Menyampaikan Informasi dari Berbagai Sumber Berita

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Menyampaikan Informasi dari Berbagai Sumber Berita

Menyampaikan Informasi

Menyampaikan Informasi

Menyampaikan Informasi – Di bab yang mengangkat topik “Kesehatan”, kalian diajak untuk menyimpulkan isi informasi yang didengar melalui tuturan tak langsung. Pertama, kalian akan mempelajari untuk mencatat pokok-pokok isi informasi; menyampaikan ringkasan isi teks yang dibaca, dan memberikan tanggapan terhadap penyampaian ringkasan isi teks. Kedua, kalian diajak untuk bisa menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat dengan menentukan isi dan amanat, mengutarakan nilai-nilai dalam cerita rakyat, membandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilainilai masa kini, menuliskan cerita rakyat dalam bentuk sinopsis, menggubahnya menjadi drama, dan menanggapi hasil rekaman. Ketiga, kalian akan menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif. Keempat, kalian diajak untuk bisa memahami penggunaan sufiks –an dan –kan, serta konfiks ke-an dengan menggunakan kata-kata tersebut secara tepat dalam kalimat, dan menentukan maknanya Selamat belajar dan sukseslah selalu.

Menyampaikan Informasi

Menyampaikan Informasi dari Berbagai Sumber

Bacalah wacana berikut dengan saksama!

Menyampaikan Informasi – Hasil Poling Litbang SINDO “Remaja dan Rokok” Kecil-kecil Merokok Rokok masih dipandang sebagai hal tabu bagi kaum remaja. Meski pada kenyataannya, banyak remaja yang sudah kecanduan rokok di usia dini. Tommy baru berusia 13 tahun. Tapi, urusan “ngebul” alias merokok, dia jagonya. Dalam sehari, siswa kelas 1 SMP itu bisa menghabiskan sekitar lima linting rokok. Melihat konsumsi rokoknya yang dahsyat, tak heran kalau di kalangan teman-temannya, Tommy dijuluki “si kereta api”. Tapi, kok, kecil-kecil sudah merokok ya?

Menyampaikan Informasi – Pada dasarnya memang tidak ada peraturan tertulis yang mengharuskan anak di bawah umur tidak boleh merokok. Indonesia adalah salah satu dari beberapa negara yang belum memiliki peraturan mengenai batas minimum usia pembeli rokok. Namun, norma-norma yang dianut masyarakat kita telah menjadikan rokok sebagai sesuatu yang tabu untuk dikonsumsi anak usia belia. Tapi, karena remaja punya rasa ingin tahu yang tinggi, walhasil norma tersebut terpatahkan sudah. Remaja merokok memang bukan hal baru. Kalau kamu sering bepergian ke mal atau tempat-tempat nongkrong anak muda, pemandangan ini pasti bisa dijumpai. Tak hanya didominasi anakanak SMA, melainkan juga mereka yang duduk di bangku SMP dan SD. Seperti apa yang terlihat dalam jajak pendapat SINDO. Dari 200 reseponden berusia 11-15 tahun, 36% menyatakan pernah mencicipi lintingan tembakau, sementara sisanya mengaku belum pernah. Jika dibedakan berdasarkan jenis kelamin, responden pria memang mendominasi. Semenrata responden perempuan tampak menahan diri untuk tidak ikut-ikutan merokok walaupun ada juga yang mengaku pernah.

Menyampaikan Informasi – Didorong Rasa Ingin Tahu Apa sih yang membuat mereka tertarik merokok? Bagi 67% responden, kenekatan mereka untuk menghisap rokok dipicu keingintahuan yang tinggi terhadap rokok. Mulai dari rasa sampai sensasi yang bisa diberikan kala merokok. Ya, wajar saja memang kalau keingintahuan itu muncul. Pasalnya, remaja identik sebagai masa pencarian identitas diri yang salah satunya ditandai lewat kesukaan untuk mencoba sesuatu yang baru. Apalagi, rokok diterima masyarakat sebagai benda yang tabu dikonsumsi anak berusia belia. Nah, dengan adanya larangan tersebut, remaja pun makin terpancing untuk mencari tahu ada apa di balik semua itu. Pengaruh teman juga menjadi faktor yang memacu rokok. Setidaknya, 32% menjawab demikian.

