Pengertian Pasar Faktor Produksi Modal dan Kewirausahaan

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Pengertian Pasar Faktor Produksi Modal dan Kewirausahaan

Faktor Produksi Modal

Faktor Produksi Modal

Faktor Produksi Modal

3. Pasar Faktor Produksi Modal

Faktor Produksi Modal – Dalam setiap perekonomian kegiatan memproduksi memerlukan barang modal. Dalam perekonomian yang sangat primitif sekalipun barang modal diperlukan, seperti jala, cangkul, bajak, dan lain-lain. Dalam perekonomian modern barang modal lebih diperlukan lagi. Modernisasi perekonomian tidak akan berlaku tanpa barang modal yang kompleks dan sangat tinggi produktivitasnya. Perusahaan-perusahaan harus terus berusaha memperbaiki teknik memproduksinya supaya tetap dapat mempertahankan daya persaingannya dan menjamin kelangsungan hidup usahanya.

Faktor Produksi Modal – Untuk menjamin agar teknik memproduksinya tetap mengalami kemajuan dan tetap dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain, investasi atau penanaman modal harus selalu dilakukan. Investasi atau penanaman modal adalah pengeluaran sektor perusahaan untuk membeli atau memperoleh barangbarang modal baru yang lebih modern atau untuk menggantikan barang-barang modal lama yang sudah tidak digunakan lagi atau yang sudah usang. Untuk melakukan penanaman modal para pengusaha memerlukan dana. Adakalanya dana ini bersumber dari tabungan perusahaan yaitu dana yang diperoleh dari keuntungan yang tidak dibagikan. Selain itu banyak pula perusahaan yang memperoleh dana tersebut dengan meminjam dari pihak lain. Faktor apakah yang akan menentukan keputusan para pengusaha untuk meminjam dana dan melakukan investasi?

Faktor Produksi Modal

a. Permintaan Dana Modal Permintaan dana modal yang akan digunakan untuk investasi tergantung kepada produktivitas dari dana modal tersebut. Dengan demikian, faktor utama yang menentukan permintaan atas dana modal adalah produktivitasnya. Produktivitas dari modal dihitung dengan cara menentukan besarnya pendapatan rata-rata tahunan neto yaitu setelah dikurangi dengan penyusutan modal yang digunakan dan dinyatakan sebagai persentase dari modal yang ditanamkan. Produktivitas modal tersebut dinamakan tingkat pengembalian modal atau rate of returns. Agar memahami tentang tingkat pengembalian modal (rate of returns), perhatikanlah contoh berikut ini. Seorang pemilik modal jasa transportasi angkot bus membeli sebuah bus angkutan kota dengan harga Rp100.000.000,00 dan dalam setahun biaya operasi yang dikeluarkan sebesar Rp25.000.000,00. Ia berniat menggunakan angkot tersebut selama setahun. Dan setelah akhir tahun angkot tersebut dijual dengan harga Rp75.000.000,00. Apabila dalam setahun tersebut ia memperoleh pendapatan sebesar Rp75.000.000,00 dari angkot bus tersebut, berapakah tingkat pengembalian modal yang diterima?

Faktor Produksi Modal – Apabila para pengusaha mengetahui sepenuhnya berbagai kemungkinan untuk melaksanakan investasi, mereka tentu akan mendahulukan investasi yang tingkat pengembalian modalnya tinggi. Setelah itu kemudian mengembangkan proyek yang tingkat pengembalian modalnya lebih rendah.

b. Suku Bunga

Faktor Produksi Modal – Dalam suatu perekonomian tidak semua pendapatan yang diterima masyarakat akan digunakan untuk pengeluaran konsumsi. Namun sebagian dari pendapatan tersebut akan disisihkan untuk ditabung. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan: 1) untuk membiayai pengeluaran konsumsi saat mencapai usia pensiun, 2) untuk mengumpulkan biaya pendidikan anakanak pada saat menginjak dewasa, dan 3) untuk berjaga-jaga di dalam menghadapi kesulitankesulitan di masa yang akan datang. Berdasarkan kurva 6.6, dapat dijelaskan bahwa Kurva Sm adalah tabungan. Keadaan yang semakin naik tersebut menggambarkan semakin tinggi suku bunga, semakin banyak jumlah tabungan. Ini dapat dilihat bahwa pada waktu suku bunga 6%, jumlah tabungan adalah So, dan tabungan bertambah menjadi S1 pada waktu suku bunga mencapai 12%. Penentuan tingkat suku bunga dapat berbedabeda menurut pandangan beberapa ahli berikut ini.

