Cara Membaca Cepat dan Pengertian Kata Kata Imbuhan

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Cara Membaca Cepat dan Pengertian Kata Kata Imbuhan

Kata Imbuhan

Kata Imbuhan

Kata Imbuhan  – Di bab enam kalian akan diajak untuk lebih meningkatkan kemampuan bahasa kalian melalui topik “Ketenagakerjaan”. Di topik ini, kalian akan kembali melatih kemampuan dalam membaca cepat dengan menggunakan rumus dan menemukan ide pokoknya. Jadi, kalian akan diajak untuk dapat menemukan ide pokok berbagai teks nonsastra dengan teknik membaca cepat. Untuk itu, pertama kalian diharapkan bisa membaca cepat sebuah teks, menemukan ide pokok paragraf dalam teks, menjawab pertanyaan dengan kalimat yang jelas dan mudah dipahami, serta membuat ringkasan isi teks dalam beberapa kalimat yang runtut. Kedua, kalian akan diajak untuk bisa memahami penggunaan imbuhan meng-kan dan meng-i, serta bentuk dan fungsinya.

Kata Imbuhan – Ketiga, kalian bisa membacakan puisi dengan lafal, teknan, dan intonasi yang tepat. Ingat, perhatikan lafal, tekanan, dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi. Keempat, kalian juga diajak untuk bisa menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima. Itu berarti kalian dalam menulis puisi harus memperhatikan pemilihan irama dan rima yang menarik. Selamat belajar dan sukseslah selalu.

Membaca Cepat

Kata Imbuhan  – Pada bab tiga, Anda sudah melatih kecepatan membaca Anda. Berapa kpm ( kata per menit) Anda saat itu? Membaca cepat dapat diukur dengan menggunakan rumus. Selain itu, membaca cepat dapat juga digunakan untuk menemukan ide pokok. Coba Anda buka kembali pelajaran 3, lalu cermati rumus yang digunakan untuk membaca cepat. Untuk mengingat kembali, berikut ini rumus untuk menghitung kecepatan membaca adalah: Jumlah kata-kata yang dibaca Jumlah waktu : 60 x Persentase jawaban Angka 60 yang ada pada rumus dipergunakan sebagai indeks untuk mengubah waktu-baca dalam sekon menjadi menit, karena kemampuan membaca umumnya dinyatakan dengan jumlah kata per menit. Pada bab 6 ini akan lebih ditekankan pada membaca cepat untuk menemukan ide pokok.

Kata Imbuhan Anatomi Ketidakberdayaan TKI Oleh: Eny Haryati “Tak berdaya”.

