Mengidentifikasi Contoh Unsur Sastra dan Unsur intrinsik

Mengidentifikasi Contoh Unsur Sastra dan Unsur intrinsik

Contoh Unsur Sastra

Contoh Unsur Sastra

Contoh Unsur Sastra – Dalam pelajaran sebelumnya, Anda telah ditugasi untuk merekam sebuah penggalan novel atau cerpen bersama kelompok Anda. Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih mengidentifikasi unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra. Anda akan merinci unsur-unsur tersebut sehingga dapat memahami karya sastra yang diidentifikasi. Diharapkan, kemampuan apresiasi Anda terhadap karya sastra akan meningkat.

Contoh Unsur Sastra

Saat Anda mempelajari karya sastra di Pelajaran 3B dahulu, Anda telah mengenal unsur-unsur dalam (intrinsik) yang ada pada karya sastra. Hal tersebut dapat menjadi bahan untuk Anda dalam mempelajari isi cerpen. Selain itu, ada juga unsur luar yang terdapat dalam cerita pendek. Unsur tersebut dinamakan unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik merupakan bagian luar dari karya cerpen yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan isi cerita. Namun, sebuah karya dapat mencerminkan kapan dan bagaimana situasi karya itu dibuat. Dalam hal ini, karya intrinsik berhubungan dengan kondisi pengarang, situasi sosial waktu karya dibuat, bagaimana keadaan penerbit, sampai bentuk buku cerpen atau naskah tersebut.

Contoh Unsur Sastra

Bacalah penggalan novel berikut dengan baik.

Contoh Unsur Sastra

Tarian Bumi Karya Oka Rusmini

“Jero” memang nama yang harus dipakai oleh seorang perempuan sudra yang menjadi anggota keluarga griya. Sedangkan “Kenanga” adalah nama bunga yang makin lama makin wangi. Telaga menyukai keharuman yang memancar dari kelopaknya. Wangi yang aneh. Nama yang diberikan sesepuh griya untuk Luh Sekar memang cocok. Telaga sering berpikir sendiri, nama baru yang disandang Ibu sesuai dengan beban kehidupannya. Makin hari beban hidup perempuan itu makin bertambah saja. Masalah Ayah, masalah Nenek, juga masalah Kakek. Betapa beratnya menjadi seorang perempuan. Teramat menyakitkan! Suatu pagi utusan dari rumah Ibu datang mengabarkan, perempuan yang melahirkannya ditemukan hanyut di sungai. Mendengar kabar itu Ibu menjerit-jerit. Telaga masih ingat ekspresi yang penuh luka itu. Begitu juga maki-makian dari Nenek. Kata Nenek, tidak pantas Ibu berlaku seperti itu. Seorang perempuan bangsawan harus bisa mengontrol emosi. Harus menunjukkan kewibawaan. Ketenangan. Dengan menunjukkan hal-hal itu berarti Ibu sudah bisa menghargai suaminya. Telaga tidak pernah paham, berapa aturan lagi yang harus dipelajari Ibu agar diterima sebagai bangsawan sejati. Hampir dua puluh tahun tidak habis-habisnya! Aturan itu malah menjadi-jadi. Luh Sekar tidak boleh menyentuh mayat ibunya sendiri. Dia juga tidak boleh memandikan dan menyembah tubuh kaku itu. Sebagai keluarga griya, Luh Sekar duduk di tempat yang tinggi sehingga bisa menyaksikan jalannya upacara dengan lengkap. Telaga tahu hati Ibu berdarah, bernanah. Dan makin hari bau busuknya makin terasa. Telaga merasakan luka itu. Inikah artinya menjadi perempuan? Telaga ingin bicara dengan perempuan tua yang melahirkan Ayah. Bicara dari hati ke hati. Bicara tentang makna keperempuanan, hakikatnya. Dan Telaga ingin perempuan tua yang terlihat agung dan berwibawa itu mampu memberi jawaban jelas. Apa arti menjadi perempuan brahmana. Seperti apa impiannya pada cucu satu-satunya ini? Ingin sekali Telaga mendengar jawaban-jawaban itu muncul dan wajah penuh wibawa itu.

