Memahami Informasi Tertulis Dg Mencatat Isi Pokoknya

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Memahami Informasi Tertulis Dg Mencatat Isi Pokoknya

Memahami Informasi Tertulis

Memahami Informasi Tertulis

Memahami Informasi Tertulis

1. Membaca cepat dan mencatat isi pokok informasi dengan teknik yang benar Sebelumnya, Anda telah berlatih membuat ringkasan dari hasil membaca. Sekarang, Anda akan berlatih membuat catatan tanpa pola khusus. Catatan yang bersifat pribadi tidak mempunyai format khusus sehingga memungkinkan Anda untuk berkreasi. Catatan berfungsi sebagai pengingat hasil membaca untuk keperluan tertentu. Apapun jenisnya, catatan perlu disesuaikan dengan keperluan si pencatat. Catatan diperlukan untuk berbagai kepentingan, misalnya kepentingan sekolah, tugas, niaga, dokumen, bukti hukum, bukti sejarah, dan catatan harian atau biografi. Catatan yang disusun dari hasil membaca, dapat difokuskan pada informasi penting sesuai dengan keperluan, kata-kata asing atau kata yang dianggap asing (apabila hal itu penting untuk diketahui artinya), persoalan yang belum dipahami, kalimat-kalimat yang mengandung petuah, falsafah, dan kalimat yang mengandung katakata mutiara, atau kalimat lainnya yang dianggap paling penting.

Memahami Informasi Tertulis

Nah, untuk menemukan pokok-pokok isi bacaan, Anda da pat menggunakan teknik membaca cepat. Pembelajaran mem baca cepat telah Anda pelajari pada pelajaran yang lalu, bukan? Oleh karena itu, sebaiknya Anda membaca kembali pelajaran tersebut sebelum mempelajari pembelajaran ini.

Memahami Informasi Tertulis

2. Memilih Fakta atau Opini dalam Wacana Sebelumnya, Anda telah belajar tentang fakta dan opini, bukan? Tentu Anda masih ingat dengan pembelajaran tersebut. Kalimat fakta adalah kalimat yang berisi pernyataan tentang sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi yang kebenarannya dapat dibuktikan dengan data. Sementara kalimat pendapat adalah pernyataan yang hanya berdasarkan pemikiran sendiri sehingga kebenarannya tidak mutlak.

3. Mengidentifikasi jenis teks dengan menggunakan teknik membaca cepat Teks atau wacana terdiri atas jenis-jenis berikut.

Memahami Informasi Tertulis

a. Karangan deskripsi Karangan deskripsi merupakan sebuah bentuk tulisan yang bertalian dengan usaha penulis untuk memberikan perincianperincian dari objek yang dibicarakan. Deskripsi juga karangan yang melukiskan sesuatu, menyatakan apa yang diindra, melukiskan perasaan, dan perilaku jiwa dalam wujud kalimat. Berikut ini disajikan contoh karangan deskripsi. Cermatilah dengan baik.

b. Karangan eksposisi Pada dasarnya, karangan eksposisi mengungkapkan metode dan teknik analisis yang harus dapat menjelaskan, menguraikan, atau me nerangkan suatu gagasan kepada pembaca. Cara-cara yang biasa digunakan untuk menyampaikan informasi melalui penyajian karangan eksposisi adalah sebagai berikut.

Memahami Informasi Tertulis

1) Metode identifikasi Metode yang berusaha menyebutkan ciri-ciri atau unsurunsur pengenal suatu objek sehingga para pembaca lebih mengenal objek tersebut. 2) Metode perbandingan Metode yang berusaha membandingkan suatu objek yang digarapnya melalui perbandingan dengan suatu objek lain yang telah dikenal. 3) Metode ilustrasi Metode yang dilakukan dengan cara menjelaskan suatu kaidah yang abstrak dengan membeberkan contoh-contoh konkret. 4) Metode klasifikasi Metode yang dilakukan dengan cara membagi atau mengelompokkan suatu objek ke dalam kelompok tertentu berdasarkan ciri-ciri khusus atau tertentu. 5) Metode definisi Metode yang dilakukan dengan cara membatasi suatu ruang atau hal yang didefinisikan. 6) Metode analisis Metode yang dilakukan dengan cara membagi suatu subjek ke dalam komponen-komponennya. Fakta yang ada dalam karangan eksposisi dipakai hanya sebagai alat untuk mengkonkretkan, yaitu membuat rumusan dan kaidah yang dikemukakan itu lebih konkret.

