Mengungkapkan Nilai-nilai dalam Puisi

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Mengungkapkan Nilai-nilai dalam Puisi

nilai dalam Puisi

nilai dalam Puisi

Nilai Dalam Puisi

Nilai Dalam Puisi – Belajar tentang nilai-nilai dalam kehidupan, seperti nilai agama, sosial, dan kemasyarakatan dapat kita lakukan melalui puisi. Mari kita berburu nilai-nilai dalam puisi di bawah ini! Semoga bermanfaat!

Perang Jamilah Tiga suku bangsa Merebut tanah leluhur Bertempur di bumu Sambas Beribu kepala melayang Beribu ibu kehilangan keluarga Beribu rumah terbakar Beribu anak putus sekolah Kami tak punya siapa-siapa Ketakutan ini akan kami ceritakan pada siapa Kami kaum muda Hanya bisa mendengar Tak mampu menghindar (Majalah Horizon, November 2000)

1. Berdiskusilah dalam kelompok kecil untuk membahas hal-hal berikut ini: a) tema puisi, b) nilai-nilai yang Anda temukan pada puisi, c) makna yang terkandung dalam puisi, dan d) pesan yang terkandung dalam puisi itu. Latihan 1 2. Bacalah sebuah puisi lain dan rumuskanlah secara mandiri nilai-nilai yang terkandung di dalam puisi tersebut, kemudian kemukakanlah hasil kerja Anda itu di depan kelas! Bahaslah hasil diskusi Anda di depan kelas!

Membahas Cerita Pendek

Cerita pendek tak kalah populernya dibanding puisi. Tak sedikit orang gemar membaca karya sastra yang satu ini. Sebenarnya cerita pendek itu apa? Cerita pendek adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu peristiwa atau kejadian. Umumnya, berupa kisahan pendek yang tidak lebih dari 10.000 kata dan memberi kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (satu saat). Cerpen terdiri atas unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik cerpen di antaranya adalah tema, alur (plot), latar atau setting, penokohan, sudut pandang (point of view), dan amanat. Untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik sebuah cerpen, kita harus membacanya secara keseluruhan, bila perlu diulang hingga cerita cerpen tersebut benar-benar dapat kita pahami. Kemudian lihatlah hubungan antarstruktur yang membangun cerita tersebut.

Nilai Dalam Puisi – Nilai-nilai dalam cerpen 1. Nilai budaya berkaitan dengan pemikiran, kebiasaan, dan hasil karya cipta manusia. 2. Nilai sosial berkaitan dengan tata laku hubungan antara sesama manusia. 3. Nilai moral berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan manusia dan masyarakat.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Nilai sebuah cerita tidak hanya ditentukan oleh keindahan bahasa dan kompleksitas jalinan cerita. Nilai atau sesuatu yang berharga dalam cerpen juga berupa pesan atau amanat. Wujudnya seperti yang dikemukakan di atas, ada yang berkenaan dengan masalah budaya, sosial, atau moral. Untuk menafsirkan nilai-nilai tertentu, kita dapat melakukannya dengan jalan mengajukan sejumlah pertanyaan, misalnya: 1) Mengapa pengarang membuat jalan cerita seperti itu? 2) Mengapa seorang tokoh dimatikan sementara yang lain tidak? Pernafsiran-penafsiran itu akan membawa kepada kesimpulan akan nilai tertentu yang disajikan pengarang.

