Menentukan Batas Wilayah Pertumbuhan

Menentukan Batas Wilayah  Pertumbuhan

Menentukan Batas Wilayah  Pertumbuhan

Menentukan Batas Wilayah Pertumbuhan

Tentunya kalian sering melihat adanya wilayah yang sudah maju baik dari segi sarana fisik ataupun cara hidup penduduknya. Di tempat lain, kalian juga tentunya sering melihat wilayah yang penduduk serta sarana dan prasarana fisiknya masih sederhana.

Hal ini disebabkan oleh perbedaan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki oleh wilayah-wilayah tersebut. Dari adanya perbedaan tersebut, wilayah yang memiliki percepatan pembangunan yang tinggi sering dijadikan sebagai pusat pertumbuhan. Pusat pertumbuhan adalah suatu wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat sehingga dapat dijadikan sebagai pusat pembangunan yang dapat dijadikan sebagai pusat pembangunan yang dapat mempengaruhi perkembangan kawasan lain di sekitarnya. Dalam geografi di kenal dua istilah pertumbuhan yang artinya hampir sama, yaitu kutub pertumbuhan (growth pole) dan pusat pertumbuhan (growth center).

Kutub pertumbuhan berkaitan dengan konsep ekonomi, sedangkan pusat pertumbuhan sangat berkaitan dengan konsep keruangan. Dalam geografi, yang dimaksud pertumbuhan adalah pengembangan atau pembangunan wilayah, baik pembangunan fisik maupun pembangunan sosial budaya. Konsep pertumbuhan dikemukakan oleh Francois Perroux. Kutub pertumbuhan ditandai oleh adanya industri penggerak berskala besar dan cenderung mendominasi industri lain.

Industri tersebut mempunyai fungsi kaitan pengaruh antarindustri yang kuat dan menunjukkan kemampuan berkembang yang besar. Konsep kutub pertumbuhan Perroux tidak berkaitan dengan ruang, namun hanya mengacu pada industri atau kelompok industri yang mampu menggerakkan kegiatan ekonomi di wilayah yang bersangkutan. Namun sebaliknya, konsep pusat pertumbuhan berkaitan dengan lokasi keruangan. Suatu wilayah akan lebih maju dan berkembang jika pada wilayah tersebut didirikan industri dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya secara terus menerus. Jika akan membangun industri baru, maka sebaiknya didirikan pada tempat yang berdekatan dengan lokasi industri yang telah ada. Mengapa demikian? Karena pada lokasi tersebut sudah tersedia berbagai fasilitas, seperti listrik, air bersih, dan prasarana jalan.

Akibatnya daerah yang sudah maju akan semakin maju, sedangkan daerah yang terbelakang akan tetap terbelakang. Gejala ini akan hilang bila terjadi pembagian atau penyaluran bawah (trickle down effect) dari faktor-faktor yang menyebabkan kemajuan di wilayah pusat pertumbuhan menuju ke daerah pinggiran yang belum maju.

Gejala ketidakseimbangan antara pusat pertumbuhan dan daerah pinggiran akan hilang bila terjadi dua mekanisme pokok, yaitu spread effect dan backwash effect. Contoh dari spread effect, misalnya pertumbuhan atau pembangunan di suatu kota juga mendorong pertumbuhan kegiatan dalam bidang pertanian di pedesaan sekitarnya. Backwash effect adalah pertumbuhan suatu kota yang mengakibatkan perpindahan modal dan sumber lain, seperti tenaga ahli, listrik dan transportasi ke daerah lain yang berdekatan. Dengan demikian, pusat-pusat pertumbuhan tersebut makin lama akan menyebar ke berbagai wilayah. Menentukan batas wilayah pertumbuhan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Analisis wilayah, yaitu melakukan studi kebijakan nasional tentang wilayah, kependudukan, perekonomian, potensi, dan daya dukung lingkungan, struktur tata ruang, penguasaan, peruntukkan dan penggunaan lahan. 2. Perumusan masalah sebagai acuan dalam proses penyusunan rencana tata ruang wilayah. 3. Perumusan konsep yang mengacu pada kehendak untuk pemerintahan, pertumbuhan dan daya dukung lingkungan. Perumusan melalui pendekatan konseptual dan strategi pengembangannya. 4. Perumusan tata ruang melalui langkah-langkah berikut: a. Menetapkan kawasan lindung, seperti: – menetapakan kawasan lindung (hutan lindung, penyangga, dan resapan air). – menetapkan kawasan perlindungan setempat (sempadan pantai, sungai, waduk, dan mata air). – menetapkan kawasan suaka alam. – menetapkan kawasan rawan bencana alam. b. Mengembangkan kawasan budidaya, meliputi kawasan hutan produksi, pertanian, pertambangan, perindustrian, pariwisata, dan pemukiman. c. Pengembangan sistem kota dan pusat-pusat pertumbuhan yang akan dipilih. d. Pengembangan sistem prasarana wilayah, yaitu mengembangkan infrastruktur yang diperlukan. e. Pengembangan wilayah prioritas, seperti kawasan tumbuh cepat, prioritas penanganan masalah. f. Kebijaksanaan penunjang penataan ruang.

Menentukan Batas Wilayah Pertumbuhan | medsis | 4.5