Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita

Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita

Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita

Gereja menaruh perhatian yang cukup besar dalam memperjuangkan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki. Perjuangan Gereja tersebut dilandasi oleh pandangan Gereja sendiri, sebagaimana terungkap dalam Katekismus Gereja Katolik berikut ini.

Artikel 369

Pria dan wanita diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. ”Kepriaan” dan ”kewanitaan” adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah: keduanya, pria dan wanita, memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya. Keduanya, pria dan wanita, bermartabat sama ”menurut citra Allah”. Dalam kepriaan dan kewanitaannya mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta.

Artikel 371

Allah menciptakan pria dan wanita secara bersama dan menghendaki yang satu untuk yang lain. Sabda Allah menegaskan itu bagi kita melalui berbagai tempat dalam Kitab Suci: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Dari antara binatang-binatang manusia tidak menemukan satu pun yang sepadan dengan dia (Kej 2:19-20). Wanita yang Allah “bentuk” dari rusuk pria, dibawa kepada manusia. Lalu berkatalah manusia yang begitu bahagia karena persekutuan dengannya, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2:23). Pria menemukan wanita itu sebagai aku yang lain, sebagai sesama manusia.

Artikel 372

Pria dan wanita diciptakan ”satu untuk yang lain”, bukan seakanakan Allah membuat mereka sebagai manusia setengah-setengah dan tidak lengkap, melainkan Ia menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi, sehingga kedua orang itu dapat menjadi ”penolong” satu untuk yang lain, karena di satu pihak mereka itu sama sebagai pribadi (”tulang dari tulangku”), sedangkan di lain pihak mereka saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaannya. Dalam perkawinan, Allah mempersatukan mereka sedemikian erat, sehingga mereka ”menjadi satu daging” (Kej 2:24) dan dapat meneruskan kehidupan manusia: ”Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi” (Kej 1:28). Dengan meneruskan kehidupan kepada anak-anaknya, pria dan wanita sebagai suami isteri dan orang-tua bekerja sama dengan karya Pencipta atas cara yang sangat khusus.

Pandangan dan perjuangan Gereja itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari pandangan dan sikap Yesus yang dalam upaya-Nya mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah, juga berusaha menegakkan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki, sebagaimana nampak dalam Yoh 8: 2-11 dan Mrk 15: 21-28 a. Baca kedua kutipan tersebut dengan teliti! b. Buatlah daftar pertanyaaan terhadap hal-hal yang belum kamu pahami dari ke dua kutipan tersebut ! c. Bahaslah pertanyaan-pertanyaan tersebut bersama teman-temanmu dan guru ! d. Buatlah kesimpulan apa kesederajatan yang terungkap dari kedua kutipan tersebut!

Refleksi dan Aksi

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Anak-anak yang terkasih, sebagai penutup pelajaran hari ini, mari kita refleksi sejenak. Keluhuran martabat manusia bukan ditentukan oleh apakah dia seorang laki-laki atau perempuan. Apakah saya selama ini menghormati teman saya sebagai ciptaan Allah yang bermartabat luhur? Menghina manusia sama dengan menghina penciptanya. Apakah saya pernah menghina teman saya perempuan atau laki-laki? Laki-laki dan perempuan itu sederajat.

Apakah saya menghormati siapa saja dan tidak menganggap lawan jenis sebagai saingan? Sekarang, pikirkan kebiasaan baik apa yang akan dilakukan sebagai wujud penghormatan terhadap kesederajatan perempuan dan laki-laki, misalnya: • Mau bergaul dengan siapa saja dengan tetap menjaga kesopanan dan kesusilaan • Tidak menghina lawan jenis • ….dan sebagainya Masih dalam suasana hening, buatlah motto dan refleksimu yang menggambarkan keyakinanmu bahwa perempuan dan laki-laki itu sederajat. Hiasilah motto itu sebaik mungkin, dan dikumpulkan. Doa: Allah, Bapa Pencipta, Engkau menciptakan perempuan dan laki-laki sederajat. Ajarilah kami saling menghormati dan menghargai keutamaan kami masing-masing sebab dengan cara demikianlah kami juga meluhurkan Engkau Demi Kristus, Tuhan kami

Mengembangkan Diri sebagai Perempuan dan Laki-laki

Doa Allah Bapa Maha Pencipta, kami bersyukur telah diciptakan sebagai citraMu, sebagai perempuan atau laki-laki. Bimbinglah kami, agar dalam masa remaja ini kami dapat melatih dan mengembangkan diri menjadi perempuan atau laki-laki sejati menjadi manusia yang sempurna, sebagaimana Engkau sempurna adanya sebagaimana telah ditunjukkan oleh PuteraMu, Yesus Kristus dan Bunda Maria, Bunda kami. Amin.

