Perhitungan Pendapatan Nasional dan Pendapatan Perkapita

Perhitungan Pendapatan Nasional dan Pendapatan Perkapita

Pendapatan Perkapita

Pendapatan Perkapita

Pendapatan Perkapita

5. Manfaat Penghitungan Pendapatan Nasional Penghitungan pendapatan nasional dapat digunakan untuk mengukur dan mengetahui perkembangan perekonomian dari waktu ke waktu.Tujuan penghitungan pendapatan nasional adalah sebagai alat ukur tingkat kemakmuran rakyat. Semakin tinggi nilai pendapatan nasional suatu negara maka semakin tinggi pula kemakmuran negara. Adapun manfaat dari penghitungan pendapatan nasional, antara lain:

Pendapatan Perkapita

a. Untuk Mengetahui Struktur Perekonomian Negara Dengan penghitungan pendapatan nasional akan diketahui struktur perekonomian suatu negara. Hal ini dapat dilihat dari seberapa besar kontribusi dari sektor-sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional. Jika sektor agraris yang lebih dominan dalam pendapatan nasional maka struktur ekonomi negara tersebut agraris. Namun jika pendapatan nasional dominan berasal dari sektor industri maka struktur ekonomi negara tersebut adalah industri, dan sebagainya.

Pendapatan Perkapita

b. Untuk Mengetahui Tingkat Pertumbuhan Perekonomian Setiap tahun dilakukan penghitungan pendapatan nasional dengan tujuan untuk membandingkan perekonomian dari tahun ke tahun sehingga dapat diketahui tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi diukur dari pertambahan yang sebenarnya dalam barang dan jasa yang diproduksi, sehingga barang dan jasa tersebut harus dihitung berdasarkan harga tetap. Artinya harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang seterusnya digunakan untuk menghitung barang dan jasa yang dihasilkan pada tahun-tahun yang lain. Dengan demikian akan dihasilkan pendapatan nasional riil (sebenarnya).

Pendapatan Perkapita

c. Untuk Membandingkan Perekonomian Antardaerah Maupun Antarnegara Apabila dasar penghitungan pendapatan adalah masyarakat seluruh daerah/provinsi maka disebut pendapatan regional. Dengan mengetahui besarnya pendapatan regional maka dapat diketahui struktur perekonomian dan tingkat kemakmuran suatu daerah. Dengan demikian perekonomian suatu daerah dapat dibandingkan dengan perekonomian daerah lain. Selain untuk mengukur perekonomian antardaerah, penghitungan pendapatan nasional dapat digunakan untuk membandingkan perekonomian suatu negara dengan negara lain. Sehingga dapat diketahui apakah negara tersebut termasuk negara maju atau negara berkembang atau bahkan negara yang masih terbelakang.

Pendapatan Perkapita

d. Untuk Membantu Merumuskan Kebijakan Pemerintah Hasil penghitungan pendapatan nasional dapat digunakan oleh pemerintah untuk menilai efektifitas kebijakan-kebijakan yang telah diambil. Selain itu dengan mengetahui perkembangan pendapatan nasional pemerintah dapat mengidentifikasikan masalah-masalah ekonomi yang baru muncul dan merencanakan program-program baru untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Pendapatan Perkapita

B. Pendapatan Perkapita Selain menggunakan pendapatan nasional, tingkat kemakmuran rakyat dapat diukur dari pendapatan perkapita. Besarnya pendapatan perkapita, sangat erat kaitannya dengan pertambahan penduduk. Pendapatan perkapita menunjukkan kemampuan yang nyata dari suatu bangsa dalam menghasilkan barang dan jasa dan kenikmatan yang diperoleh setiap penduduk. Hasil penghitungan pendapatan perkapita sebenarnya tidak dapat secara langsung digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran dan kesejahteraan suatu negara. Hal ini disebabkan pendapatan perkapita kurang memerhatikan aspek distribusi pendapatan.

Pendapatan Perkapita – Misalnya dua negara mempunyai pendapatan nasional yang sama besarnya, namun belum tentu kesejahteraan penduduk negara-negara tersebut sama. Misalkan pada tahun tertentu diketahui bahwa pendapatan nasional negara A dan pendapatan nasional negara B sama, yaitu Rp200 juta. Jumlah penduduk negara A adalah 200 jiwa sedangkan jumlah penduduk negara B adalah 400 jiwa. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pendapatan rata-rata penduduk negara A adalah Rp200 juta dibagi 200 maka hasilnya Rp1.000.000,00 sedangkan pendapatan rata-rata penduduk B adalah Rp200 juta dibagi 400 adalah Rp500.000,00. Dengan demikian terlihat bahwa pendapatan rata-rata penduduk di negara A lebih besar dibandingkan di negara B. Namun, apakah penduduk di negara A lebih makmur dari negara B? Jawabnya, belum tentu! Karena bagaimana pendistribusian pendapatan di negara A atau B belum diketahui. Berdasarkan contoh di atas, pendapatan rata-rata penduduk negara A sebesar Rp1.000.000,00, artinya nilai barang dan jasa yang dapat diperoleh masing-masing penduduk sebesar Rp1.000.000,00. Jadi apa yang dimaksud pendapatan perkapita? Pendapatan perkapita adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara selama satu periode tertentu. Atau pendapatan perkapita dapat juga diartikan sebagai nilai atau jumlah suatu barang dan jasa rata-rata yang tersedia bagi setiap penduduk suatu negara selama satu periode tertentu. Secara matematis, besarnya pendapatan perkapita dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Pendapatan perkapita (PDB) = Pendapatan Nasional Bruto (PNB) Jumlah penduduk atau Pendapatan perkapita (PDB) = Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Jumlah penduduk

