Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita

Latar Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat – Apakah Anda memiliki peranan aktif dalam masyarakat? Anda dapat memanfaatkan kemampuan menulis untuk berperan serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, Anda dapat mengungkapkan gagasan-gagasan yang dimiliki dalam bentuk tulisan informatif. Paragraf argumentatif merupakan salah satu sumber informasi yang berawal dari sebuah gagasan. Dalam pelajaran ini, Anda dapat berlatih menulis paragraf argumentatif. Selain itu, Anda pun akan berlatih memahami sumber informasi lainnya, antara lain cerita rakyat dan grafik. Pada pembelajaran membaca grafik, Anda akan berlatih merangkum informasi yang ada dalam grafik tersebut. Sementara itu, dalam bidang sastra Anda akan berlatih menganalisis halhal menarik yang berkaitan dengan latar dalam cerita rakyat. Adapun bentuk penyajian cerita rakyat tersebut dapat berupa bacaan ataupun rekaman. Dengan begitu, Anda akan semakin jeli dalam memahami hal-hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra.

Latar Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat

Mengidentifikasi Latar  Cerita Rakyat

Latar Cerita Rakyat – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih mengidentifikasi latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung. Anda akan menganalisis unsur-unsur pembangunnya, kemudian Anda susun sinopsisnya. Dengan demikian, pengetahuan Anda seputar cerita rakyat akan bertambah. Anda pun akan semakin menghargai kebudayaan bangsa.

Dalam pelajaran 9, Anda telah belajar membaca cerita rakyat. Sekarang, Anda akan melanjutkan pelajaran tersebut. Dalam pelajaran sebelumnya, Anda telah mengenal karakteristik cerita rakyat dan unsur-unsur intrinsik dalam cerita rakyat. Sebaiknya, Anda baca kembali pelajaran tersebut karena materi yang dipelajari juga akan dipelajar sekarang ini. Dalam pelajaran ini, Anda juga akan berlatih mengidentifikasi karakteristik cerita rakyat yang didengarkan; menentukan isi dan atau amanat yang terdapat dalam cerita rakyat; membandingkan nilai-nilai dalam cerita rakyat dengan nilai-nilai masa kini dengan menggunakan kalimat yang efektif; dan mengungkapkan kembali cerita rakyat dalam bentuk sinopsis. Namun, jika sebelumnya Anda belajar menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat, sekarang Anda belajar menemukan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat. Anda telah menemukan hal-hal menarik tentang tokoh cerita rakyat “Raden Sandhi”. Sekarang, temukanlah hal-hal menarik tentang latar cerita rakyat tersebut. Hal-hal menarik tentang latar tersebut dapat berupa latar tempat, latar waktu, atau keadaan terjadinya peristiwa dalam cerita rakyat tersebut. Misalnya, tentang kemistikan daerah Paloh. Selanjutnya, mintalah salah seorang temanmu untuk membacakan cerita rakyat berikut di depan kelas. Teman-teman yang lainnya mendengarkan dengan baik.

Asal Mula Terjadinya Burung Ruai

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Latar Cerita Rakyat – Konon, pada zaman dahulu, di daerah Kabupaten Sambas, tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura, Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan. Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama “Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan sakti. Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri. Raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau si bungsu. Si bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak-kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan si bungsu. Keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain-main.

Latar Cerita Rakyat – Dengan kedua latar belakang inilah, sang ayah (raja) menjadi pilih kasih terhadap putri-putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak si bungsu dimarahi oleh ayahnya, sedangkan si bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah, keenam kakak si bungsu menjadi dendam. Mereka bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri. Apabila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada si bungsu dengan memukul habis-habisan tanpa ada rasa kasihan. Tubuh si bungsu pun menjadi kebiru-biruan. Karena takut dipukuli lagi, si bungsu menjadi takut dengan kakaknya. Untuk itu, segala hal yang diperintahkan kakaknya, mau tidak mau si bungsu harus menurut. Ia harus mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, sibungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan si bungsu sendirian sementara keenam orang kakaknya hanya bersenda gurau. Sekali waktu, pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu, terhadap si bungsu diketahui oleh sang raja (ayah) dengan melihat badan (tubuh) si bungsu yang biru karena habis dipukul. Ia takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah.Jika sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa si bungsu kepada keenam kakaknya, mereka membuat alasan-alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa-apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan si bungsu biru karena si bungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percaya terhadap cerita dari sang kakak, sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud. Begitulah kehidupan si bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya. Meskipun demikian, si bungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya. Kadang-kadang, si bungsu menangis tersedu-sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan. Setelah mengalami hari-hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan di antara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak (putrinya) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pula, diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada si bungsu. Hal yang penting jika sang raja tidak ada di tempat, masalah-masalah yang berhubungan dengan kerajaan (pemerintahan) harus mohon (minta) petunjuk terlebih dahulu dari si bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing-masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Timbullah dalam hati masing-masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada si bungsu, bukan kepada mereka. Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Pada keesokan harinya, berangkatlah pasukan sang raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya. Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Sampai tibalah saatnya, yaitu saatsaat yang dinantikan oleh keenam kakaknya si bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya. Mereka ingin memusnahkan si bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu si bungsu harus dibunuh.

Latar Cerita Rakyat – Tanda-tanda ini diketahui oleh si bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari. Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya, rencana pun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil si bungsu. Apakah yang di-lakukannya? Ternyata, keenam kakaknya mengajak si bungsu untuk mencari ikan (menangguk) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur (oval). Karena sangat gembira kakaknya mau berteman lagi dengannya, si bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal, dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap si bungsu, tetapi si bungsu tidak menduga hal itu sama sekali. Tanpa berpikir panjang lagi, berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu. Mereka masing-masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju (lokasi menangguk), yaitu gua batu. Si bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua kemudian diikuti oleh keenam kakaknya. Setelah mereka masuk, si bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya. Si bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua. Adapun keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya si bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak-bahak sebab si bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat si bungsu menjadi betul-betul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian, keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa si bungsu dan pada akhirnya si bungsu pun tersesat. Merasa bahwa si bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut. Ia duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya. Si bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satu pun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang ke sana ke mari.

Bagaimana nasib si bungsu? Tanpa terasa si bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya. Namun, ia masih belum bisa untuk pulang. Pada hari ketujuh, si bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka-sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu. Suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut. Si bungsu pun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya. Pada saat itu ,dengan disertai bunyi yang menggelegar, muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan si bungsu. Si bungsu pun terkejut melihatnya. Tidak lama kemudian, kakek itu berkata, “Sedang apa kamu di sini cucuku ?”, lalu si bungsu pun menjawab,” Hamba ditinggalkan oleh kakak-kakak hamba, Kek!” Si bungsu pun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar.

Tanpa diduga-duga, pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut, titik-titik air mata si bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya.Si bungsu pun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, “Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama Burung Ruai. Apabila aku telah hilang dari pandanganmu, eramlah telur-telur itu supaya jadi burung-burung sebagai temanmu!”. Kemudian secara tiba-tiba si bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek … kwek … kwek … kwek …. kwek. Bersamaan dengan itu, kakek sakti menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal si bungsu dahulu, dengan bersuara kwek … kwek …. kwek … kwek …. kwek. Mereka menyaksikan kakak-kakak si bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh si bungsu. Sumber: www.sambas.go.id

 

Tentang Mengidentifikasi Latar Cerita Rakyat dan Unsur Cerita | medsis | 4.5