Membuat Parafrasa dari Teks Tertulis Dg Langka-langkahnya

Membuat Parafrasa dari Teks Tertulis Dg Langka-langkahnya

Membuat Parafrasa

Membuat Parafrasa

Membuat Parafrasa – Menyimak untuk Memahami Informasi Lisan

1. Mengidentifikasi Sumber Informasi Sesuai Dengan Wacana

Membuat Parafrasa – Menyimak merupakan kegiatan mendengarkan atau memerhatikan dengan baik sesuatu yang diucapkan atau dibacakan orang lain. Dalam menyimak, kita melakukan kegiatan mendengarkan dan menangkap isi pembicaraan dengan akurat. Menyimak biasanya melibatkan seluruh anggota tubuh, seperti te linga, mata, dan secara mental melibatkan pikir dan rasa. Hal ini sebab yang harus dipahami dari orang yang berbicara tidak hanya menyampaikan kata-kata, tetapi ekspresi dan bahasa tubuhnya pun ikut mengiringi dan mewarnai. Pesan-pesan yang bersifat verbal atau bersifat kata, bisa disimak melalui intonasi, kecepatan, jeda, dan tekanan yang di sertai dengan nonverbal. Untuk itu, Anda perlu menangkap sinyal- sinyal nonverbal melalui bahasa tubuh, antara lain melalui gerak mata, ekspresi wajah, gerak tubuh, dan gerak tangan. Agar mampu menyimak informasi dengan baik, beberapa pedoman menyimak berikut perlu Anda cermati.

2. Mencatat isi pokok informasi dan uraian lisan yang bersifat faktual, spesifik, dan rinci Informasi bisa didapatkan dari berbagai sumber, seperti surat kabar, majalah, buku, televisi, radio, dan tuturan langsung. Pada prinsipnya, dari sumber apa pun informasi tersebut diperoleh, Anda harus berkonsentrasi dalam mendengarkannya. Hal ini sebab mendengarkan merupakan kegiatan yang memerlukan konsentrasi. Salah satu cara agar konsentrasi muncul adalah cermati dan tangkaplah pokok-pokok informasi tersebut.

Membuat Parafrasa – Pokokpokok informasi diperoleh dengan cara menjawab informasi apa yang disampaikan, dari siapa informasi itu diperoleh, kapan informasi itu diperoleh, di mana informasi itu diperoleh, mengapa informasi itu disampaikan, dan bagaimana informasi itu dapat disampaikan. Dalam sebuah berita, baik dari majalah, surat kabar, televisi, maupun radio, kita pun akan menemukan fakta dan pernyataan berupa pendapat. Fakta berisi pernyataan yang jelas dan pasti. Pendapat berisi pernyataan yang masih dipengaruhi oleh anggapan sehingga belum menunjukkan sebuah kepastian. Pada umumnya kalimat faktual atau fakta, biasanya menggunakan kata atau kelompok kata berdasarkan penelitian atau hasil penelitian, berdasarkan sensus, hasil dari pengamatan, berdasarkan data, berdasarkan kenyataan, berdasarkan laporan, survei membuktikan, hasil investigasi, dan lain-lain.

Membuat Parafrasa

Contoh: a. Berdasarkan penelitian, cara berpakaian seseorang dapat menentukan langkah keberhasilan dalam tes wawancara. b. Menurut laporan yang kami terima dari lokasi bencana, para korban gempa bumi sampai saat ini kekurangan makanan dan obat-obatan. Namun, tidak selamanya kalimat faktual atau fakta menggunakan kelompok kata tersebut. Untuk menentukan kalimat faktual yang tidak menggunakan kelompok kata tersebut, Anda dapat menganalisisnya berdasarkan realitas dari pernyataan isi kalimat. Jika pernyataan itu benar adanya, sudah bisa dipastikan bahwa kalimat itu termasuk kalimat faktual atau fakta.

