Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Di Indonesia, meskipun pemerintah telah mengeluarkan peraturan perundangundangan
mengenai HAM, namun pelanggaran HAM tetap selalu ada baik
yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat sendiri. Pelanggaranpelanggaran
tersebut merupakan cerminan telah terjadi kelalaian atas pelaksanaan
kewajiban asasi manusia. Padahal sudah sangat jelas bahwa setiap hak asasi itu
disertai dengan kewajiban asasi, yaitu kewajiban untuk menghormati hak asasi
orang lain dan kewajiban untuk patuh pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Berikut ini beberapa contoh kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di
Indonesia:
a. Kerusuhan Tanjung Priok tanggal 12 September 1984. Dalam kasus ini 24
orang tewas, 36 orang luka berat dan 19 orang luka ringan. Keputusan majelis
hakim kasus ini menetapkan 14 terdakwa seluruhnya dinyatakan bebas.
b. Penyerbuan Kantor Partai Demokrasi Indonesia tanggal 27 Juli 1996.
Dalam kasus ini lima orang tewas, 149 orang luka-luka dan 23 orang hilang.
Keputusan majelis hakim kasus ini menetapkan empat terdakwa dinyatakan
bebas dan satu orang terdakwa divonis 2 (dua) bulan 10 hari.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

c. Penembakan mahasiswa
Universitas Trisakti pada tanggal
12 Mei 1998. Dalam kasus ini 5
(lima) orang tewas. Mahkamah
Militer yang menyidangkan
kasus ini memvonis dua terdakwa
dengan hukuman 4 (empat) bulan
penjara, empat terdakwa divonis
2 – 5 bulan penjara dan 9 orang
anggota Brimob dipecat dan dipenjara 3-6
tahun. 130515031937_ini-7-kasus-pelanggaran-ham-berat-yang-belum-diselesaikan
d. Tragedi Semanggi I pada tanggal 13
November 1998. Dalam kasus ini lima
orang tewas. Kemudian terjadi lagi tragedi
Semanggi II pada tanggal 24 September 1999
yang memakan lima orang korban meninggal.
e. Penculikan aktivis, pada bulan April 1997 –
April 1999. Dalam kasus ini 20 orang aktivis
dinyatakan hilang (9 orang diantaranya telah
dibebaskan dan 11 orang dinyatakan hilang).
Mahkamah Militer memvonis komandan Tim
mawar Kopassus dengan 22 bulan penjara
dan dipecat dari TNI, empat orang terdakwa
dipecat dan divonis 20 bulan penjara, tiga
orang terdakwa divonis 16 bulan penjara dan
tiga orang terdakwa divonis 12 bulan penjara.
f. Meninggalnya Munir yang merupakan aktivis HAM Indonesia, pada tanggal 7
September 2004. Munir meninggal dunia dalam perjalanan udara dari Jakarta
ke Amsterdam. Otopsi oleh Netherlands Forensic Institute menyimpulkan
Munir tewas akibat racun arsenik. Dalam kasus ini, vonis terhadap pelaku
mengalami beberapa perubahan. Pada awalnya Hakim Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat menetapkan vonis 14 tahun penjara, tetapi putusan kasasi Mahkamah Agung menyatakan Pelaku tidak terbukti membunuh. Ia hanya
dihukum dua tahun penjara atas penggunaan surat palsu. Kemudian Tim
Pengacara Munir mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan
Mahkamah Agung tersebut, akhirnya pelaku dihukum 20 tahun penjara
karena terbukti dan meyakinkan telah melakukan pembunuhan terhadap
Munir.

Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia | medsis | 4.5