Memahami Informasi Tertulis

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

d. Karangan Narasi Narasi adalah suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya berupa tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Dengan kata lain, narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca tentang jalannya suatu kejadian. Berdasarkan tujuannya, karangan narasi terdiri atas narasi ekspositoris (teknis) dan narasi sugertif. Narasi ekspositoris adalah karangan narasi yang bertujuan memberi ketepatan informasi mengenai suatu peristiwa yang dideskripsikan. Narasi sugestif adalah yakni karangan yang mengajak pembaca untuk menyimpulkan atau memahami amanat yang terselubung pada suatu objek. Contoh bentuk karangan narasi sugertif adalah cerpen, dongeng, novel (karangan narasi fiksi), biografi, autobiografi, anekdot, sketsa, dan profil (karangan narasi nonfiksi).

Memahami Informasi Tertulis

4. Mengungkapkan gambar, bagan, grafik, atau diagram, secara verbal dan mengubah menjadi nonverbal

Ketika membaca sebuah wacana, Anda sering menemukan gambar, grafik, atau diagram. Penggunaan gambar, bagan, grafik, diagram, ataupun matriks dalam sebuah wacana dimaksudkan untuk lebih mudah dipahami dan mem persingkat penyajian dibandingkan dengan secara verbal. Pada ta taran praktis, pe – nyajian dalam bentuk gambar, grafik, atau diagram, lebih praktis. Akan tetapi, berdasarkan tingkat kekomunikatifannya, penyajian informasi dalam bentuk gambar, grafik, atau diagram dirasa kurang komunikatif. Kekurangan tersebut terjadi karena dalam membaca gambar, bagan, grafik, atau diagram, diperlukan kejelian dan penafsiran yang akurat dari pembaca. Apakah grafik dan tabel itu? Grafik merupakan lukisan atau gambaran pasang surut suatu keadaan dengan menggunakan grafis atau gambar sebagai penjelas keadaan sesuatu tentang naik turunnya hasil atau sesuatu yang diterangkan. Tabel adalah daftar yang berisi ikhtisar data informasi berupa kata-kata dan angka-angka (bilangan) yang tersusun secara bersistem urut ke bawah dalam lajur dan deret sehingga dengan mudah dibaca.

Membaca dan memahami gambar, bagan, grafik, tabel, atau diagram memerlukan ketelitian yang tinggi. Berikut ini pedoman dalam membaca grafik dan tabel. 1. Cermati dan pahamilah judul grafik dan tabel. Judul grafik dan tabel menggambarkan informasi yang ringkas dan jelas. 2. Cermati dan pahamilah angka-angka, garis-garis, dan titik-titik, (simbol-simbol) yang ada dalam grafik dan tabel. Hal ini sebab angka-angka, garis-garis, dan titik-titik tersebut berisi informasi penjelasan tentang persoalan yang disajikan. 3. Cermati dan pahamilah keseluruhan grafik dan tabel dengan cara membacanya secara keseluruhan. Hal ini dilakukan agar kita mendapatkan informasi yang disajikan dan mudah menjelaskan isi grafik atau tabel.

Memilih Kata, Bentuk Kata, dan Ungkapan yang Tepat

1. Menggunakan kata dan ungkapan yang sesuai dengan situasi dan komunikasi secara tepat Pemilihan kata, bentuk kata, dan ungkapan dalam kegiatan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan sangatlah penting. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam memilih dan meng gunakan kata-kata perlu dilakukan dengan cermat. Penggunaan kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat dalam penyampaian informasi (berkomunikasi) akan memperlancar proses komunikasi. Dengan pilihan kata yang tepat, pendengar akan dengan mudah menangkap maksud pembicara. Dalam berbahasa atau bertutur, penutur atau penulis dipenga ruhi oleh unsur emosi berdasarkan tuntutan situasi atau kondisi tertentu, seperti tenang, santai, marah, kecewa, dan situasi lainnya. Tempat dan lawan bicara pun demikian. Di mana dan dengan siapa ia (pembicara) berada (berhadapan) sangat berpengaruh dalam berkomunikasi.

Dapatkah Anda memahami isi teks percakapan tersebut? Bagi Anda yang tinggal di daerah Jakarta, tentu tidak akan mengalami kesulitan dalam memahami isi teks percakapan tersebut. Namun, bagi Anda yang tinggal jauh dari Jakarta, tentu agak kesulitan dalam memahami isi percakapan tersebut. Ragam bahasa yang digunakan dalam teks percakapan tersebut tentu menggunakan ragam lisan dan tidak baku. Dalam bahasa Indonesia dikenal berbagai ragam bahasa. Berikut ini penjelasan mengenai berbagai ragam bahasa.