Contoh: a. Tidak dapat disangkal, kenaikan harga sembako menambah penderitaan masyarakat kurang mampu. b. Semangat belajar yang tinggi akan mendorong siswa meraih prestasi yang gemilang. c. Keberadaan handphone (HP), semakin hari terasa kian merebak saja di masyarakat.

Membuat Parafrasa – Perhatikan pula contoh kalimat berikut. a. Harga sayur-sayuran merosot tajam pada musim hujan. b. Apabila pekarangan sebuah rumah rapi, di dalam rumahnya pasti rapi juga. Pernyataan dari kedua kalimat tersebut mengandung kebenaran yang tidak mutlak, tidak benar, atau tidak tepat. Dengan demikian, kalimat tersebut merupakan pendapat. Salah satu cara menentukan atau mencari kalimat pendapat adalah dengan menganalisisnya secara saksama berdasarkan logika atau kenyataan. Secara redaksi kalimat, untuk menentukan atau mencari kalimat pendapat, dapat ditentukan dengan menggunakan kelompok kata menurut pendapat…., diperkirakan, kira-kira, lebih kurang, prediksi, asumsi, dan sekitar. Contoh: a. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, diperkirakan harga- harga barang melonjak tajam. b. Sekitar lima ribu hektar hutan yang terbakar tidak bisa ditanami. c. Badan Metereologi dan Geofisika memprediksi bahwa ombak di Selat Sunda kira-kira dua meter.

3. Mengenal ragam atau laras bahasa

Membuat Parafrasa РDalam kegiatan berbahasa, kita harus mencermati ragam bahasa yang digunakan. Pada saat berbicara dengan orangtua atau guru, tentu ragamnya berbeda apabila berbicara dengan teman atau adik. Demikian pula ragam bahasa di lingkungan terminal akan berbeda dengan ragam bahasa di sekolah. Ragam bahasa untuk meluapkan kegembiraan akan berbeda dengan ragam bahasa pada waktu sedih atau marah. Dengan demikian, ragam bahasa biasanya dipengaruhi oleh dengan siapa, di mana, bagaimana situasi, dan untuk kepentingan apa. Seorang pengguna bahasa tentu harus terampil dalam memilih dan menggunakan ragam bahasa tertentu. Laras atau ragam bahasa berkenaan dengan cara pelafalan bunyi bahasa atau logat bahasa. Ragam bahasa dapat dilihat dari asal daerah penutur, pendidikan penutur, dan sikap penutur. Ra gam bahasa penutur dari satu daerah tertentu akan berbeda dengan penutur dari daerah lainnya. Penutur dari Sunda, Jawa, Batak, Tapanuli, tentu akan memiliki kekhasan ragam bahasa. Ragam bahasa menurut segi pendidikan formal pun akan berbeda. Pelafalan fonem f dan ks, pada kata fakultas, film, fitnah, kompleks yang dikenal dalam ragam bahasa orang yang berpendidikan bervariasi dengan pakultas, pilem, pitnah dan komplek, dalam ragam bahasa yang kurang berpendidikan. Dalam berkomunikasi, dikenal pula ragam atau laras bahasa tulis dan ragam bahasa lisan. Ragam bahasa adalah variasi pemakai an bahasa, baik lisan maupun tulisan. Ragam bahasa lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui lisan atau tuturan. Dalam perwujudannya, ragam bahasa lisan dibantu oleh bahasa tubuh, gerak-gerik, mimik muka, intonasi, dan isyarat. Dengan demikian, walaupun menggunakan kalimat yang tidak sempurna, lawan bicara akan tetap memahami maksudnya.

