, akan tetapi harus disikapi sebagai berkah demi perbaikan dan kemajuan kehidupan. Itu berarti kehidupan sosial, budaya harus dapat diadopsi secara kreatif.

Seperti tesis etika Protestan dari Weber dan tesis kreativitas kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan dari Bellah, Geertz, serta Gran. Contohnya seperti pada kasus bangsa Jepang dengan Tokugawanya dan Turki dengan Islam modernnya. Namun demikian, dijumpai pula bahwa perubahan kehidupan suatu masyarakat itu sebenarnya adalah akibat pengaruh atau senantiasa berkaitan dengan lingkungan di sekitarnya (secara lokal). Para ilmuwan yang berpandangan demikian ini antara lain Waldman (2001) dalam karyanya Pikiran Primitif-Pikiran Modern. Ia menolak teori perubahan global-universal.

Asumsinya bahwa kehidupan sosial dan budaya masyarakat berkembang sesuai dengan karakternya (yang ada di dalam) dan mengadaptasi atau bahkan “menolak” apa yang datang dari luar. Evolusi yang bersifat “mempertahankan diri” dalam kehidupan adalah sejalan dengan tata nilai yang ada. Bagaimanapun kehidupan masyarakat dapat dijelaskan oleh semua perubahan budaya dan dengan materinya yang luas, sehingga dapat melihat pengaruhnya terhadap konstruksi dan perubahan sosial yang lebih obyektif. Karenanya perkembangannya tidak hanya bersifat involusioner tetapi juga evolusioner, karena ia terkait dengan adaptasi terhadap budaya lain. Walaupun demikian, tradisi kehidupan lokal lebih dipertahankan (Waldman, 2001:130-132).

Dinamika sosial dan budaya berimplikasi secara involusioner yang mengekspresikan serta membentuk dunia di mana manusia itu hidup, bersifat lokal, dan sejalan dengan karakter daerahnya (Geertz, 1974:87. Geertz juga menjelaskan bahwa jika disimak lebih mendalam kekomplekan fenomena kehidupan dalam masyarakat walaupun tampak semakin modern dan mendunia, tetapi ia sejalan dengan perkembangan kehidupan budayanya yang involutif (terjadi proses penjlimetan) sejalan dengan kondisi wilayahnya, karena ia merupakan limpahan kepercayaan yang bersifat isolatif. Yang tampak bahwa taraf perkembangan sistemsistem kehidupan masyarakat yang bersifat njlimet walau amat bervariasi, dan tidak semata-mata berdasarkan pada suatu basis evolusioner sederhana.

Sehingga dalam satu masyarakat, tarap penjelasan simbolik tentang aktualitas akhir bisa mencapai taraf kompleksitas dan uraian sistematis yang luar biasa. Dalam kehidupan masyarakat Jawa misalnya, walau secara sosial masyarakat tersebut senantiasa berkembang, namun perumusannya tetap tinggal primitif (dalam arti sesungguhnya), hampir tak lebih daripada tumpukan tradisi (kepercayaan) awal yang fragmentaris dan berupa gambaran yang terisolasi dengan dunia lain (Geertz, 1992:48). Kuntowijayo (2001) berasumsi bahwa kehidupan masyarakat bergerak dari “dalam” aturan menuju “keluar” kepada pola kehidupan perubahan atau pergerakan sosial-budaya yang menggelobal atau mendunia. Dengan demikian, maka kehidupan masyarakat yang lokalpartikular tidak sekedar mempertahankan diri dari serangan globaluniversal, tetapi justru ia berupaya mempengaruhi secara kreatif terhadap sosial-budaya di dunia luar yang menggelobal itu. Pandangan ini berbeda secara diametral dari pandangan para materialisme Marxisme yang menganggap bahwa materi, yang berada “di luar” itu menentukan atau mempe-ngaruhi yang ada “di dalam” (aturan atau ajaran). Dengan kata lain, struktur menentukan suprastruktur. Perubahan itu dapat mempengaruhi perubahan sosial maupun kultural.

Kegiatan kehidupan masyarakat berhubungan dengan keterkaitan, solida-ritas, serta kegiatan individu dalam masyarakat yang terpusat pada simbol-simbol yang dianut dan sejalan dengan keberadaan kontek daerahnya. Karena ia terkait dengan “makna” individu sendiri. Sehingga kehidupan masyarakat berkembang dari pengaruh makna yang ada pada masing-masing individu dan masyarakat di sekitar lingkungannya, bukan masyarakat yang ada di luar lingkungan kehidupannya. Di sini lingkungan geografik sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap kehidupan individu dan kelompok masyarakat tertentu.

Karenanya terkait dengan bagaimana individu dan kelompok mengidentifikasi diri mereka sendiri di dunia (dalam hubungannya satu sama lain dan hubungannya dengan kondisi-kondisi sosial, budaya, dan alam dari keberadaannya) terutama dalam acuan perubahan dalam kebudayaan, norma, nilai, dan pranata yang terjadi di sekitarnya. Dengan demikian, berubahnya suatu masyarakat tergantung pada bagaimana individu-individu tersebut berubah sejalan dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Perubahan itu antara lain dalam bentuk sebagai berikut.

1. Berkembang sesuai karakternya, mengadaptasi dan atau menolak yang datang dari luar, berubah secara evolutif yang bersifat “mempertahankan diri” sejalan dengan tata nilai yang ada (Waldman, 2001).

2. Bergerak secara involusioner, mengekspresikan serta membentuk dunia di mana manusia itu hidup, dan sejalan fenomena sosial budaya yang bersifat lokal (Geertz, 1974).

3. Bergerak dari “dalam” menuju “keluar”, bahwa suatu kehidupan lokal-partikular secara kreatif mempengaruhi sosial-budaya yang ada di luar (Kuntowijayo, 2001; Zahar and Marshal, 2001; Toprak, 1999).

4. Pergerakannya berhubungan dengan keterkaitan, solidaritas, serta kegiatan individu dan masyarakat yang terpusat pada simbol kehidupan yang dianut (Robertson, 1995; Kuntowijoyo, 2001).

 

Peranan Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial | medsis | 4.5