Memahami Contoh Kalimat Tunggal dan Majemuk

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Memahami Contoh Kalimat Tunggal dan  Majemuk

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Cermatilah kalimat berikut! Kuli-kuli itu sedang membangun jembatan yang rusak.

Kalimat Tunggal dan Majemuk – Frasa kuli-kuli itu menduduki fungsi sebagai subjek (S), frasa sedang membangun menduduki fungsi sebagai predikat (P), sedangkan jembatan yang rusak menduduki fungsi sebagai objek (O). Kalimat tersebut terdiri atas satu pola kalimat, yaitu S-P-O. Kalimat yang hanya mengandung satu pola kalimat dan ditandai dengan adanya unsur inti predikat (P) disebut juga kalimat yang hanya mengandung satu klausa. Jika klausa itu dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, klausa tersebut disebut klausa bebas. Kalimat yang hanya mengandung satu pola kalimat dan ditandai dengan adanya satu klausa bebas seperti contoh di atas disebut kalimat tunggal. Pada kalimat tunggal, pola kalimat dapat berbentuk: a. KB + KK : Orang itu meminta-minta. b. KB + KS : Harganya mahal. c. KB + KB : Gajah itu binatang. Selanjutnya, contoh kalimat di atas dapat kita bandingkan dengan kalimat berikut. Dia mengambil kunci itu, kemudian memasukkannya di lubang pintu. Dia pada kalimat di atas menduduki fungsi subjek (S); mengambil menduduki fungsi predikat (P), sedangkan kunci itu menduduki fungsi objek (O); kemudian pada kalimat tersebut berfungsi sebagai kata penghubung; memasukkannya menduduki fungsi predikat (P); sedangkan di lubang pintu menduduki fungsi keterangan tempat (K). Jika digambarkan, kalimat tersebut berpola sebagai berikut. Dia / mengambil / kunci itu, / kemudian / memasukkannya / di lubang pintu. S P O P K Berdasarkan bagan tersebut, pola kalimat itu mengandung dua klausa, yakni (1) Dia mengambil kunci itu (satu klausa); (2) Dia memasukkannya (kunci itu) di lubang pintu (satu klausa). Kalimat yang mengandung dua klausa seperti contoh itu disebut kalimat majemuk. Dengan demikian, kalimat majemuk memiliki ciri sebagai berikut: a. terdiri atas dua pola kalimat atau lebih; b. ditinjau dari jumlah klausanya, terdiri atas dua klausa atau lebih, baik berupa klausa bebas maupun klausa bebas dan terikat; c. biasanya ditandai dengan penggunaan kata penghubung, seperti kemudian, dan, lalu, tetapi, sedangkan, dan ketika.

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Bacalah penggalan wacana berikut, kemudian kerjakan soal-soal yang ada di bawahnya! Ulama berperan besar dalam pembangunan. Keberhasilan pembangunan masyarakat Jawa Barat, banyak didukung tingkat partisipasi ulama. Asumsi ini sekaligus merupakan penolakan terhadap adanya sikap pembagian anggota masyarakat yang kurang menunjukkan dukungannya terhadap partisipasi ulama dalam mekanisme sosial, budaya, politik, maupun ekonomi. Dalam pembangunan, peran ulama tidak dapat diabaikan. ”Alasan apa pun, ulama sangat diperlukan, seperti pentingnya peran umara (pemimpin pemerintahan) bagi kelangsungan hidup suatu bangsa,” kata Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana dalam sambutan acara silaturahmi ”Mengukuhkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa serta Meningkatkan Peran Aktif para Ulama, Zu’ama dan Cendekiawan Muslim dalam Mewujudkan Amanat Reformasi” di Bale Pusdai Jawa Barat Rabu kemarin. Menurut Nuriana, banyak masalah yang dihadapi masyarakat. Masalah tersebut penyelesaiannya terbantu oleh suara dan keputusan ulama. Kini masyarakat Indonesia sedang menempuh berbagai perkembangan dan perubahan yang sulit diantisipasi. Peran ulama penting sekali. Berbagai persoalan sosial keagamaan yang muncul, pada gilirannya akan sangat bergantung pada kehadiran ulama. Sumber: Pikiran Rakyat, 15 Agustus 2002 1. Tuliskan kalimat tunggal yang terdapat dalam wacana tersebut! 2. Mengapa kalimat itu disebut kalimat tunggal? Kemukakan ciri kalimat tunggal yang tampak pada kalimat yang kalian kutip! 3. Tuliskan pula kalimat majemuk yang terdapat pada penggalan wacana itu! 4. Mengapa kalimat itu disebut kalimat majemuk? Kemukakan ciri kalimat majemuk yang tampak pada kalimat tersebut! 5. Jenis kalimat majemuk apa yang kalian tuliskan itu?

