Penaklukan Mekah 6 Hijriah

Pada tahun ke-6 Hijrah, ketika haji telah disyariatkan, Nabi Muhammad saw.
dengan 1.000 orang kaum muslimin berangkat ke Mekah untuk melaksanakan
ibadah haji. Karena itu, Nabi saw. beserta kaum muslimin berangkat dengan
pakaian i¥ram dan tanpa senjata. Sebelum sampai di Mekah, tepatnya di
Hudaibiyah, Nabi Muhammad saw. dan kaum muslimin tertahan dan tidak
boleh masuk ke Mekah. Sambil menunggu izin untuk masuk ke Mekah, Nabi
saw. dan kaum muslimin berkemah di sana. Nabi saw. dan kaum muslimin
tidak mendapat izin memasuki Mekah dan akhirnya dibuatlah Perjanjian
Hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyah berisi lima kesepakatan, yaitu: (1) kaum muslimin
tidak boleh mengunjungi Ka’bah pada tahun ini dan ditangguhkan sampai
tahun depan, (2) lama kunjungan dibatasi sampai tiga hari saja, (3) kaum
muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekah yang melarikan diri ke
Madinah. Sebaliknya, pihak Quraisy menolak untuk mengembalikan orangorang
Madinah yang kembali ke Mekah, (4) selama sepuluh tahun dilakukan
genjatan senjata antara masyarakat Madinah dan Mekah, dan (5) tiap kabilah
yang ingin masuk ke dalam persekutuan kuam Quraisy atau kaum muslimin,
bebas melakukannya tanpa mendapat rintangan. Sejarah Dakwah Rasulullah_Mekkah

Dengan adanya perjanjian ini, harapan untuk mengambil alih Ka’bah dan
menguasai Mekah kembali terbuka. Ada dua faktor yang mendorong Nabi
Muhammad saw. untuk menguasai Mekah. Pertama, Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab. Bila Mekah dapat dikuasai, penyebaran Islam
ke seluruh Jazirah Arab akan dapat dilakukan. Kedua, orang-orang Quraisy
adalah orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar.
Dengan dikuasainya Mekah, kemungkinan besar orang-orang Quraisy,
yang merupakan suku Nabi Muhammad saw. sendiri, akan memeluk Islam.
Dengan Islamnya orang-orang Quraisy, Islam akan mendapat dukungan yang
besar. Setahun kemudian, Nabi Muhammad saw. bersama kaum muslimin
melaksanakan ibadah haji sesuai dengan perjanjian. Dalam kesempatan ini
banyak penduduk Mekah yang masuk Islam karena melihat kemajuan yang
diperoleh oleh penduduk Madinah.
Dua tahun Perjanjian Hudaibiyah berlangsung, dakwah Islam telah
menjangkau seluruh Jazirah Arab dan mendapat tanggapan positif. Prestasi
ini, menurut orang Quraisy, dikarenakan adanya Perjanjian Hudaibiyah. Oleh
karena itu, secara sepihak mereka membatalkan perjanjian tersebut. Nabi
Muhammad saw. segera berangkat ke Mekah dengan 10.000 orang tentara.
Tanpa kesulitan, Nabi Muhammad saw. dan pasukannya memasuki Mekah
dan berhala-berhala di semua sudut negeri dihancurkan. Setelah itu, Nabi
Muhammad saw. berkhutbah memberikan pengampunan bagi orang-orang
Quraisy. Dalam khutbah itu Nabi saw. menyatakan: “siapa yang menyarungkan
pedangnya ia akan aman, siapa yang masuk ke Masjidil Haram ia akan aman,
dan siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan ia juga akan aman.” Setelah khutbah itu, penduduk Mekah datang berbondong-bondong dan menyatakan
diri sebagai muslim. Sejak peristiwa itu, Mekah berada di bawah kekuasaan
Nabi Muhammad saw.
Keislaman penduduk Mekah memberikan pengaruh yang sangat besar
kepada suku-suku di berbagai pelosok Arab. Oleh karena itu, pada tahun
ke-9 dan 10 Hijrah (630 – 631 M) Nabi Muhammad saw. menerima berbagai
delegasi suku-suku Arab sehingga tahun itu disebut dengan tahun perutusan.
Sejak itu, peperangan antarsuku telah berubah menjadi saudara seagama dan
persatuan Arab pun terwujud. Nabi Muhammad saw. kembali ke Madinah.
Ia mengatur organisasi masyarakat Arab yang telah memeluk Islam. Petugas
keamanan dan para da’i dikirim ke daerah-daerah untuk mengajarkan Islam,
mengatur peradilan, dan memungut zakat. Dua bulan kemudian, Nabi saw.
jatuh sakit, dan pada 12 Rabi’ul Awwal 11 H bertepatan dengan 8 Juni 632 M
ia wafat di rumah istrinya, Aisyah.

Penaklukan Mekah 6 Hijriah | medsis | 4.5