Modernisasi Bukan Westernisasi

Modernisasi Bukan Westernisasi

Westernisasi adalah sikap meniru dan menerapkan unsur kebudayaan Barat sebagaimana adanya, tanpa diseleksi. Berlangsungnya melalui interaksi sosial yang berupa kontak sosial langsung ataupun tidak langsung, terutama melalui media cetak dan elektronik, seperti buku, majalah, televisi, video, dan bioskop. Westernisasi dapat berlangsung pada setiap generasi baik anak-anak, remaja, maupun orang tua yang tidak atau kurang peka terhadap nilai kepribadian bangsa Indonesia. Di samping itu juga, juga adanya dorongan dan keinginan seseorang agar dianggap maju atau modern. Westernisasi di kalangan remaja berlangsung lebih intensif sebab pada usia itu secara psikologis sedang dalam proses mencari nilai yang dianggap baik. Terkadang hanya atas dasar dorongan kegemaran atau pelampiasan nafsu. Perbedaan antara modernisasi dan westernisasi menurut Drs. Achmadi dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Modernisasi Bukan Westernisasi

Modernisasi Bukan Westernisasi

Negara-negara barat memang lebih maju, tetapi tidak semua kemajuan harus diserap atau cocok diterapkan di Indonesia. Hal itu bukan berarti menolak semua unsur budaya barat untuk berkembang di Indonesia, melainkan harus diseleksi dan disesuaikan dengan nilai kepribadian bangsa Indonesia baik nilai kesopanan, kesusilaan, adat istiadat, kebiasaan, dan budaya. Modernisasi sebagai proses transformasi nilai untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur membawa kejutan-kejutan dalam kehidupan sosial budaya bangsa melalui proses pengenalan dan melalui benda teknologi sebagai keharusan dalam kelangsungan hidup bangsa dan negara. Perlu pertimbangan bagaimana kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang giat melaksanakan pembangunan di segala bidang? Apakah akan kehilangan nilai luhur dan kemanusiaan serta budaya bangsa yang telah menopang eksistensinya sebagai bangsa besar yang berkepribadian luhur?

Kepribadian bangsa merupakan pedoman untuk menyesuaikan nilai baru. Wajah kepribadian bangsa Indonesia adalah wajah proses pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan hasil penyesuaian nilai hidup yang terusmenerus dari bangsa yang ingin mewujudkan cita-citanya, yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Modernisasi dan kepribadian merupakan syarat mutlak yang diperlukan untuk menyusun kehidupan layak bangsa Indonesia. Proses modernisasi memerlukan kondisi penunjang dari lingkungannya, terutama dari manusia sebagai pelaku modernisasi. Manusia sendirilah yang akan mengalami perubahan, terutama dalam mentalitasnya. Dalam hubungan ini, Alex Inkeles mengemukakan ciri-ciri manusia modern. Adapun ciri-ciri manusia modern sebagai berikut. a. Keterbukaan terhadap pengalaman baru baik dengan sesama manusia maupun dengan cara melakukan sesuatu pekerjaan. b. Peningkatan kebebasan dari pengaruh otoritas orang-orang tradisional. c. Kepercayaan terhadap keunggulan ilmu pengetahuan, obat, dan penolakan fatalisme serta kepasifan dalam menghadapi kesulitan hidup. d. Pemilikan aspirasi yang tinggi baik bagi diri maupun anak-anaknya untuk mencapai posisi mata pencaharian dan pendidikan yang tinggi. e. Penetapan terhadap ketepatan waktu dan perencanaan terhadap masa depan. f. Perhatian yang besar dan peranan yang aktif di dalam kegiatan kemasyarakatan dan kewarganegaraan. g. Motivasi yang kuat untuk selalu mengikuti berita lokal, nasional, maupun internasional.

Indonesia di Tengah Modernisasi Dunia

Drs. Kuswanto berpendapat bahwa negara berkembang adalah negaranegara di muka bumi yang telah memiliki kemerdekaannya dari kemiskinan dan keterbelakangan menuju kehidupan yang layak. Misalnya, Pakistan, Afganistan, Bangladesh, India, Myanmar, Malaysia, Indonesia, Filipina, Mesir, Kongo, Aljazair, dan Oman. Ciri negara berkembang sebagai berikut. a. Tingkat kematian relatif tinggi. b. Struktur perekonomian agraris. c. Tingkat peradaban relatif rendah. d. Pendapatan per kapita relatif (250 – 750 dollar per tahun). e. Tingkat pertumbuhan penduduk relatif cepat (1,5 – 3,5 % per tahun). f. Tingkat pendidikan dan teknologi relatif rendah.

