Kesusastraan Menulis Paragraf Narasi Yang Baik dan Benar

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Kesusastraan Menulis Paragraf Narasi Yang Baik dan Benar

kesusastraan – Kemampuan berbicara merupakan sesuatu yang harus diasah. Dengan melatih kemampuan bicara, Anda akan mudah menyampaikan suatu informasi kepada orang lain. Sama halnya dengan berbicara, kemampuan menulis dan mendengar pun harus terus diasah dengan cara berlatih. Dalam pelajaran ini, Anda akan belajar memperkenalkan diri dan orang lain dengan penggunaan intonasi yang tepat. Anda pun akan mempelajari menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif. Kegiatan lain yang akan Anda pelajari adalah mengungkapkan isi puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman.

kesusastraan

Kesusastraan

Kesusastraan

Memperkenalkan Diri dan Orang Lain

kesusastraan – Dalam kegiatan diskusi atau seminar sastra, Anda dapat melihat seorang moderator memimpin jalannya diskusi. Sebelum memulai pemaparan materi, biasanya moderator memper kenal kan para pembicara terlebih dahulu. Nah, apakah Anda mengetahui tokoh yang biasa bertindak sebagai moderator? Selain moderator, pembawa acara televisi pun biasanya memperkenalkan diri. Ia juga memperkenalkan orang-orang yang mengikuti acara tersebut, misalnya pada acara kuis, pertunjukan, dan per lombaan. Saat memperkenalkan diri atau orang lain, kalimat yang Anda ucapkan harus lancar dengan memerhatikan intonasi. Jangan sampai intonasinya terkesan monoton. Artinya, ketika menjadi moderator atau pembawa acara, Anda harus tampil menarik sehingga terjalin komunikasi yang baik dengan peserta. Perhatikanlah contoh kalimat perkenalan dalam acara diskusi berikut.

kesusastraan – ”Hadirin yang berbahagia, perkenalkan nama saya Tirta. Saya akan memandu jalannya diskusi hari ini. Tema diskusi saat ini adalah ”Perkembangan Cerita Pendek Indonesia dan Permasalahannya”. Di samping saya telah hadir seorang pembicara. Ia me rupa kan salah seorang cerpenis muda Indonesia. Ia adalah Agus Noor. Ia lahir di daerah Tegal, Jawa Tengah pada 26 Juni 1969. Selain menulis cerita pendek, ia juga me nulis esai sastra. Karya-karyanya sudah tersebar di be berapa media cetak, di antaranya Horison, Kompas, dan Jawa Pos. Cerpen-cerpennya terkumpul dalam buku Bapak Presiden yang Terhormat (1999), Memorabilia (2000), dan Selingkuh itu Indah (2001). Hadirin yang berbahagia untuk mengefektifkan waktu, Anda langsung saja pada acara pokok. Saya persilakan Mas Agus Noor memaparkan materinya.”

kesusastraan – Kalimat tersebut jika diungkapkan secara lisan, tentu saja tidak akan tampak lurus. Di dalam kalimat tersebut terjadi jedajeda pengucapan bahasa sehingga maknanya menjadi jelas dan logis. Misalnya, jeda-jeda yang tersirat dalam kalimat perkenalan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.

“Hadirin yang berbahagia//perkenalkan nama saya// Tirta/Saya akan memandu jalannya diskusi kali ini/Tema diskusi adalah//”Perkembangan Cerita Pendek Indonesia dan Permasalahannya/”Di samping saya telah hadir seorang pembicara//ia merupakan salah seorang cerpenis muda Indonesia/

Ket : // : Intonasi pendek atau belum final(setara koma (,)) / : Intonasi panjang atau final (setara titik(.))

kesusastraan – Penempatan jeda tersebut harus tepat. Setiap kesalahan pemberian tekanan penghentian akan mengakibatkan ketidaklogisan pengucapan kalimat. Hal itu dapat melahirkan ke salahan atau penyimpangan maksud. Berdasarkan contoh dan penjelasan tersebut, Anda dapat membedakan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan. Dalam ragam bahasa tulis, unsur-unsur ekspresi, intonasi, nada, dan gerak-gerik tidak tampak. Sementara itu, dalam ragam lisan, semua unsur tersebut muncul dan mendukung terhadap pemahaman maksud yang ingin disampaikan.

Mengungkapkan 1si Puisi yang Didengarkan

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Pernahkah Anda mendengarkan pembacaan puisi? Dalam acara-acara tertentu, puisi sering dibacakan untuk menggugah perasaan. Misalnya, pada acara penggalangan dana ke manusiaan atau peluncuran buku kumpulan puisi. Nah, kali ini Anda akan belajar mendengarkan pembacaan puisi. Ada hal yang berbeda ketika membaca teks dengan mem baca puisi. Ketika membaca teks, Anda tidak perlu membacanya dengan berbagai ekspresi. Sementara itu, ketika membaca puisi diperlukan ekspresi terhadap isi yang Anda baca. Selain itu, Anda pun dapat menerapkan membaca secara cepat dan memahaminya dengan cepat pula seperti membaca teks.

