Pencemaran dan Penanggulangan Pencemaran

Pencemaran dan Penanggulangan Pencemaran

Pencemaran Air

Terjadinya pencemaran air sebagaimana pencemaran udara, dapat secara alamiah maupun akibat aktivitas manusia. Tsunami yang beberapa waktu lalu melanda masyarakat Indonesia, khsususnya Aceh, Nias, dan Jawa Barat bagian selatan merupakan contoh kejadian yang manusia tidak bisa untuk mencegahnya. Namun demikian, penyebab alamiah ini cenderung lebih segera teratasi dilihat dari sudut pandang pencemaran. Karena, secara alamiah akan terjadi naturalisasi kondisi alam tersebut. Hal ini tentunya berbeda dengan dengan apabila terjadi tumpahan minyak bumi ke laut, masuknya berbagai jenis pupuk anorganik sintetis dan pestisida ke dalam perairan. Bahan kimia yang demikian tentunya sangat tergantung pada kearifan manusia untuk mencegah dan menanggulanginya.

Pencemaran dan Penanggulangan Pencemaran

Pencemaran dan Penanggulangan Pencemaran

Bahan-bahan kimia polutan air secara garis besar dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1) Minyak bumi dan turunannya (akibat tumpahan) 2) Pupuk dan pestisida (terutama residu dan penggunaan secara berlebih) dan limbah pertanian lainnya 3) Padatan tersuspensi 4) Limbah logam berat 5) Limbah berbagai industri 6) Limbah lainnya

Adapun parameter penentu kualitas air dan perairan untuk mengenali tercemar tidaknya badan air terserbut adalah:

a. Parameter kelompok fisika:

1. Suhu, warna, bau, dan rasa 2. Kekeruhan, TS (total solid, artinya zat padat total), TSS (total suspended solid, artinya zat padat tersuspensi total), dan TDS (total dissolved solid, artinya zat padat terlarut total) 3. Daya hantar linstrik (DHL) atau sering dikenal dengan konduktansi

b. Parameter kelompok kimia: 4. COD (chemical oxygen demand: kebutuhan oksigen untuk proses kimiawi dalam badan air), dan Nilai (Angka) permanganate. 5. BOD (biochemical oxygen demand: banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri dan mikrooragnisme untuk proses kimiawi dalam badan air). Makin tinggi nilai BOD mengindikasikan makin tingginya tingkat pencemaran. 6. DO (disolved of oxygen, artinya jumlah oksigen yang larut dalam badan air). Makin rendah nilai DO menggambarkan tingkat pencemaran yang semakin tinggi. 7. Derajad keasaman (pH dan alkalinitas. 8. Kesadahan, kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). 9. Logam berat (Fe, Pb, Cu, Hg, Co, Cr, Cd, Zn, dsb.) 10. Garam-garam anorganik: klorida, sulfat, sianida, nitrat, nitrit, amoniak bebas, dsb. 11. Bahan organik: senyawa aktif methylene blue, minyak dan lemak, PCB, fenol, dsb

c. Parameter bakteriologi (bilogi): 12. Kelompok Koliform 13. Kuman parasitik dan patogenik

d. Keradioaktifan: 14. Aktivitas sinar beta total 15. Strontium-90 16. Radium-226

Pencemaran Tanah

Sebagaimana halnya dengan pencemaran udara dan air, pencemaran tanah didefinisikan sebagai masuknya atau dimasukkannya bahan pencemar atau polutan ke badan sehingga terjadi perubahan peruntukkannya. Polutan air pada dasarnya identik dengan polutan tanah. Berkurangnya bahkan hilangnya kegemburan, kesuburan, dan unsurunsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman banyak diakibatkan oleh penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan dan berbagai ragam eksploitasi terhadap tanah, khususnya tanah permukaan. Misalnya, eksploitasi tanah untuk diolah menjadi batu bata (bata merah), pengerukan pasir permukaan, hilangnya penyangga tanah permukaan karena longsor, dan sebagainya.

Pengendalian (Pencegahan dan Penanggulangan) Pencemaran Lingkungan

Bagaimana upaya pencegahan terhadap pencemaran udara? Menghentikan secara total terhadap aktivitas manusia sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman jelas bukan solusi terbaik yang dapat diterima semua pihak. Demikian juga, mampukah manusia menghentikan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa agar tak terjadi bencana (seperti gunung meletus). Namur demikian, upaya yang bijaksana dari manusia sebagai pelaku utama di bumi hádala satu keharusan. Upaya berikut kiranya dapat digunakan untuk mengendalikan pencemaran lingkungan, antara lain:

1. Penggunaan bahan bakar secara hemat, pola konsumsi yang menurunkan bahkan menghilangkan sampah secara berlebih, konversi penggunaan bahan bakar fosil menjadi bahan bakar nabati, dan tentunya masih banyak lagi yang perlu direnungkan dan ditindalanjuti, terutama para pengambil kebijakan dan pelaku kegiatan.

2. Penurunan/pengurangan penggunaan energi batubara dan menggantikannya dengan gas alam, biogas, dan energi alternatif lainnya.

3. Peningkatan penggunaan energi alternatif, khususnya energi bersumber materi yang terbarukan (renewable material): cahaya matahari, angin, panas bumi, dan gas alam.

4. Pengurangan/penghentian penebangan hutan dan peningkatan upaya penghutanan kembali (reboisasi).

5. Pengelolaan dan pengolahan sampah (baik domestik maupun industri) menjadi sumber energi.

6. Peningkatan produksi pupuk dan pestisida yang ramah lingkungan dan berbasis pada bahan organik, dan sesedikit mungkin menggunakan pupuk dan pestisida anorganik sintetik. Penggunaan pupuk model tablet dapat mengurangi emisi oksida nitrogen dibanding pupuk tabur.

7. Pengendalian dan pengawasan pembuangan limbah ke lingkungan kecuali dilakukan treatment terlebih dahulu dan relatif telah ramah lingkungan.

8. Dan tentunya masih banyak alternatif yang menjadi solusi. Bagaimana saran dan masukan Anda? Pada dasarnya Pengendalian Pencemaran Lingkungan adalah setiap upaya (1) pencegahan, (2) penanggulangan, dan (3) pemulihan pencemaran lingkungan untuk menjamin kualitas lingkungan agar sesuai dengan peruntukannya.

Pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan pencemaran lingkungan agar sesuai dengan peruntukannya tentunya harus disadari sebagai tanggungjawab baik individu, masyarakat, maupun pemerintah.

 

Pencemaran dan Penanggulangan Pencemaran | medsis | 4.5