Kata Imbuhan  – Itulah kata kunci yang dapat menggambarkan kondisi nyata ratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal yang berada di Malaysia. Menurut pemerintah Malaysia, sedikitnya 800.000 tenaga kerja ilegal masih tinggal di sana. Dari jumlah itu, sekitar 450.000 orang diperkirakan dari Indonesia. Jumlah itu setelah dikurangi TKI ilegal yang pulang pada masa amnesti dan Operasi Nasihat 1-28 Februari 2005. Pascaamnesti dan Operasi Nasihat, pekerja ilegal harus menghadapi Operasi Tegas yang diberlakukan mulai 1 Maret 2005. Untuk itu, Malaysia menyiagakan 500.000 petugas yang siap memburu tenaga kerja ilegal. Drama perjalanan TKI ilegal yang mengadu nasib ke Malaysia layak dipahami sebagai “Balada Penyandang Derita”. Mereka adalah pahlawan devisa yang sengsara oleh kejamnya dunia. Itu dapat dikaji setidaknya melalui sejumlah fenomena berikut. Keberangkatan TKI Kepergian mereka ke luar negeri sebenarnya didorong oleh keinginan untuk mengubah hidup dan kehidupan karena di negeri sendiri tidak tersedia lapangan pekerjaan. Mereka tak tahan dengan kemiskinan panjang yang mencekam. Mereka lelah hidup dalam kecingkrangan dan serba kekurangan. Mereka ingin “melukis” masa depan baru untuk diri sendiri dan keturunannya. Mereka pun memutuskan untuk pergi, bermodal tekad dan nyali tanpa berpikir panjang akan aturan hukum dan regulasi, lantaran mereka tidak mengerti. Tekad mereka untuk meninggalkan kampung halaman menuju negeri orang ditangkap sebagai peluang strategis oleh orangorang oportunis. Para calo, pialang tenaga kerja, dan mereka yang mengaku sebagai mediator amat cerdas dalam mengambil kesempatan. Dengan memerankan diri sebagai “dewa penolong”, sang calo membuka praktik “penyembelihan” calon TKI. Tak pelak lagi mafia calon TKI akhirnya tampil sebagai unit bisnis “jalur basah” di negeri ini. Dari sini kita bisa memahami betapa saat calon TKI memutuskan untuk berangkat ke luar negeri, mereka tak berdaya (karena serba tidak mengerti apa-apa) harus berhadapan dengan ulah calo. Pada tahap ini, mereka benar-benar menjadi “sapi perah” bagi calo TKI. Untuk keperluan itu tidak jarang mereka harus menjual atau menggadaikan aset yang mereka miliki. Astuti, misalnya, TKI asal Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, keluarganya harus menjual sepetak sawah (satu-satunya aset produktif yang mereka miliki) untuk menutupi biaya keberangkatannya ke mancanegara. Hasil penelitian Centre for Policy and Development Studies di Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek, Propinsi Jawa Timur, menunjukkan dana keberangkatan TKI bersumber dari menjual aset (21%), menggadaikan aset produktif sawah/tanah (37%), mencari pinjaman dari sanak keluarga (17%), sisanya dari sumber lain terutama dipinjami calo TKI. Jadi saat niat keberangkatan ke luar negeri, calon TKI sudah harus berhadapan dengan ketidakberdayaan melawan maraknya praktik calo TKI di tengah lilitan kehidupan yang serba papa. Melawan majikan Kendati keberangkatan TKI ilegal di Malaysia disebut “pendatang haram”, tidak sedikit orang yang mendapat keuntungan atas keberadaan mereka. Sejumlah besar majikan menggunakan jasa mereka sebab mereka yang beretos kerja tinggi, mau bekerja dalam jam kerja panjang, mau dibayar relatif murah, dan memiliki posisi tawar yang rendah tentu menguntungkan majikan.

Kata Imbuhan  – Oleh karena itu, fenomena hubungan majikan TKI dapat dipahami sebagai hubungan “pengisapan”, yang sarat kesewenangan, baik yang terjadi dalam hubungan sosial kemanusiaan maupun hubungan bisnis yang berkaitan dengan keuangan. Menyadari lemahnya posisi tawar TKI ilegal, sejumlah majikan “nakal” lalu mengambil aksi menunda pembayaran gaji sama sekali. Langkah para TKI ilegal yang bekerja sebagai buruh bangunan di kawasan Flora Damansara, Selangor, yang tidak mau meninggalkan Malaysia sebelum majikan membayar gaji mereka yang tidak diberikan sejak Desember 2004 merupakan salah satu indikasi. Ketidakberdayaan juga terjadi dalam hubungan TKI dengan majikan.

Kata Imbuhan  – Derita dalam perburuan Kini saat Operasi Tegas diberlakukan, nasib TKI tak ubahnya seperti hewan. Mereka bersembunyi di hutan kucing-kucingan, selalu berdebar dan didera ketakutan; dan mempertaruhkan dirinya untuk setiap saat tertangkap petugas keamanan lalu berhadapan dengan hukum dan hukuman yang mengerikan. Problem yang kini melilit TKI ilegal di Malaysia adalah ancaman hukuman yang setiap saat mengintai dan memaksa mereka bertaruh nasib di antara “hidup dan mati”. Dalam konteks ini, sejumlah kalangan memprediksi bakal terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia yang luar biasa yang berpeluang terjadi pada kasus penangkapan TKI ilegal sepanjang Operasi Tegas berlangsung Di titik inilah kinerja pemerintah Indonesia dalam melindungi warga negaranya dan efektivitas negosiasi Presiden Susilo Bambang Yudoyono terhadap Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi pada 14 Februari 2005 lalu sedang diuji.