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Rangkuman

Kalian harus benar-benar memahami isi cerita rakyat, dan menemukan unsur penokohannya. Penokohan dalam cerita rakyat terkait dengan pesan moral dan pesan pendidikan. Tidak setiap artikel atau informasi yang terdapat di media massa isinya kita setuju, bisa saja tidak setuju. Oleh karena itu, kalian harus belajar cara mendukung atau menolak informasi tersebut. Untuk lebih gampang menemukan informasi pada buku atau teks, kalian harus merangkum isi buku tersebut.

Refleksi

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Cerita rakyat merupakan bagian dari sejarah sastra, dan cerita rakyat pun memiliki nilai budaya, moral, dan pendidikan yang perlu dijadikan cermin dalam kehidupan. Hal terpenting dari cerita rakyat adalah memahami penokohannya sebab dari karakter tokoh terlihat unsur moralnya. Kalian pun harus mampu menyikapi terhadap isi artikel berupa dukungan atau penolakan karena tidak semua kita setuju terhadap isi berita. Untuk mencari hal-hal yang informatif dari berita maka kita harus merangkum hal yang penting dengan teknik membaca memindai. Waktu menambah keterampilan menulis, kalian belajar menulis karya jurnalistik. Hasil wawancara dapat kalian buat dalam sebuah paragraf dalam bahasa yang baik dan benar.

Kalimat Tunggal dan Majemuk – Soal-Soal Pengembangan Kompetensi

1. Bacalah cerita rakyat berikut, kemudian temukan hal menarik tentang tokoh yang ada di dalamnya!

Legenda Pelengkung Madyasura Di Keraton Yogyakarta terdapat lima pintu gerbang. Akan tetapi, berbeda dari pintu gerbang biasanya, daun-daun pintu itu sudah tidak ada bekasnya. Yang tinggal hanyalah pelengkung yang cukup tebal. Pintu-pintu gerbang itu terletak di sebelah barat keraton dengan nama Pelengkung Jagabaya, disebut juga Pelengkung Taman Sari. Di sebelah selatan keraton, pintu gerbangnya disebut Pelengkung Nirbaya atau Pelengkung Gading. Yang terletak di sebelah timur laut keraton tersebut Pelengkung Wijilan, sedangkan yang terletak di sebelah barat laut disebut Pelengkung Jaga Sira atau Ngasem. Masih ada satu lagi pintu gerbang, terletak di sebelah utara, disebut Pelengkung Madyasura. Berbeda dari pelengkung-pelengkung lainnya, pelengkung ini tertutup. Menurut sejarahnya, setiap pelengkung dilengkapi dengan jembatan sebab di sekeliling benteng keraton ada selokan yang cukup dalam. Adapun guna selokan itu untuk menahan serangan musuh. Kita masih ingat, Keraton Yogyakarta dibangun sesudah Perjanjian Gianti disepakati antara Pangeran Mangkubumi dan VOC. Walaupun suasana damai sudah dirasakan, Pangeran Mangkubumi masih was-was. Jangan-jangan, Belanda masih berkeinginan menganggu. Apalagi, pada tahun-tahun itu, prajurit Inggris di bawah pimpinan Raffles datang pula di Pulau Jawa. Ada sesuatu yang menarik perhatian mengapa Pelengkung Madyasura ditutup. Penduduk yang tinggal di sekitar pelengkung.

