Pengertian Materi Menulis Paragraf Ekspositif dan Contoh Ekspositif

Pengertian Materi Menulis Paragraf Ekspositif dan Contoh Ekspositif

Menulis Paragraf Ekspositif

Menulis Paragraf Ekspositif

Menulis Paragraf Ekspositif – Pada Bab III, sudah dibahas penjang lebar mengenai paragraf ekspositif. Paragraf ekspositif adalah paragraf yang memaparkan suatu peristiwa, pengalaman, kegiatan, penemuan, atau pengamatan, baik yang dilihat, didengar, dirasakan, maupun dialami dengan tujuan memberikan informasi kepada pembaca. Bacalah wacana di bawah ini! Apakah wacana di bawah ini termasuk paragraf ekspositif? Berikan alasan yang menguatkan bahwa karangan di bawah ini termasuk karangan ekspositif atau bukan!

Banyak Jalan Mengganti Formalin Dr. Linawati Hardjito, Ketua Departemen Teknologi Hasil Perairan Institut Pertanian Bogor, satu di antara peneliti yang gundah melihat maraknya penggunaan formalin sebagai pengawet makanan. Oleh karena itu, ia segera menggelar rapat dan mencari bahan pengawet alternatif dari limbah kulit rajungan dan kepala udang. Serangkaian penelitian akhirnya dilakukan. Ternyata limbah kepala udang itu dapat menghasilkan kitosan, turunan dari polimer kitin. Polimer ini adalah produksi samping dari pengolahan industri perikanan yang banyak terdapat pada limbah kepala udang. Jumlahya sekitar 60 hingga 70 persen. Proses penting untuk menghasilkan kitosan adalah penghilangan protein (deproteinasi) dan kandungan mineral (demineralisasi). Proses ini biasanya dibuat dengan bantuan larutan basa dan asam. Setelah itu, dilanjutkan dengan proses deasetilasi dengan cara memanaskan dalam larutan basa. Hasilnya, kitosan dapat mengawetkan beberapa jenis ikan asin hingga tiga bulan. Kemampuan itu, kata Sugeng Heri Suseno, peneliti IPB karena kitosan memiliki polikation bermuatan positif yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Dibanding formalin, kitosan lebih murah. Harganya hanya Rp12.000,00 per liter, sedangkan formalin Rp16.000,00 per liter. Satu liter kitosan yang dicampur dengan air dapat mengawetkan 100 kilogram ikan asin.

Menulis Paragraf Ekspositif

Sumber: Tempo, 22 Januari 2006

Coba kalian membuat paragraf ekspositif, misalnya memaparkan bagaimana cara-cara yang benar menjaga kesehatan lingkungan, cara-cara yang benar mengurus tanaman, atau caracara memelihara ikan hias.

Menulis Paragraf Ekspositif – Rangkuman

Maraknya siaran atau informasi di media elektronik harus ditanggapi keberadaannya, harus digali nilai-nilai yang penting. Begitu juga maraknya media cetak dan buku perlu disikapi, isinya perlu didiskusikan, dan hasilnya perlu didiskusikan. Tentu saja buku dan teks dari media massa perlu dibaca dan butuh keefektifan serta kecepatan. Caranya dengan mengukur kecepatan membaca. Tatapi untuk membaca cerpen Melayu klasik harus cermat, dan intensif karena dalam naskah cerpen memiliki nilai sastra. Kalian pun dituntut terampil menulis paragraf, salah satunya menulis paragraf eksposisi. Persiapan kalian harus mengetahui tentang ciri-ciri paragraf eksposisi, dan mampu menerapkannya dalam karangan.

Refleksi

Media massa sebagai penyebar informasi harus kalian sikapi, terutama isi atau informasi yang dimuat di dalamnya. Kalian harus pintar-pintar memilahnya, bagi informasi yang merugikan harus dijauhi, dan informasi yang menguntungkan harus diterima. Kadang di dalamnya terdapat permasalahan-permasalahan yang mesti dikritisi. Untuk menemukan informasi yang penting baik dari media elektronik, media cetak, atau dari buku perlu latihan membaca yang tepat dan cepat. Karya sastra lama ternyata memiliki nilai kebijakan hidup, salah satunya yang terkandung di dalam cerpen Melayu kuno. Nilai-nilainya perlu dipahami, digali, dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Menulis Paragraf Ekspositif

