Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang Manusia

Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang Manusia

Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang Manusia selain merupakan makhluk sosial dan makhluk yang berpikir, juga memiliki pola-pola perilaku yang tidak tetap. Adakalanya manusia berperilaku sesuai dengan kehendak umum, tetapi di lain kesempatan tindakannya bertentangan dengan kehendak umum. Oleh karena itu, menurut Lemert (1951) terdapat dua konsep perilaku menyimpang, yaitu: a. Penyimpangan Primer Penyimpangan primer atau deviation primary adalah penyimpangan yang bersifat sementara (temporer) atau perbuatan menyimpang yang pertama kali dilakukan seseorang yang pada aspek kehidupan lainnya selalu berlaku konformis (mematuhi norma yang berlaku). Orang yang melakukan penyimpangan primer masih tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya karena tidak secara terus-menerus melanggar norma-norma umum dan penyimpangannya kecil sehingga mudah dimaafkan. Lemert mengatakan bahwa perilaku menyimpang akan tetap bersifat primer sejauh perbuatan itu dianggap sebagai fungsi sosial yang dapat diterima. Contohnya, pelanggaran rambu-rambu lalu lintas, anak perempuan yang tomboy (berperilaku kelaki-lakian).

Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang Manusia

Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang Manusia

b. Penyimpangan Sekunder Penyimpangan sekunder atau deviation secondary adalah penyimpangan sosial yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sanksi telah diberikan kepadanya Oleh karena itu, para pelakunya secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Misalnya, pembunuhan, pemerkosaan, pecandu narkotika, ter masuk juga perilaku siswa yang selalu menyontek pekerjaan teman sekelasnya. Seseorang yang dikategorikan berperilaku menyimpang sekunder tidak diinginkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat (dibenci). Seseorang yang melakukan penyimpangan primer masih dapat memiliki peran dan status dalam kelompoknya dan masih bisa melakukan jaringan hubungan dengan yang lainnya. Akan tetapi sebaliknya, terhadap orang yang telah melakukan penyimpangan sekunder, masyarakat cenderung mengucilkan atau menyingkirkan dari kehidupan kelompoknya dan dicap sebagai “kriminal.” Adapun berdasarkan jumlah individu yang terlibat, perilaku menyimpang dibedakan atas penyimpangan individu dan penyimpangan kelompok, yakni sebagai berikut. 1) Penyimpangan Individu Penyimpangan ini adalah penyimpangan yang dilakukan sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Hanya satu individu yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku. Perilaku seperti ini secara nyata menolak norma-norma yang telah diterima secara umum dan berlaku dalam waktu yang relatif lama (mapan). 2) Penyimpangan Kelompok Penyimpangan kelompok dilakukan oleh sekelompok orang yang patuh pada norma kelompoknya. Padahal norma tersebut jelas-jelas bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang kelompok ini agak rumit sebab kelompok-kelompok tersebut mempunyai nilai-nilai, normanorma, sikap, dan tradisi sendiri. Fanatisme anggota terhadap kelompoknya menyebabkan mereka merasa tidak melakukan perilaku menyimpang. Kejadian seperti inilah yang menyebabkan penyimpangan kelompok lebih berbahaya jika dibandingkan dengan penyimpangan individu. Contohnya, sindikat perdagangan narkoba, teroris, kejahatan terorganisasi yang melakukan penye lundupan dan perampokan, serta kelompok separatis.

Sifat-Sifat Penyimpangan Berdasarkan uraian sebelumnya, dikatakan bahwa perilaku menyimpang tidak selamanya berakibat tidak baik. Dengan demikian, dilihat dari sifatnya penyimpangan dibedakan atas sebagai berikut. a. Penyimpangan Positif Penyimpangan ini adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku atau perilaku seseorang di luar kebiasaan masyarakat, namun pada akhirnya membawa dampak positif terhadap kehidupan masyarakat. Dalam artian, perilaku menyimpangnya dapat diterima dan tidak merugikan masyarakat. Contohnya, dalam tatanan sosial masyarakat, peran seorang ibu adalah mengurus rumah tangga. Akan tetapi, karena penghasilan dari suaminya kurang mencukupi, si ibu bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Apa yang dilakukan si ibu adalah menyimpang positif. Contoh lainnya, anak yang gemar membaca menghabiskan hari-harinya untuk membaca atau belajar. Hal ini adalah perilaku tidak umum, namun bersifat positif.

b. Penyimpangan Negatif Penyimpangan ini adalah perbuatan yang memang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dan berakibat buruk, serta mengganggu sistem sosial. Perilaku ini berkaitan erat dengan tindakan kejahatan. Dalam pengertian sehari-hari, apabila ada istilah perilaku menyimpang, yang dimaksud adalah penyimpangan negatif ini. Seseorang yang berperilaku menyimpang negatif akan dikucilkan masyarakat dan mendapatkan sanksi sesuai perbuatannya. Contohnya pembunuhan, pemerkosaan, dan pencurian.

Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang

Bentuk-bentuk penyimpangan yang umumnya terjadi dalam kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan remaja antara lain sebagai berikut. a. Penyalahgunaan Narkotika Narkotika bukan merupakan bahan yang tidak boleh diperjualbelikan, tetapi harus dengan pengawasan ketat. Narkotika adalah bahan atau zat pembius yang umumnya digunakan dalam bidang kedokteran, terutama digunakan untuk pasien yang akan dioperasi. Hal ini agar rasa sakit saat menjalani operasi tidak dirasakan oleh pasien. Dengan demikian, narkotika hanya boleh digunakan dalam bidang kedokteran saja. Narkotik adalah semua obat yang mempunyai efek kerja bersifat membiuskan, menurunkan kesadaran (depresant), merangsang meningkatkan prestasi (stimulans), menagihkan ketergantungan (dependence), dan mengkhayalkan (halusinasi). Jika narkotik digunakan tanpa resep dokter, akan menyebabkan kerusakan susunan saraf si pengguna. Akibatnya, si pemakai akan ketagihan dan tidak dapat dihentikan. Apabila si pengguna narkotik tidak dapat lagi membelinya karena kehabisan uang, ia akan berusaha mendapatkan uang untuk membeli narkotik dengan menghalalkan segala cara. Bahkan, ia dapat melalui tindakan melanggar hukum sehingga akan meng ganggu ketenangan masyarakat, seperti penodongan, pen jambretan, pencopetan, atau perampokan. Pengguna narkotik disebut morfinis, yaitu seorang yang memakai obat atau morphin dengan jalan diisap atau ditelan. Seandainya pemakai obat ini dihentikan tiba-tiba, akan timbul gejala abstinensi, seperti keluar ingus, air mata, keringatan, kulit kesakitan, tidak bisa tidur, tekanan darah naik, lesu seperti putus asa, seperti orang sakit badan, badan dilukai karena kesal, kejang-kejang, atau muntah. Narkotik jenis pil atau kapsul banyak diperjualbelikan oleh orang yang tidak bertanggung jawab kepada anak sekolah, khususnya para remaja, sehingga tidak sedikit dari mereka menjadi pengguna. Hal ini mengakibatkan rusaknya masa depan mereka dan secara tidak langsung akan merusak masa depan bangsa dan negara. Proses berpikir secara sehat tidak lagi ia miliki. Oleh karena itu, negara sedang berusaha melakukan pengawasan terhadap obatobatan yang termasuk daftar G (mengandung narkotik), yang hanya didapat melalui resep dokter, agar masa depan para pemuda bangsa dapat terselamatkan.

b. Perkelahian Pelajar Perkelahian antarpelajar dapat bermula dari hal-hal yang sepele, seperti pertandingan olahraga antarsekolah, pelajar putra mengganggu pelajar putri dari sekolah lain, dan merasa tersinggung oleh perilaku pelajar dari sekolah lain. Perkelahian antarpelajar ini umumnya terjadi pada sekolah yang berbeda, kemudian ditunjang oleh solidaritas sosial yang salah. Pengelompokan antarteman sepermainan dan antarsahabat yang lebih luas, akan menimbulkan rasa kuat dan rasa setia kawan yang tinggi. Apabila di antara mereka ada yang merasa tersinggung atau merasa disepelekan oleh pelajar dari sekolah lain, mereka akan lapor pada kelompoknya untuk membantu menyelesaikan masalah. Tadinya masalah tersebut bersifat pribadi, kemudian berkembang menjadi masalah kelompok. Penyelesainnya bukan dilakukan secara musyawarah, melainkan dengan perkelahian. Jika perkelahian ini diketahui oleh yang berwajib atau oleh guru-guru mereka, biasanya hanya diselesaikan sesaat saja. Akibatnya, satu sama lain tidak puas dengan hasil yang dicapai walaupun mereka sudah diberi pengertian dan diadakan kesepakatan. Oleh karena itu, penyelesainya dilanjutkan sendiri di luar sekolah.