Ragam bahasa lisan baku diperlukan ketika kita bertutur dalam suasana lingkungan yang resmi, percakapan di dalam rapat, berpidato, pada waktu mengajar, pada waktu berceramah, dan sebagainya. Ragam bahasa tulisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui tulisan. Dalam ragam bahasa tulisan, kejelasan maksud kalimat ditentukan oleh kelengkapan struktur kalimat. Dengan demikian, fungsi subjek, predikat, objek, dan hubungan antara fungsi kalimat harus jelas. Pemakaian ragam bahasa tulis (dalam karangan ilmiah dan karangan sastra), tentu berbeda. Hal itu sesuai dengan tujuan dari karangan itu sendiri. Tujuan karangan ilmiah adalah untuk menyampaikan informasi berupa pengetahuan. Sementara karangan fiksi (sastra) lebih menekankan pada unsur hiburan yang bertujuan menyentuh sendi-sendi batin sehingga menimbulkan nilai rasa bagi para pembacanya. Oleh karena itu, karangan ilmiah menggunakan ragam bahasa yang denotatif atau lugas. Dalam karangan sastra, ragam bahasa yang digunakan adalah kata yang yang mengandung makna luas, makna tambahan, dan memiliki penafsiran yang beragam di samping makna sebenarnya atau makna konotasi. Dengan demikian, ragam bahasa tersebut dapat menggugah imajinasi pembaca.

Membuat Parafrasa dari Teks Tertulis

Membaca merupakan salah satu kegemaran Anda, bukan? Bagaimanakah cara memahami isi wacana yang dibaca? Jawabannya, tentu saja kita harus menemukan ide pokok dalam wacana yang dibaca. Ide pokok dalam sebuah wacana tersebar dalam paragraf. Setiap paragraf mengan dung gagasan utama dan gagasan penjelas. Ide pokok sebuah wacana merupakan kumpulan beberapa gagasan utama. Dengan kata lain, apabila akan mencari ide pokok dalam wacana, pada dasarnya kita sedang mencari gagasan utama. Meringkas pun bisa diartikan menuliskan kembali suatu bacaan bacaan ke dalam bentuk yang lebih singkat atau pendek. Hal ini sebab pada dasarnya ringkasan berisi kumpulan beberapa gagasan utama. Melalui ringkasan, kita dapat mengingat inti wacana lebih lama. Selain itu, jika suatu saat memerlukan informasi dari wacana tersebut, kita dapat memanfaatkan ringkasan yang telah kita tulis. Di samping itu, untuk mengungkapkan isi wacana yang dibaca dapat dilakukan dengan membuat parafrasa. Parafrasa bermakna penguraian kembali suatu wacana atau karangan dalam bentuk susunan kata-kata yang lain dengan maksud untuk dapat mempelajari makna yang tersembunyi. Istilah parafrasa juga bermakna mengubah bentuk karangan dari puisi menjadi prosa.

Teknik atau langkah-langkah dalam memparafrasakan sebuah karangan atau paragraf adalah sebagai berikut. 1. Bacalah bacaan atau wacana tersebut dengan cermat. Hal ini dilakukan supaya Anda memahami makna umum atau isi wacana tersebut. Anda dapat pula memanfaatkan teknik membaca memindai. 2. Teliti dan pahamilah hubungan kata, kelompok kata yang satu dengan kata dan kelompok kata yang lain dan kalimat yang satu dan kalimat yang lain dalam wacana tersebut. 3. Catatlah kata atau ungkapan yang kurang jelas. Kemudian, carilah keterangannya dalam kamus atau ensiklopedia. Makna yang diterangkan dalam kamus pun perlu dipertimbangkan dan dipadankan dengan makna yang akan disalin. 4. Perhatikanlah nada dan suasana penuturan asli. Bentuk bahasa dan kalimat boleh diubah semuanya, tetapi nada dan suasana penuturan hendaknya jangan diubah. 5. Setelah selesai memparafrasakan, bacalah kembali tulisan Anda. Lalu, sesuaikanlah dengan teliti. Jika terdapat halhal yang dirasa kurang sesuai, segera ganti dengan yang lebih tepat.

 

Membuat Parafrasa dari Teks Tertulis Dg Langka-langkahnya | medsis | 4.5