Tidak mudah dan tidak ada jalan singkat untuk memajukan pembangunan ekonomi, terutama dalam mengejar ketertinggalan dalam bidang industri dan teknologi. Dalam kenyataannya, negara yang termasuk kategori penjajah, seperti negara-negara Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Jepang merupakan negara industri maju. Semakin disadari oleh negara-negara dunia ketiga bahwa kemerdekaan politik yang terlepas dari penjajah tidak ada artinya tanpa diiringi kemerdekaan untuk menentukan pilihan dalam bidang ekonomi. Keadaan ini semakin sulit melihat kenyataan bahwa negara dunia ketiga mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap negara industri maju. Bahkan dalam memperoleh informasi teknologi dan dalam bidang bahan baku industri. Negara industri maju pada umumnya mengalami tahap-tahap periode yang relatif stabil selama tiga dasawarsa setelah berakhirnya Perang Dunia II sehingga negara industri maju dapat memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi. Akibatnya, tingkat perekonomian negara industri semakin tinggi. Ketidakstabilan yang bertitik tolak pada bidang politik di kebanyakan negara dunia ketiga telah menghambat proses kemajuan dalam bidang ekonomi, sosial, dan teknologi. Belum lagi efek yang merugikan karena salah pengelolaan yang mengakibatkan kebocoran anggaran karena tidak ada supervisi ketat dan adanya korupsi, kolusi dan nepotisme, serta hal-hal negatif lainnya. Situasi yang demikian ternyata berakibat lebih luas karena cendekiawan di negara berkembang yang seharusnya dapat menciptakan teknologi yang tepat lingkungan tidak mendapat kesempatan secara luas untuk mengembangkan ilmu dan kecakapannya. Di dalam perlombaan mengejar apa yang dinamakan kemajuan industri teknologi, laju pertumbuhan ekonomi atau kenaikan pendapatan per kapita antara negara dunia ketiga dan negara industri maju ternyata jaraknya semakin merenggang sehingga terjadi ketimpangan. Hal-hal yang perlu dilaksanakan dalam proses modernisasi, khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia, antara lain strategi pembangunan, pemilihan nilai baru dan teknologi, tenaga pengalih, serta peningkatan disiplin nasional.

a. Strategi Pembangunan Dalam strategi pembangunan ini, manusia harus merupakan subjek utama dalam proses keberhasilan modernisasi itu sendiri. Lihat bagan berikut ini dan jelaskan maksudnya!

b. Pemilihan dan Teknologi Pemilihan nilai baru dan teknologi yang tepat guna merupakan awal keberhasilan dalam modernisasi. Pemilihan nilai dan teknologi di Indonesia bersumber dari politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Dalam makna pelaksanaannya, Indonesia menerima nilai dan teknologi dari mana pun asal sesuai dengan kepribadian bangsa. Dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi, pemilihan nilai dan teknologi lebih condong pada falsafah bisnis dengan orientasi laba.

c. Pengalihan Teknologi Masalah alih teknologi dibahas para cendekiawan, teknokrat, politikus, dan orang awam semenjak beberapa tahun terakhir ini baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini disebabkan karena frustasi yang timbul di negara-negara dunia ketiga bahwa pengalihan teknologi dari negara maju ke negara berkembang yang sudah berjalan relatif cukup lama belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Belum lagi persoalan yang timbul mengenai tingkat (derajat) teknologi itu sendiri apakah yang dialihkan sekarang sudah memadai atau belum memadai. Oleh karena itu, timbul pula berbagai istilah, seperti teknologi tepat guna, teknologi tinggi, teknologi madya, ataupun teknologi rendah. Dalam kaitan ini tiap-tiap negara berkembang masih belum mencapai kesepakatan sehubungan dengan terdapatnya aliranaliran dalam pembangunan. Aliran-aliran tersebut, yaitu sebagai berikut. 1) Aliran pertama ialah aliran yang menekankan bahwa syarat utama untuk pembangunan harus diperoleh teknologi yang paling maju. 2) Aliran kedua ialah aliran yang mengusulkan pengalihan teknologi tepat guna (cocok dengan situasi lokal) dari negara maju ke negara berkembang sebagai satu-satunya cara untuk pembangunan. Teknologi maju, terutama kemampuan untuk berinovasi dapat dialihkan secara baik di negara berkembang apabila sikap sosial tertentu dan lembaga di negara-negara berkembang hampir menyamai yang ada di negara-negara industri maju. Faktor yang harus diperhatikan dalam program alih teknologi dari negara maju ke negara berkembang sebagai berikut. 1) Tenaga terampil dari putra putri bangsa yang memiliki intelegensi tinggi dan rasa nasionalisme yang tebal harus tersedia. 2) Penyaluran dan pengembangan teknologi sebagai tindak lanjut suatu alih teknologi harus ada. 3) Seleksi terhadap nilai dan teknologi kaitannya dengan kriteriakriteria kebangsaan harus ada. 4) Perjanjian atau kontrak kerja secara jelas harus dilakukan. 5) Proteksi dan dispensasi dalam proses pertumbuhannya harus ada.

d. Tenaga Pengalih Salah satu jalan yang paling ampuh untuk melaksanakan alih teknologi dari negara maju ke negara berkembang ialah melalui pendidikan baik secara formal maupun informal. Untuk mendorong gairah belajar anak dan pemuda di Indonesia, sudah waktunya para remaja diarahkan dan diberi semangat untuk cinta pada teknologi, tidak hanya dengan lomba ilmiah dan pameran ilmiah. Museum yang memperagakan evolusi teknologi dari yang paling sederhana sampai paling modern yang berupa museum industri atau museum teknologi harus didirikan di setiap kota yang mempunyai potensi remaja. Dengan demikian, akan menjadi rangsangan bagi para remaja Indonesia cinta teknologi.

e. Peningkatan Disiplin Nasional Disiplin nasional harus dimulai sejak dini dalam pendidikan keluarga mulai anak balita sesuai dengan tingkat perkembangannya. Tidak kalah pentingnya orang tua, guru, dan pemimpin untuk mendidik dan memberi contoh. Disiplin nasional meliputi sebagai berikut. 1) Disiplin di lingkungan keluarga dalam arti taat terhadap norma keluarga dan kerabat. 2) Disiplin di lingkungan sekolah atau kerja dalam arti menaati norma dan aturan yang berlaku di sekolah atau lingkungan kerja. 3) Disiplin di lingkungan masyarakat dalam arti di luar lingkungan keluarga, sekolah, dan kerja. Disiplin nasional mencakup tertib waktu, tertib hukum, tertib administrasi, dan tertib keuangan. Semua ini sangat besar pengaruhnya terhadap laju proses modernisasi di suatu negara.

Modernisasi Bukan Westernisasi | medsis | 4.5