Perkelahian antarpelajar akan meresahkan masyarakat karena pelajar yang tidak terlibat dalam kasus awal akan merasa dirugikan begitu pula halnya dengan orangtua mereka yang khawatir akan keselamatan putra-putrinya. Akibat dari perkelahian pelajar ini, selain kerugian di kedua belah pihak, juga jatuhnya korban yang meninggal dunia. Selain yang menang harus berurusan dengan yang berwajib, yang kalah harus masuk rumah sakit (atau meninggal). Oleh karena itu, kegiatan belajar akan terganggu atau terhambat sehingga keseriusan belajar menjadi berkurang, pergi ke sekolah takut diancam, atau pendidikan terhambat.

c. Perilaku Seksual di Luar Nikah Perilaku seksual di luar nikah terjadi sebagai akibat keinginan yang muncul dari setiap remaja yang belum masanya, akibat rangsangan dari buku bacaan porno, film yang tidak layak ditonton, atau kebebasan bergaul antara dua pemuda yang berlainan jenis. Hal ini dapat disebabkan adanya dorongan dari luar untuk munculnya rangsangan yang tidak dikehendaki, seperti: 1) imitasi terhadap pola kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial bangsa sendiri; 2) longgarnya pengawasan sosial dari orangtua atau masyarakat terhadap bacaan atau film-film cabul; 3) adanya orang yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja memperjualbelikan barang-barang yang bersifat cabul kepada seseorang karena keuntungan bersifat materil semata. Masalah hubungan seksual pranikah pada para remaja sangat menghawatirkan. Hubungan terjadi karena pemahaman yang salah atas modernisasi, kebebasan, dan hak individual. Hubungan seksual pranikah tidak dapat dibenarkan dalam norma etika, susila, terlebih lagi pada norma agama. Jika perilaku seksual di luar nikah dilakukan oleh pelajar, akan terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki atau memiliki anak pada usia muda. Akibatnya, pendidikannya akan terhambat sehingga peluang untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi hampir tidak ada. Perilaku ini sangat berpengaruh pada masyarakat karenanya masyarakat merasa terganggu. Hal ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, juga menjadi masalah di kota kecil. Dengan demikian, diperlukan adanya penertiban terhadap barang-barang yang berbau cabul yang tersebar di masyarakat.

d. Penggunaan Alkohol Minuman yang mengandung alkohol dengan kadar tertentu dapat menyebabkan orang yang meminumnya mabuk. Akan tetapi, bukan berarti minuman tersebut dilarang dijual di pasaran, melainkan akibat yang ditimbulkan setelah seseorang meminumnya. Jika perbuatan meminum minuman keras dapat mengganggu keteraturan masyarakat, dapat dikatakan sebagai masalah sosial, hal demikian dianggap sebagai penyimpangan. Persoalan utama terhadap minuman yang mengandung alkohol adalah siapa yang boleh menggunakannya, di mana, bila mana, dan dalam kondisi yang bagaimana. Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa minuman beralkohol adalah hal yang biasa dan diminum oleh orang tertentu, tetapi sekarang ini banyak minuman beralkohol tinggi dijual bebas. Akibatnya, banyak pemuda yang menggunakannya agar dalam dirinya timbul rasa percaya diri, keberanian, dan tidak ketinggalan zaman. Alkohol merupakan racun protoplasmik yang mempunyai pengaruh menekan sistem saraf sehingga pada orang yang mabuk, kemampuan sosial, fisik, dan psikologisnya akan berkurang. Mereka yang senang dan biasa melakukan minum minuman beralkohol terutama dengan kadar yang tinggi, biasanya dijauhi dalam pergaulan hidup bermasyarakat, karena setiap pelanggaran atau penyimpangan yang meresahkan masyarakat berasal dari kelompok mereka. Karena itu perlu pengawasan yang ketat terhadap minuman yang memiliki kadar alkohol memabukkan, baik bagi penjual maupun pembelinya. Penyimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat tidak akan begitu saja muncul apabila tidak ada faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor penarik terjadinya penyimpangan, berada di luar diri seseorang untuk melakukan penyimpangan, sedangkan faktor pendorong berada di dalam diri seseorang atau keluarga yang memungkinkan seseorang untuk melakukan penyimpangan tersebut. Penyimpangan-penyimpangan tersebut pada umumnya terjadi akibat sosialisasi yang tidak sempurna, baik pergaulan di masyarakat maupun kehidupan di rumah yang dianggapnya tidak memuaskan. Hal ini dapat terjadi akibat kurangnya pengawasan dari orangtua sehingga anak mencari pelarian ke luar dengan mencari teman yang dapat memberikan perlindungan dan pengakuan akan keberadaan dirinya. Kemudian bergabung dengan kelompok yang sering melakukan penyimpangan.

