Menulis Kreatif Rekaan Yang Dibalut Dengan Kesenian

Menulis Kreatif Rekaan Yang Dibalut Dengan Kesenian

menulis kreatif

menulis kreatif

menulis kreatif – Di bab tiga, yang mengangkat topik “Kesenian”, pertama, kalian diajak untuk bisa menulis kreatif sebuah cerita dengan memerhatikan urutan waktu dan tempat dalam bentuk narasi. Oleh karena itu, kalian harus memahami cerita rekaan dalam bentuk naratif sehingga kalian bisa mengembangkannya, menulis paragraf naratif sesuai kerangka, dan kalian bisa menyunting paragraf naratif yang ditulis teman kalian. Kedua, kalian diajak untuk bisa menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif dan mampu memahami jenis-jenis paragraf, pola pengembangannya, dan menyusun paragraf yang efektif. Ketiga, kalian bisa memahami kalimat tunggal luas dan membuat kalimatnya. Keempat, kalian bisa menceritakan berbagai pengalaman dengan pilihan kata dan ekspresi yang tepat dan bisa menceritrakan kembali isi cerita secara runtut. Kelima, kalian bisa menulis puisi lama dengan memperhatikan baik, irama, dan rima dengan memahami ciri-ciri puisi lama. Keenam, kalian bisa menemukan ide pokok berbagai teks nonsastra dengan teknik membaca cepat. Artinya, kalian harus bisa membaca teks dengan kecepatan 250 kata/menit, menemukan ide pokok paragraf dalam teks, menjawab pertanyaan tentang isi teks dengan kalimat yang jelas dan mudah dipahami, dan membuat ringkasan isi teks dalam beberapa kalimat yang runtut. Selamat belajar dan sukseslah selalu.

menulis kreatif

Menulis Kreatif

Ide menulis kreatif dapat diperoleh berdasarkan rekaan/imajinasi/fiktif dan berdasarkan kejadian sesungguhnya.

Rekaan

Rekaan merupakan cerita fiktif berupa hal/ peristiwa yang tidak terjadi sesungguhnya. Tema cerita, tokoh, dan tempat terjadinya peristiwa hanya ada dalam angan-angan pengarang. Bacalah contoh cerita fiktif yang terkemas dalam bentuk cerpen berikut ini!

Anjing Tersayang

Karya Indra

menulis kreatif – Tranggono Kamu tak akan takut melihatku, hingga kamu tak perlu menghardikku atau memukulku. Aku sama sekali tidak layak mengancam siapa pun. Termasuk kamu. Bukan hanya karena wajahku yang sama sekali tidak menyeramkan, tapi juga potongan tubuhku yang lebih pantas dianggap sebagai segumpal daging bernyawa. Kalau toh aku sesekali menyalak, itu hanya karena aku ingin tetap dianggap anjing. Aku tak pernah mengutuk ibuku dan ayahku, sepasang pejantan yang memberiku jalan hidup di dunia, hanya karena aku tidak lahir sebagai bulldog, herder, atau dauberman yang makanan dan obatnya jauh lebih mahal dari biaya hidup kalian bangsa manusia. Mereka pun punya dokter sendiri, dokter spesialis, yang ongkosnya tinggi, lebih tinggi dari dokter untuk manusia jelata. Mereka juga punya salon sendiri, punya bedak sendiri, punya sampo sendiri, punya sabun mandi sendiri, punya sisir sendiri. Tapi, demi Tuhan, aku tak pernah iri. Itulah keberuntungan mereka karena bisa menjadi kelangenan atau penjaga keselamatan manusia. Sedangkan aku, tak pernah diperhitungkan.

