Tentang Pengaruh perubahan iklim terhadap rakyat

Pengaruh perubahan iklim terhadap rakyat

Pengaruh perubahan iklim

Pengaruh perubahan iklim

Pengaruh perubahan iklim – Pengaruh buruk perubahan iklim terhadap rakyat miskin Tak seorang pun akan luput dari perubahan iklim. Namun, berbagai pengaruhnya dapat dirasakan lebih parah oleh masyarakat yang paling miskin, mereka yang hidup di wilayah paling pinggiran yang, antara lain, rentan terhadap banjir, atau banjir dan longsor. Oleh karena mereka kebanyakan mencari nafkah dengan bertani dan menjadi nelayan, sumber nafkah mereka juga amat rentan terhadap perubahan iklim. Mereka juga hanya memiliki sumber daya terbatas untuk menanggung bencana sehingga bencana apapun yang menimpa, akan membuat mereka mesti kehilangan harta benda yang seadanya. Pada masa-masa sulit mereka mungkin terpaksa menjual misalnya, tanah mereka, sepeda, atau peralatan pertanian, yang akan membuat mereka makin kesulitan untuk mempertahankan sumber penghidupan mereka. Efeknya pada kemiskinan juga dapat dilihat dari sisi Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals – MDGs) yang pencapaiannya terancam oleh perubahan iklim .

Pengaruh perubahan iklim – Perubahan iklim dan Millennium Development Goals.

Potensi dampak perubahan iklim pada Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)

1. Menanggulangi kemiskinan Perubahan iklim diperkirakan akan: dan kelaparan ekstrem • Menghancurkan hutan,populasi ikan,padang rumput,dan lahan bertanam yang diandalkan oleh keluarga miskin sebagai sumber makanan dan penghasilan. • Merusak perumahan rakyat miskin, sumber air dan kesehatan, yang akan melemahkan kemampuan mereka mencari nafkah. • Meningkatkan ketegangan sosial soal penggunaan sumber-sumber yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu sumber nafkah dan memaksa masyarakat berpindah. 2. Mencapai pendidikan dasar Perubahan iklim dapat melemahkan kemampuan anak untuk belajar di sekolah. secara universal • Lebih banyak anak (terutama anak perempuan) kemungkinan akan mesti keluar sekolah untuk mengangkut air,merawat keluarga,dan membantu mencari nafkah. • Kurang gizi dan penyakit di kalangan anak-anak dapat mengurangi kehadiran mereka di sekolah, dan mempengaruhi proses pembelajaran mereka di kelas. • Banjir dan angin kencang merubuhkan bangunan sekolah, dan menyebabkan pengungsian. 3. Meningkatkan kesetaraan Perubahan iklim diperkirakan memperburuk berbagai ketimpangan gender gender dan memberdayakan yang ada. perempuan • Perempuan cenderung untuk bergantung pada lingkungan alam sebagai sumber penghidupan mereka ketimbang laki-laki, dan karena itu lebih rentan ketimbang laki-laki terhadap ketidakmenentuan dan perubahan iklim. • Perempuan dan anak perempuan biasanya ditugaskan mengangkut air, mencari makanan ternak, kayu bakar, dan juga makanan. Di masa-masa iklim yang sulit mereka harus menghadapi sumber daya alam yang makin terbatas dan beban yang lebih berat. • Rumah tangga yang dikepalai perempuan dengan harta benda yang seadanya juga umumnya terkena dampak parah bencana-bencana yang berkaitan dengan iklim.

Pengaruh perubahan iklim

4. Menurunkan angka kematian Perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak kematian dan penyakit akibat anak gelombang panas, banjir, kemarau panjang, dan angin kencang. 5. Memperbaiki kesehatan ibu • Dapat meningkatkan kejadian berbagai penyakit yang ditularkan melalui nyamuk (seperti malaria dan demam berdarah dengue) atau yang tersebar melalui air 6. Mengatasi berbagai penyakit (seperti kolera dan disentri).Anak-anak dan ibu hamil terutama rentan terhadap berbagai penyakit ini. • Diperkirakan akan mengurangi kualitas dan kuantitas air minum, dan memperparah kurang gizi di kalangan anak-anak

Pengaruh perubahan iklim

7. Menjamin kelestarian Perubahan iklim akan mengubah kualitas dan kuantitas sumber daya alam dan lingkungan ekosistem, sebagian di antaranya mungkin tidak dapat dipulihkan. Perubahan ini juga akan menurunkan keanekaragaman hayati dan memperparah kerusakan lingkungan yang sedang berlangsung 8. Mengembangkan suatu Perubahan iklim merupakan tantangan global, dan untuk menghadapinya kemitraan global dibutuhkan kerja sama global, terutama dalam menguatkan negara-negara berkembang menangani kemiskinan dan ketidaksetaraan. Perubahan iklim mendesak perlunya negara donor meningkatkan komitmen bantuan resmi pembangunan mereka dan memberikan sumber daya tambahan untuk adaptasi.