Akibatnya, anak tersebut menjadi korban pergaulan karena merasa dirinya menjadi orang dewasa modern yang tidak ketinggalan zaman. Korban akibat pergaulan ini umumnya para remaja yang sedang mencari identitas diri melalui sosialisasi atau pembentukan pribadi yang salah jalan. Pada penyimpangan yang dilakukan melalui penggunaan narkotik atau minuman keras, misalnya seseorang tidak langsung melakukannya. Akan tetapi, diajak oleh teman sekelompoknya untuk mencoba atau mencicipinya terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa mereka telah menjadi orang dewasa modern yang tidak ketinggalan zaman. Lama kelamaan seseorang mendapat pengakuan di kelompoknya dan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Perbuatan yang menyimpang akhirnya dilakukannya sendiri sehingga menjadikan kebiasaan. Begitu pula jika memiliki masalah pribadi, penyelesaiannya tidak lepas dari narkotik dan minuman keras yang dianggapnya dapat menolong untuk melepaskan diri dari masalah yang dihadapi. Setiap remaja yang sedang tumbuh memerlukan perhatian dan tuntunan dari orangtua, saudara, atau kerabatnya. Jika mereka tidak memperolehnya, akan muncul ketidakpuasan, kemudian mencari penyeselesaiannya sendiri. Dengan demikian, orangtua turut bertanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anaknya. Jika tidak bertanggung jawab, orangtua akan mereka salahkan, seperti contoh berikut ini. a. Orangtua terlalu kolot atau terlalu bebas. b. Orangtua hanya memberikan nasihat, tanpa memberikan teladan yang mendukung nasihatnya. c. Orangtua mengutamakan pemenuhan kebutuhan material (kebendaan) belaka. d. Orangtua terlalu mementingkan pekerjaan kantor, organisasi, dan pekerjaan lain yang menyebabkan mereka jarang berada di rumah. e. Orangtua umumnya terlalu menekankan keinginannya sehingga tidak mau menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar anaknya yang mungkin berbeda. f. Orangtua mungkin kurang mencurahkan kasih sayang. Dengan demikian, untuk mencegah remaja termasuk ke dalam kelompok yang menyimpang, hal-hal tersebut harus diperhatikan karena menyangkut masa depan keturunannya.

Oleh karena itu, orangtua harus dapat mengawasi anak-anaknya terutama yang sedang menginjak remaja melalui: a. teman sepermainannya harus dikenal dan diketahui alamatnya; b. jangan dibiasakan anak pulang terlalu malam atau dibiasakan anak menginap di rumah temannya; c. orangtua senantiasa memeriksa kamar anaknya atau tas yang biasa dipakai ke sekolah; d. memberi dukungan positif terhadap kegemaran anaknya, terutama yang berhubungan dengan seni dan olahraga; e. mengajak berbicara dan berdiskusi apabila anaknya memiliki masalah, baik berhubungan dengan pelajaran di sekolah maupun masalah pergaulan dengan teman-temannya; f. memberikan pengertian terhadap kebutuhan anaknya, baik kebutuhan sekolah maupun kebutuhan akan perlengkapan pribadinya; g. memberikan nasihat apabila anak berbuat kesalahan; h. memberikan petunjuk untuk tidak mengikuti atau melakukan perbuatan menyimpang dan dianggap salah karena tidak sesuai dengan norma masyarakat ataupun norma agama; i. mengajak anaknya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. Adanya perlakuan khusus terhadap remaja bukan berarti mengekang mereka terhadap lingkungan sosialnya, melainkan memberikan dukungan terhadap hal-hal positif yang biasa dilakukan, dengan tujuan agar remaja dapat menyosialisasikan dirinya yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Remaja tidak diberi kebebasan sepenuhnya dalam memilih lingkungannya, juga tidak dikekang, tetapi selalu diawasi agar dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk sehingga remaja dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab orangtua, pendidik, dan masyarakat dalam membina remaja agar menjadi manusia yang berguna.

Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang Manusia | medsis | 4.5