Nilai Nilai Cerpen Bahasa Indonesia Tentang Menentukan

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Nilai Nilai Cerpen Bahasa Indonesia Tentang Menentukan

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia

Nilai Nilai Cerpen Bahasa Indonesia Tentang Menentukan

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia – Pada akhirnya ternyata Mami, atau siapa pun, tak perlu merepotkan diri ke kantor kelurahan, kecamatan, atau kantor apa pun, karena pada hari ketiga, keempat dan seterusnya sampai dengan kemarin ini, Parmin masuk seperti biasa. Namun tak berarti persoalan lalu selesai. Sebab nanti siang akan ada pesta lagi. (Arisan keluarga sebenarnya. Tapi apalah bedanya dengan pesta.) Kecurigaan atas diri Parmin tak menjadikan mami ragu-ragu membolehkan Parmin datang membantu-bantu. Malah sebaliknya, pesta nanti siang seolah dirancang sebagai perangkap, yang diharapkan bisa merangsang Parmin agar “melakukan rekonstruksi tanpa paksaan”. Pukul sembilan dia datang dengan sepeda tuanya. Langsung ke kebun belakang, mengambil slang air, menyiram taman anggrek. Selesai itu mami menyuruh Parmin mempersiapkan kursi-kursi tambahan untuk ruang tengah. “Mau ada acara makan,” mami menambahkan. Tak biasanya mami berkata begitu, sebab sudah dengan sendirinya Parmin akan tahu. Ada yang diharapkan, memang, ialah munculnya kegelisahan Parmin, atau sekurang-kurangnya suatu reaksi. Dan ini mulai nampak, ketika mami menyuruh dia ke pasar bersama Parjilah, termasuk supermarket membeli es krim, seperti dulu.

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia – Adalah Himan yang bertugas mengamati Parmin secara khusus. Anak nomor dua ini (yang menjadi penganggur karena setclah lulus SMA tahun kemarin tidak diterima di perguruan tinggi ncgcri mana pun dan papi memutuskan “sekalian sekolah di luar negeri saja”). Memang banyak waktu luang, terutama untuk hal-hal yang menurutnya berbau spionase. Dia pula yang kemudian melihat, betapa tangan Parmin gemetaran memegang gelas-gelas, serta berkali-kali es krim yang dituang ke dalamnya tumpah ke lantai. Arisan memang berjalan lancar, namun tak urung Mami terbawa-bawa jadi gelisah. Dan, entah mesti disyukuri ataukah disesalkan, rekonstruksi ternyata berjalan persis yang dinanti. Parmin, suatu ketika, melintas cepat dari dapur ke garasi. Himan siaga. Sempat ia melihat Parmin memasukan sesuatu ke dalam tasnya. Hanya sekilas, Karena secepat itu pula Parmin melarikan sepedanya keluar. “Kejar!” mami berteriak. Jam menunjukkan pukul lima sore ketika Himan meloncat ke atas sepeda balapnya sendiri, melesat ke jalanan mengejar Parmin. Maka nampaklah dua sepeda mencoba berpacu, berkelit di antara ratusan mobil yang berhenti ataupun melata pelan, di tengah jalanan Jakarta yang macet, tanpa ada yang tahu persis siapa mengejar siapa. Yang jelas Parmin tak tahu bahwa ia tengah dikejar, sementara Himan sendiri lama-lama menjadi kurang yakin bahwa Parmin pantas untuk dikejar-kejar. Sebab tak pernah satu kali pun Parmin menoleh ke belakang, lebih-lebih mencoba menyembunyikan diri.

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia

Jangan-jangan, justru Parminlah yang tengah mengejar sesuatu, Tapi apa? Suara adzan magrib kedengaran dari segala penjuru. Hampir sejam keduanya berpacu. Parmin makin gesit ketika menikung masuk kampung, sementara Himan mengikuti dengan perasaan makin bertanya-tanya. Jalanan di situ tak lagi dikenalinya. Jalan beraspal tipis yang lebih banyak berlapis lumpur merah. Lalu lintas sepi. Himan terpaksa menjaga jarak. Lebih-lebih ketika Parmin turun dari sepedanya, dan masuk ke sebuah gang yang tak jelas ujudnya karena kadang menyatu dengan halaman rumah orang. Ah, halaman! Betapa itu sebenarnya tak lebih dari teras sempit tanpa pagar yang biasa di pakai tempat menjemur pakaian. Dan, gang yang lebih kecil adalah batas antara rumahrumah itu sendiri, yang dua buah sepeda motor pun rasa-rasanya sulit berpapasan di situ. Bercabangcabang. Berliku-liku. Serimbun rumah-rumah petak yang berderet malang melintang. Hingga beberapa kali Himan kehilangan jejak, dan setiap kali pula ia harus menerima pandangan orang-orang sekitar yang bagi Himan berbau kecurigaan. Sampai kemudian Parmin nampak menyusuri dinding sebuah rumah petak, separuh bangunan batu dan sebelah atas dinding kayu. Di ujung sana Parmin memasukkan sepedanya. Himan cepat menyusul.

