Tentang Materi Menemukan Kata-Kata Sulit B. Indonesia

Tentang Materi Menemukan Kata-Kata Sulit B. Indonesia

Menemukan Kata-Kata Sulit

Menemukan Kata-Kata Sulit

Menemukan Kata-Kata Sulit

*** Di kantornya, pak Camat bersafari masih sibuk dengan handphone-nya. Bicaranya tampak begitu berhati-hati. Raut wajahnya pun menunjukkan kecemasan. Persoalannya, beberapa proyek perintah pak Bupati belum dapat diselesaikannya. Sebenarnya ini karena masalah ganti rugi tanah penduduk kampung di tepi kali. Kata mereka ganti rugi itu terlalu kecil. Huh…mana ada, sih, yang namanya ganti rugi malah untung tentu harus rugi.

”Baik, Pak. Ya ….ya, saya mengerti, Pak.”

Menemukan Kata-Kata Sulit

Akan segera saya laksanakan, Pak,” kata pak Camat mengakhiri pembicaraannya, napasnya ditarik dalam-dalam. Matanya nanar memandang ke seluruh ruangan. Cepat diraihnya sebotol coca cola dingin dari kulkas di sudut ruangan. Setelah napasnya kembali teratur, pak Camat kemudian duduk kembali di kursinya. Ringan tangannya meraih surat-surat yang menumpuk di atas meja yang penuh dengan tumpukan kertas di hadapannya. Matanya kemudian membaca satu per satu surat-surat tersebut. Surat berwarna kekuningan itu lagi! Mata pak Camat mendelik. Dibacanya beberapa kali lagi dengan saksama tujuan surat itu. Dengan terburu-buru, hingga hampir saja ia terjatuh dari kursi empuknya, meraih handphone di sudut meja. ”Selamat pagi, Pak. Ya, saya lagi, Pak,” ujarnya terburu-buru. ”Ada sesuatu yang penting, Pak. Sebuah surat. Saya yakin ini pasti untuk Bapak,” pak Camat bersafari berhenti sebentar. ”Ya, segera saya antarkan, Pak,” tukasnya dengan mantap. *** Surat beramplop putih agak kekuningan itu berada di tangan pak Bupati. Di bolak-baliknya surat itu, ditimang-timangnya. Otaknya bekerja keras. Dia benar-benar ragu untuk membuka surat yang ditujukan kepada yang terhormat itu. Entah sudah berapa kali dibacanya sebaris tulisan di bagian depan amplop itu. Mondar-mandir dia memikirkan persoalan yang ada di tangannya itu. ”Surat itu pasti untuk, Bapak,” pak Camat bersafari mencoba memberi pertimbangan. Langkah pak Bupati berhenti, matanya menatap tajam pak Camat yang duduk di sofa di depannya. ”Tidak mungkin, di sini hanya tertulis, Kepada Yang Terhormat:. Anda pasti mengerti, saya bukanlah orang yang terhormat di sini. Masih banyak orang yang terhormat di negeri ini. Bayangkan saja, di atas saya masih ada pak Gubernur, pak Dirjen, pak Menteri, bahkan pak Presiden. Kamu bayangkan itu! Kedudukan saya bakal terancam jika saya berani-beranian membaca surat untuk mereka ini,” pak Bupati berhenti bicara sambil mengacungkan surat itu ke wajah pak Camat. ”Tapi, Pak…..” pak Camat mencoba membantah. ”Tidak ada tapi-tapian. Sekarang juga kita menghadap pak Gubernur. Surat ini harus segera sampai ke tangan beliau,” tukas pak Bupati. *** Surat beramplop putih agak kekuningan itu kembali tersuruk di tumpukan surat-surat buat pak Gubernur. Setelah pak Camat dan pak Bupati mengantarkan surat itu sore tadi, pak Gubernur belum sempat membacanya.