menulis kreatif  – Bahkan oleh para pemburu anjing kampung yang rutin menyetor daging kepada penjual ‘tongseng jamu’ (mereka tak berani terang-terangan menjual tongseng daging anjing, namun berlindung dibalik tongseng jamu). Dibanding hidup manusia yang susah, nasibku jauh lebih baik. Bukankah menjadi binatang piaraan Tuan Konglo yang kaya raya merupakan keberuntungan tak ternilai? Aku tak tahu persis alasan Tuan Konglo memeliharaku. Bukankah dia bisa membeli anjing yang lebih bermartabat dibanding aku? Rupanya ada kisah khusus tentang diriku. Menurut obrolan Bibi Tintin, pembantu Tuan Konglo, dulu aku terserempet mobil Tuan Konglo. Untuk menebus rasa bersalahnya, Tuanku memelihara aku. “Gembong! Jaga rumah ya. Kalau ada orang mencurigakan, langsung serang. Gigimu masih tajam, kan?” Tuan Konglo menyodorkan daging sapi. Kujawab dengan gonggongan kecil. Tanda aku sangat setuju. Tuanku senang. Ia mengelus-elus buluku. Aku pun merasa tersanjung. Aku sering berpikir. Tidak enak jadi orang kaya. Selalu panik. Selalu merasa terancam. Contohnya ya Tuanku ini. Ke mana-mana bawa pistol. Mendengar suara angin menggesek dedaunan saja, ia sudah tergeragap karena merasa ada orang yang akan merampok. Sepuluh satuan pengaman disiapkan. Termasuk, aku, anjing kesayangannya. Tugasku gampang. Hanya mencurigai siapa saja. Tapi membedakan orang baik dan orang jahat, ternyata susah. Aku sering pusing. Celakanya aku tak bisa dengan gampang mendapatkan pil pengusir pusing bagi anjing. Siapa tuanku, aku sesungguhnya tak perlu mempersoalkan.

menulis kreatif – Dia orang baik, setidaknya bagiku. Tapi aku sering mendengar gunjingan tetangga. Kata mereka tuanku itu kaya karena korupsi, mencuri duit Negara. Berulang kali, kata mereka, tuanku berhasil membobol bank. Anehnya, bisik mereka, Pak Konglo itu tidak pernah tertangkap. Katanya punya ajian ‘belut putih’, hingga selalu bisa lolos dari sergapan penegak hukum. Benarkah tuanku itu sakti? Aku tak peduli. Aku hanya sering melihat, di rumahnya sering datang orang-orang berbaju seragam. Mereka bicara ramah sambil menyebut kalau aku tidak salah dengan pasal-pasal hukum. Aku tidak paham. Dan aku tidak pernah peduli. Aku hanya sering melihat tuanku memberi segepok uang kepada tamu-tamunya. Untuk apa uang itu? Jangan tanya padaku. Kewajibanku hanya curiga dan menggonggong. Lalu segumpal daging lezat tersedia di depanku. Sederhana bukan? Berpikir sederhana ternyata tidak gampang. Acuh tak acuh bukan pekerjaan mudah. Suatu hari, aku iseng-iseng melihat televisi. Mataku disergap peristiwa yang sulit kupercaya: Tuanku digelandang polisi. Mbak penyiar yang cantik itu mengatakan bahwa Tuan Konglo terlibat dalam skandal korupsi pembangunan kompleks perumahan rakyat. Katanya, tuanku menggelapkan duit hampir Rp 1 triliun. Aku tidak percaya. Namun, dialog malam itu, bagai aliran listrik berkekuatan sangat besar menyambar kepalaku. “Tolong Papa jujur saja. Papa terlibat dalam penggelapan uang sebanyak itu?” ujar Nyonya Konglo sambil menangis. “Maafkan aku Ma ..” Tuan Konglo mengisap rokoknya dalamdalam. “Papa korupsi tidak?” desak Nyonya Konglo. “Semua kulakukan demi kamu, demi anak-anak…” Nyonya Konglo pingsan. Tuan Konglo pontang-panting memberi bantuan. Beberapa saat kemudian dokter datang. Sebagai anjing aku tidak pernah dididik tentang sopan santun, agama, etika, dan hukum, aku terus terang sangat kecewa. Aku sendiri sebagai binatang yang lebih berhak mencuri tak pernah sekali pun nyolong, atau merampas hak anjing lain. Sedang tuanku? Malam itu, aku lunglai. Tulang-tulangku terasa dilolosi. Ketika ada orang yang mencurigakan menjebol jendela rumah tuanku. Kubiarkan dia menyikat televisi, handphone, uang, perhiasan emas, berlian… “Bukankah pencuri itu mengambil haknya yang juga dirampas majikanku?” pikirku sambil memejamkan mata. (Yogyakarta, Februari 2006) Sumber: SINDO, 19 Maret 2006