Nilai Dalam Puisi

Sinar Mata Ibu Oleh Harris Effendi Thahar

Tuhan punya kehendak lain. Tiba-tiba saja Rudi meninggal dalam waktu beberapa menit setelah mobilnya menghantam bus kota sewaktu menuju kantornya di pagi Senin yang naas itu. Agaknya Tuhan juga memperlihatkan kekuasaan-Nya. Rudi yang baru berusia empat puluhan dan paling bungsu dari tujuh bersaudara dipanggil paling awal olehNya. Kami semua terpukul, apalagi ibu. Padahal, seminggu sebelumnya, Rudi telah menyampaikan gagasannya kepada kami untuk memberikan hadiah istimewa di hari ulang tahun ibu yang ke-80 beberapa bulan lagi. Sejak kepergian Rudi, ibu sangat berubah. Pandangan matanya terlihat kosong. Ibu jadi pendiam dan amat perasa. Dan, ibu bisa tidak tidur semalaman jika siangnya tidak ada yang bersedia mengantarnya ke kuburan Rudi di bulan pertama setelah kepergian Rudi. Di bulan pertama itu, kalau hari tidak hujan, acara ziarah ke kubur itu menjadi wajib bagi ibu. Kami, mantu-mantu ibu, secara bergantian mengantar ibu ke pemakaman umum yang terletak di pinggir kota. Selain menangis dan berdoa di kubur Rudi, ibu bercakap-cakap dengan batu nisan. Gerombolan pengemis, petugas kebersihan pemakaman, dan penjual kembang seperti sudah menjadi langganan ibu. Untuk itu, kami selalu membekali ibu uang receh secukupnya. Soalnya ibu, hampir-hampir tidak mengenal lagi nilai mata uang. Ibu akan memberikan uang berapapun jika ada pengemis meminta, tidak peduli lembaran lima puluh ribuan atau seratus ribuan. “Ah, apakah artinya kertas-kertas itu. Lebih baik dikasihkan kepada orang yang lebih membutuhkannya,” jawab ibu ketika istri saya menyoal ibu setelah nekat memberikan uang lima puluh ribuan kepada pengemis buta di gerbang pemakaman. “Banyak yang dapat dilakukan dengan uang sebanyak itu, bisa buat jajan si Oni seminggu. Atau untuk membeli keperluan dapur,” kata istri saya. “Apakah kamu kekurangan uang? Uang pensiunan papamu masih banyak di bank. Sudah lama ibu tidak mengambilnya. Kamu mau, atau kamu perlu? Berapa?” “Bukan begitu, Bu. Ibulah yang mengajari kami dulu supaya hidup jangan boros.” “Kalau untuk akhirat, ibu mau boros. Itu semua bakal diganti Tuhan dengan imbalan yang berlipat ganda di surga. Ibu sekarang mau ke sana,” ujar orang tua itu dengan mata berlinang. Kalau sudah begitu, saya akan menarik istri saya dan memintanya untuk bersabar dan bersikap baik dan santun kepada ibu. Apalagi akhir-akhir ini ibu mulai nyinyir, suka lupa, sekaligus pendiam. “Semua tingkah laku aneh itu harus disikapi dengan kesabaran seorang anak yang berbakti,” saya bilang. Tapi, itu bukan berarti istri saya selalu waspada bila giliran ibu berada di rumah kami. Seperti kejadian seminggu lalu, ibu tiap sebentar mengatakan bahwa pembantu Kak Nurma, kakak istri saya, itu pencuri. Gelang emas peninggalan nenek telah dicuri pembantu itu ketika ibu sedang mandi. “Gelang ibu itu sekarang disimpan Kak Nurma. Soalnya, ibu suka menaruhnya di sembarang tempat. Untung pembantu itu jujur, ia serahkan gelang itu kepada Kak Nurma ketika ia menemukan gelang itu di kamar mandi,” jelas istrinya. “Anak itu memang pencuri. Tarok-lah gelang itu ia tidak berani mengambilnya. Tapi yang lain-lain?” “Apa misalnya?” “Banyak. Hampir tiap hari Yeni memberi ibu apel atau jeruk. Nanti, ketika ibu ingin makan buah itu, hilang. Tanya sama dia, selalu bilang tidak tahu. Siapa lagi kalau bukan dia, orang kampung rakus itu? Coba!” Istri saya tertawa ngakak. “Kok, kamu malah tertawa?” “Habis, setiap Kak Nurma menelepon saya, pasti ada saja yang diceritakannya tentang ibu. Nah, di antaranya buah-buah itu sering diketemukan sudah membusuk di dalam almari pakaian ibu. Kadangkadang, kalau pembantu itu membersihkan kolong tempat tidur ibu, juga sering ditemukan apel busuk, jeruk busuk. Jadi, ibu jangan sembarangan tuduh orang mencuri. Katanya mau beribadah. Itu kan menambah dosa jadinya. Ya, enggak?” Setelah itu, esoknya kami semua dibuat bingung. Ibu tidak ada di rumah. Kami semua mencarinya ke makam, ke panti, ke pasar, dan ke semua tempat yang kira-kira dikunjungi ibu. Hingga akhirnya saya ingat satu tempat. Ketika malam tiba, saya membawa senter dan menuju kamar anak saya yang paling kecil yang memiliki ranjang besar. Saya sorotkan lampu senter ke bawah ranjang. Di sana tampak ibu sedang mengedip-ngedipkan matanya. Lalu, saya ulurkan tangan seperti mau menggendong anak kecil sambil tersenyum. Ibu pun mengulurkan tangannya seperti anak kecil yang ingin digendong sambil tersenyum. Sumber: (Dikutip dengan perubahan dari kumpulan Cerpen Pilihan Kompas, Waktu Nayla, 2003)