Tentu saja apapun adanya variabel ini akan menentukan format hubungan bilateral kedua negara di kemudian hari. Pulang tak berdaya Harus pulang dengan tangan hampa dan tak berdaya tampaknya akan menjadi fenomena ratusan ribu TKI ilegal dalam waktu dekat. Kepergian yang diawali ketidakberdayaan ternyata harus diakhiri dengan proses kepulangan yang juga penuh ketidakberdayaan. Jalan panjang terjal yang sulit, menyakitkan, dan melelahkan masih harus mereka lewati dalam proses pulang menuju kampung halaman. Sebab, di sepanjang jalan itu segala kemungkinan terburuk yang menyempurnakan pederitaan TKI amat mungkin terjadi. Sumber: Kompas, 5 Maret 2005 

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Imbuhan meng-kan dan meng-i

Imbuhan meng-kan dan meng-i merupakan bentuk imbuhan yang produktif. Maksudnya imbuhan tersebut dapat menghasilkan banyak kata baru.

Bentuk dan Fungsi Imbuhan meng-kan dan meng-i

Secara morfologis, imbuhan meng- mengalami proses morfofonemik. Imbuhan meng- dapat menjadi me-, men-, mem-, meny, dan menge-, (lihat materi di bab 5), sedangkan akhiran -kan maupun -i sebagai variasi imbuhan tersebut tidak mengalami perubahan bentuk. Imbuhan meng-kan dan meng-i keduanya sama-sama berfungsi sebagai pembentuk kata kerja transitif.

Makna Imbuhan meng-kan

Makna Imbuhan meng-kan dibedakan menjadi makna benefaktif dan makna kausatif. a. Benefaktif (melakukan pekerjaan untuk orang lain) Contoh: Rupanya David membawakan saya bingkisan khusus.

b. Kausatif 1. Menyebabkan seseorang atau sesuatu tindakan seperti yang disebutkan pada kata dasarnya. Contoh: Pemerintah mendatangkan paha ayam dari Amerika. 2. Menyebabkan seseorang atau sesuatu menjadi seperti yang disebutkan pada kata dasarnya. Contoh: Sebaiknya kamu membetulkankonsep ini sebelum kamu ajukan ke gurumu! 3. Menyebabkan jadi atau menganggap sebagai apa yang disebut kata dasarnya. Contoh: Sebaiknya kita jangan terlalu mendewakan uang. 4. Membawa ke tempat yang disebut pada kata dasarnya. Contoh: Perusahan itu memejahijaukan salah satu karyawannya karena memakai sandal bolong.

Makna Imbuhan meng-i

Makna imbuhan meng-i dibedakan menjadi imbuhan bermakna kuantitatif, berarti memberi, dan berhubungan dengan tempat. a. Kuantitatif Melakukan sesuatu atau tindakan yang berulang-ulang seperti yang disebutkan oleh kata dasarnya. Contoh: Mereka memukuli pencopet itu. b. Memberi Melakukan tindakan memberi kepada seseorang atau sesuatu seperti yang disebutkan oleh kata dasarnya. Contoh: Percuma saja, perbuatanmu itu bagaikan menggarami laut. c. Tempat Melakukan tindakan terhadap orang atau sesuatu yang berhubungan dengan tempat seperti yang disebutkan oleh kata dasarnya. Contoh: Teguh mendatangi rumah pacarnya. d. Kausatif Contoh: Air matanya telah membasahi pipinya yang merah.

 

Cara Membaca Cepat dan Pengertian Kata Kata Imbuhan | medsis | 4.5