Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen

Intrinsik dan Ekstrinsik

Intrinsik dan Ekstrinsik

Intrinsik dan Ekstrinsik – Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsure-unsur yang secara faktual dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra, khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat. Berikut penjelasan mengenai unsur intrinsik. 1. Tokoh dan Karakter Tokoh Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik. Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protagonis. Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen, di antaranya sebagai berikut.

Intrinsik dan Ekstrinsik

Melalui apa yang diperbuat tokoh. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan. Contoh:

Intrinsik dan Ekstrinsik – Dengan terburu-buru Wei meninggalkan kota, dan peristiwa itu tak lama kemudian sudah terlupakan. Ia lantas pergi ke barat, ke ibu kota, dan karena dikecewakan oleh pinangan terakhir yang gagal itu, ia mengesampingkan pikirannya dari hal perkawinan. Tiga tahun kemudian, ia berhasil meminang seorang gadis dari keluarga Tan yang terkenal kebaikannya di dalam masyarakat. Sumber: Cerpen “Sekar dan Gadisnya”, Ryke L. Melalui ucapan-ucapan tokoh. Dari apa yang diucapkan tokoh kita dapat mengetahui karakternya. Contoh: Sumber: Dokumentasi Pribadi Gambar 11.7 Buku kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari karya Joni Ariadinata. “Apa yang tidak Ibu berikan padamu? Ibu bekerja keras supaya bisa menyekolahkanmu. Kau tak punya kewajiban apa-apa selain sekolah dan belajar. Ibu juga tak pernah melarangmu melakukan apa saja yang kau sukai. Tapi, mestinya kamu ingat bahwa kewajiban utamamu adalah belajar. Hargai sedikit jerih payah Ibu!” Di luar dugaannya anak itu menatapnya dengan berani. “Ibu tak perlu susah payah menghidupi aku kalau Ibu keberatan. Aku bisa saja berhenti sekolah dan tidak usah menjadi tanggungan Ibu lagi.” Darah Sekar –ibu anak itu–serasa naik ke ubun-ubun. Sumber: Cerpen “Sekar dan Gadisnya”, Ryke L. Melalui penjelasan langsung. Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh. Contoh: Memang, sebenarnya, semenjak dia datang, kami sudah membenci dia. Kami membenci bukan karena kami adalah orang-orang yang tidak baik, tapi karena dia selalu menciptakan suasana tidak enak. Perilaku dia sangat kejam. Dalam berburu dia tidak sekadar berusaha untuk membunuh, namun menyiksa sebelum akhirnya membunuh. Maka, telah begitu banyak binatang menderita berkepanjangan, sebelum akhirnya dia habiskan dengan kejam. Cara dia makan juga benar-benar rakus. Bukan hanya itu. Dia juga suka mabuk-mabukan. Apabila dia sudah mabuk, maka dia menciptakan suasana yang benar-benar meresahkan dan memalukan. Dia sering meneriakkan kata-kata kotor, cabul, dan menjijikkan. Sumber: Cerpen “Derabat”, Budi Darma

2. Latar (Setting) Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sunguh-sungguh ada dan terjadi.

Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut. a. Latar Tempat Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu. b. Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. c. Latar Sosial Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya. 3. Alur (Plot) Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Urutan peristiwa tersebut meliputi: – mulai melukiskan keadaan (situation); – peristiwa-peristiwa mulai bergerak (generating circumtanses); – keadaan mulai memuncak (rising action); – mencapai titik puncak (klimaks) – pemecahan masalah/ penyelesaian (denouement) Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah, kemudian menengok kembali pada peristiwaperistiwa yang mendahuluinya. Susunan yang demikian disebut alur sorot balik (flashback). Selain itu, ada juga istilah alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat mengganggu keutuhan cerita. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita. 4. Sudut Pandang (Point of View) Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang “aku”), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang campuran. 5. Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas, dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya. 6. Tema Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan. 7. Amanat Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita. Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Yang termasuk unsur ekstrinsik karya sastra antara lain sebagai berikut. 1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup. 2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra. 3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial. 4. Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya seni yang lainnya.

Intrinsik dan Ekstrinsik

Bacalah contoh cerpen berikut.

Intrinsik dan Ekstrinsik  – Tua Karya Mustafa Ismail

Meski tulang rahangnya tetap kekar dan keras, wajahnya sudah menampakkan ketuaan. Tatapan matanya tidak setajam dulu. Dan mata itu menjadi agak rabun. Ia tidak begitu mengenali orang yang bertemu dengannya. “Muista Fahendra, ya. Kau gemuk sekali sekarang, hampir tidak kukenal. Kukira kau kontraktor yang akan membangun Taman Budaya, ha ha ha,” katanya ketika ia melihatku muncul di Taman Budaya sore itu. Tubuhnya tidak segemuk dua belas tahun lalu, saat kami sama-sama suka tidur di meunasah tuha, surau di Taman Budaya. Daging di pipinya makin menipis. Bentuk rambutnya berubah, menjadi tipis, tidak lagi gondrong membentuk bundaran mirip bunga kol yang bagian kedua sampingnya ditipiskan. Ubannya makin penuh di kepala. Aku memandang lelaki itu dari atas ke bawah. Ia tidak garang lagi, seperti dulu ketika mengatur sepeda motor dan mobil yang parkir di Rex, tempat ia menjadi juru parkir. Tubuhnya sedikit membungkuk. Tapi kumisnya tetap tebal.

“Apa kau lihat? Aku sudah tua ya,” katanya. “Abang tetap gagah,” kataku. Ia tergelak. “Kau jangan menghiburku. Katakan saja bahwa aku sudah tua.” “Tapi pasti abang tetap disukai banyak perempuan.” “Dari mana kau tahu?” “Dari puisi yang abang kirim lewat SMS kepadaku beberapa bulan lalu.” “Ha ha. Soal puisi itu, aku mau cerita sama kau. Tapi kita perlu duduk barang dua jam. Oh ya, kapan kau kembali ke Jakarta?” “Dua hari lagi.” “Begini aja. Nanti malam jam delapan kita ketemu di Rex. Sekarang aku harus pergi, ada janji sama seseorang.” “Seseorang yang cantik?” “Ha ha ha!” Tawanya keras sekali. Aku ikut tertawa.

Intrinsik dan Ekstrinsik

Selengkapnya di Sumber: Republika, 19 Agustus 2007

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen | medsis | 4.5