Contoh Unsur Sastra

Wajah dengan karakter keras itu. Bagi Nenek, wibawa harus terus dijaga agar orang di luar griya mau menghargainya. Kenyataannya? Memang Nenek bisa mengatur keluarga. Bahkan Ida Bagus Tugur suaminya takkan berkutik hanya dengan batuk kecil. Anehnya, Nenek hanya pandai membaca kesalahan-kesalahan yang dibuat suaminya. Tapi dia tidak lihai membaca kesalahan anak kesayangannya, anak lelaki satusatunya yang teramat dia kagumi dan terlalu sering membuat masalah itu: Ayah. Lelaki tua yang dipanggil “kakek” oleh Telaga tidak lebih dari pelengkap. Telaga sangat membenci lakilaki itu. Lelaki tua itu hanya bisa diam. Teramat pasif. Tidak pernah ada bantahan apa pun dari bibirnya yang membiru karena seringnya bersentuhan dengan asap rokok.

*** Saat Telaga makin dewasa, terlebih setelah menjalani upacara Menek Kelih, sebuah upacara pembaptisan lahirnya seorang gadis baru.Telaga harus melepaskan kulit kanak-kanaknya. Kulit yang sangat dia cintai. Masa-masa itu adalah permainan yang paling menarik karena Telaga bebas dan bisa melakukan apa saja yang diinginkan. Sebuah tikungan terindah yang tidak akan pernah bisa dijangkau lagi. Tikungan tempat Telaga bersembunyi dan tidak pernah merasa bersalah, sekalipun telah membuat kenakalan yang membuat nenek dan ibunya tidak bisa menemukan kata-kata untuk memaki. Dunia itu juga telah memberi Telaga kekuasaan yang besar. “Anak perempuan tidak boleh duduk sembarangan,” kata neneknya, seraya memukul paha Telaga. “Dia masih kanak-kanak. Kau jangan menambah bebannya.” Suara Kakek Telaga terdengar tegas.

Lalu, seperti biasa, perempuan dan laki-laki tua itu akan bergumam sendiri saling menyalahkan. Pada saat itu Telaga merasa senang, bebas melakukan apa pun yang dia mau. Naik pohon mangga, bermain sepuasnya. Kadang-kadang Telaga juga mau disuruh berkelahi melawan anak laki-laki. Sayang, masa itu tidak bisa dipinjam Telaga lamalama, Telaga harus mengakhiri dan mengembalikan masa itu pada hidup. Rasanya tidak ikhlas! Sering Telaga berpikir bagaimana caranya Sang Hyang hidup bisa dibohongi. Ingin rasanya mencuri masa kanak-kanak itu. Sayang sekali Sang Hyang Hidup sangat berkuasa. Dia juga tidak bisa dirayu atau pun diajak berkolusi. Aturan-aturan yang ditetapkan-Nya sangat kaku. Tidak bisa dibelokkan atau dimiringkan sedikit saja. Sekarang, Telaga harus memasuki masa yang paling menyulitkan. Masa yang selalu memiliki pertanyaan-pertanyaan yang begitu beragam tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Objek pertama yang membuatnya sering berpikir adalah Ida Bagus Tugur, laki-laki yang selalu mendongengkan kesetiaan dan rasa hormat Kunti pada keluarga dan suami. Mata tuanya terlihat mengambang, kosong, dan seolah menyeret Telaga untuk memahaminya. Mata itu juga sering terlihat sangat kering dan memohon pada Telaga untuk disirami. Kehidupan apa ini? Orang-orang dalam rumah kami hanya membuat Telaga seperti buku kosong yang ditulisi dengan paksa dan terburu-buru. Telaga harus memberikan halaman-halaman kosong dalam jiwanya untuk ditulisi oleh sesuatu yang tidak diinginkan. “Kau sekarang sudah dewasa, Tugeg! Tugeg harus dengar kata-kata Meme”. Suatu hari Jero Kenanga masuk ke kamar Telaga. Pandangan mata perempuan itu begitu tajam. Telaga agak bergidik. Tidak biasanya Kenanga datang ke kamar anaknya begitu formal. Apa ini yang dinamakan wilayah kedewasaan, wilayah perempuan sesungguhnya? Meme mau bicara apa?”