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia – Tapi yang dihadapinya kemudian memaksanya untuk berhenti melangkah, urung menyergap. “Bapak pulang! Bapak datang!” Tiga anak kecil keluar dari dalam merubung Parmin. Seorang meninju-ninju kaki bapaknya, seorang ber-breakdance tak keruan, dan yang satu lagi menarik-narik tas. “Hati-hati ada isinya!” Serentak ketiganya bersorak. “Mak! Mak! Tas bapak ada isinya!” Istri Parmin keluar, membawa segelas teh yang nampaknya sudah disiapkan sejak tadi. Sementara itu tas dibuka. Ada bungkusan plastik. Bungkusan dibuka. Ada kantong plastik. Kantong plastik dibuka.

Si bungsu merebut. Plastik pecah. Isinya sebagian tumpah! “Maak! Es kriiim!” “Cepat ambil gelas!” Gelas, itulah yang tepat. Sebab es krim itu tinggal berupa cairan putih yang tak jauh beda denga air susu, menetes deras ke lantai. Oleh sang ibu lalu di tadah ke dalam gelas yang dipegang erat oleh masing-masing anak. Serentak semua diam. Semua tegang menanti bagian. Cuma kedengaran si bungsu yang berulang menyedot ingus. Lalu selesailah pembagian itu, masing-masing sepertiga gelas lebih sedikit. Tangan-tangan mungil itu mulai memasukkan sendok kecil ke dalam gelas. “He, he, kalau sudah begini lupa berdoa, ya?” “Berdoa kan buat kalau mau makan nasi, Mak.” “Ya sudah, sekarang mengucap terima kasih saja,” Parmin menyambung. “Yang memberi es krim ini tante Oche, tante Ucis sama Oom Himan. Ayo, gimana?” Dengan takzim ketiganya mengucapkan pelan, satu anak menyebut satu nama. “Terima kasih Tante Oche.” “Terima kasih Tante Ucis.” “Terima kasih Oom Himan.” Himan melangkah surut. Diambilnya sepedanya, lalu pelan ia menyusuri gang yang remang oleh sisa-sisa cahaya lampu dari dalam rumah-rumah petak yang jendelanya masih terbuka. Setiap kali ia berpapasan dengan tukang bakso pulang kerja, juga penjual minyak tanah, penjual siomay, kondektur bus kota, sopir bajaj… Bila nanti Himan sulit menceritakan segala yang baru dilihatnya, tentu bukan karena sekonyong-konyong ia kehilangan kata-kata, namun perbendaharaan kata itu memang belum pernah dimilikinya, ialah untuk sekadar bercerita tentang orang-orang yang bahkan begitu dekat dengan kehidupannya. Kehidupan kita juga, barangkali. Sumber: Kumpulan cerpen Parmin, 2002

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia – Setelah Anda membaca cerpen tersebut dengan baik dan penuh penghayatan, nilai kehidupan apakah yang Anda dapatkan? Itulah alasannya mengapa sebuah karya cerpen dapat menampilkan sisi kehidupan yang memuat moral secara universal. Semua orang dapat menerima hikmah di balik cerita. Tidak tertutup kemungkinan, Anda akan mendapatkan banyak pelajaran dari cerpen “Parmin” tersebut. Mungkin Anda dapat bersimpati sekaligus terenyuh jika menyaksikan seorang Himan yang menjadi “saksi mata” atas apa yang selama ini disangkakan kepada Parmin.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Ada banyak nilai moral yang dapat diambil dari cerpen tersebut, antara lain sebagai berikut.

1. Kehidupan ini kadang seperti air dan minyak. Maksudnya, jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin telah membuat manusia lupa akan sesamanya.

2. Walaupun bagi sebagian orang terlihat kecil, bagi orang miskin harta sekecil itu dapat menjadi begitu besar dan bermakna. Dalam cerpen ini, yang disuguhkan hanyalah soal kecil, yaitu es krim. Namun, sisi kemanusiaan di dalamnya begitu besar.