Pengaruh perubahan iklim

Sumber: Oxfam, 2007. Nota ringkas. Beradaptasi terhadap perubahan iklim. Apa yang dibutuhkan oleh negara miskin dan siapa yang harus membiayai

Dampak pada petani

Perubahan dalam pola curah hujan akan bervariasi bergantung pada lokasi. Para petani yang akan paling sengsara adalah mereka yang tinggal di wilayah dataran tinggi yang dapat mengalami kehilangan lapisan tanah akibat erosi. Hasil tanaman pangan dataran tinggi seperti kedelai dan jagung bisa menurun 20 hingga 40 persen.4 Namun, nyaris seluruh petani akan merasakan dampaknya. Sekarang saja, sudah banyak petani kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk memulai musim tanam, atau sudah mengalami gagal tanam karena hujan yang tidak menentu atau kemarau panjang. Yang paling kesusahan biasanya adalah mereka yang bertani di wilayah paling ujung saluran irigasi yang pada saat kelangkaan air tidak mendapatkan jatah air karena sudah lebih dulu digunakan oleh para petani di daerah hulu irigasi.

Menyiasati kelangkaan air “Seandainya kita dapat memperbaiki sistem pembagian air kita – dari hulu sana hingga ke hilir sini, orang-orang desa sini akan memperoleh hasil tani yang memadai dan kita tidak perlu mengirimkan saudara perempuan kita bekerja ke luar negeri yang hanya membuat mereka menerima perlakuan tidak manusiawi” (Haji Emod, Desa Sumur Gede, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang) Cali Rahman mengairi sawahnya dengan air dari saluran sekunder. Namun, pada musim kering yang panjang ketika volume air di kanal menurun, dia dan petani lain di wilayahnya, tidak kebagian air. Para petani di bagian hulu sudah menggunakan terlalu banyak air dan hanya tersisa sedikit saja untuk petani di daerah hilir. Akibatnya, dia dan tetangganya terpaksa memompa air tanah, tetapi upaya menjadi mahal karena harga BBM yang tinggi dan air tanah di daerah pesisir ini sudah makin tercemar oleh intrusi air laut. Kelangkaan air untuk mengairi sawah ini sudah memicu kepanikan dan ketegangan soal air di kalangan warga setempat. Untuk membantu mengatasi ini, para petani memilih penengah, seorang tokoh masyarakat yang dihormati di antara mereka, Haji Emod. Dengan status dan reputasinya dalam soal keadilan, dia sejauh ini sudah berhasil mengendurkan ketegangan, dengan memastikan setiap orang mendapat giliran menggunakan air, seringkali dengan mengorbankan kepentingan sendiri. Dia sendiri mendapatkan pendapatan sampingan sebagai seorang pengobat tradisional patah tulang sehingga dapat mengesampingkan kepentingannya sendiri terhadap air untuk irigasi sawahnya.

Berbagai beban ini memiliki implikasi besar pada ketahanan pangan nasional. Laboratorium Iklim di Institut Pertanian Bogor menyatakan bahwa selama kurun waktu 1981-1990, setiap kabupaten di Indonesia setiap tahunnya rata-rata mengalami penurunan produksi padi 100.000 ton; dan pada kurun waktu 1992-2000, jumlah penurunan ini meningkat menjadi 300.000 ton. Dampak pada masyarakat nelayan Perubahan iklim berdampak luas terhadap jutaan nelayan pesisir. Mereka bergantung pada ekosistem yang amat rentan yang dengan perubahan kecil saja sudah berdampak besar: perubahan suhu air yang merusak terumbu karang, misalnya, akan memperparah kondisi buruk yang dilakukan manusia seperti polusi dan penangkapan ikan besar-besaran sehingga menurunkan populasi ikan (Boks 4). Perahu-perahu penangkap ikan juga mesti mesti menghadapi cuaca yang tidak menentu dan gelombang tinggi.

Perubahan iklim juga sudah mengganggu mata pencaharian di banyak pulau. Di Maluku, misalnya nelayan mengatakan mereka tidak lagi dapat memperkirakan waktu dan lokasi yang pas untuk menangkap ikan karena pola iklim yang sudah berubah.5 Kenaikan muka air laut juga dapat menggenangi tambak-tambak ikan dan udang di Java, Aceh, dan Sulawesi. Dampak pada masyarakat pesisir Sebagai sebuah kepulauan amat luas yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan 80.000 kilometer garis pantai, Indonesia amat rentan terhadap kenaikan muka air laut. Kenaikan 1 meter saja dapat menenggelamkan 405.000 hektar wilayah pesisir dan menenggelamkan 2.000 pulau yang terletak dekat permukaan laut beserta kawasan terumbu karang. Hal ini berpengaruh pada batas-batas negara kita: penelitian mutakhir mengungkapkan bahwa minimal 8 dari 92 pulau-pulau kecil terluar yang merupakan perbatasan perairan Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut. Banyak bagian di wilayah pesisir sudah makin direntankan oleh erosi – yang juga sudah diperparah oleh aktivitas manusia seperti pembangunan dermaga dan tanggul di laut, pembendungan sungai, penambangan pasir dan batu, dan perusakan hutan mangrove. Saat ini sekitar 42 juta penduduk Indonesia mendiami wilayah yang terletak 10 meter di atas permukaan laut.