Menyampaikan Informasi – Karena teman satu geng merokok, sebagai rasa solidaritas, mereka pun “latah” mencicipi rokok. Biasanya, situasi ini berhubungan dengan kekhawatiran seseorang terhadap penolakan dari gengnya jika tidak melakukan hal yang sama. Misalnya, ada anggota geng yang langsung mengecap rekan sejawatnya yang tidak merokok sebagai banci, tidak gaul, atau anak mami. Bagi remaja, hal tersebut pastilah menyakitkan hati. Apalagi, jika kemudian dirinya disisihkan dari komunitas geng.

Menyampaikan Informasi – Berbagai fakta mengungkapkan remaja yang merokok kemungkinan besar dikelilingi teman-teman perokok juga. Ada dua kemungkinan. Pertama, remaja terpengaruh teman-temannya atau temanteman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja itu. Di samping pengaruh teman, 1% responden mengaku mencoba rokok lantaran tergoda dengan iming-iming bahwa rokok mampu melepaskan kepenatan dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Merokok juga sekaligus dianggap sebagai ajang mencari sensasi yang terkadang tidak terlepas dari pengaruh keluarga, khususnya orang tua. Orang tua merupakan figur contoh bagi anak. Dengan demikian, besar kemungkinan jika orang tua yang merokok, ditiru juga oleh anak. Pengawasan orang tua turut mempengaruhi hal tersebut. Orang tua yang tidak memperhatikan anak-anaknya memacu anak untuk melanggar hal-hal yang dianggap tabu. Toh, orang tua juga tidak protes atas perilaku tersebut. Jadi, apa salahnya dicoba! Remaja yang berasal dari keluarga yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama akan sulit terjebak dalam kepulan asap rokok karena mereka terlanjur khawatir terhadap konsekuensi yang muncul. Sumber: SINDO, Senin, 27 Maret 2006

Paragraf Argumentatif

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Karangan argumentasi bertujuan untuk meyakinkan pembaca agar pembaca mau mengubah pandangan dan keyakinannya kemu-dian mengikuti pandangan dan keyakinan penulis. Keberhasilan sebuah karangan argumentasi ditentukan oleh adanya pernyataan/pendapat penulis, keseluruhan data, fakta, atau alasanalasan yang secara langsung dapat mendukung pendapat penulis. Keberadaan data, fakta, dan alasan sangat mutlak dalam karangan argumentasi. Bukti-bukti ini dapat berupa benda-benda konkret, angka statistik, dan rasionalisasi penalaran penulis.

Contoh: Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga. Lebih-lebih sejak negeri kita terjadi krisis moneter, kecenderungan orang tua mempekerjakan anak sebagai penopang ekonomi keluarga semakin terlihat di mana-mana.

Contoh kalimat pertama (1) di atas adalah pernyataan/pendapat dan kalimat kedua adalah pendukung. Di samping itu, penulis pun menjelaskan hubungan antara pernyataan/pendapat dengan fakta/ data pendukung, agar pembaca mempunyai gambaran yang jelas tentang hal yang disampaikan. Lebih-lebih bila tulisan itu disertai data empiris yang dapat dipercaya kebenarannya.

Dalam berargumentasi, unsur-unsur yang ada harus diatur secara logis dengan bentuk penalaran tertentu. Bentuk penalaran yang ada adalah penalaran induksi dan penalaran deduksi. Penalaran induksi adalah bentuk penalaran yang bertolak dari pernyataan khusus kemudian menarik kesimpulan secara lebih umum. Penalaran induktif tidak boleh membuat kesimpulan yang melebihi kelayakan fakta sebagai pendukung. Penalaran deduksi adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan umum yang dipakai untuk mengamati pernyataan khusus sebagai dasar mengambil kesimpulan.

Berikut ini struktur penulisan argumentasi.