Faktor Produksi Modal

1) Pandangan klasik; menyatakan suku bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran tabungan. 2) Pandangan Keynes; menyatakan suku bunga ditentukan oleh jumlah uang yang beredar (penawaran uang) dan preferensi likuiditas (permintaan uang). Preferensi likuiditas adalah permintaan atas uang oleh seluruh masyarakat dalam perekonomian. Keynes menyatakan bahwa permintaan uang oleh masyarakat mempunyai tiga motivasi (tujuan), yaitu: a) untuk transaksi; masyarakat meminta uang untuk membayar konsumsi yang dilakukan, b) untuk berjaga-jaga; untuk menghadapi masalah yang tidak terdugaduga seperti kehilangan pekerjaan. c) untuk spekulasi; untuk ditanamkan ke saham-saham atau surat berharga lain. Permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga tergantung pada pendapatan masyarakat, yaitu makin tinggi pendapatan masyarakat maka semakin tinggi pula permintaan uang untuk kedua tujuan tersebut. Adapun permintaan uang untuk tujuan spekulasi tergantung pada suku bunga dan sifatnya adalah pada waktu suku bunga tinggi hanya sedikit uang yang akan ditahan masyarakat untuk spekulasi, tetapi kalau suku bunga rendah makin lebih banyak uang yang tidak dispekulasikan dipegang oleh pemiliknya.

Faktor Produksi Modal

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Ada beberapa faktor penyebab perbedaan suku bunga.

1) Perbedaan Risiko Salah satu pertimbangan bank-bank dalam menentukan suku bunga yang akan dikenakannya adalah risiko dari memberikan pinjaman tersebut, pada usaha yang telah lama berkembang dan tidak banyak risikonya atau pada usaha yang sangat tinggi risikonya.

2) Jangka Waktu Pinjaman Semakin lama sejumlah modal dipinjamkan, semakin besar tingkat bunga yang harus dibayar. Salah satu sebab dari keadaan ini adalah karena risiko yang ditanggung peminjam bertambah panjang. Selain itu karena pemilik modal kehilangan kebebasan untuk menggunakan modalnya dalam jangka waktu yang lebih lama. Sebab lain adalah para peminjam bersedia membayar tingkat bunga yang lebih tinggi karena mereka mempunyai waktu yang lebih lapang untuk mengembalikan pinjamannya.

3) Biaya Administrasi Pinjaman Biaya administrasi untuk jumlah dana yang dipinjam tidak banyak berbeda. Berapapun besarnya dana pinjaman atau berapapun kecilnya dana yang dipinjam biaya administrasi adalah sama. Berdasarkan pertimbangan biaya administrasi pinjaman yang relatif lebih kecil jumlahnya akan membayar suku bunga yang lebih tinggi.

c. Suku Bunga Nominal dan Suku Bunga Riil

Pemilik modal dalam meminjamkan uang bukan saja harus memerhatikan suku bunga yang diterima tetapi juga tingkat inflasi (persentase tahunan kenaikan harga-harga) yang berlaku. Apabila tingkat inflasi lebih tinggi dari suku bunga, pemilik modal akan mengalami kerugian dalam meminjamkan uangnya karena modal ditambah bunganya, nilai riil adalah lebih rendah dari nilai riil modal sebelum dibungakan. Suku bunga nominal adalah suku bunga yang digunakan sebagai ukuran untuk menentukan besarnya bunga yang harus dibayar oleh pihak peminjam dana modal. Adapun suku bunga riil adalah persentase dari nilai riil modal sebelum dibungakan.

4. Pasar Faktor Produksi Kewirausahaan Dalam kegiatan produksi suatu perusahaan, keuntungan ditentukan dengan cara mengurangkan berbagai biaya yang dikeluarkan dari hasil penjualan yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan meliputi pengeluaran untuk bahan mentah, pembayaran bunga, sewa, tanah, dan penghapusan (depresiasi). Apabila hasil penjualan yang diperoleh dikurangi dengan biaya-biaya tersebut nilainya adalah positif maka diperoleh keuntungan Dalam ilmu ekonomi keuntungan mempunyai arti yang sedikit berbeda dengan pengertian keuntungan dari segi pembukuan. Ditinjau dari sudut pandang perusahaan (pembukuan perusahaan) seperti yang diuraikan di atas, keuntungan adalah perbedaan nilai uang dari hasil penjualan yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan. Dalam ilmu ekonomi definisi itu dipandang terlalu luas karena tidak mempertimbangkan biaya tersembunyi, yaitu biaya produksi yang tidak dibayar dengan uang tetapi perlu dipandang sebagai bagian dari biaya produksi. Pengeluaran tersebut (biaya yang tersembunyi) meliputi pendapatan yang seharusnya dibayarkan kepada para pengusaha yang menjalankan sendiri perusahaannya, tanah, dan modal sendiri yang digunakan, dan bangunan serta peralatan pabrik yang dimiliki sendiri. Keuntungan dari segi pembukuan, akan menghasilkan keuntungan ekonomi atau keuntungan murni (pure profit) yang dalam ilmu ekonomi dinyatakan sebagai keuntungan ekonomi.

