Pengertian Menulis Contoh Paragraf Ekspositoris

Pengertian Menulis Contoh Paragraf Ekspositoris

Contoh Paragraf Ekspositoris

Contoh Paragraf Ekspositoris

Contoh Paragraf Ekspositoris – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih menulis paragraf ekspositoris. Sebelumnya, Anda harus memahami terlebih dahulu materi mengenai paragraf ekspositoris. Pertama, Anda akan berlatih mendaftar topik-topik menarik dan menyusun kerangka karangan. Kemudian, Anda akan mengembangkan kerangka karangan tersebut menjadi karangan ekspositoris. Dengan demikian, diharapkan kemampuan menulis Anda akan bertambah.

Contoh Paragraf Ekspositoris

Apakah Anda pernah membaca artikel kesehatan, misalnya tentang suatu penyakit? Anda dapat mengenali gejala penyakit sampai cara penanganannya dengan jelas. Artinya, tulisan tersebut telah menggunakan pola pengembangan paragraf ekspositoris. Dalam karangan ekspositoris, sesuatu dipaparkan dengan runtut sehingga masalahnya menjadi jelas. Tujuan karangan ini adalah memberi informasi/penjelasan kepada pembaca dengan cara mengembangkan gagasan. Saat Anda menulis paragraf ekspositoris, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni sebagai berikut. 1. Anda dapat mendaftar topik-topik yang kiranya menarik untuk Anda kembangkan. 2. Menyusun kerangka karangan untuk memudahkan Anda mengembangkan pokok-pokok pikiran. Berikut ini adalah contoh kerangka ekspositoris.

Contoh Paragraf Ekspositoris

Judul: Mengenal Penyakit Flu Burung Kerangka karangan: 1. Pengertian flu burung 2. Definisi kasus flu burung a. kasus suspect b. kasus probable c. kasus kompermasi 3. Gejala klinis 4. Penyebab penyakit (etiologi) 5. Penyebab flu burung terkini 6. Masa inkubasi 7. Upaya pencegahan

Mengenal Penyakit Flu Burung 

Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian influenza. Adapun definisi dari berbagai kasusnya adalah sebagai berikut. 1. Kasus Suspect Kasus suspect adalah kasus seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (temperatur 38°C), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau beringus serta dengan salah satu keadaan. Hal ini terjadi biasanya karena seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit flu burung. Kemudian, orang tersebut kontak dengan virus flu burung yang dalam masa penularan. Hal lainnya jika orang yang bekerja pada suatu laboratorium dan sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung.

2. Kasus Probable Kasus probable adalah kasus suspect disertai salah satu keadaan bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1). Misalnya, test HI yang menggunakan antigen H5N1 dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonial gagal pernapasan atau meninggal dan terbukti tidak adanya penyebab lain. 3. Kasus Kompermasi Kasus kompermasi adalah kasus suspect atau probable didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium. Dalam hal ini, kultur virus influenza H5N1 positif PCR influenza (H5) positif. Selain itu, terjadi peningkatan titer antibody H5 sebesar empat kali.

Selanjutnya, gejala klinis yang ditemui seperti gejala flu pada umumnya, yaitu; demam, sakit tenggorokan, batuk, beringus, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas. Dalam waktu singkat, penyakit ini dapat menjadi lebih berat berupa peradangan di paru-paru (pneumonia). Apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik, dapat menyebabkan kematian. Etiologi (penyebab penyakit) flu burung adalah virus influenza. Adapun sifat virus ini, yaitu dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C. Adapun di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit. Virus penyebab flu burung dikenal beberapa tipe virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C. Virus influenza tipe A terdiri atas beberapa turunan (strain), yaitu: H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2, dan lain-lain.

Contoh Paragraf Ekspositoris

Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Virus, strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hasil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus flu burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia. Masa inkubasi virus influenza bervariasi antara 1–7 hari. Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi di antara populasi unggas satu peternakan, bahkan, dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Adapun penularan penyakit ini kepada manusia adalah melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang flu burung. Orang yang memiliki resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual, dan penjamah unggas. Hal lain, belum ada bukti terjadi penularan dari manusia ke manusia. Selain itu, belum ada bukti adanya penularan pada manusia melalui daging unggas yang dikonsumsi. Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan tindakan sebagai berikut. – Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker atau kacamata renang). – Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik (ditanam/dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang di sekitarnya. – Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan. – Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan. – Mengonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 80 °C selama 1 menit. Dalam hal ini, telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 64 °C selama 5 menit. – Melaksanakan kebersihan lingkungan. – Menjaga kebersihan diri. Sumber: www.depkes.go.id (dengan perubahan)

Dari bacaan tersebut, Anda telah mendapatkan pemaparan, penjelasan, penyampaian informasi, sampai penerangan mengenai flu burung. Akan tetapi, Anda tidak diajak untuk menerima atau melaksanakan hal-hal yang dijelaskan dalam bacaan. Intinya, dalam tulisan ekspositoris disajikan pengetahuan atau ilmu, definisi, pengertian, langkah-langkah suatu kegiatan, metode, cara, sampai proses terjadinya sesuatu. Langkah selanjutnya, Anda dapat melakukan penyuntingan. Dalam hal ini, Anda dapat menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan panduan Ejaan yang Disempurnakan. Kegiatan penyuntingan ini dapat dilakukan dengan bertukar silang hasil pekerjaan teman. Dalam hal ini, Anda dan teman dapat mendiskusikan hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki dari isi karangan ekspositoris yang telah ditulis.