Jenis Paragraf

Ada empat jenis paragraf yang dibahas, yaitu paragraf deduktif, induktif, campuran, dan naratif. Perhatikan contoh berikut ini!

Deduktif Ada beberapa penyebab kemacetan di Jakarta. Pertama, jumlah armada yang banyak tidak seimbang dengan luas jalan. Kedua, kedisiplinan pengendara kendaraan sangat minim. Ketiga, banyak tempat yang memunculkan gangguan lalu lintas, misalnya pasar, rel kereta api, pedagang kaki lima, halte yang tidak difungsikan, banjir, dan sebagainya. Keempat, kurang tegasnya petugas yang berwenang dalam mengatur lalu lintas serta menindak para pelanggar lalu lintas.

Induktif Guru menguasai materi dengan baik. Siswa terkelola dalam suasana pembelajaran yang kondusif. Proses pembelajaran aktif dan partisipatif. Evaluasi dilaksanakan sebagai pengukuran tingkat penyerapan siswa. Hal-hal di atas merupakan indikasi menuju keberhasilan pembelajaran di kelas.

Campuran Bahasa sangat penting dalam kehidupan kita. Untuk berkomunikasi kita menggunakan bahasa. Untuk bekerja sama kita menggunakan bahasa. Untuk mewarisi dan mewariskan kebudayaan, kita memerlukan bahasa. Sekali lagi, betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan kita.

Naratif Seseorang sedang menyapu sambil menembang. Pak Mo mengumpulkan daun-daun kering di sudut halaman. Esok hari pekerjaan yang sama menghadang di tempat yang sama. Daundaun jatuh dan Pak Mo menyapunya lagi. Begitulah rupanya hakikat dari hidup, selalu menuntut dibersih-bersihkan karena sampah dapat datang setiap saat, setiap desah nafas.

Membaca Cepat

Banyak orang beranggapan bahwa membaca adalah pekerjaan yang sangat berat. Bila kita hitung-hitung, berapa banyak informasi (ilmu) yang bermanfaat terlewatkan begitu saja setiap hari. Padahal, saat ini kita begitu mudah mendapatkan bahan bacaan. Tampubolon dalam bukunya Kemampuan Membaca, menyebutkan bahwa kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan. Dengan meng-gunakan kedua aspek itu, Anda dapat mengukur kemampuan membaca Anda. Pada umumnya, kecepatan membaca diukur dengan jumlah kata yang dibaca per menit, dan pemahaman diukur dengan persentase dari jawaban yang benar tentang isi bacaan. Tetapi hasil pengukuran kedua aspek ini harus diintegrasikan agar dapat menunjukkan kemampuan membaca secara keseluruhan (integral). Oleh karena itu, rumus yang bisa dipergunakan ialah: Jumlah kata-kata yang dibaca Jumlah waktu : 60 x Persentase jawaban

Angka 60 yang ada pada rumus tersebut dipergunakan sebagai indeks untuk mengubah waktu baca dalam sekon menjadi menit, karena kemampuan membaca umumnya dinyatakan dengan jumlah kata per menit. Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan dapat dipergunakan cara berikut: 1. Hitunglah jumlah kata yang terdapat dalam satu garis penuh. 2. Hitunglah jumlah baris pada tiap kolom/halaman yang bersangkutan. 3. Hasil perkalian antara jumlah kata dan jumlah baris adalah jumlah kata yang terdapat dalam kolom atau halaman yang bersangkutan.

Menulis Kreatif Rekaan Yang Dibalut Dengan Kesenian | medsis | 4.5