Keuntungan Ekonomi Keahlian Kewirausahaan Keuntungan adalah pembayaran atas jasa yang diberikan oleh suatu faktor produksi yaitu keahlian kewirausahaan yang disediakan oleh para pengusaha. Keahlian kewirausahaan tersebut digunakan para pengusaha di dalam membuat keputusan-keputusan berikut ini. a. Menentukan barang apa yang perlu diproduksi dan dijual di pasar dan berapa banyaknya. b. Menentukan cara memproduksi yang terbaik dan kombinasi faktor-faktor produksi yang paling efisien dalam memproduksi barang tersebut. Jadi, dengan menggunakan keahlian kewirausahaan yang dimilikinya, fungsi para pengusaha dalam proses produksi adalah menentukan cara paling efisien di dalam menyediakan barang yang dibutuhkan masyarakat. Apabila usaha ini berhasil, para pengusaha akan memperoleh balas jasa dari jerih payahnya dalam bentuk keuntungan ekonomi atau keuntungan murni. Para ahli ekonomi mengemukakan beberapa teori yang bertujuan untuk menerangkan sumber dari wujudnya keuntungan ekonomi. Pada umumnya teori-teori tersebut menjelaskan bahwa keuntungan adalah pendapatan yang diperoleh para pengusaha sebagai pembayaran dari melakukan kegiatan berikut ini.

a. Menghadapi Risiko Ketidakpastian di Masa yang Akan Datang Kegiatan perusahaan bukan saja untuk memenuhi permintaan pasar pada masa sekarang, tetapi juga permintaan pasar di masa yang akan datang. Tidaklah mudah untuk menentukan keadaan yang terjadi di masa yang akan datang.

Sehingga yang dapat dilakukan para pengusaha hanyalah membuat ramalan tentang keadaan yang terjadi di masa depan. Berdasarkan ramalan-ramalan tersebut, para pengusaha dapat menentukan strategi kegiatan usahanya, misalnya apakah produksinya harus ditambah atau dikurangi. Ramalan-ramalan ini belum tentu tepat. Ini berarti, para pengusaha menghadapi risiko ketidaktepatan ramalan. Salah satu akibat jika ramalan salah, para pengusaha dapat mengalami kerugian. Akan tetapi jika ramalannya tepat, ia akan mendapat keuntungan, sehingga ditinjau dari sudut risiko yang dihadapi oleh setiap jenis usaha, keuntungan dipandang sebagai pembayaran untuk menghadapi risiko.

b. Melakukan Inovasi (Pembaruan) di dalam Berbagai Kegiatan Ekonomi Kegiatan perusahaan untuk melakukan inovasi antara lain mengadakan pembaruan dalam manajemen, pemasaran dan teknik memproduksi, memegang peranan penting di dalam menjamin kesuksesan usaha tersebut. Dengan melakukan inovasi, teknik memproduksi yang baru dapat diperkenalkan, mutu produksi dapat diperbaiki, biaya produksi, dan barang baru diperkenalkan. Langkah-langkah ini seperti menaikkan hasil penjualan dan menurunkan biaya per unit produksi. Kedua perubahan ini akan menaikkan keuntungan perusahaan. Dengan demikian keuntungan dapat pula dipandang sebagai pembayaran atas kegiatan inovasi.

c. Mewujudkan Kekuasaan Monopoli di dalam Pasar Di dalam perekonomian terdapat perusahaan-perusahaan yang dapat menghalangi masuknya perusahaan-perusahaan baru dalam pasar. Akibatnya beberapa barang tertentu hanya terdapat beberapa perubahan atau satu perusahaan yang ada di pasar. Kemungkinan untuk membatasi persaingan ini, memungkinkan perusahaan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal dalam jangka panjang. Keadaan ini dicapai oleh perusahaan-perusahaan tersebut dengan membatasi produksi dan menjamin agar tingkat harga melebihi rata-rata. Kemungkinan untuk memperoleh keuntungan baru ini menyebabkan ahli-ahli ekonomi berpendapat bahwa keuntungan dipandang sebagai pendapatan dari kekuasaan monopoli yang dimiliki perusahaan

Pengertian Pasar Faktor Produksi Modal dan Kewirausahaan | medsis | 4.5