Model-Model Mengajar Dalam PKP

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Model-Model Mengajar Dalam PKP

Model-Model Mengajar Dalam PKP

Model-Model Mengajar Dalam PKP

Model mengajarkan merupakan proses dan prosedur pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kegiatan belajar siswa. Model tersebut didasarkan kepada teori instruktisuional yang digabungkan dengan pengalaman lapangan di sekolah. Menurut Nana Sudjana, model-model tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Model Dengar-Lihat-Kerjakan (DeLiKan)

Model ini dapat digunakan untuk menyampaikan bahan pengajaran yang sifatnya fakta dan konsep. Aktivitas mental siswa dalam penggunaan model mengajar ini adalah mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakan, menyimpulkan dan menerapkan.

Prosedur penggunaan model Delikan adalah sebagai berikut:

  1. Pra Instruksional: absensi siwa, kegiatan apresepsi, informasi pokok-pokok bahan pengajaran, informasi kegiatan belajar yang akan dilakukan.

  1. Instruksional
  2. Dengar: siswa menyimak bahan pengajaran yang dijelaskan oleh guru, bertanya kepada guru bila belum jelas
  3. Lihat: siswa melihat peragaan guru, contoh-contoh yang dibuat oleh guru, membaca buku dan lain-lain
  4. Kerja: siswa mengajarkan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
  5. Evaluasi:
    1. Proses: bimbingan guru, pemantauan belajar, perbaikan belajar
    2. Hasil: pemeriksaan hasil belajar, pengajuan pertanyaan
    3. Kesimpulan atau rangkuman: guru dan siswa membuat kesimpulan
  6. Tindak Lanjut: penugasan dan pengayaan belajar.
  7. Model Mengajar Pemecahan Masalah (Permas)

Pola kegiatan pembelajaran ini mengandung aktivitas belajar siswa yang cukup tinggi, tepat digunakan untuk mengajarkan konsep dan prinsip. Aktivitas mental yang dapat dijangkau melalui model ini anatara lain adalah mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakan, menyimpulkan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, menilai dan meramal. Model ini menggunakan pendekatan interaksi sosial. Mengutamakan aktivitas belajar siswa dalam memecahkan masalah, baik individual maupun kelompok.

Penyusunan satuan pertanyaan hampir sama dengan model lain. Yang perlu diperhatikan adalah menyusunan dan mengorganisasi bahan ajar. Urutan kegiatan belajar dimulai dari klasikal (menyampaikan informasi) kemudian kegiatan individu (mencari jawaban), dilanjutkan dengan kegiatan diskusi dan diakhiri dengan kegiatan klasikal kembali. Prosedur pengguanaan model Permas adalah sebagai berikut:

  1. Pra Instruksional: absensi siwa, kegiatan apresepsi, informasi pokok-pokok bahan pengajaran, informasi kegiatan belajar yang akan dilakukan.
  2. Instruksional:
    1. Guru memberikan informasi umum pengajaran dan perumusan masalah untuk dipecahkan oleh siswa.
    2. Setiap siswa mencari jawaban pemecahan masalah sesuai dengan masalah yang dihadapi.
    3. Siswa mengambil masalah yang sama dihimpun dalam satu kelompok (3-5 orang) dan diskusi dalam kelompok mengkaji jawaban pemecahan masalah
    4. Laporan hasil diskusi dan hasil pengamatan kelompok.
  3. Evaluasi:
  4. Evaluasi proses diskusi dan hasil pengamatan kelompok
  5. Pengambilan kesimpulan
  6. Tindak lanjut: pemberian tugas dan pengayaan
  7. Model Mengajar Induktif

Model kegiatan pembelajaran yang dikembangkan melalui cara berfikir induktif yaitu menarik kesimpulan dari fakta menuju kepada hal umum. Model ini menekankan pentingnya pengalaman lapangan seperti mengamati gejala dan mencoba suatu proses, kemudian baru mengambil kesimpulan atau generalisasi sesuai dengan prinsip dan konsep dalam keilmuan.

