Materi Memberikan Tulisan Kata Persetujuan atau Dukungan

Materi Memberikan Tulisan Kata Persetujuan atau Dukungan

Memberikan Tulisan Kata

Memberikan Tulisan Kata

Memberikan Tulisan Kata – Sekarang, perhatikan kembali bacaan sebelumnya “Pesawat Cerdas Cegah Terorisme”. Dari informasi tersebut, kita dapat merumuskan pokok persoalan di dalamnya.

Apa isunya? Pengembangan teknologi yang mencegah terjadinya terorisme di pesawat. Siapa yang memunculkan? Perusahaan pesawat terbang Boeing. Kapan dimunculkan? Maret 2007 Apa yang menjadi latar belakangnya? Pengeboman WTC 11 September 2001.

Berdasarkan pokok persoalan tersebut, kita dapat memberikan persetujuan/dukungan dengan bukti pendukung (disertai alasan). Untuk memberikan persetujuan, Anda dapat menggunakan kata kunci saya setuju … karena …. Perhatikan contoh berikut

Saya setuju dengan dikembangkannya teknologi pencegah terjadinya terorisme dalam pesawat karena hal itu akan mempersempit ruang bagi teroris untuk melakukan teror. Selain itu, teknologi tersebut akan makin memberikan rasa aman bagi para penumpang.

Memberikan Tulisan Kata – Apakah Anda punya alasan lain dalam menyatakan persetujuan terhadap informasi tersebut? Silakan berikan persetujuan dengan alasan lain yang sesuai dengan pendapat Anda. Berikut ini terdapat informasi sebuah artikel. Bacalah dengan baik.

Kesenjangan Digital

Memberikan Tulisan Kata – Saat ini, ada dua sektor industri yang perkembangannya spektakuler yaitu rokok dan IT. Dalam bidang IT khususnya telekomunikasi. Berbagai rambu-rambu menutup ruang gerak dalam beriklan, baik dalam bentuk pembatasan waktu tayang maupun adanya peringatan berisi ancaman terhadap kesehatan. Namun, produksi rokok terus meningkat. Jutaan linting rokok terus dibakar dan asapnya diisap dalam dalam oleh para penikmatnya. Seiring dengan kepulan asap, uang pun terus mengalir ke pundipundi pemilik pabrik rokok. Tidak heran jika orang terkaya di Indonesia sekarang ini adalah pemilik salah satu merek rokok terkenal. Setali tiga uang, industri telekomunikasi, khususnya seluler, juga menunjukkan performa luar biasa. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan bisnis telekomunikasi sangat fenomenal.

Memberikan Tulisan Kata – Sejak semakin majunya teknologi satelit dan dibukanya perang tarif antaroperator, bisnis telekomunikasi tiba-tiba saja penuh gairah. Hal ini menunjukkan adanya dampak positif. Pertambahan jumlah pelanggan tiap operator pun sangat signifikan. Inilah periode emas di mana jumlah pelanggan mengalami kenaikan secara merata. Jumlah telepon yang semula sulit beranjak dari angka di bawah sepuluh persen, kini sudah mampu melewati angka 30 persen. Dari total penduduk yang mencapai 240 juta jiwa, saat ini jumlah total pengguna telepon di Indonesia mencapai angka 85 juta lebih. Dalam waktu tiga tahun ke depan, diperkirakan jumlah pengguna telepon di Indonesia mencapai setengah dari jumlah penduduk. Ini berarti pengguna telepon mencapai 50 persen. Tentu saja, pencapaian ini memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi secara makro. Di tengah situasi serba suram akan masa depan pertumbuhan ekonomi nasional dan sulitnya meyakinkan investor menanamkan investasi di Indonesia, sektor telekomunikasi justru tampil penuh percaya diri. Saat ini saja sudah ada 10 operator telekomunikasi seluler yang beroperasi di Indonesia. Jumlah yang sebenarnya terlalu banyak untuk sebuah negara berpenduduk 240 juta jiwa. Hebatnya, masih saja ada investor yang berminat untuk ikut bermain di bisnis pulsa ini. Alasannya cukup simpel, dengan jumlah penduduk mencapai 240 juta jiwa, masih ada potensi pasar yang bisa dikembangkan untuk bisnis masa depan. Namun demikian, pencapaian yang dialami oleh sektor telekomunikasi di Indonesia, justru memunculkan kekhawatirkan.

Memberikan Tulisan Kata – Salah satu pihak yang khawatir itu adalah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Prof. Mohammad Nuh. Ketika berkunjung ke Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung, Senin (30/7), Nuh yang juga pakar IT itu, mengungkapkan rasa mirisnya terhadap perkembangan bisnis telekomunikasi di Indonesia. “Bisnis telekomunikasi ini memang luar biasa perkembangannya. Namun, siapa yang menikmatinya? Pihak yang menikmatinya adalah orang asing. Hal ini karena sebagian besar operator telekomunikasi di Indonesia dimiliki pihak asing dengan modal besar. Selain itu, pertumbuhan yang luar biasa itu juga belum diimbangi dengan pemerataan akses dan alih teknologi. Adapun yang kemudian terjadi malah kesenjangan teknologi dan digital,” kata Nuh. Padahal, menurut Nuh, perputaran uang dalam bisnis telekomunikasi di Indonesia terhitung besar, antara Rp50–60 triliun per tahun. Apa yang dikhawatirkan Pak Menteri memang sangat beralasan. Di balik berbagai gemerlap kemajuan di bisnis telekomunikasi dan informatika, ada persoalan serius yang jika dibiarkan bisa menyebabkan bangsa ini masuk paradoks teknologi. Hal itu di satu pihak ada kelompok yang benar-benar menikmati kemewahan teknologi, sementara di pihak lain masih banyak orang yang hidup dalam zaman batu. Dala hal ini, contohnya kian terlihat jelas. Pelaku bisnis telekomunikasi masih lebih mengutamakan daerah perkotaan ketimbang pedesaan. Orang kota pun kian jauh meninggalkan orang desa. Pada gilirannya, sangat mungkin, kesenjang teknologi dan digital bakal mempertajam kesenjangan sosial yang sekarang ini saja sudah menganga lebar.