3. Kita memang harus merasakan dan peka terhadap lingkungan sekitar. Kadang harta dapat membutakan sebagian manusia. Harta sebenarnya bukan tujuan utama. Hal yang paling penting adalah sejauh mana kita bisa memaknai hidup bahwa ada orang lain di sekitar kita.

Apakah Anda menemukan nilai moral lain yang terdapat dalam cerita tersebut? Diskusikanlah dengan teman Anda. Lalu, kerjakanlah latihan berikut.

Nilai Cerpen Bahasa Indonesia  – Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya Karya Sunaryono Basuki Ks.

diletakkan di kebun bunga dengan halaman tertutup rerumputan hijau lembut itu adalah seorang pemburu yang terkenal mahir menggunakan senapannya. Tak ada suara anak-anak di rumah itu. Sebab mereka semuanya, kecuali si bungsu, sudah pergi meninggalkannya mencari rezeki di kota-kota yang jauh, bahkan di sebuah pengeboran minyak lepas pantai di wilayah Ceram. Mereka adalah anak-anak yang dulunya sangat rajin belajar dan berhasil menyelesaikan studi mereka di universitas-universitas terkenal. Putut, yang tertua, yang dulunya bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, sekarang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan asing berukuran raksasa, dan dia tidak pernah tinggal di satu kota besar dalam tempo yang lama. Kegiatannya berterbangan dari satu bandara ke bandara internasional yang lain, memberikan konsultasi yang mahal harganya, beristirahat akhir pekan di pantai negeri jauh, dan hanya sekali-sekali singgah di Jakarta. Tidak ada waktu untuk pulang ke Bali mengikuti berbagai upacara adat yang mengalir tak kering-keringnya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Anggota keluarganya di desa selalu membicarakannya sebagai seorang sosok yang sangat dibanggakan oleh seluruh keluarga di kampung. Warga desa yang berhasil, seorang local genius yang sudah go international. Bilamana mereka berkumpul di pura desa untuk sebuah upacara besar, sebuah piodalan , maka ketidakhadirannya dapat dimaafkan, sedangkan warga desa yang sudah merantau ke Denpasar atau bahkan ke Surabaya, bilamana tidak menghadiri upacara itu selalu dibicarakan. “Berapa jauhkah Surabaya? Banyak bus malam yang melintasi desa kita, tetapi kenapa dia tak datang? Bukankah dia dapat menyisihkan waktu barang dua malam untuk pulang?” Mungkin yang paling rajin pulang untuk menghadiri piodalan di desa maupun di sanggah keluarga adalah

Dek Gung yang bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Malang. Ada Bus Simpatik yang melayani penumpang dari Malang ke Singaraja, dan bilamana pulang, Dek Gung selalu menumpang bus itu, atau membawa mobil sendiri, datang dengan istri dan anakanaknya. Dek Gung-lah yang paling mendapat pujian dari penduduk desa maupun dari keluarga, apalagi lelaki yang semasa mudanya itu aktif dalam kegiatan Teruna-Teruni di Banjar Bali di kota Singaraja sekarang sering memberikan dana punia untuk pembangunan desa maupun pura desa. Mang Yul adalah anak ketiga, satu-satunya anak yang paling cantik dalam keluarganya sebab dialah anak perempuan satu-satunya. Adatnya santun sebagaimana diteladankan oleh ibunya. Dia sudah hidup bersama suaminya di Jakarta, dengan demikian tak banyak dibicarakan oleh orang sedesa karena dia sudah mengikuti keluarga suaminya yang berasal dari Badung. Tut Sur adalah si bungsu, dan setelah itu tak ada lagi anak kelima. Bukan sebab lelaki itu mengikuti prinsip KB cara Bali, yakni beranak maksimum empat sebagaimana ditunjukkan oleh sistem penamaan anak-anak, tetapi karena Tut Sur membawa serta berita duka menyertai kelahirannya. Tut Sur-lah yang masih tinggal bersama lelaki tua yang dulu terkenal sebagai seorang pemburu yang mahir menggunakan senapannya itu, tetapi lelaki itu jarang berada di rumah walaupun tinggal bersama ayahnya. Di rumah itu hanya tinggal tiga orang, lelaki itu bersama anaknya, seorang pembantu perempuan yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, dan seekor anjing yang bertugas menjaga rumah di malam hari. Ketika istrinya hamil anak keempat itu, permintaan yang mudah dikabulkan adalah seekor babi guling yang lezat, harus dimasak sendiri, dan harus berasal dari seekor babi hutan yang masih muda. “Kalau itu urusan kecil,” kata lelaki itu.

 

Nilai Nilai Cerpen Bahasa Indonesia Tentang Menentukan | medsis | 4.5