Adapun Bank Dunia mengelompokkan negara-negara di dunia berdasarkan pendapatan perkapitanya menjadi lima kelompok. 1. Kelompok negara berpendapatan rendah (law income economies), yaitu negara-negara yang memiliki PNB perkapita lebih kecil dari US $ 520 2. Kelompok negara berpendapatan menengah bawah (low middle income economies), yaitu negara yang memiliki PNB perkapita sekitar US $ 1740. 3. Kelompok negara berpendapatan menengah (middle income economies) yaitu negara yang memiliki PNB berkapita sekitar US $ 2990. 4. Kelompok negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income economies) yaitu negara yang mempunyai PNB perkapita sekitar US $ 4870. 5. Kelompok negara berpendapatan tinggi (high income economies), yaitu negara yang memiliki PNB perkapita sekitar US $ 25.480.

D. Indeks Harga dan Inflasi Kenaikan harga-harga yang berlaku dari satu waktu ke waktu lainnya tidak berlaku secara seragam. Kenaikan tersebut biasanya berlaku atas kebanyakan barang, tetapi kenaikannya berbeda. Ada yang tinggi persentasenya dan ada yang rendah. Selain itu sebagian barang tidak mengalami kenaikan. Berlakunya tingkat perubahan harga yang berbeda tersebut menyebabkan indeks harga perlu dibentuk untuk menggambarkan tingkat perubahan harga-harga yang berlaku dalam suatu negara. Adapun untuk mengukur tingkat inflasi, indeks harga yang selalu digunakan adalah indeks harga konsumen yaitu indek harga dari barang-barang yang selalu digunakan para konsumen.

1. Pengertian dan Cara Perhitungan Secara konseptual indeks berarti urutan data atau angka-angka. Indeks harga dapat diartikan sebagai kumpulan data berupa harga-harga secara berurutan, yang berfungsi untuk menentukan perubahan harga rata-rata yang berlaku pada suatu periode tertentu. Saat ini terdapat tiga indeks harga, yaitu indeks harga konsumen (Customer Price Index = CPI), indeks harga produsen (Producer Price Index = PPI) dan Pedeflasi GDP (GDP Deflator). Ketiga indeks ini dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat inflasi pada satu periode tertentu. Pada pembahasan ini hanya akan difokuskan pada indeks harga konsumen (IHK). IHK mengubah harga berbagai barang dan jasa menjadi sebuah indeks tunggal yang mengukur seluruh tingkat pembelian. Berikut ini ciri-ciri IHK. a. Hanya mengukur harga barang dan jasa yang dibeli konsumen. b. IHK mencakup barang dan jasa yang domestik dan barang-barang impor. c. Dalam IHK, komponen biaya-biaya bunga mewakili biaya perumahan.

IHK dihitung dengan menggunakan data harga konsumen. Harga konsumen adalah harga barang-barang yang diperdagangkan dalam eceran untuk dikonsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Harga konsumen diambil dari data empat kelompok, yaitu kelompok makanan, sandang, perumahan, dan aneka barang dan jasa. IHK dapat dihitung dengan menggunakan formula indeks harga Laspeyres dan indeks harga Paasche (IP).

2. Pengertian Inflasi Inflasi adalah merosotnya nilai uang karena banyaknya uang yang beredar, sehingga menyebabkan kenaikan harga-harga barang yang bersifat umum dan berlangsung terus menerus. Ada tiga komponen untuk menentukan terjadinya inflasi.

a. Kenaikan Harga Harga suatu komoditas dikatakan naik jika harga menjadi lebih tinggi daripada periode sebelumnya. Misalnya, harga 1 buku tulis yang berisi 50 lembar sebesar Rp2.500,00. Beberapa hari kemudian naik menjadi Rp3.000,00. Hal ini berarti telah terjadi kenaikan harga buku tulis. Perbandingan tingkat harga bisa dilakukan pada periode yang lebih panjang yaitu seminggu, sebulan, triwulan, dan setahun.

b. Bersifat umum Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan terjadi inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga-harga komoditas lainnya secara umum naik. Misalnya kenaikan harga 1 buku tulis yang berisi 50 lembar terjadi pada saat tahun ajaran baru, sehingga permintaan terhadap buku tulis meningkat. Tetapi apabila kenaikan harga buku tulis tersebut tidak menimbulkan kenaikan-kenaikan harga komoditas lain, maka tidak terjadi inflasi.

c. Berlangsungnya Terus Menerus Kenaikan harga-harga yang bersifat umum, apabila terjadinya hanya sesaat, belum dikategorikan terjadi inflasi. Sehingga perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan. Jika pemerintah melaporkan bahwa inflasi tahun ini sebesar 8% per tahun, berarti akumulasi inflasi adalah 8% per tahun. Inflasi triwulan ratarata 2% (8% : 4) dan inflasi bulanan rata-rata 0,66% (8% : 12).