1. Ragam lisan dan ragam tulis Bahasa Indonesia yang amat luas wilayah pemakaiannya ini dan bermacam-macam pula latar belakang penuturnya, melahirkan sejumlah ragam bahasa. Adanya bermacam-macam ragam bahasa ini sesuai dengan fungsi, kedud ukan, serta lingkungan yang berbeda-beda. Ragam bahasa ini pada pokoknya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu ragam lisan dan tulis. Kedua ragam ini berbeda. Perbedaannya adalah sebagai berikut. a. Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara, sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di depan pembicara. b. Di dalam ragam lisan, unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi. c. Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang “diajak berbicara” mengerti isi tulisan itu. Contoh ragam tulis ialah tulisan-tulisan dalam buku, majalah, dan surat kabar.

d. Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. Adapun ragam tulis tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu. e. Ragam lisan dipengaruhi oleh intonasi, tekanan, nada, irama, dan jeda, sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring. 2. Ragam baku dan ragam tidak baku Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.

3. Ragam baku tulis dan ragam baku lisan Dalam kehidupan berbahasa, kita sudah mengenal ragam lisan dan ragam tulis, ragam baku dan ragam tidak baku. Oleh sebab itu, muncul ragam baku tulis dan ragam baku lisan. Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam bukubuku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya. Sementara, ukuran dan nilai ragam baku lisan bergantung pada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya.

4. Ragam sosial dan ragam fungsional Ragam lisan dan ragam tulis bahasa Indonesia ditandai oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam bahasa yang digunakan dalam keluarga atau persahabatan dua orang yang akrab dapat merupakan ragam sosial tersendiri. Selain itu, ragam sosial tidak jarang dihubungkan dengan tinggi atau rendahnya status kemasyarakatan lingkungan sosial yang bersangkutan. Dalam hal ini, ragam baku nasional dapat pula berfungsi sebagai ragam sosial yang tinggi, sedangkan ragam baku daerah atau ragam sosial yang lain merupakan ragam sosial dengan nilai kemasyarakatan yang rendah. Ragam fungsional, yang kadang-kadang disebut juga ragam profesional adalah ragam bahasa yang berkaitan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya. Dalam kenyataan, ragam fungsional menjelma sebagai bahasa negara dan bahasa teknis keprofesian, seperti bahasa dalam lingkungan keilmuan atau teknologi dan kedokteran.

2. Membedakan pemakaian kata bersinonim Selain mempertimbangkan ragam bahasa, pengguna bahasa sering memanfaatkan kesinoniman kata untuk memilih kata yang tepat. Sebuah kata dikatakan bersinonim dengan kata lainnya apabila kata tersebut bermakna kurang lebih sama dengan kata lainnya. Dengan kata lain, sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Hal itu karena antara dua kata makna leksikalnya mungkin bersinonim, namun makna kontekstual, situasional, struktural, dan metaforisnya belum tentu bersinonim. Umpama nya, kata muka dan wajah adalah dua kata yang bersinonim, bisa, dapat, dan mampu adalah tiga buah kata yang ber sinonim, melihat, menonton, menyaksikan, dan memandang adalah empat buah kata yang bersinonim. Namun, tiap-tiap kata itu memiliki nuansa masing-masing yang dipengaruhi oleh makna kontekstual, situasional, struktural, dan metaforis. Kata wajah dan muka memiliki makna kontekstual dan situasional yang berbeda sehingga pengguna bahasa akan memilih kata tersebut bergantung pada konteks dan situasinya. Begitu juga melihat, menonton, memandang, dan menyaksikan, dan memandang. Keempat kata tersebut memiliki makna leksikal yang sama. Namun, kita lebih tepat menggunakan kata menonton untuk melihat televisi. Di antara keempat kata tersebut, kita juga dapat melihat bahwa kata menyaksikan lebih memiliki nuansa emosional yang tinggi daripada ketiga kata lainnya. Selain itu, kita juga dapat melihat kata mampu, bisa, dan dapat. Di antara ketiga kata tersebut, kata mampu lebih memiliki makna metaforis yang tinggi daripada kedua kata yang lainnya.

Memahami Informasi Tertulis Dg Mencatat Isi Pokoknya | medsis | 4.5