Pelajaran Tentang Pola Pengembangan Wilayah di Negara Maju

Pelajaran Tentang Pola Pengembangan Wilayah di Negara Naju

Pola Pengembangan Wilayah di Negara Maju

Pola Pengembangan Wilayah di Negara Maju

Pola Pengembangan Wilayah di Negara Maju – Suatu negara dapat tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh faktor sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Kita mengenal kota-kota tua yang menjadi pusat peradaban di masa lampau seperti Mesir, Babilon dan China. Dengan mejadinya pusat peradaban maka di wilayahwilayah tersebut terjadi interaksi masyarakat untuk saling menukar hasil produksinya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari adanya interaksi tersebut, akhirnya kota-kota tersebut menjadi pusat perdagangan dan dapat mempengaruhi kemajuan wilayah tersebut. Sekarang ini, salah satu kota yang muncul sebagai akibat dari pusat aktivitas perdagangan adalah Singapura.

Pola Pengembangan Wilayah di Negara Maju – Hal ini karena Singapura memiliki lokasi yang sangat strategis dimana wilayahnya berada pada jalur lalu lintas dunia. Adapun di Indonesia, kota-kota yang tumbuh dari aktivitas perdagangan adalah Surabaya, Medan, Jakarta, dan Cirebon. Selain oleh pertanian dan aktivitas perdagangan, pertumbuhan kota juga dapat dipengaruhi oleh penemuan barang tambang. Misalnya penemuan tembaga, perunggu, kertas, dan sumber daya lainnya. Sumber daya alam tersebut merupakan pendorong berkembangnya pusat perkotaan baru. Seperti Kota Knosos, Tror, dan Mycenae di sebelah barat Mediterania pada tahun 3.000 SM. Kota-kota tersebut tumbuh sebagai kota-kota akibat dari ditemukannya lokasi-lokasi penambangan. Di Indonesia saat ini banyak kota-kota yang muncul sebagai akibat dari adanya aktivitas penambangan, misalnya Bontang, Arun, dan Duri yang berkembang dengan cepat karena merupakan daerah ladang minyak dan gas bumi.

Pola Pengembangan Wilayah di Negara Maju – Selain pertanian, perdagangan, dan pertambangan, suatu kota dapat tumbuh karena kekayaan alam berupa keindahan panoramanya. Dengan kekayaan alam tersebut, suatu kota dapat tumbuh karena menjadi objek wisata seperti Yogyakarta dan Bali. Dengan demikian, pertumbuhan dan perkembangan kota sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek alamiah dan sosial wilayah, serta kebijakan pemerintah. Faktor alamiah yang memengaruhi perkembangan kota antara lain lokasi, fisiografi, iklim dan kekayaan alam yang terkandung di daerah tersebut. Adapun yang termasuk ke dalam faktor sosial di antaranya kondisi penduduk dan fasilitas sosial yang ada. Adapun kebijakan pemerintah adalah menyangkut penentuan lokasi kota dan pola tata ruang dan tata guna lahan di wilayah perkotaan tersebut.

Pengembangan Wilayah di Negara Maju

Pola Pengembangan Wilayah di Negara Maju – Pengembangan wilayah kota di negara-negara maju dilakukan atas dasar desentralisasi kota. Konsep ini dikemukakan oleh Sir Ebeneaer Howard tahun 1898. Desentralisasi menurut Howard adalah desentralisasi dari kota industri yang rapat menjadi kelompok permukiman kota.

Misalnya pada tahun 1946, Inggris membuat undang-undang kota baru atas saran Sir Patrick Abercrombie mengenai Kota London yang padat dan harus diatur agar kerapatan penduduk di London menjadi 250 jiwa per hektar. Untuk melaksanakan hal tersebut, Abercrombie menyarankan untuk memindahkan penduduk dan membuat sepuluh kota baru di sekeliling kota London sejauh 40 – 50 km dari London dalam Rencana London Raya. Semenjak itu, dibangun sepuluh kota baru dengan penduduk antara 60.000 – 90.000 dengan luas antara 3.000 – 4.000 hektar.

Ada lima macam pola bentuk kota yang merupakan trend pengembangan wilayah di masa depan dan sudah dirintis di negara-negara maju, seperti yang dikemukakan oleh Sikander dan Malik. Lima macam pola tersebut yaitu pola metropolis menyebar (disapersed), metropolis galaktika, metropolis memusat, metropolis bintang, dan metropolis cincin. a. Metropolis menyebar terbentuk dengan mengembangkan bagian kota yang paling jarang penduduknya. Bagian kota yang padat penduduknya dibangun kembali dengan mengurangi kepadatan penduduk sehingga kota metropolis itu akan menyebar. Prasarana sosial ekonomi disebar ke kawasan yang baru, seperti kantor, rumah sakit, pabrik, dan universitas. b. Metropolis galaktika terjadi dari permukiman kota yang kecil-kecil berpenduduk padat dipisahkan oleh kawasan pertanian yang jarang sekali penduduknya atau bahkan tidak berpenduduk. Kegiatan sosial ekonomi terpusat di berbagai permukiman. c. Metropolis memusat terbentuk karena kegiatan sosial ekonomi yang tinggi dengan kepadatan penduduk yang tinggi pula, terutama dipusatnya.

Oleh karena kegiatan sosial ekonomi sangat tinggi, banyak penduduk yang tinggal di apartemen dan rumah susun. d. Metropolis bintang terbentuk karena mempunyai inti yang utama, dengan pola kepadatan penduduk membentuk bintang yang memanjang pada beberapa bagian kota. Inti kota utama, yaitu sebagian pusat kota dikelilingi oleh banyak pusat kedua yang terletak sepanjang lengan-lengan yang memanjang. Lengan-lengan kota itu mempunyai kepadatan penduduk yang sedang. e. Metropolis cincin terbentuk dengan kepadatan penduduk terletak di sekeliling tengah kota. Adapun daerah yang jarang penduduknya terletak di tengah kota.

Dalam pengembangan bentuk fisik kota metropolitan tersebut, masing-masing terdapat beberapa masalah, antara lain sebagai berikut. a. Pengembangan kota metropolitan yang menyebar. Permasalahannya terletak pada pilihan yang terbatas, interaksi yang lemah, biaya transportasi yang tinggi, dan citra kota metropolitan yang terkesan kurang hidup. b. Pada pengembangan metropolis galaktika, beberapa masalahnya yaitu interaksi dan penekanan biaya agar tidak terlalu sukar untuk direalisasikan. c. Pengembangan kota metropolitan yang memusat mengalami hambatan dalam biaya yang tinggi karena inti kota yang padat, kurang nyaman, dan kurang dalam mendukung partisipasi perorangan. d. Pengembangan kota berbintang keadaannya lebih baik karena kemacetan dapat dihindari, tetapi bentuk fisik bintang akan cepat berubah karena perkembangan penduduk. e. Pengembangan kota metropolitan cincin tidak banyak memperoleh keuntungan, tetapi masalahnya adalah akan melahirkan transportasi yang besar dan proses penyesuaian yang sangat sulit. Yim dalam Jayadinata (1999) mengusulkan pengembangan kota metropolitan melalui konsep Rumpun Pusat Lipat Ganda (Multiple Nuclei Cluster), yaitu suatu wilayah metropolitan yang menempatkan pusat kota yang berfungsi ekonomi, sosial, kebudayaan, keuangan, dan politik. Sementara itu, di sekeliling pusat kota dibangun beberapa bagian kota yang otonom dan serba lengkap (self contained).

Pelajaran Tentang Pola Pengembangan Wilayah di Negara Maju | medsis | 4.5