itu dapat menceritakan suatu kisah yang menjelaskan sebabsebabnya. Menurut mereka, Pelengkung Madyasura pernah dilalui oleh pasukan Inggris yang datang menyerbu keraton. Sebenarnya, serbuan itu datang atas undangan Adipati Anom, yang sudah disiapkan sebagai putra mahkota. Ini tentu saja aneh sekali. Namun, ada suatu alasan yang membuat putra mahkota bertindak seperti itu. Ia merasa kurang senang dengan ayahnya, Hamengku Buwono II, yang tampak begitu menaruh perhatian kepada Pangeran Mangkudiningrat, salah seorang putranya yang lain dari selir. Beberapa kali, Adipati Anom mencoba memberikan peringatan kepada sang Ayah, tetapi tidak mendapatkan tanggapan yang memuaskan. Untuk memaksa agar apa yang diinginkannya terlaksana, ia mengundang pasukan Inggris masuk. Akibatnya, Hamengku Buwono II terdesak dan diasingkan ke Ambon. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, beliau dikembalikan lagi ke keraton dan takhtanya dipulihkan. Untuk melupakan peristiwa yang menyedihkan itu, Sultan memerintahkan menutup Pelengkung Madyasura dengan semen sehingga tidak tampak bahwa tembok itu pada mulanya adalah pintu gerbang.

Di samping cerita di atas, ada pula cerita lainnya yang juga menarik. Seorang yang sudah cukup lanjut usianya bercerita bahwa Pelengkung Madyasura pernah disebut angker. Dikatakannya, setiap sore dari pelengkung yang sudah ditutup itu terdengar teriakan-teriakan minta tolong, ”Biyung …, tulung …”, yang artinya, ”Ibu …, tolong …”. Semenjak itu, muncullah nama baru untuk sejenis makhluk halus ialah Biyung Tulung. Oleh suatu sumber dikatakan, Biyung Tulung itu muncul dalam percakapan penduduk Yogyakarta pada tahun 1920-an. Di Surakarta, istilah Biyung Tulung muncul pada saat Tentara Pelajar sedang giat-giatnya bergerilya melawan Belanda pada tahun 1948–1949. Akan tetapi, apakah yang sebenarnya terjadi di Pelengkung Madyasura menurut mereka? Dikatakan oleh suatu sumber bahwa nun di kala itu, hiduplah seorang pemuda bernama Kartipeya. Ia berwajah tampan, tetapi suka mengganggu perempuan, khususnya mereka yang masih perawan. Orang tua yang mempunyai gadis cemas, jangan-jangan anak mereka tergaet oleh Kartipeya yang memang lihai dalam hal bujuk rayu. Beberapa usaha dilakukan oleh penduduk setempat untuk menanggulangi perbuatan pemuda kurang ajar itu, antara lain dengan mengundang seorang kiai yang dimohon mengajarkan agama kepada para perawan agar tetap beriman, tetapi usaha itu tidak banyak hasilnya. Hampir setiap hari, selalu ada berita bahwa Kartipeya berhasil menggaet seorang perawan. Atas dorongan salah seorang tetua di wilayah itu, dilakukanlah semacam penyelidikan mengapa Kartipeya begitu ”sakti”. Dari penyelidikan orang-orang kampung diperoleh keterangan bahwa setiap Kamis malam, Kartipeya selalu pergi ke hutan Krendhowahono. Di mana letak hutan itu, penduduk yang tinggal di sekitar Pelengkung Madyasura tidak dapat menjelaskannya. Yang jelas, di hutan itu Kartipeya bertemu dengan Batari Durga, lazim disebut Dewi Uma. Menurut keterangan, menjelang pukul tiga pagi sebelum ayam jantan berkokok, Dewi Uma muncul dari dunia gaib, menampakkan diri, dan mendekati Kartipeya yang tengah semadi. Uma, membangunkannya dan bertanya apa yang diinginkannya. Pemuda tampan itu selalu menjawab dengan kata-kata yang sama ialah ingin digandrungi perawan-perawan di kampung atau di desa mana saja yang didatanginya.