Contoh Paragraf Ekspositoris Uji Materi

1. Tulislah sebuah karangan yang berpola ekspositoris. 2. Adapun tema yang dikemukakan adalah masalah kesehatan, misalnya masalah kesehatan di lingkungan sekolah atau di lingkungan tempat Anda tinggal. 3. Sebelum menulis karangan berpola ekspositoris, terlebih dahulu buatlah kerangka karangannya. 4. Setelah selesai, bacakanlah tulisan Anda di depan kelas secara bergiliran. 5. Selama teman Anda membacakan tulisannya 6. Tukarkanlah tulisan Anda dengan teman sebangku. 7. Lakukan penyuntingan dengan memperhatikan kaidah berbahasa yang baik dan benar.

Contoh Paragraf Ekspositoris – Info Bahasa

Saat menulis karangan berpola ekspositoris, Anda dapat menggunakan kata penghubung dan kata berimbuhan. A. Kata Penghubung Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat. Dilihat dari fungsinya, berikut ini dua macam kata penghubung. 1. Kata penghubung yang kedudukannya sederajat atau setara, terdiri atas beberapa hal berikut. a. Menggabungkan biasa: dan, dengan, serta. b. Menggabungkan memilih: atau. c. Menggabungkan mempertentangkan: tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya. d. Menggabungkan membetulkan: melainkan, hanya e. Menggabungkan menegaskan: bahkan, malah, lagipula, apalagi, jangankan. f. Menggabungkan membatasi: kecuali, hanya. g. Menggabungkan mengurutkan: lalu, kemudian, selanjutnya h. Menggabungkan menyamakan: yaitu, yakni, bahwa, adalah, ialah. i. Menggabungkan menyimpulkan: jadi, karena itu, oleh sebab itu. 2. Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat dibedakan sebagai berikut. a. Menyatakan sebab: sebab dan karena. b. Menyatakan syarat: kalau, jikalau, jika, bila, apalagi, dan asal. c. Menyatakan tujuan: agar dan supaya. d. Menyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala. e. Menyatakan akibat: sampai, hingga dan sehingga. f. Menyatakan sasaran: untuk dan guna. g. Menyatakan perbandingan: seperti, sebagai, dan laksana. h. Menyatakan tempat: tempat. B. Kata Berimbuhan 1. Prefiks (awalan) a. prefiks di- (contoh: dibawa, dipandang) b. prefiks ter- (contoh: terlihat, terpandai, tertidur) c. prefiks se- (contoh: serumah, seindah, sesudah) d. prefiks ke- (contoh: kelima, kekasih) e. prefiks pe- (contoh: pelari, penyair) f. prefiks per- (contoh: perdalam, pertiga, pertuan) g. prefiks me- (contoh: membesar, menepi, meringkik) h. prefiks ber- (contoh: bersawah, beranak, bersepeda) 2. Sufiks (akhiran) a. sufiks -kan (contoh: membersihkan, menduakan, mendewakan) b. sufiks -i (contoh: mendatangi, diobati) c. sufiks -an (contoh: undangan, bulanan, lapangan) d. sufiks -nya (contoh: bajunya, buruknya, kencangnya) e. sufiks -man; wan, wati (contoh: seniman, seniwati) 3. Konfiks (imbuhan) a. kofiks ke-an (contoh: kemajuan, kepergian) b. konfiks pe-an (contoh: pekerjaan, pendaratan) c. konfiks per-an (contoh: persawahan, persahabatan) d. konfiks se-nya (contoh: setingi-tingginya, serajinrajinya) 4. Gabungan imbuhan a. gabungan me -kan (contoh: meninggikan) b. gabungan di -kan (contoh: didengarkan) c. gabungan memper -kan (contoh: memperundingkan) d. gabungan diper -kan (contoh: diperdebatkan) e. gabungan mem + per + i (contoh: memperbaiki) f. gabungan di + per + i (contoh: dipelajari) g. gabungan ber -an (contoh: berpelukan) h. gabungan ber -kan (contoh: bersandikan) 5. Infiks (sisipan) Infiks adalah semacam morfem terikat yang disisipkan pada sebuah kata konsonan pertama dan vokal pertama. Bentuk infiks ini tidak berubah. Berikut ini empat macam infiks yang ada dalam bahasa Indonesia. 1. – el – (contoh: tunjuk-telunjuk) 2. – er- (contoh: gigi-gerigi) 3. – em- (contoh: tali-temali) 4. – in- (contoh: kerja-kinerja) Jika Anda ingin lebih memahami lebih mendalam tentang kata penghubung dan kata berimbuhan, bacalah Buku Pintar Berbahasa dan Sastra Indonesia (Penulis Dra. Agustien S., dkk) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia

 

Pengertian Menulis Contoh Paragraf Ekspositoris | medsis | 4.5