Cara Mencatat Sumber T ertulis dan Menulis Daftar Pustaka

Cara Mencatat Sumber T ertulis dan Menulis Daftar Pustaka

menulis daftar pustaka

menulis daftar pustaka

Menulis Daftar Pustaka – Di bab empat, dengan topik “Pendidikan”, kalian akan diajak untuk lebih meningkatkan lagi kemampuan bahasa kalian. Caranya? Pertama, kalian diajak untuk bisa mengidentifikasi ide teks nonsastra dari berbagai sumber melalui teknik membaca ekstensif. Oleh karena itu, kalian harus bisa mencatat nama sumber, tahun, dan nomor halaman dari sumber tertulis. Kedua, kalian diharapkan bisa menentukan satu topik berdasarkan diskusi, mengumpulkan sumber tentang topik tertentu yang disepakati, mencatat nama sumber, tahun, dan nomor halaman dari sumber tertulis, menulis pokokpokok pikiran dari tiap sumber, mengidentifikasi fakta dan pendapat, serta menyimpulkan isi pokok dari tiap sumber. Ketiga, kalian bisa memahami penggunaan imbuhan asing, baik yang diletakkan di awal maupun di akhir kata dasar.

Menulis Daftar Pustaka – Keempat, kalian diajak untuk bisa mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi. Itu berarti kalian harus bisa menceritakan kembali isi cerpen yang kalian baca, mengungkapkan hal menarik yang terdapat dalam cerpen, serta mengaitkan isi cerpen dengan kehidupan seharihari. Kelima, kalian diajak untuk dapat menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskriptif. Itu berarti kalian harus memahami pola pengembangan paragraf deskriptif dan penyuntingan. Selamat belajar dan sukseslah selalu.

Membaca Ekstensif

Menulis Daftar Pustaka – Membaca ekstensif adalah membaca yang bersifat menjangkau secara luas. Dengan membaca ekstensif, Anda tidak semata-mata mengetahui isi teks saja, tetapi Anda juga akan menyerap pengetahuan yang lebih umum atau luas. Anda pernah mendengar kelas akselerasi? Kelas akselerasi adalah sekolah yang mengikuti proses percepatan dan diperuntukkan bagi siswa-siswa berprestasi, artinya siswa mengikuti sekolah lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Mencatat Sumber T ertulis

Menulis Daftar Pustaka – Kutipan Penulisan sumber kutipan ada yang menggunakan pola Harvard, ada pula yang menggunakan pola konvensional atau catatan kaki (footnote). Sekarang Anda akan mempelajari pencantuman kutipan dengan pola Harvard. Pencantuman kutipan dengan pola Harvard ditandai dengan menuliskan nama belakang pengarang, tahun terbit, dan halaman buku yang dikutip di awal atau di akhir kutipan. Data lengkap sumber yang dikutip itu dicantumkan pada daftar pustaka. Ada dua cara dalam mengutip, yakni langsung dan tidak langsung. Kutipan langsung adalah mengutip sesuai dengan sumber aslinya, artinya kalimat-kalimat tidak ada yang diubah. Disebut kutipan tidak langsung jika mengutip dengan cara meringkas kalimat dari sumber aslinya, namun tidak menghilangkan gagasan asli dari sumber tersebut.

Menulis Daftar Pustaka – Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut! Contoh kutipan langsung: Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Keraf, 1983: 3).

Menurut Gorys Keraf dalam bukunya Argumentasi dan Narasi (1983:3),

Menulis Daftar Pustaka – argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara 1)

Menulis Daftar Pustaka – Contoh kutipan tidak langsung Seperti dikatakan oleh Gorys Keraf (1983:3) bahwa argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis.

Menulis Daftar Pustaka – Argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis (Keraf, 1983:3).

Argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis1). 3 Seperti halnya penulisan data, penulisan kutipan (referensi) ini juga harus menyebutkan sumber kutipan tersebut. Seperti contoh di atas menyebutkan bahwa sumber diambil dari buku karangan Gorys Keraf, yang terbit pada tahun 1983, dan sumber tersebut terdapat di halaman 3. Informasi mengenai penerbit dan judul buku dapat dilihat di Daftar Pustaka atau Bibliografi. Pada contoh terakhir hanya ditulis angka 1, menyatakan bahwa keterangan sumber dicantumkan di bawah halaman yang disebut dengan catatan kaki.