1. Pendahuluan Pendahuluan berisi latar belakang masalah dan permasalahan. 2. Isi Isi karangan adalah keseluruhan uraian yang berusaha menjawab permasahan yang dikemukakan dalam pendahuluan. Uraian isi karangan berupa pernyataan, data, fakta, contoh, atau ilustrasi yang diambil dari pernyataan, pendapat umum, pendapat para ahli, hasil penelitian, kesimpulan yang dapat mengukuhkan bahwa pemecahan permasalahan itu harus demikian. 3. Penutup Penutup berupa ikhtisar atau kesimpulan.

Adapun langkah-langkah dalam menulis argumentasi adalah sebagai berikut: 1. memilih topik karangan, 2. mengumpulkan bahan, 3. menyusun kerangka karangan, 4. mengembangkan pendahuluan, 5. mengembangkan isi karangan, 6. membuat penutup karangan.

Rangkuman

1. Debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing, sedangkan debat kusir adalah debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal. 2. Karangan argumentasi bertujuan untuk meyakinkan pembaca agar mau mengubah pandangan dan keyakinannya kemudian mengikuti pandangan dan keyakinan penulis. Keberhasilan karangan argumentasi ditentukan oleh adanya pernyataan atau pendapat penulis, keseluruhan data, fakta ataupun alasan-alasan yang langsung dapat mendukung pendapat penulis. Keberadaan data, fakta, dan alasan sangat mutlak diperlukan dalam karangan argumentasi. Bukti-bukti itu dapat berupa benda-benda konkret, angka statistik, dan rasionalisasi penalaran penulis. 3. Penalaran induksi adalah bentuk penalaran yang bertolak dari pernyataan khusus kemudian menarik kesimpulan secara lebih umum. Penalaran induktif tidak boleh membuat kesimpulan yang melebihi kelayakan fakta sebagai pendukung. 4. Penalaran deduksi adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan umum yang dipakai untuk mengamati pernyataan khusus sebagai dasar mengambil kesimpulan. 5. Langkah-langkah menulis argumentasi adalah memilih topik, mengumpulkan bahan, menyusun kerangka karangan, mengembangkan pendahuluan, mengembangkan isi, dan membuat penutup karangan. 6. Sufiks atau akhiran ialah satu bentuk terikat atau satu morfem terikat yang membentuk satu fungsi dan makna. Sufiks –kan tidak mengalami perubahan bentuk. Sufiks –kan berfungsi membentuk kata kerja aktif transitif. 7. Makna sufiks –kan adalah: (1)menyatakan benefaktif atau melakukan sesuatu untuk orang lain, (2)menyatakan kausatif, yaitu membuat atau menyebabkan sesuatu menjadi, dan (3)menyatakan sebagai alat atau membuat dengan. 8. Sufiks –an juga tidak mengalami perubahan bentuk. Fungsinya: (1)membentuk kata benda dari kata kerja, dan (2)membentuk kata benda dari kata benda. 4. Makna sufiks -an adalah: – menyatakan alat atau hasil, – sesuatu yang dikenai perbuatan, – keadaan yang berhubungan dengan bentuk dasarnya, – tempat, – akibat/hasil perbuatan, – himpunan atau seluruh, – tiap-tiap, – menyerupai, dan – intensitas kualitatif ataupun kuantitatif. 5. Konfiks ke-an merupakan satu kesatuan unsur awalan dan akhiran yang melebur menyatu dalam bentuk, fungsi, dan makna. Konfiks kean sangat produktif membentuk kata lain, terutama kata sifat dan kata kerja menjadi kata benda abstrak. 6. Konfiks ke-an tidak mengalami perubahan bentuk jika dilekatkan pada kata apapun. 7. Fungsi konfiks ke-an adalah membentuk kata benda dan kata sifat yang menyatakan keadaan atau membentuk kata kerja pasif intransitif, dan bisa dilekatkan pada kata majemuk dan kata berimbuhan. 8. Makna konfiks ke-an adalah: – menyatakan tempat/daerah, – abstraksi, – kena/menderita sesuatu, perbuatan tidak sengaja, dan – terlalu.

 

 

Menyampaikan Informasi dari Berbagai Sumber Berita | medsis | 4.5