Mengajukan Tanggapan Berdasarkan Informasi Tutur Langsung

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Mengajukan Tanggapan Berdasarkan Informasi Tutur Langsung

Informasi Tutur Langsung

Informasi Tutur Langsung

Informasi Tutur Langsung  – Dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks keluarga, masyarakat, maupun negara, ekonomi merupakan salah satu pilar bahkan pilar utama, saka guru! Mengerti dan memahami maksud ekonomi sangat diperlukan oleh siapa pun yang hidup di tengah-tengah keluarga, masyarakat, dan atau negara, termasuk Anda! Agar pengetahuan Anda tentang ekonomi bertambah, jangan segan-segan menggunakan masalah tersebut sebagai sarana belajar berbahasa dalam kesempatan ini!

Informasi Tutur Langsung

Mengajukan tanggapan berdasarkan informasi yang didengar

Informasi Tutur Langsung  – Sekarang, marilah berlatih bagaimana mengajukan tanggapan setelah mendengar sebuah informasi! Tanggapan adalah hasil menanggapi. Menanggapi informasi dapat diartikan menyambut atau menyampaikan pernyataan baik untuk memberikan keseimbangan informasi atau untuk mendapatkan kejelasan informasi.

1. Menyampaikan secara lisan sesuatu yang lucu Cerita lucu atau humor, termasuk dalam bentuk anekdot, konon memiliki manfaat yang positif bagi kesehatan manusia, baik fisik maupun psikis. Simaklah kisah lucu berikut ini!

Informasi Tutur Langsung  – Kisah Pengendara Harley Davidson yang Sombong Sore itu, Amir dan Simon berkeliling kota menghilangkan kepenatan dengan mengendarai mobil van tahun 75-an, mobil yang cukup butut. Di sebuah jalan protokol, tiba-tiba sebuah moge (motor gede) nyalip. Tidak begitu kencang, tetapi cukup membuat Amir dan Simon jengah karena sikap dan gaya pengendaranya yang begitu ”sombong”. Kalau hanya nyalip mungkin tak apa, ketika tepat bersejajar dengan mereka pengendara moge itu bertanya, ”Hai, apa you sudah pernah naik Harley Davidson?” ”Sombong amat orang ini. Mentang-mentang naik motor mewah, seenaknya menghina orang!” gumam Amir. ”Gantian salip!” perintah Simon yang tampak mulai emosi. Beberapa saat, van itu berhasil menyalip moge itu. Mereka berdua pun merasa lega. Namun, itu tak berlangsung lama. Sesaat Harley Davidson itu kembali mendahului. Masih tetap dengan ”kesombongannya”. ”Hai, udah pernah naik Harley belum?” tanyanya. Simon dan Amir terpancing. Didahuluinya lagi moge itu. Namun, tak lama kemudian, Harley itu gantian yang mendahului. Tetap dengan pertanyaannya, ”Aku tanya, sudah pernah punya Harley belum?” Simon dan Amir memutuskan tidak meladeni pengendara Harley yang sombong itu. Mereka kembali mengendarai mobil butut, tetapi membanggakan itu dengan santai. Tetapi, apa yang terjadi, beberapa menit kemudian mereka menemui kerumunan orang di pinggir jalan. Karena penasaran, mereka pun menyempatkan berhenti. Mereka pun terkejut ketika dilihatnya pengendara Harley Davidson sombong itu tergeletak di pinggir jalan sambil mengerang kesakitan dekat moge yang dibangga-banggakan itu. Ingin melampiaskan kekesalannya, Simon menghampiri sembari berkata sinis, ”Makanya jadi orang jangan sombong. Mentang-mentang punya Harley ngeledek orang semau gue. Sekarang, rasain akibatnya!” Sambil terus mengaduh si Pengendara Harley menyahut, ”Aku tak hendak sombong, aku cuma tanya apakah you pernah naik Harley Davidson? Kalau pernah aku ingin tahu di mana dan bagaimana ngeremnya.” ”O, gitu?” gumam Amir dan Simon hampir serentak. ”Kasihaaan deh, luh…!” Jawa Pos, Desember 2002, dengan perubahan seperlun

Informasi Tutur Langsung

2. Menyampaikan secara lisan sesuatu yang mengharukan Mengharukan berarti menimbulkan rasa iba atau kasihan atau merawankan hati. Dengarkan cerita yang mengandung unsur mengharukan di bawah ini yang akan dibacakan salah satu teman Anda di depan kelas!