Membuat Daftar Pustaka (Bibliografi)

Berdasarkan sumber acuan yang digunakan, ada beberapa model bibliografi. A. Buku sebagai Sumber Acuan Jika buku menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut. 1. Nama pengarang dibalik (berdasarkan nama keluarga, nama belakang) kecuali nama Tionghoa. Nama ditulis lengkap tanpa menyebutkan gelar. Contoh:  Masri Singarimbun menjadi Singarimbun, Masri  Y.B. Mangunwijaya menjadi Mangunwijaya, Y.B.  Cio Sin Kim tetap Cio Sin Kim 2. Jika dalam buku yang diacu itu tercantum nama editor, penulisannya dilakukan dengan menambahkan singkatan (Ed.). Contoh:  Mahaso, Ode (Ed.). 1997. 3. Jika pengarang terdiri dari dua orang, nama orang pertama dibalik sedangkan nama orang kedua tetap. Di antara kedua nama pengarang itu digunakan kata penghubung “dan”. Jika lebih dari tiga orang, ditulis nama pengarang pertama yang dibalik lalu ditambahkan singkatan “dkk” (dan kawan-kawan). Contoh: Sumardjan, Selo dan Marta Susilo. 4. Jika beberapa buku ditulis oleh seorang pengarang, nama pengarang cukup ditulis sekali pada buku yang disebut pertama. Selanjutnya cukup dibuat garis sepanjang 10 ketukan dan diakhiri dengan tanda titik. Setelah nama penga-rang, cantumkan tahun terbit dengan dibubuhkan tanda titik. Jika tahunnya berbeda, penyusunan daftar pustaka dilakukan dengan urutan berdasarkan yang paling lama ke yang paling baru. Contoh:  Keraf, Gorys. 1979.  _________ . 1982.  _________ . 1984.

Jika diterbitkan pada tahun yang sama, penempatan urutannya berdasarkan pola abjad judul buku. Kriteria pembedaannya adalah setelah tahun terbit dibubuhkan huruf, misalnya a, b, c tanpa jarak. Contoh:  Bakri, Oemar. 1987a.  __________ . 1987b. 5. Jika buku yang dijadikan bahan pustaka itu tidak menyebutkan tahun terbitnya, dalam penyusunan daftar pustaka disebutkan “Tanpa Tahun”. Kedua kata itu diawali dengan huruf kapital. Contoh:  Johan, Untung. Tanpa Tahun. 6. Judul buku ditempatkan sesudah tahun terbit dengan dicetak miring atau diberi garis bawah. Judul ditulis dengan huruf kapital pada awal kata yang bukan kata tugas. Contoh:  Keraf, Gorys. 1979. Lebih Lanjut dengan Microsoft Word 97 atau  Keraf, Gorys. 1979. Lebih Lanjut dengan Microsoft Word 97 7. Laporan penelitian, disertasi, tesis, skripsi, atau artikel yang belum diterbitkan, di dalam daftar pustaka ditulis dalam tanda petik. Contoh:  Noprisal, Hendra. 1984. “Pembangunan Ekonomi Nasional”. 8. Unsur-unsur keterangan seperti jilid, edisi, ditempatkan sesudah judul. Keterangan itu ditulis dengan huruf kapital pada awal kata dan diakhiri dengan tanda titik. Jika sumber acuan itu berbahasa asing, unsur-unsur keterangan diindonesiakan, seperti “edition” menjadi edisi, “volume” menjadi jilid. Contoh:  Mochtar, Isa. 1983. Pengantar Ekonomi. Cetakan Kedua.  Rowe, D. dan I. Alexander. 1967. Selling Industrial Product. Edisi Kedua. 9. Tempat terbit sumber acuan, baik buku maupun terbitan lainnya ditempatkan setelah judul atau keterangan judul (misalnya jilid, edisi, nomor majalah). Sesudah tempat terbit dituliskan nama penerbit dengan dipisahkan tanda titik dua, kemudian diikuti dengan tanda titik. Jika lembaga penerbit dijadikan nama pengarang (ditempatkan pada lajur pertama), maka tidak perlu disebutkan nama penerbit lagi. Daftar Pustaka tidak diberi penomoran. Pengurutannya berdasarkan alfabetis nama pengarang. Contoh: Ananta Toer, Pramoedya. 2001. Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Biro Pusat Statistik. 1963. Statistical Pocketbook of Indonesia. Jakarta. Koentjaraningrat (Ed.). 1977. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