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Mendengar permintaan itu, Uma tersenyum dan menjawab bahwa permintaannya akan dikabulkan, asalkan ia tidak berbuat mesum di bawah Pelengkung Madyasura. Kartipeya menyanggupinya. Batari Durga segera membuka lengannya lalu mencabut satu helai bulu ketiaknya dan memberikannya kepada pemuda itu sambil berpesan seperti biasanya bahwa ia harus membungkusnya dengan kain putih. Dipesankan juga bahwa jika ia melanggar ketentuan yang dikatakannya, ia akan mendapat malu atau mungkin malahan tewas. Di samping itu, dipesan pula seperti biasanya bahwa benda itu hanya dapat bertahan selama tujuh hari di tangannya. Di luar itu, jika Kartipeya memerlukan lagi, ia harus datang ke tempat yang sama dan memohon dengan cara yang sama pula. Tatkala informasi ini disampaikan kepada tetua di kampung itu, segeralah tetua itu menghubungi seorang sakti yang dikenal dengan nama Kiai Wirong Sardula, yang kemudian bersedia mengakhiri kegelisahan orang-orang di kampung itu. Diajukanlah syarat, jika Kartipeya terjebak, cukuplah dibuat malu. Jangankan dibunuh, dilukai pun tidak diperkenankan. Sesudah tetua itu menyatakan kesanggupannya memegang janji, Kiai Wirong Sardula segera memberikan tiga batang lidi enau yang harus diletakkan di bawah Pelengkung Madyasura. Hari berikutnya, di kampung itu terdengar berita bahwa Kartipeya menaruh perhatian kepada Rara Sukresthi, salah seorang perawan yang dikenal sangat molek dan elok wajahnya. Ini artinya, pada malam nanti, di kampung itu pasti terjadi sesuatu. Oleh karena itu, selepas magrib, tetua itu segera meletakkan tiga buah lidi pemberian Kiai Wirong dengan harapan Kartipeya akan lupa pesan Dewi Uma dan melanggar pantangannya. Jelasnya, lidi itu akan bertenaga menarik Kartipeya masuk ke bawah Pelengkung Madyasura yang seharusnya dihindari. Beberapa orang pemuda diminta bersiapsiap tidak jauh dari pelengkung itu. Tujuannya, jika Kartipeya masuk ke bawah pelengkung, mereka akan berteriak-teriak.

Apa yang kemudian terjadi sesuai dengan rencana. Menjelang tengah malam, Kartipeya menggelandang Sukresthi masuk ke bawah Pelengkung Madyasura. Begitu kaki Kartipeya menginjak tanah Pelengkung Madyasura, ia berteriak keraskeras. Ia mengira, tiga buah lidi itu tiga ekor ular. Bersamaan dengan itu, muncullah pemuda-pemuda sambil membawa obor serta berteriak-teriak. Akan tetapi, ternyata tidak hanya demikian. Salah seorang pemuda yang juga menaruh hati pada Sukresthi membakar Kartipeya dan pemuda lainnya melempari dengan batu. Bahkan lebih ganas lagi, mereka menyerbu dan memukul pemuda tampan dengan pentungan dan senjata tumpul lainnya. Kartipeya takut kalau Sukresthi ikut terluka, ia mencoba melindunginya dengan cara mendekapnya. Akan tetapi, pemuda yang menaruh hati pada perawan itu semakin panas, cemburu, dan marah. Ia mengacungkan tangannya dan memberikan perintah agar mereka dikubur hidup-hidup. Sejak saat itu, Pelengkung Madyasura tertutup. Itulah sebabnya pada tahuntahun yang silam, terdengar suara mengadu, ”Biyung … tulung”, ”Ibu … tolong”. Menurut mereka, itulah suara penyesalan Kartipeya. Sumber: Cerita Rakyat dari Yogyakarta, Bakdi Soemanto

Kalimat Tunggal dan Majemuk

Memahami Contoh Kalimat Tunggal dan Majemuk | medsis | 4.5