Hidrosfer (Siklus Hidrologi dan Perairan Darat )

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Siklus Pendek
Siklus pendek merupakan suatu proses peredaran air
dengan jangka waktu yang relatif cepat. Proses ini biasanya
terjadi di laut. Bagaimana terjadinya siklus pendek? Air
laut mengalami evaporasi (penguapan), karena adanya
panas dari sinar matahari. Uap air dari evaporasi naik ke
atas sampai pada ketinggian tertentu dan mengalami kondensasi sehingga terbentuk awan. Awan semakin lama
semakin besar, maka turunlah sebagai hujan di atas laut.
Air yang turun ini kembali menjadi air laut yang akan
mengalami evaporasi lagi.

Hidrosfer (Siklus Hidrologi dan Perairan Darat )
2. Siklus Sedang
Air laut mengalami evaporasi menuju atmosfer, dalam
bentuk uap air karena panas sinar matahari. Angin yang
bertiup membawa uap air laut ke arah daratan. Pada
ketinggian tertentu, uap air yang berasal dari evaporasi air
laut, sungai, dan danau terkumpul makin banyak di udara.
Suatu saat uap air menjadi jenuh dan mengalami
kondensasi, kemudian menjadi hujan. Air hujan yang jatuh
di daratan selanjutnya mengalir ke parit, selokan, sungai,
danau, dan menuju ke laut lagi.
3. Siklus Panjang
Panas sinar matahari menyebabkan evaporasi air laut.
Angin membawa uap air laut ke arah daratan dan bergabung
bersama dengan uap air yang berasal dari danau, sungai,
dan tubuh perairan lainnya, serta hasil transpirasi dari
tumbuhan. Uap air ini berubah menjadi awan dan turun
sebagai presipitasi (hujan). Air hujan yang jatuh, sebagian
meresap ke dalam tanah (infiltrasi) menjadi air tanah.
Adakalanya presipitasi tidak berbentuk hujan, tetapi
berbentuk salju atau es. Sebagian air hujan diserap oleh
tumbuhan serta sebagian lagi mengalir di permukaan tanah
menuju parit, selokan, sungai, danau, dan selanjutnya ke
laut. Aliran air tanah ini disebut perkolasi dan berakhir
menuju ke laut. Air tanah juga dapat muncul ke permukaan
menjadi mata air. Siklus panjang merupakan siklus yang berlangsung
paling lama dan prosesnya paling lengkap.
Sumber: Dokumen Penulis

Perairan Darat

Air Tanah
Air tanah merupakan air yang berada di wilayah jenuh di bawah
permukaan tanah. Dari keseluruhan air tawar yang ada di planet kita
ini lebih dari 97% terdiri atas air tanah. Ia dapat ditemukan di bawah
gurun yang sangat kering maupun di bawah tanah yang tertutup
lapisan salju.
Air tanah yang berasal dari curahan hujan disebut vadose water.

Sungai
Air hujan yang jatuh di permukaan tanah sebagian besar
akan menjadi aliran permukaan dan sebagian lagi meresap
ke dalam tanah menjadi air tanah. Aliran permukaan
berkumpul dan mengalir ke daerah-daerah yang lebih
rendah kemudian menuju ke parit, selokan, anak sungai,
serta sungai. Sungai mengalir dengan kemiringan yang
berbeda-beda. Di daerah hulu, sungai lebih curam,
sedangkan di daerah hilir sungai datar dan lebih berkelokkelok.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

a. Berdasarkan Struktur Lapisan Batuan yang Dilaluinya
1) Sungai Anteseden
Sungai ini dapat mengimbangi pengangkatan
daerah lapisan batuan yang dilaluinya. Jadi, setiap
terjadi pengangkatan, air sungai mengikisnya.
Contoh: Kali Madiun berhasil mengikis Pegunungan Kendeng (Jawa Timur), Sungai Oyo mengikis
Plato Wonosari (Yogyakarta).
2) Sungai Epigenesa
Sungai ini secara terus-menerus mengikis batuan
yang dilaluinya sehingga dapat mencapai daerah
batuan asli atau batuan induknya.
Contoh: Sungai Kolorado di Amerika Serikat

b. Berdasarkan Arah Aliran yang Dilaluinya
1) Sungai Konsekuen
Sungai yang mengalirnya sesuai dengan kemiringan batuan
daerah yang dilaluinya.
Contoh: Sungai Indragiri menuruni Bukit Barisan di Riau.
2) Sungai Subsekuen
Sungai yang alirannya tegak lurus pada sungai konsekuen dan
bermuara pada sungai konsekuen.
Contoh: Sungai Opak di Yogyakarta.
3) Sungai Obsekuen
Sungai yang mengalirnya berlawanan dengan arah kemiringan
lapisan batuan dan merupakan anak sungai subsekuen.
4) Sungai Resekuen
Sungai yang alirannya searah dengan sungai konsekuen dan
merupakan anak sungai subsekuen.
5) Sungai Insekuen
Sungai yang arah alirannya tidak teratur dan tidak terikat
dengan lapisan batuan yang dilaluinya.
c. Berdasarkan Keadaan Aliran Airnya
1) Sungai Periodik (Intermiten)
Gambar 8.14 menunjukkan bahwa tipe sungai ini
ada airnya saat musim hujan saja, yaitu sekitar
bulan Oktober sampai dengan April. Sedangkan
pada saat musim kemarau, yaitu sekitar bulan
April sampai dengan Oktober, debit alirannya nol
(sungai kering).
Contoh:
Sungai-sungai di Nusa Tenggara.
2) Sungai Episodik (Perenial)
Gambar 8.15 menunjukkan bahwa tipe sungai
episodik, aliran airnya selalu ada (debit tidak
pernah nol), tetapi saat musim kemarau debit
alirannya menurun.
Contoh:
Sungai Kapuas di Kalimantan Selatan.
d. Berdasarkan Sumber Airnya
1) Sungai hujan, sumber mata airnya berasal dari
hujan.
2) Sungai gletser, airnya berasal dari salju yang
mencair.
3) Sungai campuran, sumber airnya berasal dari air
hujan dan gletser.
e. Berdasarkan Pola Alirannya
1) Pola Aliran Radial (Menjari)
Pola aliran ini berbentuk seperti jari, dibedakan menjadi dua
yaitu radial sentrifugal dan radial sentripetal.

2) Pola Aliran Dendritik
Pola aliran ini tidak teratur, biasanya terdapat di daerah
dataran atau daerah pantai.
3) Pola Aliran Trelis
Pola aliran sungai ini menyerupai sirip. Sungai semacam ini
terdapat di daerah pegunungan lipatan.
4) Pola Aliran Rektanguler
Pola aliran sungai ini saling membentuk sudut siku, pada
daerah patahan atau pada batuan yang tingkat kekerasannya
berbeda.

5) Pola Aliran Anular
Pola aliran ini merupakan pola aliran yang semula merupakan
aliran radial sentrifugal, selanjutnya muncul sungai
subsekuen yang sejajar, sungai obsekuen, dan resekuen. Pola
aliran ini terdapat di daerah dome stadium dewasa.

 

Hidrosfer (Siklus Hidrologi dan Perairan Darat ) | medsis | 4.5