Materi Sisi lain perubahan iklim

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Materi Sisi lain perubahan iklim

Materi Sisi lain perubahan iklim

Materi Sisi lain perubahan iklim

Masalah perubahan iklim di Indonesia biasanya dikaitkan dengan soal penggundulan hutan dan meningkatnya emisi gas rumah kaca kita. Orang Indonesia jarang mendengar sisi lainnya – dampak perubahan iklim global terhadap Indonesia. Kita sudah selalu berhadapan dengan berbagai bencana alam – kemarau panjang, banjir, gempa bumi, tsunami – tetapi kini sebagai akibat dari perubahan iklim, kita akan berhadapan dengan cuaca yang makin tidak menentu dan makin ekstrem, dengan berbagai akibat buruknya, terutama yang dapat menimpa masyarakat kita yang paling miskin.

Apakah perubahan iklim itu, dan apa yang dapat kita lakukan terhadapnya? Laporan ini bermaksud menjelaskan tantangan ke depan, dan menyoroti peluang-peluang untuk beralih ke model pembangunan yang lebih berkelanjutan – yang dapat membantu mengentaskan kemiskinan serta membuat rakyat miskin makin mampu bertahan dan tangguh di tengah peralihan kekuatan alam yang dahsyat. Mengapa iklim berubah? Pertama yang harus jelas lebih dulu adalah bahwa perubahan iklim bukanlah hal baru. Iklim global sudah selalu berubah-ubah. Jutaan tahun yang lalu, sebagian wilayah dunia yang kini lebih hangat, dahulunya merupakan wilayah yang tertutupi oleh es, dan beberapa abad terakhir ini, suhu rata-rata telah naik turun secara musiman, sebagai akibat fluktuasi radiasi matahari, misalnya, atau akibat letusan gunung berapi secara berkala.

Namun, yang baru adalah bahwa perubahan iklim yang ada saat ini dan yang akan datang dapat disebabkan bukan hanya oleh peristiwa alam melainkan lebih karena berbagai aktivitas manusia. Kemajuan pesat pembangunan ekonomi kita memberikan dampak yang serius terhadap iklim dunia, antara lain lewat pembakaran secara besar-besaran batu bara, minyak, dan kayu, misalnya, serta pembabatan hutan. Kerusakannya terutama terjadi melalui produksi ‘gas rumah kaca’, dinamakan demikian karena gas-gas itu memiliki efek yang sama dengan atap sebuah rumah kaca. Gas-gas itu memungkinkan sinar matahari menembus atmosfer bumi sehingga menghangatkan bumi, tetapi gas-gas ini mencegah pemantulan kembali sebagian udara panas ke ruang angkasa. Akibatnya, bumi dan atmosfer, perlahan-lahan memanas .

: Efek rumah kaca – suatu keseimbangan radiasi Ahli pertanian di wilayah yang beriklim sedang yang ingin melindungi tanaman sayur mereka dari udara dingin, menanam sayur mereka di dalam bangunan yang hampir seluruhnya terbuat dari panel kaca – itulah rumah kaca. Pada siang hari ketika sinar matahari menembus kaca, sinarnya meningkatkan suhu di dalam rumah kaca. Udara panas ini tidak segera turun kembali dengan cepat karena radiasi di dalam rumah kaca merupakan jenis radiasi yang berbeda – memiliki gelombang yang lebih panjang – dan terhambat oleh kaca Anda tidak membutuhkan sebuah rumah kaca untuk merasakan efek yang serupa. Setiap ruangan yang tertutup yang memungkinkan sinar matahari menembusnya melalui kaca akan memerangkap udara panas. Begitupun, sebuah mobil yang sudah terjemur di bawah sinar matahari dengan semua jendelanya tertutup rapat akan menyebabkan kemudi menjadi terlalu panas untuk disentuh. Kini kita cenderung menganggap bahwa efek rumah kaca global membahayakan; padahal masalahnya adalah soal seberapa derajat.Tanpa karbon dioksida di udara untuk memerangkap sebagian panas, maka suhu rata-rata bumi akan berkisar -18°C, terlalu dingin bagi kehidupan. Sayangnya, dari masa-masa ketika kita memiliki karbon dioksida yang pas, kita kini sudah menumpuknya secara berlebihan.