3. Penyebab Inflasi Telah disebutkan di atas, bahwa terjadinya inflasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi.

a. Kenaikan Permintaan Agregate (Demand-Pull Inflation) Demand-pull inflation mengatakan bahwa perubahan tingkat harga disebabkan oleh perubahan permintaan. Kenaikan dalam permintaan yang lebih besar dari penawaran akan menyebabkan kelebihan permintaan. Akibatnya terjadi peningkatan harga. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kurva di samping. 1) Gambar tersebut menunjukkan perubahan D barang dari AD0 ke AD1 . Dengan jumlah S total tetap pada AS0 . 2) Adanya kenaikan permintaan menyebabkan kenaikan tingkat P dari P0 ke P1 3) Kenaikan harga ini menunjukkan terjadinya inflasi. b. Kenaikan Biaya Produksi (Cost-Push Inflation) Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi. Naiknya biaya produksi karena terjadi kenaikan harga faktor-faktor produksi. Misalnya adanya tuntutan serikat pekerja untuk menaikkan upah dan perusahaan menerima tuntutan tersebut. Peningkatan upah pekerja mengakibatkan biaya produksi meningkat. Akibatnya perusahaan membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen melalui harga yang lebih tinggi. Proses terjadinya inflasi karena kenaikan biaya produksi dapat dilihat pada kurva di samping. Keseimbangan awal berada di titik E0. Apabila biaya produksi meningkat, akan menggeser kurva AS dari AS0 ke AS1, sementara Q tetap. Akibatnya jumlah produksi akan turun, namun harga barang meningkat dari P0 ke P1. Dengan demikian inflasi akan terjadi.

4. Laju Inflasi Laju inflasi adalah tingkat persentase kenaikan dalam beberapa indeks harga dari satu periode ke periode lainnya. Menghitung laju inflasi merupakan salah satu topik yang penting dalam pembahasan inflasi. Angka inflasi dihitung oleh Badan Pusat Statistik dari persentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada periode tertentu dibandingkan dengan IHK pada periode sebelumnya. Dalam masa inflasi kenaikan harga untuk bermacam-macam barang tidak berjalan dengan laju yang sama. Ada tiga cara untuk mengukur laju inflasi yaitu: a. membandingkan rata-rata tahunan, b. membandingkan bulan ini dengan bulan yang sama pada tahun lalu, dan c. membandingkan bulan ini dengan bulan yang lalu.

5. Jenis-Jenis Inflasi Inflasi yang terjadi pada suatu negara dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahannya, penyebabnya dan berdasarkan asal terjadinya. a. Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya 1) Inflasi rendah Inflasi dikatakan rendah jika kenaikan harga berjalan sangat lambat dengan persentase kecil, yaitu di bawah 10% setahun. 2) Inflasi sedang Suatu negara dikatakan mengalami inflasi sedang, jika persentase laju inflasinya sebesar 10% – 30% setahun. 3) Inflasi tinggi. Inflasi dikatakan tinggi jika laju inflasinya berkisar 30% – 100% setahun. 4) Hiperinflasi Hiperinflasi dapat terjadi jika laju inflasinya di atas 100% setahun. Apabila suatu negara mengalami hiperinflasi, maka masyarakat tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap uang, mereka lebih memilih menukarkannya dengan barang tertentu. b. Inflasi Berdasarkan Penyebabnya Inflasi dapat pula dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu: 1) Demand-pull inflation 2) Cost-push inflation Jenis inflasi berdasarkan penyebabnya akan dibahas lebih lanjut pada subbab berikutnya. c. Inflasi Berdasarkan Asalnya Berdasarkan asalnya inflasi dibedakan menjadi berikut ini. 1) Inflasi karena defisit APBN. Inflasi jenis ini terjadi sebagai akibat adanya pertumbuhan jumlah uang yang beredar melebihi permintaan akan uang. 2) Imported inflation, yaitu inflasi yang terjadi di suatu negara, misalnya beberapa barang di luar negeri yang menjadi faktor produksi di suatu negara, harganya meningkat, maka kenaikan harga tersebut mengakibatkan meningkatnya harga barang di negara tersebut.

E. Hubungan Inflasi dan Indeks Harga Konsumen Data indeks harga konsumen yang telah kalian pelajari tersebut, memiliki hubungan dengan tingkat inflasi. Data indeks harga konsumen (IHK) dalam periode tertentu dapat digunakan untuk menghitung tingkat inflasi. Perhitungan tingkat inflasi dapat secara bulanan maupun tahunan. Semakin tinggi laju IHK akan semakin tinggi pula laju inflasi.

 

Perhitungan Pendapatan Nasional dan Pendapatan Perkapita | medsis | 4.5