Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi

Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi

Menulis Puisi Lama – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih meningkatkan kemampuan dalam menulis. Kali ini, Anda akan menulis puisi lama. Agar lebih memahami karakteristik puisi lama, Anda akan mempelajari terlebih dahulu contoh-contoh puisi lama. Anda pun akan mempelajari berbagai bentuk karya puisi lama. Diharapkan, kemampuan Anda akan semakin terasah.

Pernahkah Anda membaca puisi lama? Puisi yang lahir di tengah masyarakat mengalami perkembangan hingga zaman sekarang. Namun, kita juga harus memahami bahwa puisi yang ada sekarang tidak terlepas dari puisi masa lampau atau biasa kita sebut puisi lama. Salah satu puisi lama yang mungkin Anda kenal sekarang adalah pantun. Sekarang, dapatkah Anda membedakan antara pantun dengan puisi? Anda dapat memahaminya lewat bait, irama, dan rima. Bait dalam puisi merupakan syarat-syarat yang berlaku untuk jenis puisi tersebut. Jumlah bait menyangkut jumlah kata dan larik dalam puisi. Hal inilah yang menjadi ciri utama dari karya puisi lama. Selanjutnya, rima merupakan bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Adapun irama menyangkut paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas. Irama mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan puisi.

Langkah Tentang Menulis Puisi Lama

Langkah Tentang Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih memahami dan menulis puisi dengan mengetahui ciri-ciri puisi lama. Salah satu puisi lama adalah pantun. Pantun sudah ada sejak zaman dahulu kala. Pantun merupakan puisi lama yang biasanya dipakai masayarakat untuk menyampaikan sesuatu. Pantun memilki ciri-ciri tertentu yang terkait dengan kaidah bait, rima, dan irama. Agar lebih jelas, perhatikan ciri-ciri pantun berikut. 1. memiliki 4 baris, di mana dua baris berisi sampiran dan dua baris lagi merupakan isi; 2. antara baris ke-1, 2, 3, dan 4 berpola a,b,a,b; 3. setiap baris terdiri antara 8 sampai 9 suku kata; 4. setiap baris terdiri atas 4 kata. Agar lebih jelas, perhatikanlah bagian-bagian pantun berikut.

Kata 1 Kata 2 Kata 3 Kata 4

Baris ke-1 Kalaulah aku punya jimat (a) …Sampiran Baris ke-2 tentulah aku pandai berburu (b) …Sampiran Baris ke-3 Kamu pasti murid selamat (a) … Isi Baris ke-4 dengan patuhi perintah guru (b) … Isi

Adapun untuk menghitung jumlah kata, Anda dapat memenggal suku kata yang ada dalam pantun tersebut. Jumlah suku kata dalam pantun terdiri atas 8-10 suku kata. Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah pemenggalan suku kata pada pantun berikut.

Ka-lau-lah/ a-ku/ pu-nya / ji-mat ….. 9 suku kata ten-tu-lah / a-ku / pan-dai/ ber-bu-ru …. 10 suku kata ka-mu- / pas-ti/ mu-rid/ se-la-mat ….. 9 suku kata de-ngan/ pa-tu-hi/ pe-rin-tah/ gu-ru … 10 suku kata

Dari isinya, pantun dibedakan dalam beberapa macam, yakni pantun anak-anak, pantun nasihat, dan pantun muda-mudi. Selain pantun, karya sastra puisi lama adalah talibun, seloka, gurindam, syair, dan karmina.

1. Talibun Talibun termasuk pantun juga, tetapi memiliki jumlah baris tiap bait lebih dari empat baris. Misalnya enam, delapan, sepuluh. Talibun juga mempunyai sampiran dan isi. Contoh:

Kalau pandai berkain panjang, ——- sampiran lebih baik kain sarung ———- sampiran jika pandai memakainya ———- sampiran Kalau pandai berinduk semang ———- isi lebih umpama bundang kandung, ———- isi jika pandai membawakannya ——- isi

2. Seloka Seloka disebut pula pantun berbingkai. Kalimat pada baris ke-2 dan ke-4 pada bait pertama diulang kembali pengucapannya pada kalimat ke-1 dan ke-3 pada bait kedua. Contoh:

Pasang berdua bunyikan tabuh ———- baris 1 Anak gadis berkain merah ————— baris 2 Supaya cedera jangan tumbuh ———- baris 3 Mulut manis kecindan murah ———- baris 4

