Membaca Tabel dan Grafik Yang Baik dan Benar

Membaca Tabel dan Grafik Yang Baik dan Benar

Membaca Tabel dan Grafik

Membaca Tabel dan Grafik

Membaca Tabel dan Grafik – Di bab terakhir ini (bab dua belas) kalian akan mempelajari bagaimana merangkum data yang terdapat dalam tabel atau grafik melalui topik “Keremajaan”. Selain itu, kalian akan mempelajari bagaimana cara menulis teks pidato dengan benar dengan mempelajari kalimat efektif. Untuk itu, pertama, kalian diajak untuk bisa merangkum seluruh isi informasi dari suatu tabel dan grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai dengan mengungkapkan isi tabel/grafik yang terdapat dalam bacaan ke dalam beberapa kalimat secara lisan atau tertulis, dan menyimpulkan isi tabel/grafik.

Membaca Tabel dan Grafik –  Kedua, kalian akan menyusun teks pidato dengan menentukan langkah-langkah berpidato, menjelaskan cara berpidato yang baik dan benar, dan menyunting teks pidato tulisan teman kalian. Ketiga, kalian diajak untuk bisa membedakan kalimat yang efektif dan kalimat yang tidak efektif. Itu berarti kalian harus dapat memahami kalimat efektif itu seperti apa dan bagaimana membuat kalimat yang efektif. Selamat belajar dan sukseslah selalu.

Membaca Tabel dan Grafik Bacalah wacana berikut dengan saksama! Informasi Kesehatan Reproduksi Masih Terbatas Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak sedikit remaja yang mengalami kasus kesehatan reproduksi atau kespro. Dari yang ringan sampai yang berat. Penyebabnya, informasi tentang kespro masih terbatas. Kesehatan reproduksi remaja (KRR) mulai menjadi isu penting di dunia sejak dibicarakan dalam Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan/ICPD tahun 1994 di Cairo, Mesir. Masyarakat dunia sadar betul bahwa remaja merupakan aset bangsa.

Membaca Tabel dan Grafik – Mereka yang sekarang masih remajalah yang akan menjadi pemimpin bangsanya dalam 20 atau 30 tahun mendatang. Sayangnya enggak sedikit remaja mengalami kasuskasus ke-sehatan reproduksi. Kasus yang mereka alami di antaranya seks sebelum menikah, pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan, aborsi tidak aman, infeksi menular seksual (IMS), dan sebagainya. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan bagi perkembangan mereka sendiri.

Membaca Tabel dan Grafik – Negara kita adalah salah satu peserta aktif dan ikut menandatangani kesepakatan konferensi tersebut. Kini sepuluh tahun setelah konferensi itu berlalu, kondisi kesehatan reproduksi remaja di negeri kita belum mencapai seperti yang diharapkan. Lembaga riset DKT Indonesia mengadakan penelitian tentang perilaku seksual anak muda di empat kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan) pada tahun 2004. Hasil penelitiannya mengungkapkan 16 responden mengaku sudah berpengalaman melakukan hubungan seks di usia 13-15 tahun. Sebanyak 44 persen melakukannya di usia 16-18 tahun.

Membaca Tabel dan Grafik – Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil assessment kebutuhan informasi dan pelayanan KRR yang dilakukan oleh PKBI di Palembang, Singkawang, Cirebon, dan Tasikmalaya (tahun 2001). Hasil assessment tersebut menyebutkan, 16,46 persen dari 1.379 responden mengaku pernah berhubungan seks. Nah, ini baru satu contoh kasus yang terungkap. Anehnya, ada di antara kita atau bahkan orang dewasa masih tidak percaya kalau kasus KRR juga sudah ada di lingkungan kita dan mungkin sudah mengkhawatirkan bagi kita yang tidak remaja ini. Bahkan, kalau ada publikasi tentang temuan kasus-kasus KRR dari lapangan, biasanya menjadi heboh, tidak dipercaya. Lalu lembaga atau individu yang melakukan penelitian tersebut mendapatkan getah pahitnya. Hal ini sudah dialami oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Yogyakarta, PKBI Daerah Bengkulu, dan juga oleh PKBI Cabang Cirebon beberapa tahun lalu. Masyarakat luas sepertinya masih belum siap menerima hasil-hasil penelitian semacam itu. Padahal penelitian tersebut dapat menjadi masukan untuk melakukan tindakan pencegahan maupun pemulihan terhadap kasus-kasus yang ada .

Tentang Pidato 

Peranan Pidato Peranan pidato dalam menyampaikan ide/informasi secara lisan kepada kelompok massa merupakan aktivitas yang sangat penting, baik pada masa lalu maupun pada masa mendatang. Seseorang yang sudah mahir berbicara di depan umum akan dengan mudah menguasai massa dan menawarkan ide-idenya agar dapat diterima orang lain. Presiden pertama RI, Soekarno, dengan kemahirannya berpidato mampu menarik minat pendengar dalam jumlah yang luar biasa besarnya. Dengan kepintarannya, beliau sanggup mempersatukan orang Indonesia yang beraneka ragam budaya, suku, dan agama. Lebih dari itu, beliau sanggup menghimpun kekuatan yang mahadasyat untuk mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Kenyataan menunjukkan seorang siswa yang mahir berbicara di depan umum cenderung memiliki relasi yang luas dengan temantemannya di kelas, sekolah atau masyarakat. Sebaliknya, seorang siswa yang “pendiam” cenderung terbatas pergaulannya.