Contoh Unsur Sastra

“Banyak. Tugeg punya waktu mendengarkan?” Telaga diam. Dipandangnya mata perempuan kedua di rumah ini setelah neneknya, perempuan tua yang selalu mengajari Telaga untuk bersikap sebagai perempuan yang dewasa. “Kau adalah harapan Meme, Tugeg. Kelak, kau harus menikah dengan laki-laki yang memakai nama depan lda Bagus. Kau harus tanam dalam-dalam pesanku ini Sekarang kau bukan anak kecil lagi. Kau tidak bisa bermain bola lagi. Kau harus mulai belajar menjadi perempuan keturunan brahmana. Menghafal beragam sesaji, juga harus tahu bagaimana mengukir janur untuk upacara. Pegang katakataku ini, Tugeg. Kau mengerti?” Suara perempuan itu lebih mirip paksaan daripada sebuah nasehat. Telaga sangat membenci proses yang terjadi dalam tubuhnya, Dia sering bertanya, kenapa mesti dewasa? Kenapa mesti diupacarai dan mengundang seluruh keluarga untuk menyaksikan bahwa seorang perempuan baru telah lahir! Perempuan? Bagaimana rasanya mengenakan jubah baru itu? Apakah nasib Telaga akan seperti Nenek? Ataukah seperti Ibu?

Telaga menarik napas. Menyembunyikan nasihat neneknya dalam-dalam. Pelan-pelan Telaga mengangkat wajah. “Pasti ada yang ingin Meme sampaikan.” “Ya.” Telaga duduk mendekat. Dipandangnya wajah cantik yang ada di depannya. “Kau sudah menjadi perempuan yang sesungguhnya, sekarang.” “Ya. Tuniang juga katakan itu.” “Apa dk memberimu nasehat?” Suara Ibu lebih mirip penyelidikan. Telaga diam. Tidak ingin mengatakan apa-apa. Sejak kecil Telaga paham, dua orang perempuan dalam rumah ini selalu ribut. Yang satu selalu merasa berkuasa dibanding yang lain, satunya lagi hanya terdiam. Tetapi bagi Telaga kedua perempuan itu memiliki kebaikan yang berbeda dalam pembentukan Telaga sebagai perempuan. “Tidak. Kenapa?” Telaga berkata santai sambil memandang wajah ibunya dalam-dalam. Jero Kenanga jadi tidak enak hati ditatap anak kandungnya seperti itu. Perempuan itu menarik napas. Sumber: Novel Tarian Bumi, 2005

Dari penggalan novel yang Anda baca tersebut, Anda dapat menganalisis unsur intrinsiknya. 1. Tokoh Salah satu tokoh yang ada dalam novel Tarian Bumi tersebut adalah Telaga. Ia bertindak sebagai tokoh utama. Adapun tokoh tambahannya adalah Ibu Telaga dan neneknya. 2. Tema Tema utama yang ada pada novel tersebut menyangkut pola pemikiran seorang wanita dalam menghadapi budaya di sekitarnya. Adapun budaya tersebut lebih banyak merugikan kaum wanita. 3. Alur Jalan cerita yang ada dalam penggalan novel termasuk jalan cerita yang bergerak maju. Adapun jika Anda ingin lebih mengetahui jalan cerita secara utuh, Anda dapat membaca novel karya Oka Rusmini tersebut secara lengkap. Hal ini akan membuat Anda memiliki pemahaman lain atas isi secara utuh dari novel tersebut. 4. Latar Kita dapat mengamati latar dengan adanya penamaan tokoh dan juga budayanya. Jadi, latar tempat yang ada dalam penggalan novel adalah kaum masyarakat Bali. Adapun latar sosial yang ada dalam penggalan novel tersebut adalah hubungan budaya masyarakat dengan kehidupan kaum wanita secara tidak langsung. 5. Penokohan/Karakter Dalam novel tersebut, kita dapat mengamati karakter setiap tokoh. Sebagai tokoh utama, Telaga memercikkan sebuah pemberontakan atas keadaan di sekelilingnya. Ia mengalami konflik batin untuk keluar dari kungkungan adat yang ada di sekitarnya. Hal ini ditunjukkan dengan penggalan berikut. Kehidupan apa ini? Orang-orang dalam rumah ini hanya membuat Telaga seperti buku kosong yang ditulisi dengan paksa dan terburu-buru. Telaga harus memberikan halaman-halaman kosong dalam jiwanya untuk ditulisi oleh sesuatu yang tidak diinginkan. Lain halnya dengan tokoh Nenek Telaga yang kuat memegang adat dan menjadikan perempuan harus tunduk pada takdirnya. Ia menganggap Telaga harus mengikuti keinginan dan segala aturan yang dibuatnya.

 

Mengidentifikasi Contoh Unsur Sastra dan Unsur intrinsik | medsis | 4.5