3. Gurindam Gurindam terdiri atas dua baris dalam setiap bait. Kedua baris itu berupa isi, berumus a-a, dan merupakan nasihat atau sindiran. Pengarang gurindam yang terkenal, yaitu Raja Ali Haji yang mengarang Gurindam Dua Belas. Contoh:

Gurindam Pasal 9  Raja Ali Haji, sastrawan pengarang Gurindam Dua Belas Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan Bukannya manusia itulah syaitan Kejahatan seorang perempuan tua Itulah iblis punya penggawa Kepada segala hamba-hamba raja Di situlah syaitan tempatnya manja

4. Syair Menurut para ahli, syair masuk ke Indonesia (Melayu) bersamaan dengan masuknya agama Islam. Bentuk syair paling tua dalam sejarah kesusastraan Indonesia adalah sebuah syair berbentuk doa yang tertera di sebuah nisan raja di Minye Tujoh, Aceh. Syair tersebut menggunakan bahasa campuran, yaitu bahasa Melayu Kuno, Sanskerta, dan Arab. Ciri-ciri syair adalah sebagai berikut: a. terdiri atas empat larik (baris) tiap bait; b. setiap bait memberi arti sebagai satu kesatuan; c. semua baris merupakan isi (dalam syair tidak ada sampiran); d. sajak akhir tiap baris selalu sama (aa-aa); e. jumlah suku kata tiap baris hampir sama (biasanya 8–12 suku kata); f. isi syair berupa nasihat, petuah, dongeng, atau cerita. Contoh: Diriku hina amatlah malang Padi ditanam tumbuhlah lalang Puyuh di sangkar jadi belalang Ayam ditambat disambar elang

5. Karmina Bentuk karmina seperti pantun, tetapi barisnya pendek, yaitu hanya terdiri atas dua baris. Dengan demikian, karmina sering disebut sebagai pantun kilat atau pantun singkat. Karmina biasanya digunakan untuk menyampaikan suatu sindirian ataupun ungkapan secara langsung.

Adapun ciri-ciri karmina adalah sebagai berikut: a. memiliki larik sampiran (satu larik pertama); b. memiliki jeda larik yang ditandai oleh koma (,); c. bersajak lurus (a-a); d. larik kedua merupakan isi (biasanya berupa sindiran). Contoh:

Dahulu parang, sekarang besi Dahulu sayang, sekarang benci Banyak udang, banyak garam Banyak orang, banyak ragam Sudah gaharu, cendana pula Sudah tahu, bertanya pula

Info Bahasa Menulis Puisi Lama

Dalam kesusastraan Indonesia, syair banyak digunakan sebagai penggubah cerita atau mengungkapkan suatu kisah. Selain untuk menggubah cerita, syair juga digunakan sebagai media untuk mencatat kejadian dan sebagai media dakwah. Contoh: 1. Syair yang berisi cerita: Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan, Syair Yatim Nestapa, Syair Panji Semirang, Syair Putri Hijau, Syair Anggun Cik Tunggal, Syair Raja Mambangjauhari, Syair Putri Naga, dan Syair Pangeran Hasyim. 2. Syair yang mengisahkan kejadian: Syair Perang Banjarmasin, Syair Singapura Dimakan Api, Syair Perang Menteng, dan Syair Spilman. 3. Syair yang berisi ajaran agama: Syair Ibadat, Syair Injil, Syair Kiamat, dan Syair Perahu. Syair tertulis yang tergolong tua adalah karya-karya Hamzah Fansuri, seorang penyair mistik dari Aceh pada abad ke-17. Karya-karyanya antara lain Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir. Syair karya Hamzah Fansuri yang terkenal dalam kesusastraan Indonesia (Melayu) klasik adalah Syair Perahu yang merupakan puisi sufistik yang pertama dalam kesusastraan Indonesia. Karena isi Syair Perahu dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, Raja Aceh memerintahkan para petugas istana agar membakar syair itu. Namun, beberapa di antaranya ada yang lolos dari pemusnahan. Syair yang lolos inilah yang bisa kita warisi sampai sekarang. Sumber: Mengenal Pantun dan Puisi Lama, 2007

Sastrawan dan Karyanya – Menulis Puisi Lama

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, 1808–Riau, 1873) adalah ulama, sejarawan, pujangga, dan terutama pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kerajaan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis. Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu kamus logat Melayu-Johor-PahangRiau-Lingga penggal yang pertama merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga” tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dikatakan menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan. Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada tahun 2006. Jika Anda ingin lebih mengetahui tentang profil Raja Ali Haji, Anda dapat mengakses situs www.id.wikipedia.org.

Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi | medsis | 4.5