Mendengarkan Informasi Tentang Kependudukan

Mendengarkan Informasi Tentang Kependudukan

Informasi Tentang Kependudukan

Informasi Tentang Kependudukan

Informasi Tentang Kependudukan – Kalian tentu sering menerima informasi, baik dari orang yang berbicara langsung maupun dari hasil membaca. Pada pertemuan ini, kalian akan membahas cara membuat simpulan informasi yang disampaikan secara langsung. Agar lebih jelas, perhatikan tuturan langsung berikut yang merupakan hasil wawancara.

Tak Pernah Sepi Inovasi

Informasi Tentang Kependudukan – Inovasi apa lagi yang dijalankan Dipenda pada tahun baru 2007? Kalau tak ada halangan, bulan ini kami akan meluncurkan mobil samsat keliling yang beroperasi di Kecamatan Simo, Karanggede, dan Wonosegoro (Kabupaten Boyolali) serta Kecamatan Sumberlawang (Sragen). Mengapa menggunakan mobil samsat keliling? Mengapa tidak mengefektifkan UPPD dan UPPD Pembantu? Jarak antara Kecamatan Simo dan Kota Boyolali cukup jauh, sekitar 50 km. Demikian pula dengan Wonosegoro dan Karanggede. Bahkan, lokasi Wonosegoro lebih dekat dengan Kabupaten Semarang ketimbang Boyolali. Namun, samsat keliling ini tetap menginduk pada UPPD Boyolali. Diharapkan, keberadaan mobil samsat keliling tersebut dapat lebih meningkatkan jangkauan pelayanan, sekaligus meningkatkan gairah wajib pajak sehingga pembayaran pajak dilakukan sebelum jatuh tempo. Apakah program ini akan dimasalkan ke daerah terpencil lainnya? Kita lihat dulu pelaksanaan program ini. Jika memang bagus, mengapa tidak? Biayanya memang mahal. Untuk pengadaan satu unit mobil, sekaligus merancang komputerisasi dan jaringan online, dibutuhkan anggaran sekitar Rp500 juta. Upaya apa untuk meningkatkan kesadaran wajib pajak agar tepat waktu? Ya, kita mencoba memberikan rangsangan kepada wajib pajak, berupa ”iming-iming” hadiah. Tahun 2006, hadiah yang diberikan antara lain enam unit sepeda motor, 37 pesawat televisi, ratusan minicompo, dan sebagainya. Penarikan undian itu sendiri dilakukan di depan notaris, serta menggunakan sistem pengundian yang canggih sehingga tidak mudah dimanipulasi. Inovasi lain? Dipenda kini sedang menjajaki pembayaran pajak melalui ATM. Dengan demikian, wajib pajak tak perlu membawa uang ke samsat. Selama ini wajib pajak sudah dapat membayar ke BRI dan Bank Jateng. Kedua bank ini memiliki outlet cukup banyak di Jateng. BRI, misalnya, memiliki 200-an outlet. Bahkan, uji coba pembayaran pajak melalui BRI di Papua berjalan sukses. Sekarang, kita sedang merintis pembayaran melalui ATM.

Informasi Tentang Kependudukan

Selain itu, kami pun berencana melakukan komputerisasi Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Selama ini BPKB kan ditulis dengan tulisan tangan. Ini berangkat dari pemikiran bahwa tulisan tangan sulit dipalsukan. Tapi cara ini juga mengandung kelemahan karena jika terkena air, mudah luntur. Sumber: Suara Merdeka, 2 Januari 2007

1. Tuliskan pokok-pokok informasi dalam hasil wawancara tersebut! 2. Buatlah simpulan isi informasi dari tuturan langsung dalam wawancara tersebut!

Dengarkan informasi yang disampaikan secara langsung oleh narasumber di radio atau di televisi! Temukan pokok-pokok informasi yang ada dalam tuturan tersebut! Buatlah simpulan isi informasi dari tuturan yang kalian dengar!