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Informasi Tutur Langsung  – Menemukan ide pokok

Perdagangan Pada Pasar Lelang Forward ke-1, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp7.828.000.000 (tujuh miliar delapan ratus dua puluh delapan juta rupiah). Adapun komoditinya adalah sebagai berikut: beras IR64; beras organik menthik wangi; beras merah; brokoli; jeruk siam; jeruk pamelo, petai besar, dan salak ngelumut. Permintaan dari Kelompok Tani Nelayan Andalan Jakarta Utara berupa jagung manis jenis Hawai dengan 70 ton/bulan; ubi jalar; ikan belut volume 1 ton/bulan dan nangka muda (gori) tidak dapat dipenuhi pada kegiatan Lelang Forward kali ini karena komoditi yang ditawarkan pada pelaksanaan lelang adalah sebagai berikut. 1. Hasil pertanian dan perkebunan terdiri atas: beras organik menthik wangi; beras merah; brokoli; jeruk siam; jeruk pamelo; petai besar; salak ngelumut; salak pondoh; cokelat; jagung; cabe merah; jahe gajah; kacang hijau; jagung pipilan; jahe merah; vanili; cabe jawa; jambu klutuk. 2. Hasil ternak dan perikanan, terdiri atas: daging ikan beku dan rumput laut. 3. Hasil industri, terdiri atas: jamu tradisional; ikan kaleng; vico; sirop; makanan cemilan; hasil kerajinan dari tempurung kelapa merupakan binaan Dinas Perindag Provinsi DKI Jakarta. Peserta yang ikut dalam Pasar Lelang Forward Bahan Kebutuhan Pokok Masyarakat Provinsi DKI Jakarta ini diikuti oleh penjual (petani dan produsen) yang berasal dari Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Banten, Sumsel, Sulsel, Sultra (Kendari). Adapun pembeli berasal dari Jakarta, Bandung, para pedagang Pasar Induk Beras Cipinang, Pasar Induk Sayur Mayur, pedagang buah Kramat Jati, dan Supermarket dari Bandung. Dalam kata penutupan Kepala Sub Dinas Perdagangan Dalam Negeri, Bapak Drs. Supeno, M.M, mengucapkan terima kasih kepada peserta lelang yang hadir pada hari ini, atas partisipasinya dan berharap dapat hadir pada pelaksanaan pasar lelang berikutnya yang akan dilaksanakan di Pasar Induk Sayur Mayur Kramat Jati. Sumber: Kompas, 12 Januari 2007

Mengajukan Tanggapan

Rumah yang Bercahaya Oleh Adek Alwi

Mengajukan Tanggapan – Lelaki tua itu ingin mati di rumah yang bersih dan bercahaya karena kebersihannya. Ia hampir 70 tahun, lebih dari usia Nabi Muhammad, dan merasa maut bertambah dekat. Malah pernah seperti dilihatnya tamu itu menatap lekat-lekat dari ambang pintu, lalu lenyap, seakan memberi isyarat. Dan dia yakin lain kali kehadirannya tidak lagi membawa isyarat, melainkan untuk menjemput. Lelaki tua itu pun bersedia dijemput. Tetapi bila saat itu tiba, entah kapan, ia tidak ingin rumahnya kotor awut-awutan. Tamu itu harus disambut dengan sebaik-baiknya. Lelaki tua itu sudah sering melepas mereka yang berangkat dijemput tamu itu, dan kerap pula ia saksikan orang-orang tersiksa oleh bau tidak sedap serta kotoran dari rumah orang yang pergi. Mula-mula beberapa orang mulai berbisikbisik, sambil menutup hidung mereka seperti tidak disengaja. Kemudian seperti wabah, bertambah banyak yang melakukan.

Mengajukan Tanggapan – Akhirnya mereka tidak lagi berbisik-bisik, tetapi membincangkan bau-bau busuk dan kotoran itu terang-terangan. Di beberapa tempat peristiwa itu bahkan tanpa memerlukan prolog. Begitu tiba orangorang bergabung dengan mereka yang datang lebih dulu, lalu terlibat dalam percakapan yang seru mengenai aib itu. ”Alangkah celakanya orang ini,” renung orang tua itu di hadapan mayat yang terbujur kaku. ”Alangkah malang. Bahkan saat keberangkatannya pun dia masih meninggalkan siksa bagi sesama, karena rumahnya kotor dan bau. Ampunilah manusia ini ya, Allah. Maafkan kekhilafannya.” Lelaki tua itu tidak mau kemalangan serupa menimpa dirinya. Ia menggigil membayangkan orang tersiksa karena sesuatu yang buruk yang berasal dari rumahnya, justru saat kepergiannya pula. Dia merasa harus bersiaga dan berbenah. Dia ingin orang-orang bebas dari bau tidak sedap, kotoran, juga debu yang menempel di manamana, jika tamu itu tiba. Lelaki tua itu ingin rumahnya bersih dan bercahaya karena kebersihannya, supaya penjemput itu tidak datang memberengut dan mereka yang ditinggalkan merasa lega. ”Selamat jalan, Pak Tua. Sambutlah tamumu dengan gembira dan mudiklah dengan tenang.” Tetapi sungguh berat merawat rumah dalam usia tua. Membersihkan kotoran sembari menjaga kotoran baru tidak timbul, apalagi menumpuk dan menjaga bau-bau busuk tidak muncul, debu jangan menempel di lekuk-lekuk rumah. Lelaki tua itu merasakan benar beratnya melakukan semua itu. Dia kerap terengahengah dibuatnya. Seolah berderak tiap persendiannya. Sering berair matanya yang lamur. Hanya tekad agar senantiasa siap menanti tamu itu yang membuatnya bertahan, terus membersihkan rumah sambil berupaya menanam bunga-bunga.