Soal-Soal Pengembangan Kompetensi

Bunga Plastik pun Menarik Tak ada bunga segar, bunga buatan juga oke. Yati, alias Ny. Ayong, perangkai bunga imitasi di Cibinong, kebanjiran order menjelang Lebaran. ”Kalau Lebaran, didominasi warna putih, kebanyakan menggunakan bunga lili,” terangnya, meskipun tidak menutup kemungkinan memakai warna lain. Rangkaian bunga umumnya sudah lengkap dengan potnya. Bisa juga dengan aksesoris lain. Besar kecilnya bunga yang digunakan tergantung pemakaiannya. Semisal rangkaian bunga sudut ruangan, ia biasanya memilih bunga matahari dan lili, diimbangi dengan penggunaan daun-daun besar. Karena bentuknya besar, pot menggunakan penyangga yang terbuat dari besi atau plastik. Bentuk rangkaian bunga meninggi.

Bunga besar juga digunakan pada bunga dinding. Hanya saja beda rangkaiannya. Rangkaian bunga dinding berbentuk bundar atau lonjong datar. Antara bunga satu dengan lainnya terlihat mengumpul. Rangkaian bunga ini tidak menggunakan pot. Pemasangan bunga dengan menggunakan tali atau lem. Untuk penghias meja tamu, digunakan rangkaian bunga yang mengumpul dan datar. Ukuran rangkaian dan bunganya lebih kecil, kira-kira setengah rangkaian bunga dinding. Ada lagi perbedaannya, rangkaian bunga meja menggunakan pot. Rangkaian bunga ini dapat dipakai di meja tamu atau meja makan. Dapat pula diletakkan di atas lemari es. Masalah harga, Ny. Ayong mengatakan tergantung dari ukuran rangkaian bunga. Untuk ukuran kecil sampai sedang, harganya sekitar Rp30.000,00 sampai Rp40.000,00. Sementara, untuk ukuran besar, harganya antara Rp100.000,00 – Rp150.000,00. Dikutip dengan pengubahan dari Flona, edisi 33/II – November 2005

Menulis Paragraf Ekspositif

a. Buatlah pertanyaan tentang isi teks di atas! b. Tukarkan pertanyaan yang kamu buat dengan pertanyaan yang dibuat oleh temanmu! c. Jawablah pertanyaan yang dibuat oleh temanmu! d. Hitunglah skor KEM-mu. Apakah telah mengalami kemajuan?

Kata Berhikmah

Duduk sehamparan, tegak sepematang. Orang yang memiliki kedudukan yang sama; sederajat.

Teknologi

Sastra merupakan karya seni yang memiliki keindahan bahasa. Kalian pun harus menemukan nilai-nilai keindahan dalam karya sastra, di antaranya dengan cara mengapresiasi unsur sastra dalam cerita. Nilai-nilai dalam kesastraan bukan nilai keindahan saja, melainkan juga hal-hal yang menarik dalam karya sastra, seperti nilai kehidupan. Selain membaca karya sastra, kalian juga harus mampu berlatih menulis karya sastra. Kalian dapat memulai dari membuat puisi baru. Kalian harus terampil membaca dengan berbagai teknik agar mampu menggali isi teks. Teknik membaca ekstensif membantu memperoleh pengetahuan dari bacaan, terutama menemukan ide pokok.

Mengidentifikasi Unsur Sastra Sebuah Cerita 

Pada Bab II, kalian telah belajar mendengarkan cerita rakyat. Kalian tentu masih ingat, apa yang dimaksud dengan cerita rakyat. Lalu, apakah perbedaan cerita rakyat dengan dongeng? Apa arti dongeng? Dongeng adalah cerita rakyat atau cerita yang mengandung kisahan yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita yang disampaikan secara turun-temurun. Jenis-jenis cerita rakyat, antara lain mite, legenda, dan dongeng. Dengan demikian, menurut pendapat ini dongeng merupakan salah satu genre (bentuk) dari cerita rakyat. Istilah dongeng digunakan untuk menyebut sekelompok cerita tradisional dengan medium bahasa lisan. Berdasarkan uraian itu, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat adalah cerita yang berkembang di masyarakat sebagai sastra milik masyarakat. Sastra rakyat atau kesusastraan rakyat adalah sastra yang hidup di tengah-tengah rakyat dalam bentuk cerita dongeng tentang nilai-nilai kebaikan yang dituturkan. Dengan kata lain, cerita rakyat atau dongeng adalah cerita khayal yang berkembang dalam lingkungan masyarakat secara lisan. Adapun tujuan menyimak dongeng ialah untuk memahami suatu pesan tertentu dalam dongeng tersebut. Mendengarkan dongeng bertujuan memahami isi, makna, dan nilai-nilai budaya, serta pendidikan dalam dongeng tersebut. Dongeng biasanya tidak saja menghibur, tetapi untuk memberi gambaran umum tentang sebuah kebaikan dan keburukan, atau nasihat-nasihat dengan melukiskan sebuah kejadian dalam bentuk cerita. Dengarkan dongeng atau cerita rakyat berikut! Dongeng ini akan dibacakan oleh salah seorang temanmu!