Menemukan Kata-Kata Sulit

Ketika malam turun dengan jubah-jubah kegelapannya. Saat orang-orang bermimpi tentang sebuah negeri di atas awan. Ketika benda-benda mati bangkit dari kebisuannya. Saat mereka bercerita satu dan yang lainnya. Di ruangan kantor pak Gubernur yang dingin ber-AC, setumpuk surat masih asyik ngobrol. Berisik sekali kedengarannya. Mereka bicara dalam bahasa mereka: bahasa pesan. Mereka bahkan tak memedulikan ketika jam diding berteriakteriak memperingatkan untuk beranjak tidur. Surat-surat itu tetap saja dengan santai berbagi cerita. Mereka duduk mengelilingi sebuah surat amplop putih bersih dengan lambang burung Garuda. Menunggunya bercerita. Dengan pongah surat itu, dengan nada sombong, menceritakan kesaktiannya. Dia mengatakan pak Gubernur akan mati ketakutan ketika membacanya besok pagi. Surat itu terus bercerita hingga berjam-jam. Ketika surat berlambang Garuda itu selesai, dilanjutkan dengan surat lain yang tak kalah hebatnya. Dia bercerita soal keinginan lembaga penegak hukum yang ingin memeriksa beberapa anggota dewan perwakilan daerah. Sementara itu, surat-surat yang lain hanya bisa mendengar terkagum-kagum. Begitu juga surat beramplop putih agak kekuningan. Ia terdiam sambil melipat tubuhnya lebih kecil. ”Hei….” Tiba-tiba saja sebuah surat yang lain menoleh padanya. Surat beramplop putih agak kekuningan tersebut terkejut. Ia tersentak. ”Dari tadi kau hanya diam saja. Bisakah kamu menceritakan isi suratmu itu?” kata surat itu. ”Ya, ya, ya….” serempak surat yang lain menjawab. ”Rupamu paling aneh dari kami semua. Lihatlah warnamu yang sudah agak kekuningan itu. Tentunya kau sudah lama sekali mengembara. Kabar apa yang kau bawa sebenarnya,” sahut sebuah surat beramplop bagus yang lain. Surat beramplop putih agak kekuningan itu betul-betul bingung. Ia jadi malu dengan keadaannya. Tapi dipaksakan hatinya untuk bercerita. Ia sebenarnya takut untuk menceritakan hal ini pada surat-surat yang lain. Ceritanya nanti tentu tak akan lebih menarik dan lebih seru dibanding cerita surat yang lain. Tetapi, setelah menarik napas dan memejamkan mata, ia pun mulai bercerita. Bagai sebuah tirai layar mengalirlah sebuah cerita klasik. Sebuah pergumulan antara si kuat dan si lemah. Di sebuah desa di tepi kali yang airnya hitam. Wajah ibu-ibu hamil. Sebuah pos ronda tempat para bapak berkumpul malam hari. Anak-anak SD yang berlarian di gang sempit dan kumuh. Rumah-rumah reot. Bau terasi bercampur aroma lain. Semua mengalir dari surat beramplop putih agak kekuningan itu. Namun, tiba-tiba saja semua gambaran itu lenyap. Lalu muncul sepatu-sepatu lars. Suara bising bulldozer. Teriak kesakitan, dan terakhir ceceran darah.