Nilai Dalam Puisi

A. 1. Setelah mendengarkan cerpen “Sinar Mata Ibu” yang dibacakan oleh teman anda, ceritakanlah unsur intrinsik cerpen itu, terutama aspek yang bertalian dengan (a) tema, (b) alur, (c) penokohan, (d) latar, (e) gaya penceritaan, dan (f) amanat. 2. Apakah dari paragraf 1 ke paragraf berikutnya terjadi perpindahan alur? Jelaskan! Latihan 2 Seperti sudah diutarakan pada pembahasan sebelumnya bahwa kita dapat mengambil manfaat atau hikmah dari puisi yang kita baca. Dalam hal ini, tidak terlepas dari makna dan pesan atau amanat pengarang/penyair. Untuk lebih memperkaya wawasan Anda, marilah kita mempelajari uraian berikut ini dengan sungguh-sungguh! ada saja yang diceritakannya tentang ibu. Nah, di antaranya buah-buah itu sering diketemukan sudah membusuk di dalam almari pakaian ibu. Kadangkadang, kalau pembantu itu membersihkan kolong tempat tidur ibu, juga sering ditemukan apel busuk, jeruk busuk. Jadi, ibu jangan sembarangan tuduh orang mencuri. Katanya mau beribadah. Itu kan menambah dosa jadinya. Ya, enggak?” Setelah itu, esoknya kami semua dibuat bingung. Ibu tidak ada di rumah. Kami semua mencarinya ke makam, ke panti, ke pasar, dan ke semua tempat yang kira-kira dikunjungi ibu. Hingga akhirnya saya ingat satu tempat. Ketika malam tiba, saya membawa senter dan menuju kamar anak saya yang paling kecil yang memiliki ranjang besar. Saya sorotkan lampu senter ke bawah ranjang. Di sana tampak ibu sedang mengedip-ngedipkan matanya. Lalu, saya ulurkan tangan seperti mau menggendong anak kecil sambil tersenyum. Ibu pun mengulurkan tangannya seperti anak kecil yang ingin digendong sambil tersenyum. Sumber: (Dikutip dengan perubahan dari kumpulan Cerpen Pilihan Kompas, Waktu Nayla, 2003) B. 1. Bentuklah kelompok kecil yang beranggotakan 4 orang! Berdiskusilah untuk menemukan dan membahas nilainilai yang terkandung dalam cerpen “Sinar Mata Ibu”! 2. Ungkapkanlah hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerpen tersebut di depan kelas! C. Carilah satu cerpen dari surat kabar atau majalah, kemudian analisislah unsur-unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen!

Nilai Dalam Puisi

Mengungkapkan Nilai-nilai dalam Puisi | medsis | 4.5