Kandungan Q.S. an-Nμr/24:2

1) Perintah Allah Swt. untuk mendera pezina perempuan dan pezina laki-laki
masing-masing seratus kali.
2) Orang yang beriman dilarang berbelas kasihan kepada keduanya untuk
melaksanakan hukum Allah Swt.
3) Pelaksanaan hukuman tersebut disaksikan oleh sebagian orang-orang
yang beriman.

zina 02
Dalam pandangan Islam, zina merupakan perbuatan kriminal (jarimah)
yang dikatagorikan hukuman ¥udud, yakni sebuah jenis hukuman atas
perbuatan maksiat yang menjadi hak Allah Swt. Tidak ada seorang pun yang berhak memaafkan kemaksiatan zina tersebut, baik oleh penguasa atau pihak
berkaitan dengannya. Berdasarkan Q.S. an-Nμr/24:2, pelaku perzinaan, baik
laki-laki maupun perempuan harus dihukum dera (dicambuk) sebanyak 100
kali. Namun, jika pelaku perzinaan itu sudah mu¥¡an (pernah menikah),
sebagaimana ketentuan hadis Nabi saw maka diterapkan hukuman rajam.
Dalam konteks ini yang memiliki hak untuk menerapkan hukuman tersebut
hanya khalifah (kepala negara) atau orang-orang yang ditugasi olehnya.
Ketentuan ini berlaku bagi negeri yang menerapkan syari’at Islam sebagai
hukum positif dalam suatu negara. Sebelum memutuskan hukuman bagi
pelaku zina maka ada empat hal yang dapat dijadikan sebagai bukti, yakni: (1)
saksi, (2) sumpah, (3) pengakuan, dan (4) dokumen atau bukti tulisan. Dalam
kasus perzinaan, pembuktian perzinaan ada dua, yakni saksi yang berjumlah
empat orang dan pengakuan pelaku.
Sedangkan pengakuan pelaku, didasarkan beberapa hadis Nabi saw. Ma’iz
bin al-Aslami, sahabat Rasulullah saw. dan seorang wanita dari al-Gamidiyyah
dijatuhi hukuman rajam ketika keduanya mengaku telah berzina. Di samping
kedua bukti tersebut, berdasarkan Q.S. an-Nμr/24:6-10, ada hukum khusus
bagi suami yang menuduh istrinya berzina. Menurut ketetapan ayat tersebut
seorang suami yang menuduh istrinya berzina sementara ia tidak dapat
mendatangkan empat orang saksi, ia dapat menggunakan sumpah sebagai buktinya. Jika ia berani bersumpah sebanyak empat kali yang menyatakan
bahwa dia termasuk orang-orang yang benar, dan pada sumpah kelima ia
menyatakan bahwa laknat Allah Swt. atas dirinya jika ia termasuk yang berdusta,
maka ucapan sumpah itu dapat mengharuskan istrinya dijatuhi hukuman
rajam. Namun demikian, jika istrinya juga berani bersumpah sebanyak empat
kali yang isinya bahwa suaminya termasuk orang-orang yang berdusta, dan
pada sumpah kelima ia menyatakan bahwa laknat Allah Swt. atas dirinya jika
suaminya termasuk orang-orang yang benar, dapat menghindarkan dirinya
dari hukuman rajam. Jika ini terjadi, keduanya dipisahkan dari status suami
istri, dan tidak boleh menikah selamanya. Inilah yang dikenal dengan li’an.
Tuduhan perzinahan harus dapat dibuktikan dengan bukti-bukti yang kuat,
akurat, dan sah. Tidak boleh menuduh seseorang melakukan zina tanpa dapat
mendatangkan empat orang saksi dan bukti yang kuat.

Kandungan Q.S. an-Nμr/24:2 | medsis | 4.5