Membaca Teks Tabel/Grafik

Informasi Tentang Kependudukan – Kalian tentu sudah sering membaca berbagai macam teks. Akan tetapi, pernahkah kalian membaca tabel atau grafik? Pada dasarnya, kalian dapat menemukan informasi dari berbagai sumber, termasuk tabel atau grafik. Setelah memahami tabel atau grafik, kalian dapat merangkum seluruh isi informasi dari suatu tabel atau grafik tersebut ke dalam beberapa kalimat. Pada bab ini, terlebih dahulu kalian akan belajar membaca tabel. Untuk lebih memahami tabel, perhatikan bacaan dan tabel berikut dengan saksama!

Antara Perempuan dan Pasar

Perempuanlah yang dapat memengaruhi pasar. Mereka adalah sekelompok konsumen terbesar. Bagaimana perilaku mereka seharihari? Apa saja hobinya? Tak dapat dihindari, sejarah telah menunjukkan kehadiran perempuan sering kali diformat terbatas dalam wilayah domestik. Sementara, kaum pria mendapat fasilitas dan akses yang lebih luas dalam wilayah publik. Tidak hanya itu, kebudayaan pun kurang memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berkiprah dalam wilayah publik. Bahkan, menurut Clark, ada indikasi yang jelas bahwa laki-laki menjadi subjek yang menundukkan perempuan. Harus diakui tidak banyak hasil penelitian yang memadai yang dapat menjelaskan bagaimana perempuan tersingkirkan dari ranah publik dan lebih banyak berkutat di wilayah domestik. Sementara, beberapa hasil penelitian yang ada tidak tersosialisasikan secara maksimal pada masyarakat luas.

Informasi Tentang Kependudukan – Women Survey Salah satu survei yang dapat membantu adalah survei tentang wanita dari Nielsen Media Research (NMR). Riset dilaksanakan Juni–September 2003 dengan metode wawancara langsung tatap muka. Total responden 13.300 dilakukan di sepuluh kota besar di Indonesia, meliputi Jabotabek, Bandung, Surabaya, Gerbangkertasila, Semarang, Medan, Makassar, Yogyakarta, Palembang, dan Denpasar. Salah satu hasil survei menunjukkan, mayoritas pekerjaan perempuan adalah ibu rumah tangga. Mengetahui hasil survei ini, tidaklah mengherankan bahwa stigma perempuan dominan berada di sektor domestik masih ada. Dari semua responden perempuan yang diambil, yang berumur 20 tahun ke atas, hanya 20,5 persen menjawab menjadi karyawati. Demikian pula jika melihat peran perempuan dalam menentukan pembelian barang rumah tangga. Di semua lapisan sosial dan ekonomi, perempuan jauh lebih dominan menjadi pengambil keputusan pembelian barang. Untuk kelompok A1 dengan penghasilan Rp2,25 juta ke atas, 84 persen perempuan menjadi pengambil keputusan pembelian barang. Berikutnya kelompok B dengan penghasilan 1,25 juta–1,75 juta, 85 persen pembelian barang ditentukan perempuan. Demikian pula kelompok C, D, dan E, perempuan dominan dalam keputusan pembelian barang, yaitu 87, 85, dan 81 persen. Dengan melihat angka-angka tersebut, mudah dipahami mengapa perempuan kerap menjadi sasaran pemasaran berbagai produk. Jika melihat skala yang lebih luas atau percaturan global, budaya konsumtif memang identik dengan dunia perempuan. Simak perkataan Rachel Bowlby, psikoanalis perempuan yang mengatakan, sejarah shopping dan konsumerisme adalah sejarah kaum perempuan. Konsumen perempuan memang memiliki peran sangat strategis. Perempuanlah yang menentukan barang atau jasa mana yang dikonsumsi dengan alasan-alasan yang sangat masuk akal. Demikian pula dalam hal pandangan kehidupan berumah tangga, perempuan yang mengungkapkan sangat mencintai rumah, banyak menghabiskan tenaga untuk mendekorasi dan memperbaikinya, persentasenya lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Angkanya 61 persen untuk perempuan dan 52 persen untuk laki-laki. Pandangan bahwa pernikahan yang bahagia adalah kekayaan yang terbesar dimiliki perempuan diyakini oleh 78 persen responden. Adapun kaum pria yang mempunyai pandangan ini berjumlah 76 persen.