B. Majalah sebagai Acuan Jika majalah menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut: 1. nama pengarang, 2. tahun terbit, 3. judul artikel, 4. judul majalah, 5. bulan terbit (kalau ada), 6. tahun terbitan yang keberapa (kalau ada), 7. tempat terbit. Contoh: Nasution, Anwar. 1975. “Sistem Moneter Internasional”. Dalam Prisma, Desember, IV. Jakarta. C. Surat Kabar sebagai Acuan Jika surat kabar menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut: 1. nama pengarang, 2. tahun terbit, 3. judul artikel, Contoh: Tabah, Anton. 1984. “Polwan semakin efektif dalam Penegakan Hukum”. Dalam Sinar Harapan, 1 September 1984. Jakarta. 4. judul surat kabar, 5. tanggal terbit, dan 6. tempat terbit. D. Antologi sebagai Sumber Acuan Jika antologi menjadi sumber acuan, kita harus memperhatikan unsur-unsur beserta urutannya yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka sebagai berikut: 1. nama pengarang, 2. tahun terbit karangan, 3. judul karangan, 4. nama penghimpun (Ed.), 5. tahun terbit antologi, 6. judul antologi, 7. tempat terbit, dan 8. nama penerbit. Contoh: Kartodirjo, Sartono. 1977. “Metode Penggunaan Dokumen”. Dalam Koentjaraningrat (Ed.). 1980. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Imbuhan Asing Imbuhan yang bersumber dari bahasa asing dapat dipertimbangkan pemakaiannya di dalam peristilahan Indonesia setelah disesuaikan ejaannya. Pemakaian imbuhan asing bisa diletakkan di awal kata atau di akhir kata. Sebagai gambaran, awalan a-, anti- menyatakan arti tidak. Awalan pra-, semi- menyatakan sebelum. Awalan poli- menyatakan banyak.

Pola Pengembangan Paragraf Deskripsi

Ada dua pola pengembangan deskripsi, yaitu pola bergerak dan tidak bergerak.

A. Pola tidak bergerak/statis Dari suatu tempat tertentu, pengarang atau pengamat dalam keadaan diam (tak bergerak/statis) dapat melayangkan pandangannya kepada tempat yang akan dideskripsikan, dengan mengikuti urutan-urutan yang teratur dimulai dari titik tertentu. Pengarang dapat mulai dari timur ke barat atau dari utara ke selatan, dari atas ke bawah, dari depan ke belakang, atau dari kanan ke kiri. Ia juga dapat bertolak dari satu titik yang dianggap penting kemudian berangsur-angsur ke bagian yang makin rendah kepentingannya dari titik sentral tadi. Atau, ia dapat mulai dari titik yang paling jauh berangsur-angsur ke titik atau tempat yang terdekat.

B. Pola bergerak Pola yang kedua adalah memandang suatu tempat dari segi yang bergerak. Seringkali terjadi bahwa deskripsi terhadap sebuah tempat dilakukan dengan bertolak dari suatu segi pandangan yang lain, yaitu pengamat sendiri berada dalam keadaan bergerak. Seorang yang berada dalam pesawat terbang akan melihat dari jauh sebuah tempat secara samar-samar. Dari kejauhan ini, ia hanya melihat bagian-bagian yang paling besar, tanpa ada perincian detail-detailnya: namun semakin dekat, bagian-bagian yang lebih kecil akan mulai tampak satu persatu, dan pada titik yang terdekat ia akan melihat bagian yang tadinya sama sekali tidak dilihatnya. Sesudah melampaui tempat tadi, penglihatannya akan mulai berlawanan dengan apa yang baru dialaminya tadi. Makin lama objek-objek bertambah kecil: objekobjek atau bagian-bagian yang kecil menghilang lebih dahulu, kemudian disusul bagian yang lebih besar, akhirnya seluruh bagian lenyap sama sekali. Kedua pola di atas menunjukkan perbedaan yang amat besar, karena dalam titik pandangan pola pertama (statis) semua benda dalam sebuah tempat berada dalam keadaan diam, tidak mengalami perubahan. Tetapi, pola pandangan kedua menunjukkan perbedaan dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan jarak yang terjadi. Dalam pola yang kedua ini dapat dimasukkan pula variasi berupa deskripsi atas dua tempat atau bagian yang diperbandingkan satu sama lain. 

 

Cara Mencatat Sumber T ertulis dan Menulis Daftar Pustaka | medsis | 4.5