Gas rumah kaca utama yang terus meningkat adalah karbon dioksida. Gas ini adalah salah satu gas yang secara alamiah keluar ketika kita menghembuskan napas, juga dihasilkan dari pembakaran batu bara, atau kayu, atau dari penggunaan kendaraan berbahan bakar bensin dan solar. Sebagian dari karbon dioksida ini dapat diserap kembali, antara lain melalui proses ‘fotosintesis’ yang merupakan bagian dari proses pertumbuhan tanaman atau pohon. Namun, kini kebanyakan negara memproduksi karbon dioksida secara jauh lebih cepat ketimbang kecepatan penyerapannya oleh tanaman atau pohon, sehingga konsentrasinya di atmosfer meningkat secara bertahap.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Ada beberapa gas rumah kaca yang lain. Salah satunya adalah metan, yang dapat dihasilkan dari lahan rawa dan sawah serta dari tumpukan sampah dan kotoran ternak. Gas-gas rumah kaca lainnya, meski jumlahnya lebih sedikit, antara lain adalah nitrogen oksida dan sulfur heksaflorida yang umumnya digunakan pada lemari pendingin. Negara-negara di seluruh dunia tanpa henti membuang gas-gas ini dalam jumlah besar ke atmosfer. Negara-negara maju mengeluarkan emisi lebih banyak per kapita, terutama karena mereka memiliki lebih banyak kendaraan atau secara umum membakar lebih banyak bahan bakar fosil, tetapi begitu negara-negara berkembang mulai membangun, mereka juga lalu menyusul dalam sumbangan emisi gas-gas ini. Lepas dari siapapun yang memproduksi gas itu, seluruh warga dunia terkena efeknya. Bumi dan atmosfer kita hanya ada satu: emisi tiap negara memperparah krisis dunia kita. Masalahnya menjadi lebih parah karena kita sudah banyak kehilangan pohon yang dapat menyerap karbon dioksida. Brazil, Indonesia, dan banyak negara lain sudah menggunduli jutaan hektar hutan dan merusak lahan rawa.Tindakan ini tidak saja menghasilkan karbon dioksida dengan terbakarnya pohon dan vegetasi lain atau dengan mengeringnya gambut di daerah rawa, tetapi juga mengurangi jumlah pohon dan tanaman yang menggunakan karbon dioksida dalam fotosintesis – yang dapat berfungsi sebagai ‘rosotan’ (sinks) karbon, suatu proses yang disebut sebagai ‘penyerapan’ (sequestration). Kehancuran hutan Indonesia berlangsung makin cepat saja – yaitu dari 600.000 hektar per tahun pada tahun 1980an menjadi sekitar 1.6 juta hektar per tahun di penghujung tahun 1990an. Akibatnya, tutupan hutan menurun secara tajam – dari 129 juta hektar pada tahun 1990 menjadi 82 juta di tahun 2000, dan diproyeksikan menjadi 68 juta hektar di tahun 2008, sehingga kini setiap tahun Indonesia semakin mengalami penurunan daya serap karbon dioksida. Dengan meningkatnya emisi dan berkurangnya penyerapan, tingkat gas rumah kaca di atmosfer kini menjadi lebih tinggi ketimbang yang pernah terjadi di dalam catatan sejarah. Badan dunia yang bertugas memonitor isu ini Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) telah memperkirakan bahwa antara tahun 1750 dan 2005 konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat dari sekitar 280 ppm (parts per million) menjadi 379 ppm per tahun dan sejak itu terus meningkat dengan kecepatan 1,9 ppm per tahun. Akibatnya, pada tahun 2100 nanti suhu global dapat naik antara 1,8 hingga 2,9 derajat.

Dampak pemanasan global terhadap Indonesia

Kenaikan suhu itu mungkin tidak terlihat terlalu tinggi, tetapi di negara tertentu seperti Indonesia, kenaikan itu dapat memberikan dampak yang parah dan terutama pada penduduk yang paling miskin. Seperti apa persisnya yang akan terjadi sulit diperkirakan. Iklim global merupakan suatu sistem yang rumit dan pemanasan global akan berinteraksi dengan berbagai pengaruh lainnya, tetapi tampaknya di Indonesia perubahan ini akan makin memperparah berbagai masalah iklim yang sudah ada. Kita sudah begitu rentan terhadap begitu banyak ancaman yang berkaitan dengan iklim seperti banjir, kemarau panjang, angin kencang, longsor, dan kebakaran hutan (Diagram 1). Kini semua itu dapatbertambah sering dan bertambah parah.