Akan tetapi, hal ini dilakukan sebelum membacakan puisi. Hal ini bertujuan untuk memahami puisi tersebut, sebelum Anda membacanya. Dengan begitu, Anda pun akan membacakan puisi dengan penuh penghayatan karena telah memahaminya ter lebih dahulu. Puisi merupakan karya sastra yang dominan dengan pilihan kata (diksi) yang indah dan berirama. Keindahan puisi terletak pada pemakaian diksi yang mewakili dan menginspirasikan sebuah gagasan kehidupan secara universal. Pemakaian diksi tersebut tentunya disesuaikan dengan tema. Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama pengucapan. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan, dapat dipastikan puisinya ber tema ketuhanan. Jika desakan yang kuat berupa rasa belas kasih atau kemanusiaan, puisi itu bertema ke manusiaan. Jika yang kuat adalah dorongan untuk mem rotes ketidakadilan, puisi tersebut.

bertema protes atau kritik sosial. Perasaan cinta atau patah hati yang kuat juga dapat melahirkan tema-tema cinta dalam puisi. Selain tema, Anda pun dapat memahami makna dan pesan dalam puisi. Biasanya makna dan pesan ini tersirat. Anda dapat memahaminya jika telah membaca atau mendengarkan secara keseluruhan.

Selamat Tinggal Karya Chairil Anwar Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Ku dengar seru menderu —dalam hatiku?— Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah…!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal…!! Selamat tinggal …!! 

Setelah mendengarkan pembacaan puisi tersebut, dapatkah Anda memahami temanya? Jika Anda perhatikan, puisi tersebut bercerita tentang diri sendiri, penggalian masalah pribadi, dan kesadaran akan kejelekan serta kekurangan diri manusia sebagai pribadi. Di samping itu, “si aku” juga me ngemuka kan bahwa dalam diri manusia itu banyak sekali per soalan yang harus dihadapi. Jika dirasakan sungguhsungguh, seolah-olah bergemuruh. Akan tetapi, “si aku” tidak berusaha merumuskan persoalan apa yang sedang dihadapinya. Persoalan itu dirumuskan secara umum: muka penuh luka, siapa punya, suara seru menderu, lagu lain. Sebab, “si aku” tidak dapat memecahkannya. Ia hanya mengucap kan: selamat tinggal…. Ia membiarkan semua persoalan itu seperti adanya, tidak terpecahkan. Berdasarkan uraian tersebut, Anda dapat mengetahui tema puisinya, yakni mengenai diri sendiri atau introspeksi terhadap diri sendiri. Selain itu, Anda pun dapat memahami maknanya melalui kata atau diksi yang dapat ditafsirkan. Misalnya, pada kata aku berkaca berarti melihat muka sendiri. Anda pun dapat mengartikan lebih dalam menjadi melihat kekurangan, kejelekan, masalah, dan cacat diri. Dinyatakan pula bahwa Anda sebagai manusia tidak terlepas dari berbagai kekurangan, kesalahan, dan segala permasalahan. Pesan atau amanat yang dapat Anda peroleh adalah bahwa penyelesaian segala permasalahan yang dihadapi itu sangat bergantung pada bagaimana Anda menyikapinya. Apakah akan dibiarkan atau mencari jalan keluarnya?

Menulis Paragraf Narasi 

Anda mungkin pernah membuat sebuah tulisan yang bercorak narasi, bukan? “Menulis lebih baik daripada operasi pengencangan kulit wajah,” itulah salah satu judul bab yang sangat menarik dari buku yang ditulis Fatima Mernisi. Seorang Mernisi berpesan, “Usaha kan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menja di segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa. Dari saat Anda bangun, menulis dapat meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali”. Anda boleh percaya boleh tidak terhadap pernyataan tersebut. Namun, dapat Anda maknai bahwa begitu besar man faat yang diperoleh dari menulis. Pernahkah Anda menuliskan sesuatu, seperti perasaan hati, ekspresi diri, atau gagasan-gagasan cerita? Perasaan apa yang dapat Anda rasakan setelah menuliskannya? Nah, pada kegiatan pembelajaran kali ini, Anda akan mulai berlatih menulis. Latihan kali ini dimulai dari menulis paragraf narasi. Narasi merupakan tulisan yang mengisahkan suatu peristiwa atau kejadian yang disusun menurut urutan waktu atau urutan tempat. Tulisan narasi dapat dibedakan atas narasi nonfiksi dan narasi fiksi.

a. Nonfiksi, yaitu karangan yang mengisahkan hal-hal yang nyata, berdasarkan pengalaman atau pengamatan. Contoh: sejarah, biografi (kisah seorang tokoh), atau autobiografi, (kisah pengalaman pengarangnya sendiri). b. Fiksi, yaitu karangan yang mengisahkan hal-hal yang bersifat khayal atau imajinasi. Contoh: cerpen, novel, dongeng, dan hikayat. Tulisan narasi ada yang bersifat narasi eks po sitoris dan narasi sugestif. Narasi ekspositoris merupakan narasi yang mengisahkan berlangsungnya suatu peristiwa secara informatif sehingga pembaca mengetahui peristiwa tersebut secara tepat. Narasi sugestif berupa narasi yang mengisahkan rangkaian peristiwa yang berlangsung dalam kesatuan waktu sehingga dapat menggugah daya khayal dan memunculkan dorongan perasaan pada pembacanya. Narasi ekspositoris disebut narasi kejadian, sedangkan narasi sugestif biasa juga disebut narasi runtun peristiwa.

Struktur penulisan narasi dapat dilihat dari kom ponenkomponen yang membentuknya, yakni perbuatan, penokohan, latar, dan sudut pandang. Namun, dapat pula diana lisis berdasarkan alur (plot) narasi. Dalam karangan narasi kita harus bisa menghadirkan tulisan yang membawa pembaca pada petualangan seperti yang kita alami. Dengan demikian, para pembaca akan merasakan urutan waktu dan tempat yang digambarkan dalam tulisan. Untuk melatih pemahaman Anda, kerjakanlah latihan berikut dengan daya bercerita Anda.

 

Kesusastraan Menulis Paragraf Narasi Yang Baik dan Benar | medsis | 4.5