Petunjuk pembuatan satuan pelajaran:

  1. Waktu paling sedikit 2 jam pelajaran
  2. Rumusan tujuan mencakup penyusunan bahan ajar dan keterampilan proses
  3. Bahan pengajaran terdiri dari konsep materi, fakta, peristiwa, gejala yang akan diamati oleh siswa dan topik atau masalah yang akan didiskusikan
  4. Urutan belajar siswa: menerima informasi, kunjungan lapangan atau laboraturium, diskusi kelompok, melaporkan hasil diskusikan oleh kelompok dan merangkumnya sebagai kesimpulan diskusi kelas
  5. Penilaian : penilaian proses selama kegiatan berlangsung dan penilaian hasil belajar setelah pelajaran selesai
  6. Model mengajar deduktif

Pola belajar mengajar yang didasarkan atas cara berfikir deduktif adalah menarik kesimpulan dari pernyataan umum menajadi pernyataan khusus, dari konsep teori menjadi fakta.

Petunjuk pembuatan satuan pelajaran model pembelajaran deduktif tidak berbeda dari prinsip dengan satuan pelajaran model pembelajaran induktif. Perbedaan hanya terletak dalam menentukan urutan KBMnya. Perbedaan model pembelajaran induktif dengan induktif adalah:

  1. Model pembelajaran induktif: mulai dari kegiatan empiris melalui gejala peristiwa atau proses di lapangan atau di laboratorium dan diakhiri dengan generalisasi/penemuan.
  2. Model pembelajaran deduktif: dimulai dari pembahasan konsep dan prinsip menuju pembuktian empiris di lapangan atau laboratorium.

  1. Model mengajar gabungan deduktif induktif

Pola BM yang menggabungkan penggunaan kedua model ini dalam satu proses pembelajaran. Tahap pertama menggunakan pendekatan deduktif, kemudian dilanjutkan dengan pendekatan induktif.

  1. Pendekatan deduktif menekankan konsep dan prinsip bahan pengajaran secara teoritis, berdasarkan prinsip-prinsip pengetahuan ilmiah.
  2. Pendekatan induktif menekankan kajian bukti-bukti empiris dari konsep dan prinsip di laboraturium atau dengan alat sederhana atau dalam bentuk pemecahan masalah.

Petunjuk pembuatan satuan pelajaran: KBM yang ada dalam satuan pelajaran harus mangandung:

  1. Penjelasan masalah dan gejala oleh guru, supaya siswa memahami ruang lingkupnya
  2. Penelaah buku sumber : informasi untuk mendukung memecahkan masalah
  3. Pembahasan atau penelaah masalah dan gejala berdasarkan pengetahuan ilmiah
  4. Mencari jawaban dan pembuktian masalah dan gejala berdasarkan konsep dan prinsip pengetahuan ilmiah dengan melalui diskusi, praktikum atau pengamatan lapangan
  5. Klasifikasi TIK-nya mengandung unsur kognitif  tingkat tinggi seperti aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi
  • Langkah-langkah Pelaksanaan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses adalah suatu cara untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan sikap dan nilai. (Conny Semiawan, 2002: 16)

Pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan beberapa langkah, sebagai berikut:

  1. Observasi

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengamatan yang terarah tentang gejala atau fenomena sehingga mampu membedakan yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan pokok permasalahan. Pengamatan di sini diartikan sebagai penggunaan indera secara optimal dalam rangka memperoleh informasi yang lengkap atau memadai.

  1. Mengklasifikasikan

Kegiatan ini bertujuan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu.

  1. Menginterpretasikan atau Menafsirkan Data

Data yang dikumpulkan melalui observasi, perhitungan, pengukuran, eksperimen, atau penelitian sederhana dapat dicatat atau disajikan dalam berbagai bentuk, seperti tabel, grafik, diagram.

  1. Meramalkan (memprediksi)

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Hasil interpretasi dari suatu pengamatan digunakan untuk meramalkan atau memperkirakan kejadian yang belum diamati atau kejadian yang akan datang. Ramalan berbeda dari terkaan, ramalan didasarkan pada hubungan logis dari hasil pengamatan yang telah diketahui sedangkan terkaan didasarkan pada hasil pengamatan.

  1. Membuat hipotesis

Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu. Penyusunan hipotesis adalah salah satu kunci pembuka tabir penemuan berbagai hal baru.