Asal Usul Nama Surabaya

Pada zaman dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara ikan hiu yang dikenal dengan nama Ikan Sura dan Buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya samasama kuatnya, sama-sama tangkasnya, sama-sama cerdiknya, samasama ganasnya, dan sama-sama rakusnya. Selama mereka berkelahi, belum pernah ada yang menang ataupun yang kalah. Oleh karena itu, mereka kemudian jemu untuk terus berkelahi. ”Aku bosan terus-terusan berkelahi, Buaya,” kata Ikan Sura. ”Aku juga, Sura. Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita tidak lagi berkelahi?” tanya Buaya. Ikan Hiu Sura yang sudah memiliki rencana untuk menghentikan perkelahiannya dengan Buaya, memang telah memiliki satu cara. ”Untuk mencegah perkelahian di antara kita, sebaiknya kita membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Aku berkuasa sepenuhnya di dalam air dan harus mencari mangsa di dalam air, sedangkan kamu berkuasa di daratan dan mangsamu harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air, kita tentukan batasnya, yaitu tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu pasang surut. Bagaimana, Buaya?” ”Baiklah aku terima usulmu yang bagus itu!” jawab Buaya. Pembagian daerah kekuasaan itu ternyata memang telah membuat perkelahian antara Ikan Sura dan Buaya sudah tak terjadi lagi. Mereka menghormati daerah kekuasaannya masing-masing. Selama mereka mematuhi kesepakatan yang telah mereka buat bersama, keadaan aman dan damai. Akan tetapi, pada suatu hari, Ikan Sura mencari mangsa di sungai. Hal itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi agar Buaya tidak mengetahui. Akan tetapi, Buaya memergoki perbuatan Ikan Sura itu. Tentu saja Buaya sangat marah melihat Ikan Sura melanggar janjinya. Buaya segera menghampiri Ikan Sura yang sedang menikmati mangsanya di sebuah sungai. ”Hai, Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati berdua?

Menulis Paragraf Ekspositif –  Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaanku?” tanya Buaya. Ikan Sura yang tak merasa bersalah tenang-tenang saja. ”Aku melanggar kesepakatan? Bukankah sungai ini berair. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku adalah penguasa di air? Nah, sungai ini, kan, ada airnya, jadi juga termasuk daerah kekuasaanku,” kata Ikan Sura. ”Apa? Sungai itu, kan, tempatnya di darat, sedangkan daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu adalah daerah kekuasaanku!” Buaya ngotot. ”Tidak bisa. Aku, kan, tidak pernah bilang kalau di air hanya air laut, tetapi juga air sungai,” jawab Ikan Sura. ”Kalau begitu kamu mau membohongiku lagi? Baiklah kita buktikan siapa yang memiliki kekuatan yang paling hebat, dialah yang akan menjadi penguasa tunggal!” kata Buaya. Mereka berdua terus cekcok, masing-masing berusaha mengemukakan alasanalasannya, masing-masing pun saling menolak dan saling ngotot mempertahankan kebenaran-kebenaran dari alasan-alasannya sendiri. Akhirnya, mereka berkelahi lagi. Pertarungan sengit antara Ikan Sura dan Buaya terjadi lagi. Pertarungan kali ini makin seru dan dahsyat. Mereka saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam waktu sekejap, air di sekitarnya menjadi merah oleh darah yang ke uar dari luka-luka kedua binatang itu. Kedua binatang raksasa itu tanpa istirahat terus bertarung mati-matian. Dalam pertarungan sengit itu, Buaya mendapat gigitan Ikan Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa selalu membelok ke kiri. Akan tetapi, buaya puas karena telah dapat mempertahankan daerahnya. Ikan Sura telah kembali lagi ke lautan. Peristiwa pertarungan antara Ikan Sura dan Buaya itu mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu, nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa itu. Lambang Ikan Sura dan Buaya bahkan dipakai sebagai lambang Kota Madya Surabaya. Sumber: Suripan Sadi Hutomo dan Setya Yuwana S., dalam Cerita Rakyat dari Surabaya

Pengertian Materi Menulis Paragraf Ekspositif dan Contoh Ekspositif | medsis | 4.5