Kesenjangan digital (digital divide) sangat dirasakan tidak saja dalam kaitan paradoks kota besar dan kecil, kota dan desa, melainkan juga dalam suatu kota, terutama sejak penggunaan internet secara luas dan meningkatnya arus informasi yang sangat dominan, yang didukung platform teknologi dan sistem informasi. Kesenjangan digital juga terkait dengan kesetaraan memperoleh peluang. Menkominfo tidak mau menyebut tingkat kesenjangan digital di Indonesia “sudah tinggi”, tapi lebih tepatnya “sudah sangat sekali”

Menurutnya, kesenjangan digital itu bisa dilihat dari beberapa parameter, yakni IT literacy, penetrasi komputer, harga bandwidth, serta ketersediaan broadband. “Kesenjangan digital di Indonesia itu komplet. Bayangkan saja, jika Anda pergi ke Papua di sana masih ada yang hidup seperti zaman batu, tetapi di Thamrin Jakarta sudah zaman masa kini,” kata Nuh seperti dikutip detiknet. Jadi, masyarakat Indonesia seakan-akan berada dalam satu kapsul, karena di dalamnya terdapat zaman tani, perdagangan, dan zaman informasi. Lantas, bagaimana mengatasinya? Mengandalkan para pelaku bisnis untuk bermurah hati menanamkan investasinya di area-area “kering” memang agak sulit. Bagaimana pun, prinsip dasar pelaku bisnis adalah mencari keuntungan dan laba. Memang, sejauh ini sudah ada program USO (universal service obligation) dan CSR (corporate social responsibility), program yang mewajibkan tiap institusi perusahaan menyisihkan sebagian keuntungannya untuk pengembangan lingkungan dan masyarakat yang tertinggal. Namun, meski program USO dan CSR bisa berjalan pengaruhnya relatif kecil. Adapun kebijakan yang dibutuhkan adalah munculnya keadaan yang mampu memberi stimulus kepada investor. Hal ini dilakukan agar mereka mau mengembangkan usahanya di areaarea yang dinilai “kurang gemuk”. Ini berarti, harus ada insentif khusus dari pemerintah kepada perusahaan yang mau menanamkan investasinya di area yang selama ini dihindari para pelaku bisnis. Menkominfo sendiri tampaknya sudah mengarah ke sana. Menkominfo akan menerapkan insentif khusus, terutama menyangkut kebijakan pricing (harga) dan mengundang investor. Kita tunggu saja perkembangannya.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah bagaimana pemerintah sebagai regulator mampu menciptakan suatu tatanan dan peraturan yang memungkinkan investor lokal memiliki peluang sama dalam penguasaan bisnis telekomunikasi. Sangat mungkin, saat ini proses alih teknologi sudah berlangsung dan para pakar IT kita sudah cukup canggih dalam menguasai segala hal menyangkut bisnis IT. Namun, seluruh keahlian itu menjadi mubazir dan kurang berdaya guna jika kemudian seluruh keputusan pengambilan kebijakan ada di tangan asing. Hal ini karena sebagian besar perusahaan IT yang beroperasi di Indonesia milik investor asing dengan modal yang besar. Berbagai kebijakan itu, tentu saja, tidak dimaksudkan untuk menutup peluang investor asing ke Indonesia, melainkan agar tercipta kesetaraan dan keadilan. Sungguh ironis rasanya jutaan unit handphone dipasarkan di Indonesia, sementara pabriknya ada di Cina. Mungkinkah pemerintah bisa mendorong agar setiap pelaku bisnis telekomunikasi di Indonesia? Entah itu produsen handphone, vendor jaringan, atau content provider, turut memberi kontribusi langsung bagi terciptanya penurunan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan daerah setempat? Misalnya handset suatu hanphone yang dipasarkan di Indonesia pabriknya memang ada di Indonesia?

Sumber: Pikiran Rakyat, 2 Agustus 2007

Setelah membaca artikel tersebut dengan saksama, Anda dapat mengutarakan persetujuan ataupun ketidaksetujuan Anda. Hal ini memerlukan adanya daya kritis Anda dalam menanggapi suatu permasalahan. Sebelum meyampaikan tanggapan, sebaiknya Anda rinci terlebih dahulu pokok-pokok permasalahan dari bacaan tersebut. Hal ini bertujuan agar tanggapan Anda lebih sistematis dan terfokus pada satu tujuan. Jika Anda mengalami kesulitan dalam memahami artikel tersebut, Anda dapat mengulang pembacaannya. Bacalah kembali dengan saksama, jangan sampai ada satu pun informasi yang Anda lewatkan. Pusatkan konsentrasi Anda. Seraplah informasi tersebut dengan baik. Dengan demikian, Anda dapat mengajukan tanggapan disertai dengan argumen atau alasan yang kuat. Jika tanggapan yang Anda ajukan dilandasi oleh alasan yang kuat, artinya Anda telah menguasai materi yang terdapat dalam bacaan tersebut. Hal ini menandakan adanya peningkatan pada diri Anda dalam hal menyerap informasi.

Materi Memberikan Tulisan Kata Persetujuan atau Dukungan | medsis | 4.5