Menemukan Kata-Kata Sulit

Lalu disusul asap yang mengepul dari rumah yang sengaja dibakar. Orang-orang yang panik. Rumah-rumah dan sebuah surau di gang sempit itu telah rata dengan tanah. WC umum juga sudah duluan habis dibakar. Pos ronda cuma tersisa atapnya saja. Semua tertunduk. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangis. Ya, cuma menangis. Si lemah yang berduka. Surat beramplop putih agak kekuningan itu cepat-cepat mengakhiri ceritanya. Napasnya terengah-engah. Sesak. Matanya berkunang-kunang karena digenangi air mata. Sejurus kemudian setelah menenangkan dirinya, ia memandang ke sekeliling. Betapa terkejut karena semua surat menangis. Lalu meja pak Gubernur basah oleh air mata. Banjir hingga meluber ke mana-mana. Surat beramplop putih agak kekuningan itu terdiam. Ia sudah tak bisa menangis lagi. Menjelang pagi surat-surat itu berangkulan. Mereka berpelukan erat berbagi kedukaan. Saling menghibur. Kemudian atas kesepakatan bersama, surat beramplop putih agak kekuningan itu diletakkan pada tumpukan paling atas agar besok ia yang dibaca pak Gubernur pertama kali. Aulia Andri, Medan, awal tahun 1999 Dikutip tanpa pengubahan

Menemukan Kata-Kata Sulit

Buatlah cerita pendek dengan paparan seperti yang disebutkan tersebut! Sebelum membuat cerita, tentukan dahulu temanya. Kemudian, rincilah tema itu menjadi kerangka cerita. Dari kerangka cerita itu, kembangkan menjadi cerita!

Lensa Bahasa

Cermatilah kalimat-kalimat berikut! 1. Sebaiknya, para siswa memanfaatkan buku-buku yang ada di perpustakaan. 2. Meja-meja di perpustakaan hendaknya ditata dengan baik. 3. Sedang asyiknya membaca-baca buku pelajaran, saya dipanggil Ibu agar membuatkan kopi untuk Ayah. 4. Untuk menakut-nakuti burung, petani membuat orang-orangan sawah. 5. Gerak gerik perempuan tua itu sungguh menyedihkan hati kami. Kata buku-buku, meja-meja, membaca-baca, menakut-nakuti, orang-orangan, dan gerak gerik pada kalimat tersebut disebut kata ulang, yakni kata yang terbentuk akibat adanya proses pengulangan. Pengulangan itu dapat terjadi pada seluruh bentuk dasar atau sebagian, dapat pula terjadi variasi fonem. Kata buku-buku bentuk dasarnya adalah buku. Bentuk dasar buku diulang seluruhnya menjadi buku-buku. Pengulangan seperti itu disebut pengulangan penuh atau seluruh dan bentukan kata yang dihasilkannya disebut kata ulang penuh atau seluruh. Kata membaca-baca bentuk dasarnya adalah membaca. Bentuk dasar membaca tidak diulang seluruhnya, tetapi hanya sebagian yang diulang, yakni kata baca menjadi membaca-baca. Kata ulang seperti itu disebut kata ulang sebagian. Kata orang-orangan bentuk dasarnya orang. Ketika bentuk dasar tersebut diulang, secara bersama-sama terjadi pembubuhan afiks –an sehingga terbentuk kata orangorangan. Kata ulang seperti itu disebut kata ulang dengan kombinasi afiks. Kata gerakgerik bentuk dasarnya adalah gerak. Bentuk dasar gerak diulang dan terjadi perubahan bunyi fonem /a/ menjadi fonem /i/ sehingga terbentuk kata gerak-gerik. Bentukan kata seperti ini disebut kata ulang berubah bunyi. Pengulangan bentuk dasar sebuah kata menjadi kata ulang, tidaklah mengubah jenis kata. Misalnya, bentuk dasar buku berjenis kata benda, diulang menjadi bukubuku, tetap berjenis kata benda. Bentuk dasar membaca berjenis kata kerja, diulang menjadi membaca-baca tetap berjenis kata kerja. Jika ditinjau dari maknanya, kata buku-buku dan meja-meja pada kalimat di atas mengandung makna banyak. Kata membaca-baca bermakna menyatakan pekerjaan yang dilakukan secara berulang. Kata menakut-nakuti bermakna menjadikan takut, sedangkan kata orang-orangan bermakna menyerupai orang.

Menemukan Kata-Kata Sulit

 

Tentang Materi Menemukan Kata-Kata Sulit B. Indonesia | medsis | 4.5