Salah satu pengaruh utama iklim di Indonesia adalah ‘El Niño-Southern Oscillation’ yang setiap beberapa tahun memicu berbagai peristiwa cuaca ekstrem kita. El Niño berkaitan dengan berbagai perubahan arus laut di Samudera Pasifik yang menyebabkan air laut menjadi luar biasa hangat. Kejadian sebaliknya, arus menjadi amat dingin, yang disebut La Niña. Yang terkait dengan peristiwa ini adalah ‘Osilasi Selatan’ (Southern Oscillation) yaitu perubahan tekanan atmosfer di belahan dunia sebelah selatan. Perpaduan seluruh fenomena inilah yang dinamakan El Niño-Southern Oscillation atau disingkat ENSO. Pada saat terjadi El Niño, kita biasanya lebih sering mengalami kemarau. Ketika terjadi La Niña kita lebih sering dilanda banjir. Dalam kurun waktu 1844-2006, dari 43 kemarau panjang, sebanyak 37 kali berkaitan dengan El Niño. ENSO ini adalah juga salah satu faktor utama meningkatnya kekerapan kebakaran besar hutan dan terbentuknya kabut asap di atmosfer yang menyesakkan napas. Bahaya lain yang berkaitan dengan iklim di Indonesia adalah lokasi dan pergerakan siklon tropis di wilayah selatan timur Samudera India (Januari sampai April) dan sebelah timur samudera Pasifik (Mei sampai Desember). Di beberapa wilayah Indonesia hal ini dapat menyebabkan angin kencang dan curah hujan tinggi yang dapat berlangsung hingga berjam-jam atau berhari-hari. Angin kencang juga sering terjadi selama peralihan angin munson (angin musim hujan) dari arah timur laut ke barat daya. Selama tahun-tahun terakhir ini, berbagai peristiwa iklim ekstrem ini menjadi lebih sering dan dampak yang ditimbulkannya menjadi lebih parah (Diagram 2). Dalam kurun waktu tahun 1844 dan 1960 kemarau panjang terjadi rata-rata setiap empat tahun, tetapi antara tahun 1961 dan 2006 meningkat menjadi setiap tiga tahun.2 Banjir juga makin sering melanda. Dalam kurun waktu 2001-2004, telah dilaporkan sekitar 530 kali banjir, yang melanda hampir di seluruh provinsi (Diagram 3). Tingkat kerusakannya juga meningkat. Kejadian El Niño 1997-1998 adalah yang paling parah selama 50 tahun; tahun 1998 memang merupakan tahun terpanas dalam abad dua puluh ini.

Makin seringnya kejadian El Niño ini bertepatan dengan berlangsungnya pemanasan global. Data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa sepuluh kejadian El-Niño paling parah terjadi setelah tahun 1970 an – ketika pemanasan global mulai berlangsung makin cepat. Apakah berbagai perubahan yang kita alami sekarang ini akibat El Niño, ataukah sebagai efek rumah kaca, atau paduan keduanya, yang jelas Indonesia sudah mengalami perubahan iklim – dan bahwa konsekuensinya dapat dirasakan oleh generasi sekarang dan mendatang. Beberapa hal yang dapat kita perkirakan adalah: Perubahan musim dan curah hujan – Dalam beberapa tahun ini para petani di desa-desa di pulau Jawa sudah membicarakan mengenai musim yang tidak normal. Kearifan kuno petani padi mengenai urut-urutan musim tanam, pranata mangsa di Jawa, Palontara di Sulawesi Selatan, dan banyak kearifan lainnya sudah dikacaukan oleh perubahan iklim. Di sebagian besar wilayah di Sumatera selama kurun waktu 1960-1990 dan 1991-2003, awal musim hujan kini menjadi terlambat 10 hingga 20 hari dan awal kemarau menjadi terlambat 10 hingga 60 hari. Berbagai pergeseran serupa juga sudah dirasakan di pulau Jawa. Pola-pola ini berpeluang untuk berlanjut. Di masa akan datang, sebagian wilayah Indonesia, terutama wilayah yang terletak di sebelah selatan katulistiwa, dapat mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan musim hujan yang lebih pendek tetapi dengan curah yang lebih tinggi dengan tipe perubahan dalam pola seperti yang digambarkan dalam Diagram 4. Di samping itu, iklim juga kemungkinan akan menjadi makin berubah-ubah, dengan makin seringnya curah hujan yang tidak menentu. Suhu yang lebih tinggi juga dapat mengeringkan tanah, mengurangi sumber air tanah, mendegradasi lahan, dan dalam beberapa kasus dapat mengakibatkan penggurunan.

Kejadian cuaca yang lebih ekstrem – Kita akan mengalami badai pesisir yang lebih sering dan lebih dahsyat, serta kemarau panjang dan curah hujan tinggi yang dapat memicu longsor. Kenaikan muka air laut – Sebagai akibat dari muainya air laut dan melelehnya gletser dan lapisan es di kutub, pemanasan global dapat menyebabkan naiknya muka air laut antara 9 hingga100 cm. Kenaikan ini akan mempercepat erosi di wilayah pesisir, memicu intrusi air laut ke air tanah, merusak lahan rawa di pesisir, dan menenggelamkan pulau-pulau kecil. Kenaikan suhu air laut – Air laut yang lebih hangat dapat mencegah perkembangbiakan plankton dan mengurangi ketersediaan makanan ikan. Beberapa spesies ikan kemungkinan akan bermigrasi ke wilayah lain yang menawarkan kondisi suhu dan makanan yang lebih baik. Suhu lebih tinggi juga dapat merusak atau ‘memutihkan’ terumbu karang. Kenaikan suhu udara – Ini akan mengubah pola-pola vegetasi, dan juga penyebaran serangga seperti nyamuk yang akan mampu bertahan di wilayah-wilayah yang sebelumnya terlalu dingin untuk perkembangbiakan mereka.

Materi Sisi lain perubahan iklim | medsis | 4.5