Dari peta kekuatan ini, perempuan adalah kelompok konsumen terbesar. Mereka adalah pengelola keuangan keluarga yang mengatur alokasi keuangan sehari-hari. Konsekuensinya, berbagai macam produk yang khusus ditujukan untuk perempuan, baik remaja, dewasa, maupun orang tua, mulai dari kosmetik, pakaian, dan berbagai macam pernak-perniknya menjadi sangat banyak di pasaran.

Pendidikan Lebih Rendah Selain menunjukkan data dominannya perempuan dalam peran domestik dan menjadi sasaran empuk pemasaran berbagai produk, terungkap bahwa tingkat pendidikan dan penghasilan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Jumlah perempuan yang mencapai tingkat pendidikan S2 dan S3 adalah 0,3 persen. Adapun laki-laki 0,5 persen. Untuk tingkat sarjana, perbandingannya lebih jauh. Laki-laki mencapai 7,2 persen, sedangkan perempuan hanya 4,4 persen. Khusus di tingkat akademi, ternyata perempuan lebih tinggi, yaitu 5,5 persen dibanding lakilaki yang hanya 5,4 persen. Dari sisi penghasilan, umumnya wanita masih rendah. Sebanyak 16,7 persen berpenghasilan Rp400 ribu ke bawah. Penghasilan Rp400 ribu–600 ribu (9,6%), Rp600 ribu–800 ribu (6,2%), Rp800 ribu– 1,25 juta (6,9%), 1,25 juta–1,75 juta (3,4%), dan Rp1,75 juta ke atas (1,4%). Tiga Hobi Utama Hasil riset NMR menunjukkan ada sedikit perbedaan antara kelompok A, B dan C, D, E dalam hobi yang dapat dilakukan perempuan dalam keseharian. Perlu diketahui bahwa tiga hobi utama di semua kelompok adalah memasak, mendengarkan musik, dan olahraga. Bagi kelompok A, B persentase terbesar adalah mendengarkan musik (47,9%). Urutan kedua olahraga (45,5%) dan memasak di urutan ketiga (45%). Adapun hobi lain yang cukup tinggi persentasenya adalah membaca (29,9%) dan belanja (27,4%). Hobi berikutnya adalah melihat film melalui compact disc di rumah, makan di restoran, membuat kerajinan tangan, melihat film di bioskop, dan dekorasi. Untuk kelompok C, D, dan E memasak justru menjadi hobi utama (52%). Berikutnya mendengarkan musik (33,8%), dan olahraga di urutan ketiga (26%). Di kelas sosial ini, kegiatan membaca dan belanja memang persentasenya kecil, yakni 13,3 persen dan 11,3 persen. Bandingkan dengan kelompok A, B yang mencapai 29,9 persen dan 27,4%. Sementara itu, berbeda dengan Nielsen Media Research, temuan Polling Center tentang hobi di waktu luang perempuan menunjukkan data seperti berikut.

Informasi Tentang Kependudukan – Hobi Perempuan pada Waktu Luang No. Hobi Jumlah (%) 1. Menonton televisi (27,6%) 2. Pengajian (12,5%) 3. Mengobrol (11,4%) 4. Arisan (10,8%) 5. Jalan-jalan ke mal (8,2%) 6. Mendengarkan musik (5,3%) 7. PKK (3,9%) Survei Polling Center yang melibatkan 1.000 responden ini mendapatkan data, kegiatan melihat televisi kaum perempuan cukup tinggi pada sore dan malam hari. Untuk sore hari, 21,1 persen dan malam hari, 26,8 persen. Angka ini lebih besar daripada persentase kegiatan kaum pria melihat televisi yang hanya mencapai 19,2 persen untuk sore hari dan 25 persen untuk malam hari. Sumber: Majalah Cakram, edisi Mei 2004

Mendengarkan Informasi Tentang Kependudukan | medsis | 4.5