Angin perubahan di kalangan masyarakat nelayan

Pengaruh perubahan iklim – Menangkap ikan di pesisir Indramayu kini makin sulit saja. Secara tradisional para nelayan di sana sudah selalu mengandalkan sinyal-sinyal dari angin musim. Di musim kering selama musim timur, air laut menjadi keruh dan populasi plankton menurun sehingga jumlah ikan di laut hanya sedikit. Selama musim penghujan dan musim angin barat, air laut bening dan populasi plankton meningkat sehingga ikan berlimpah – namun saat itu gelombang tinggi dan nelayan yang melaut dengan perahu kecil kesulitan menangkap ikan. Namun, musim kini berubah-ubah. Akhir-akhir ini, angin musim barat, yang biasanya berlangsung selama empat bulanan kini bertahan lebih lama menjadi tujuh bulan dan gelombang menjadi lebih tinggi sehingga bahkan perahu-perahu yang lebih besar pun terancam.

Pengaruh perubahan iklim – Para nelayan juga baru saja ditimpa beban kenaikan tajam harga bahan bakar solar. Akibatnya, dari 150 perahu kecil nelayan di satu desa saja, yaitu desa Eretan Kulon, Indramayu, kini hanya tinggal 40 saja yang dapat melaut dan bahkan para pemiliknya seringkali mesti berhutang untuk membayar biaya bahan bakar. Drs. Royani adalah ketua Koperasi Unit Desa Mina Bahari Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandang Haur, Indramayu. Menurutnya para nelayan akan lebih mampu merespon perubahan iklim jika mereka memiliki lebih banyak fasilitas dan pelatihan, serta alternatif dalam menangkap ikan. Untuk mengatasi itu, koperasi ini sudah memulai menjalankan usaha pengolahan ikan.Tangkapan terbanyak selama musim kering, yaitu ikan kuniran yang dijual dengan harga Rp700 per kilo dalam keadaan segar, setelah diproses separuh jadi – dibersihkan, diawetkan, dan dikemas – terjual Rp2.000 per kilo. Aktivitas ini sudah mempekerjakan sekitar 450 tenaga kerja, memberikan kesempatan kepada keluarga nelayan untuk mendapatkan pendapatan sampingan Rp23.000 hanya dengan bekerja memproses ikan selama 3 jam sehari. Kini dengan hibah sebuah pabrik dari USAID, nelayan di sini memiliki rencana memproses ikan menjadi produk jadi, dengan potensi ekspor ke Malaysia.

Pengaruh perubahan iklim – Koperasi ini juga aktif dalam program melek huruf bagi nelayan anggotanya, dan mereka berharap dapat memberikan kursus keterampilan bagi para istri nelayan yang dapat memberikan peluang menambah pendapatan. Mereka juga ingin memulai sekolah yang, selain menerapkan kurikulum sekolah umum, juga mengajarkan anak-anak mereka keterampilan perikanan. Mereka juga akan menekankan pentingnya berbagai pengetahuan bahari tradisional. Pak Walim, misalnya, yang sudah menjadi nelayan selama hidupnya, sudah belajar dari orang tua dan kakeknya yang pelaut bagaimana membaca arah angin dan menentukan arah mata angin dengan panduan bintang-bintang di langit. “Saya juga tahu di mana harus menebar jaring dengan mencelupkan jari saya ke air dan merasakan kehangatannya – air laut yang lebih hangat menandakan lebih banyak ikan di bawah sana. Cara lain adalah menggunakan sebatang tongkat dari kayu jati untuk mendengarkan aktivitas ikan di bawah permukaan air. Jika laut tenang, saya pindah ke tempat lain. Atau bila kedua cara ini tidak manjur, saya turun menyelam untuk menentukan keberadaan ikan. Beberapa perahu kami di sini dilengkapi dengan alat GPS (Global Positioning System) untuk menentukan daerah tangkapan (fishing ground). Alat ini memang berguna. Tetapi GPS saya adalah kepala saya dan ini tidak pernah salah!”

Tentang Pengaruh perubahan iklim terhadap rakyat | medsis | 4.5