Mengajukan Tanggapan – Untunglah, jika bisa disebut begitu ia tak terlalu asing dengan laku itu. Almarhum istrinya adalah orang yang khusyuk, sabar, dan juga rajin. Puluhan tahun perempuan itu tak pernah berhenti membersihkan rumah, menghias rumahnya dengan bunga-bunga sehingga jangankan tumpukan kotoran dan bau tak sedap, debu seakan enggan hinggap di sudut-sudut rumah. Harum bunga-bunga yang ditanamnya semerbak sampai ke rumahrumah tetangga, menyamankan perasaan dan pikiran mereka. Waktu lelaki tua itu aktif sebagai pejabat, istrinya selalu siap dengan pakaian pengganti yang bersih begitu ia pulang kantor. Pakaian kerjanya langsung dimasukkan perempuan itu ke bak cucian. Bahkan tas kerjanya tak lepas dari perhatian istrinya. Isinya dikeluarkan, kemudian dilap dan dibersihkan, sebab debu maupun kotoran bisa jadi menodai tas itu. Dan sewaktu-waktu istrinya memang menemukannya. ”Lho, ini apa, Pak? Kotornya dari sini lho sumbernya!” ujar perempuan itu mengeluarkan amplop yang lengket di dalam tas. ”O, itu …tadi….” ”Dibuang sajalah, Pak! Mengotori tas Bapak saja. Hm, rumah bau jadinya. Kasihan Bapak, kasihan anak-anak!” Adakalanya perempuan itu menjadi amat berduka dan gemas menemukan hal-hal serupa itu. ”Sampai hati orang-orang itu menghina Bapak,” ujarnya dengan rasa masygul yang menjebol dinding kesabaran. ”Mengotori tas serta rumah Bapak dengan bendabenda kotor dan bau ini!” ”Baiknya kita tidak berprasangka. Barangkali maksud mereka….” ”Tetapi mengapa Bapak yang dipilih? Mengapa pejabat negara? Lebih tepat panti asuhan atau lembaga sosial lainnya kalau mereka tulus. Sekiranya bukan bermaksud untuk menghina dan mengotori.” Diam-diam lelaki tua itu merasa terharu. Bagaimanapun sebelum ia pensiun, bau-bau tak sedap, kotoran, dan debu bertebaran riuh di luar rumah. Tidak terkecuali di kantornya. Dan tempo-tempo ada saja yang terbawa pulang, menempel pada pakaian atau tas kerja, sekalipun dia telah menepis-nepiskan. Angin di luar berembus kencang sehingga sulit menghindar dari kotoran dan bau-bau busuk yang bertebaran. Beberapa kawannya malah jadi terbiasa, bergelimang kotoran serta bau tidak sedap setiap waktu. Untung dia punya istri yang khusyuk, sabar, dan rajin, yang menjadi bumper bagi kelemahannya. Istri yang tidak pernah letih membersihkan rumah, merawatnya dengan aneka bunga-bunga, dan membesarkan anak-anak mereka di dalamnya. Lelaki tua itu mengenang perempuan itu dengan takjub, serta berterima kasih, di sela-sela kesibukannya berbenah dengan tulang-tulang yang rapuh. Dan tenaga yang ia rasakan semakin redup bagai nyala lilin menjelang habis. Seperti banyak kawannya, bukan tidak mungkin dia akan terbiasa dengan kotoran dan bau-bau itu seandainya istrinya tak ada. Angin terlalu kencang di luar rumah, bau-bau busuk dan kotoran bertebaran di mana-mana. Mengagumkan betapa istrinya menjaga kekhusyukan dan kesabaran merawat rumah terus-menerus selama berpuluh tahun, sampai-sampai dijemput tamu itu tiga tahun silam dalam usia enam puluh lima. Apa yang membuat istrinya bertahan? Keyakinan bahwa penjemput itu mesti diterima dengan tangan terbuka di rumah yang bersih? Mengapa istrinya tidak terengah-engah seperti dia? Mengapa istrinya tidak goyah-goyah oleh angin, melayang-layang bagai banyak istri kawan-kawannya? Lelaki tua itu menarik napas panjang mengenang semua itu. ”Ia memang perempuan luar biasa,” bisiknya dalam kesunyian yang menggigit, di tengah-tengah sisa tenaganya yang bertambah redup. Dia merasa tidak mampu menandingi kekhusyukan istrinya, tetapi berbahagia dapat berdampingan dengan wanita itu selama puluhan tahun. ”Setidaknya, berkat dia aku tidak harus belajar dari nol merawat rumah.” Selengkapnya di

Jawa Pos, 4 September 2005 

Mengajukan Tanggapan Berdasarkan Informasi Tutur Langsung | medsis | 4.5