1. Berkembang Sesuai dengan Kodrat sebagai Perempuan atau Laki-laki Panggilan setiap manusia adalah agar ia dapat berkembang sesuai kodratNya. Maka sebagai perempuan, ia harus berkembang menjadi perempuan sejati. Sebagai laki-laki, ia harus berkembang menjadi laki-laki sejati. Pernahkah kamu mendengar istilah “perempuan sejati” atau “lakilaki sejati”? Tahukah kamu kriteria yang menyebabkan mereka dapat disebut “sejati”? Ada baiknya kamu bersama teman-teman mencoba memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tetapi istilah sejati itu sendiri sifatnya relatif, karena di dunia ini tak ada yang benar-benar sejati, selain dari Allah sendiri. Mungkin yang lebih penting kamu pikirkan saat ini adalah bagaimana cara dan bentuknya, agar sebagai perempuan atau laki-laki, kamu dapat hidup secara membanggakan, mengagumkan, dan bermakna bagi sesama dengan tidak melanggar kodratmu.

Semula Menjengkelkan, Kemudian Berguna Nama saya Anton. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Sejak kelas empat SD, saya tinggal jauh dari orang tua karena diminta menemani Bibi yang bekerja di kota lain. Bibi bekerja sebagai Guru SD. Saya pulang ke rumah orang tua hanya dua kali dalam setahun, yakni setiap libur semester. Saya tinggal di rumah Bibi sejak SD sampai SMA, sejak Bibi belum menikah, sampai Bibi mempunyai anak tiga. Ada pengalaman yang tak dapat saya lupakan semasa tinggal dengan Bibi. Sejak Bibi menikah dengan suaminya, yang juga bekerja sebagai guru, dan mempunyai seorang anak, mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les privat. Mereka sering tidak sempat berbelanja, dan tidak sempat memasak. Oleh karena itu, saya sering disuruh Bibi belanja ke warung. Biasanya Bibi, sudah menuliskan apa saja yang akan dibeli, sayurmayur, dan berbagai macam bumbu dapur.

Awalnya saya malu bukan main. Bayangkan, saya adalah anak laki-laki satu-satunya yang setiap hari harus antri di warung untuk belanja sayuran di antara ibu-ibu, Ada ibu-ibu yang memuji dan bangga melihat saya karena mau membantu Bibi berbelanja. Tetapi ada juga yang mengejek. Adakalanya ibu-ibu mengalah dan memberi kesempatan kepada saya untuk belanja lebih dahulu. Lama-kelamaan, Bibi saya tidak hanya menyuruh saya belanja. Saya juga disuruh untuk memasak. Saya diberi tahu cara memotong kangkung, mengiris bawang, menumbuk bumbu, hingga memasaknya. Saya dapat memasak sayur , membuat sambal terasi, dan yang lainnya. Selain memasak, saya juga harus mengasuh anak Bibi. Jika bibi sangat sibuk, saya harus memandikan anak-anak Bibi, dan menyiapkan makanan mereka. Saya juga menyapu, mengepel, mencuci pakaian, menyetrika, dan sebagainya.Kadang-kadang saya marah dalam hati “Mengapa Bibi saya memperlakukan saya seperti ini ? Saya kan laki-laki” Bayangkan semua pekerjaan itu saya lakukan selama saya tinggal di rumah Bibi, yaitu sejak SD sampai lulus SMA. Sejak bibi menikah hingga mempunyai tiga anak. Kadang-kadang saya malu. Tapi saya berusaha tidak menolak dan tidak berontak terhadap apa saja yang Bibi perintahkan kepada saya. Saya sadar, bahwa kalau saya tidak ikut Bibi, saya mungkin tidak dapat bersekolah. Bibi yang membiayai sekolah saya sejak saya tinggal dengan Bibi. Di kemudian hari, saat saya kuliah, saya baru sadar bahwa ternyata apa yang Bibi latih selama ini sangat berguna. Di tempat kost saya dapat memasak. Saya menjadi pribadi yang mandiri . Lebih-lebih setelah saya menikah dan mempunyai anak, saya dapat mengurus anak-anak saya dengan baik. Bahkan sampai sekarang, kebiasaan memasak itu menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya senang dan bangga, karena walaupun saya seorang bapak, tetapi berkat didikan Bibi di masa lalu, di dalam keluarga saya tidak hanya mengandalkan istri untuk urusan masak atau mengurus anak. Saya dapat membantu istri saya

Diskusikan pertanyaan berikut ini dan komunikasikan hasilnya! 1. Setelah membaca kisah di atas, hal menarik apa yang kamu peroleh? 2. Apa pengetahuan dan keterampilan yang sebaiknya kamu latih agar kelak dapat menjadi perempuan sejati atau laki-laki sejati, atau mejadi seorang Ibu atau menjadi seorang bapak? 3. Kebiasaan dan nilai-nilai apa yang perlu ditumbuhkan dalam dirimu, sehingga kamu juga bertumbuh menjadi citra Allah yang sesungguhnya? 4. Berilah beberapa contoh lain yang mengungkapkan sikap atau perilaku yang tidak sesuai dengan penghayatan diri remaja sebagai perempuan atau laki-laki dan tunjukkan nilai apa yang terungkap di dalamnya.

 

Pandangan Gereja tentang Kesederajatan Pria Wanita | medsis | 4.5