Langkah-langkah Pidato Kemahiran berpidato diperoleh tidak dengan serta-merta, tetapi harus melalui latihan yang teratur dan berkelanjutan. Agar Anda dapat berpidato dengan baik, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. 1. Menyelidiki pendengar dengan mengajukan pertanyaan, misalnya: siapa pendengarnya, jenis kelamin, pendidikan dan lain-lain. 2. Memilih topik atau tema hendaknya disesuaikan dengan kemampuan diri, mempunyai arti atau kegunaan bagi pendengar dan lain-lain. 3. Mengumpulkan bahan berdasarkan pengalaman, hasil penelitian, imajinasi, buku bacaan, media massa maupun media elektronik. 4. Membuat kerangka pidato, caranya sama dengan membuat kerangka karangan lainnya, yakni: pembuka, isi, dan penutup. 5. Mengembangkan pidato menjadi kerangka pidato. 6. Latihan oral dengan vokal yang tepat, dengan suara yang nyaring. Apabila hal-hal tersebut di atas benar-benar dipersiapkan, pasti tampil lebih percaya diri dan mantap dalam berpidato, khususnya bila kita berpidato secara resmi di depan publik.

Metode Pidato Ada empat metode pidato. 1. Metode impromptu (serta-merta): berpidato tanpa persiapan 2 Metode naskah: dalam berpidato pembicara membaca teks/ naskah yang telah dipersiapkan. 3. Metode hafalan: dalam berpidato, pembicara menyampaikan isi naskah pidato yang telah dihafalkan. 4. Metode ekstemporan (tanpa persiapan naskah): pidato dengan metode ini direncanakan dengan cermat dan dibuat catatancatatan penting yang sekaligus menjadi urutan dalam uraian itu. Anda dapat menggunakan salah satu metode, dengan catatan, metode yang dipilih perlu dipertimbangkan atau disesuaikan dengan situasi serta pendengarnya. Analisis terhadap pendengar perlu mendapat porsi yang sama dengan persiapan diri seorang orator.

Tujuan Pidato Tujuan pidato antara lain: 1. menyampaikan informasi (informatif), 2. menghibur/menyenangkan hati pendengar (rekreatif), 3. meyakinkan pendengar (argumentatif), 4. membujuk/mempengaruhi pendengar (persuasif). Agar pidato Anda dapat menarik minat dan perhatian pendengar perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. kemukakan fakta dengan jelas, 2. gunakan bahasa Indonesia yang baik sehingga mampu membangkitkan minat pendengar terhadap masalah yang kita sampaikan, 3. berbicara secara wajar dan terbuka, 4. sajikan materi dengan lafal dan intonasi yang tepat, 5. gunakan mimik dan gerak-gerik secara wajar.

Rangkuman 

1. Grafik adalah lukisan pasang surut suatu keadaan dengan garis atau gambar. 2. Langkah untuk membaca grafik adalah: (1)membaca judulnya, (2)membaca lajur kanan, kiri, dan bawah yang biasanya berkenaan dengan jumlah, bulan, tahun, dan sebagainya, (3)melihat perbedaan yang mencolok pada data tersebut, baik tertinggi, terendah, ataupun rata-rata, dan (4)menarik kesimpulan dari data yang disampaikan grafik. 3. Tabel adalah sajian data yang dibuat dalam kolom-kolom. 4. Langkah yang untuk membaca tabel adalah: (1)membaca judul tabel, (2)membaca kolom-kolom yang ada di tabel, (3)melihat perbedaan yang mencolok pada data tersebut, baik yang tertinggi, terendah, ataupun rata-rata, dan (4)menarik kesimpulan dari data yang disampaikan dalam tabel. 5. Pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak; atau wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. 6. Ada tiga unsur dalam berpidato, yaitu pembicara, pendengar, dan situasi. 7. Langkah-langkah berpidato adalah: (1)menyelidiki pendengar dengan mengajukan pertanyaan, (2)memilih topik atau tema yang sesuai dengan kemampuan diri, mempunyai arti/kegunaan bagi pendengar, (3)mengumpulkan bahan berdasarkan pengalaman, hasil penelitian, imajinasi, buku bacaan, media massa cetak maupun elektronik, (4)membuat kerangka pidato, (5)mengembangkan pidato menjadi kerangka pidato, dan (6)latihan oral dengan vokal yang tepat dan suara yang nyaring. 8. Ada empat metode pidato, yaitu: – impromptu/spontan/tanpa persiapan, – naskah (membaca teks naskah yang sudah dipersiapkan), – hafalan (menyampaikan isi pidato yang sudah dihafalkan), dan – ekstemporan (tanpa persiapan naskah, paling cuma catatan kecil yang penting dan urutan uraiannya).

8. Tujuan pidato adalah: – menyampaikan informasi (informatif), – menghibur (rekreatif), – meyakinkan (argumentatif), dan – membujuk (persuasif). 9. Kalimat efektif adalah kalimat yang dengan sadar disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik. 10. Kalimat yang tidak efektif adalah kalimat yang tidak dengan jelas menyampaikan pesannya, misalnya subjek kalimat tidak ada atau keterangan tambahannya tidak tepat. 11. Keefektifan kalimat tergantung pada: (1)kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis, (2)keparalelan bentuk bahasa yang dipakai untuk efektivitas tertentu, (3)ketegasan dalam merumuskan pikiran utama, (4)kehematan dalam pilihan kata, dan (5)variasai penggunaan kalimat.

 

Membaca Tabel dan Grafik Yang Baik dan Benar | medsis | 4.5