  1. Mengendalikan variabel

Variabel adalah faktor yang berpengaruh. Pengendalian variabel adalah suatu aktifitas yang dipandang sulit, namun sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan. Hal ini tergantung dari bagaimana guru menggunakan kesempatan yang tersedia untuk melatih anak mengontrol dan memperlakukan variabel.

  1. Merencanakan penelitian / eksperimen

Eksperimen adalah melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan apakah hipotesis yang diajukan sesuai atau tidak.

  1. Menyusun Kesimpulan Sementara

Kegiatan ini bertujuan menyimpulkan hasil percobaan yang telah dilakukan berdasarkan pola hubungan antara hasil pengamatan yang satu dengan yang lainnya.

  1. Menerapkan (Mengaplikasikan) Konsep

Mengaplikasikan konsep adalah menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau dalam menyelesaikan suatu masalah, misalnya sesuatu masalah yang dibicarakan dalam mata pelajaran yang lain.

  1. Mengkomunikasikan

Kegiatan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan proses dari hasil perolehan kepada berbagai pihak yang berkepentingan, baik dalambentuk kata-kata, grafik, bagan maupun tabel secara lisan maupun tertulis.

Praktik pengajaran dengan PKP menuntut perencanaan yang sungguh-sungguh dan berkeahlian, kreatif dalam pelaksanaan pengajaran, cakap mendayagunakan aneka media serta sumber belajar. Jadi guru bersama siswa semakin dituntut bekerja keras agar praktik PKP berhasil efektif dan efisien.

Ilmu pengetahuan alam memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah di alam sekitar melalui proses dan sikap ilmiah. Pembelajaran IPA seperti yang tertuang dalam kurikulum 2006, yaitu pembelajaran yang berorientasi pada hakikat IPA yang meliputi produk, proses, dan sikap ilmiah melalui keterampilan proses.

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa pembelajaran IPA lebih menekankan pada pendekatan keterampilan proses sehingga siswa menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori dan sikap ilmiah di pihak siswa yang dapat berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk pendidikan.

Pembelajaran IPA selama ini lebih banyak menghafalkan fakta, prinsip, dan teori saja. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi pembelajaran IPA yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka.

Pengembangan pendekatan keterampilan proses merupakan salah satu upaya yang penting untuk memperoleh keberhasilan belajar yang optimal. Materi pelajaran akan lebih mudah dikuasai dan dihayati oleh siswa, bila siswa sendiri mengalami peristiwa belajar tersebut. Keterampilan membuat hipotesis, meliputi kemampuan berpikir deduktif dengan menggunakan konsep-konsep, teori-teori maupun hukum-hukum IPA yang telah dikenal.

  • Penilaian Keterampilan Proses IPA

Surapranata (2004) mengemukakan berbagai bentuk penilaian yang dapat digunakan, khususnya dalam penilaian berbentuk kelas, yakni:

  1. Tes tertulis.

Tes ini umumnya diberikan pada saat penilaian formatif maupun submatif yang mengungkap aspek kognitif siswa.Bentuknya dapat berupa uraian (essay), pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau isian/jawaban singkat.

  1. Tes perbuatan

Tes ini diberikan pada saat satu kegiatan sedang berlangsung dengan melakukan pengamatan pada perilaku peserta didik yang ingin dinilai

  1. Pemberian tugas

Bentuk penilaian ini dilakukan terutama untuk mengembangkan kreativitas siswa sesuai dengan bakat, minat, dan tingkat perkembanganya.

  1. Penilaian proyek

Penilaian ini didesain untuk suatu kegiatan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu yang biasanya dimulai dari pengumpulan data, pengorganisasian, pelaporan dan penyajian data

  1. Penilaian sikap

Penilaian ini berkaitan dengan berbagai obyek sikap, misalnya sikap terhadap bidang studi, sikap terhadap guru, atau sikap terhadap materi pembelajaran. Pengukuran dapat di lakukan dengan observasi, laporan pribadi, dan skala sikap.

  1. Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan penilaian terhadap karya siswa yang disusun secara sistematis dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa dalam mata pelajaran tertentu.

Model-Model Mengajar Dalam PKP | medsis | 4.5